Senin, 17 November 2014

REBUTAN MENOLAK JABATAN



REBUTAN MENOLAK JABATAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Pada suatu kali, Khalifah Umar bin Abdul Aziz akan mengangkat seseorang untuk menjadi Qadhi (Kepala Pengadilan) di Bashrah. Pada zaman itu jabatan sebagai qadhi adalah suatu jabatan yang sangat bergengsi di masyarakat.
Khalifah menugaskan seorang kepercayaannya setingkat mentri yaitu Adi bin Arthas, untuk memilih satu diantara dua orang yang sangat berilmu dan pantas menduduki jabatan Qadhi,  yaitu : Iyas bin Muawiyah al Muzani atau al Qasim bin Rabi’ah al Haritsi.

Lalu Iyas dan al Qasim diundang untuk bertemu Adi bin Arthas. Membuka pertemuan tersebut Adi bin Arthas berkata : Saya ditugaskan Khalifah untuk mengangkat satu diantara anda berdua untuk menjadi Qadhi di Bashrah. Bagaimana pendapat anda.

Calon pertama : Iyas bin Muawiyah al Muzani.
Iyas berkata : Saya tidak pantas menjadi Qadhi karena sungguh saya melihat ada yang lebih cocok dan lebih baik daripada saya untuk menduduki jabatan itu,  yakni al Qasim. Untuk mendukung pendapatnya, Iyas menceritakan  kebaikan dan keutamaan yang banyak dari al Qasim dibanding dirinya.

Calon kedua : Al Qasim bin Rabi’ah al Haritsi.
Giliran al Qasim berbicara : Sungguh saya tidak pantas menjadi Qadhi karena ada yang lebih baik  dan lebih mampu daripada saya  untuk memegang jabatan ini  yaitu Iyas bin Muawiyah. Lalu al Qasim menguraikan panjang lebar tentang kelebihan dan keutamaan Iyas dibanding dirinya.

Tidak  ada diantara dua calon ini yang menyebutkan sedikitpun tentang keutamaan dirinya apalagi  berpromosi untuk bisa diangkat menjadi Qadhi. Sebenarnya kedua calon ini tidak menolak tapi mereka beranggapan bahwa dia tidak lebih baik dari calon yang lain. Begitulah gambaran ketawadhu’ an orang shalih dan berilmu saat itu.
  
Akhirnya setelah diskusi yang panjang dan mendengarkan berbagai argumentasi diantara dua calon untuk tidak memilih dirinya, maka Adi bin Arthas berkata : Kita tidak boleh keluar dari ruangan ini sebelum diputuskan siapa yang akan menjadi Qadhi karena ini adalah tugas dari Khalifah. Untuk itu izinkan saya mengambil keputusan dan harap anda menerimanya. Saya memutuskan untuk mengangkat Iyas bin Muawiyah sebagai Qadhi. (Kitab Jejak Tabi’in, DR. Abdurrahman Basya)

Lalu bagaimana jika dibandingkan dengan keadaan kita saat ini. Masih adakah orang orang yang merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk menduduki suatu jabatan ? Ataukah masih banyak yang meminta bahkan berebut jabatan. Kita boleh berprasangka baik, mudah mudahan semua itu dilakukan dengan niat ikhlas dalam rangka mencari ridha Allah semata. 

Wallahu a’lam. (129)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar