Senin, 30 Januari 2017

NABI DIBERI MUKJIZAT SESUAI KEBUTUHAN KAUMNYA



NABI DIBERI MUKJIZAT SESUAI KEBUTUHAN KAUMNYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dahulu nenek moyang kita Adam dan Hawa berada di surga lalu Allah turunkan ke bumi. Allah berfirman : “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (Q.S al Baqarah 38).

Petunjuk itu adalah berupa wahyu dari Allah melalui Nabi dan Rasul yang diutus-Nya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa  Allah Ta’ala telah mengutus Nabi dan Rasul dalam jumlah yang banyak sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi, jumlah Nabi adalah  124.000 orang, sedangkan jumlah Rasul ada 312 orang. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam   ketika ditanya tentang jumlah para nabi, beliau bersabda : “(Jumlah para nabi itu) adalah seratus dua puluh empat ribu (124.000) nabi.” “Lalu berapa jumlah Rasul di antara mereka ?” Beliau menjawab, “Tiga ratus dua belas (312)”
 
Petunjuk terakhir adalah berupa kitab yaitu al Qur an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam sebagai Rasul terakhir.

Untuk memudahkan dan memperkuat dakwahnya maka para Nabi dan Rasul diberi Allah Ta’ala berbagai kelebihan bahkan ada yang diberi banyak mukjizat. Sungguh  mukjizat mukjizat itu disesuaikan Allah Ta’ala dengan keadaan dan kebutuhan kaum yang akan didakwahi, diantaranya adalah :

Pertama : Mukjizat Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Salah satu mukjizat Nabi Musa sesuai dengan kondisi umat pada masa itu, yang kebanyakan dari mereka adalah tukang sihir yang lihai. Karenanya, Allah Ta’ala mengutus Musa dengan beberapa tanda kemampuan yang menarik pandangan mata dan menundukkan musuh musuhnya.  

Dikisahkan bahwa Nabi Musa datang kepada para tukang sihir Fir’aun dan menasehati mereka sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya : “Musa berkata kepada mereka (para penyihir) : Celakalah kamu !. Janganlah kamu mengada adakan kebohongan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan adzab. Dan sungguh rugi orang orang yang mengada adakan kebohongan.  (Q.S Thaha 61). 

Kemudian para ahli sihir Fir’aun berhimpun dan datang dengan berbaris baris. “Maka kumpulkanlah segala tipu daya (sihir) kamu kemudian datanglah dengan berbaris. Dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari ini. (Q.S Thaha 64)

Setelah  tukang sihir ini datang dalam waktu bersamaan dan berkumpul,  masing masing saling mengajak untuk maju karena Fir’aun menjajikan dan memberikan berbagai harapan kepada mereka. Mereka berkata kepada Musa apakah engkau yang akan melempar lebih dahulu atau kami ?. Lalu Musa menjawab : Silahkan kalian melemparkan (lebih dahulu). Ini dijelaskan dalam Allah dalam firman-Nya : “Mereka berkata : Wahai Musa !. Apakah engkau yang melemparkan (lebih dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan ?.
Dia (Musa) berkata : Silahkan kamu melemparkan !. Maka tiba tiba tali tali dan tongkat tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan akan merayap cepat karena sihir mereka. Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman : Jangan takut !. Sungguh engkaulah yang unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu. Niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Dan tidak akan menang pesihir itu dari mana pun mereka datang.  (Q.S Thaha 65-69).

Dalam surat al A’raf disebutkan pula bahwa Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa untuk melemparkan tongkatnya yaitu firman-Nya : “Dan kami wahyukan kepada Musa. Lemparkanlah tongkatmu !. Maka tiba tiba ia menelan (habis) semua kepalsuan mereka. Maka terbuktilah kebenaran dan segala yang mereka kerjakan jadi sia sia. Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang orang yang hina. Dan para penyihir itu serta merta menjatuhkan diri dengan bersujud. Mereka berkata : Kami beriman kepada Rabb seluruh alam. (yaitu) Rabb Musa dan Harun. (Q.S al A’raf 117-122).

Setelah dilemparkan ternyata tongkat Nabi Musa  menjadi ular yang besar dan memakan semua tali temali dan tongkat mereka. Akhirnya para tukang sihir Fir’aun tercengang dan  benar benar bingung. Mereka tersungkur dan bersujud. Kemudian dengan suara lantang mereka mengatakan kepada semua yang hadir tanpa rasa takut sedikitpun kepada ancaman Fir’aun. Mereka para tukang sihir berkata sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya : “ …. Aamannaa bi rabbi haruuna wa muusaa”. Kami beriman kepada Rabb semesta alam, yaitu Rabb Harun dan Musa. (Q.S Thaha 70).

Kedua : Mukjizat Nabi ‘Isa  ‘Alaihissalam.
Begitu pula halnya dengan ‘Isa putera Maryam yang diutus pada zaman (banyaknya) orang orang yang ahli di bidang pengobatan yaitu sebagai tabib. Allah Ta’ala mengutusnya dengan dibekali pula dengan berbagai macam mukjizat untuk mampu mengobati berbagai penyakit yang tidak dapat dilakukan oleh para tabib saat itu. 

Nabi Isa diberi  mukjizat diantaranya mampu menyembuhkan orang yang buta semenjak kandungan ibunya sementara keadaannya itu lebih parah dari orang buta. Dan juga penyakit kusta dan penyakit kronis lainnya bahkan menghidupkan orang yang telah mati. Itu semua merupakan mukjizat dan kebenaran Nabi Isa dan sekali gus sebagai bukti kekuasaan Dzat yang telah mengutusnya. Mukjizat mukjizat ini telah memperkuat dakwah Nabi Isa.

Ketiga : Mukjizat Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam.
Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wasallam diutus sebagai Rasulullah pada saat orang orang kafir Quraisy sangat menguasai ilmu bahasa, sastra dan keahlian membuat syair.  Bahkan para ahli syair sangat dihargai. Juga ada lomba membuat syair dan syair syair terbaik mendapat kesempatan untuk ditempelkan di Ka’bah.

Lalu Allah menurunkan al Qur an yang agung kepada Rasulullah sebagai mukjizat terbesar bagi beliau. Al Qur an memiliki bahasa yang sangat sempurna, sangat indah sehingga membuat kagum para ahli ahli syair kafir Quraisy. Ada diantara mereka yang mengatakan ayat ayat al Qur an itu bukan syair (ya pasti bukan syair). Lafazh al Qur an menurut  mereka  sangat tinggi dan  tidak sebanding dengan kalimat syair syair yang terbaik sekalipun yang pernah mereka buat. Lafazh al Qur an yang begitu hebat merupakan salah satu hujjah kekuatan untuk mendakwahi mereka.

Bahkan lafazh al Qur an itu mengandung mukjizat yang menantang setiap makhluk baik jin maupun manusia untuk membuat yang semisal dengannya. Dan dapat dipastikan mereka meskipun ahli bahasa dan ahli syair lalu berkumpul dan saling tolong menolong untuk membuatnya mereka tidak akan bisa dan pasti tidak bisa. 
 
Allah berfirman : “Fain lam taf’aluu a lan taf’aluu…”. Dan jika kalian tidak mampu membuatnya dan (pasti) tidak mampu (membuatnya) ….Q.S al Baqarah 24.

Yang demikian itu tidak lain karena ia merupakan firman Allah Maha Pencipta dan Maha Perkasa lagi Mahamulia. Allah Yang Mahatinggi, yang tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya baik dalam Dzat, sifat maupun perbuatan. (Lihat Kitab Qishashul Anbiyaa’, Imam Ibnu Katsir).

Itulah sebagian mukjizat para Nabi yang diturunkan Allah Ta’ala sesuai dengan keadaan kaum yang akan didakwahi oleh para Nabiyullah. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (945)
  
          

Jumat, 27 Januari 2017

MENJAGA LISAN MENDATANGKAN KESELAMATAN



MENJAGA LISAN  MENDATANGKAN KESELAMATAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, setiap kenikmatan yang kita peroleh pasti akan ditanya dan dipertanggung jawabkan kelak dihadapan Allah. Allah berfirman : Allah berfirman : “Tsumma la tus-aluunna yauma idzin ‘aninn na-‘iim”. Kemudian kamu benar benar akan ditanya pada hari itu, tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu). Q.S at Takaatsur 8.

Salah satu diantara demikian banyak nikmat Allah yang kita peroleh adalah kemampuan berbicara atau berkomunikasi dengan sesama. Sungguh sangatlah sulit kehidupan kita ini sekiranya Allah tidak memberi kita nikmat bisa berbicara. 

Oleh karena itu  nikmat lisan ini   haruslah diterima dengan rasa syukur diantaranya adalah dengan menjaga dan menggunakan nikmat itu sebagai sarana untuk mengabdikan diri dan beribadah  kepada Allah.

Ketahuilah bahwa berdasarkan dalil dalil yang shahih maka seseorang  yang selalu menjaga lisannya akan mendatangkan kebaikan dan keselamatan baginya bagi di dunia maupun di akhirat kelak. Seseorang yang menjaga lisannya tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik, ucapan yang haq, adil, dan jujur. Jika seseorang senantiasa menjaga lisannya, niscaya Allah akan senantiasa membimbing dia pada perbuatan-perbuatan yang baik dan mengampuninya sehingga selamatlah dirinya dari berbagai keburukan.

Diantara kebaikan  yang akan diperoleh seorang hamba yang selalu menjaga lisannya adalah :

Pertama : Mendatangkan keselamatan.
Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan  bahwa menjaga lidah merupakan kunci keselamatan seorang hamba. Dari ‘Uqbah ibn ‘Amir, dia berkata, Aku bertanya : ‘Wahai Rasulullah, apakah sebab keselamatan ?. Beliau menjawab : “Kuasailah lidahmu, hendaklah rumahmu luas bagimu, dan tangisilah kesalahanmu”. (H.R ImamTirmidzi).

Insya Allah yang dimaksud disini adalah keselamatan di dunia dan keselamatan pula di akhirat. Jadi berhati hatilah menjaga lisan karena bukankah kita sering  menyaksikan orang orang jatuh kepada kehinaan di dunia karena tidak mampu mengusai lisannya. Bahkan di akhirat kelak lisan yang tidak terjaga bisa menjerumuskan seseorang kedalam neraka. 

Kedua : Terlindung dari api neraka.
Orang-orang yang  selalu memelihara lisannya, menggunakannya hanya untuk mendapatkan ridha Allah maka akan menjauhkannya dari api neraka.Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebutir kurma jika tidak mampu hendaknya dengan berbicara yang baik.” (HR. Bukhari, Muslim).

Ketiga : Ada jaminan masuk surga.
Rasulullah memberi jaminan surga bagi orang yang senantiasa menjaga lisannya, yaitu bagi yang menggunakannya hanya untuk mengatakan kebaikan, mengucapkan kebenaran, berdzikir dan berdoa dan kalimat kalimat yang baik.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalla bersabda :“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya.” (H.R. Imam Bukhari).

Keempat  : Allah mengangkat  derajatnya.
Sungguh lisan yang  terjaga akan mengangkat derajat seorang hamba disisi. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah ridhai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu, ternyata dengan kata tersebut Allah mengangkatnya beberapa derajat. 

Dan sungguh seorang hamba mengucapkan suatu kata yang Allah murkai dalam keadaan tidak terpikirkan oleh benaknya, tidak terbayang akibatnya, dan tidak menyangka kata tersebut berakibat sesuatu ternyata karenanya Allah melemparkannya ke dalam neraka Jahannam.” (H.R Imam Bukhari).

Sungguh Rasulullah telah mengingatkan kita agar berbicara yang baik atau diam. Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda: “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yaqul khairan au liyasmut”. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut benar-benar baik dan berpahala, baik dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan ia mengatakannya. Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu tampak samar baginya antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. 

Berdasarkan hal ini, maka perkataan yang mubah tetap dianjurkan untuk ditingggalkan dan disunnahkan menahan diri untuk tidak mengatakannya, karena khawatir akan terjerumus kepada perkataan yang haram dan makruh. Inilah yang sering terjadi (Syarah Shahih Muslim)   

Oleh karena itu seorang hamba yang benar imannya akan selalu menjaga lisannya. Dia tidak berkata kecuali yang baik dan bermanfaat dalam timbangan syariat.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (944)

Kamis, 26 Januari 2017

SIFAT ORANG ORANG YANG BENAR IMANNYA



SIFAT ORANG ORANG YANG BENAR IMANNYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang sangat mendambakan keberuntungan dalam hidupnya. Bahkan ingin beruntung di dunia dan di akhirat. Tidak ada yang mau mendapat kerugian. Lalu apa sebenarnya makna orang yang beruntung. Ketahuilah bahwa hakikat orang yang beruntung menurut syariat adalah tiada lain yaitu BISA MASUK KE SURGA. 

Ini dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya  : Tiap tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan DIMASUKKAN KE DALAM SURGA, MAKA SUNGGUH IA TELAH BERUNTUNG. Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Q.S Ali Imran 185).

Dan sungguh cita cita tertinggi seorang hamba adalah mendapat keberuntungan dengan ditempatkan Allah Ta’ala di dalam surga-Nya. Lalu datang pertanyaan : Apa modal atau bekal seorang hamba untuk bisa masuk ke surga ?.

Sungguh ini juga sudah dijelaskan Allah yaitu MEMILIKI IMAN  yaitu iman yang MELAHIRKAN AMAL SHALIH. Allah berfirman : “Wa basysyiril ladziina aamanuu wa ‘amilush shalihaati anna lahum jannatin tajrii min tahtihal anhaar” . Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang orang yang beriman dan beramal shalih bahwa untuk mereka (disediakan) surga surga yang mengalir dibawahnya sungai sungai.  (Q.S al Baqarah 25)

Mungkin diantara kita ada yang  merasa kita telah memiliki iman dan kemudian beramal shalih. Namun demikian mari kita periksa diri kita masing masing.  Apakah kita sudah beriman dengan benar.

Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan tentang sifat sifat orang benar imannya yaitu sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya orang orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hatinya dan apabila dibacakan ayat ayat-Nya kepada mereka bertambah imannya dan haya kepada Rabb mereka bertawakal. (yaitu) orang orang yang mendirikan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.
Mereka itulah orang orang yang benar benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Rabb-nya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia”. (Q.S al Anfal 2-4).

Syaikh as Sa’di salah seorang diantara ulama besar Saudi Arabia yang ahli Tafsir, menjelaskan tentang ayat ini :

Pertama : (Adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka). Yakni takut kepada Allah Ta’ala sehingga dia menahan dirinya dari yang haram karena bukti ketakutan kepada Allah yang paling besar adalah mengendalikan pemilikinya dari dosa dosa.

Kedua : (Apabila dibacakan kepada merekan ayat ayat-Nya, bertambahlah iman mereka). Hal itu karena mereka menyimaknya dengan baik dan menghadirkan hati untuk merenungkannya. Dengan itu iman mereka bertambah, karena merenungkan termasuk perbuatan hati.
Dan juga karena mereka akan menemukan makna yang baru yang sebelumnya belum mereka ketahui dan mengingatkan apa yang telah mereka lupakan. Atau memunculkan keinginan dalam hati mereka kepada kebaikan dan kerinduan kepada kemuliaan Allah. Atau memunculkan rasa takut berbuat dosa dan (takut terhadap) adzab Allah yang semuanya itu menambah keimanan.   
   
Ketiga : (Dan kepada Rabb-lah) semata tanpa sekutu bagi-Nya (mereka bertawakal). Yakni mereka menyandarkan hati mereka kepada Allah dalam mendatangkan kemashlahatan dan menolak kemudharatan, baik dalam urusan agama maupun duniawi. Mereka percaya bahwa Allah Ta’ala akan melakukan itu. Dan tawakal adalah pendorong kepada seluruh amal dimana amal itu tidak ada dan tidak sempurna tanpa tawakal.

Keempat : (Yaitu, orang yang mendirikan shalat)  yang fardhu dan yang sunnah. Dengan amal amalnya yang lahir dan yang bathin seperti hadirnya hati yang merupakan inti dan ruh shalat.

Kelima : (dan menafkahkan dari sebagian rizki  yang Kami berikan kepada mereka), Yakni nafkah nafkah wajib seperti zakat, kafarat, nafkah kepada istri, kerabat dan hamba sahaya serta nafkah sunnah seperti sedekah pada jalan jalan kebaikan.
“Mereka itulah”, yang memiliki sifat yang disebutkan diatas adalah : “Orang yang beriman dengan sebenar benarnya” karena mereka telah menggabungkan : (1) Antara Islam dan Iman. (2) Antara amal lahir dan amal bathin. (3) Antara ilmu dan amal. (4) Antara hak Allah dengan hak hamba hamba-Nya. 

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan pahala orang orang yang beriman dengan sebenar benarnya. Allah berfirman : “Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Rabb mereka”. Yakni derajat yang tinggi sesuai dengan ketinggian amal mereka dan “ampunan “  bagi dosa dosa mereka  “serta rizki (nikmat) yang mulia”  yaitu apa yang Allah sediakan untuk mereka di surga dari apa yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia.
Ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak sampai pada derajat mereka dalam keimanan maka walaupun dia masuk surga, namun dia tidak mendapatkan kemuliaan dari Allah (yaitu kemuliaan) yang sempurna seperti yang mereka dapatkan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu seorang hamba akan berusaha menjaga dan terus meningkatkan ketaatannya sehingga mencapai sifat orang orang yang benar imannya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. (943) 

Rabu, 25 Januari 2017

AQIDAH SYI'AH BEDA JAUH DENGAN AQIDAH AHLUSSUNNAH



AQIDAH SYI’AH  BEDA JAUH DENGAN AQIDAH AHLUSSUNNAH

Oleh : Azwir B. Chaniago
Syi’ah memiliki perbedaan yang sangat jauh dengan Ahlussunnah.  Perbedaan antara dan Syi’ah dan Ahlussunnah adalah untuk hal-hal YANG SANGAT PRINSIP DAN    MENDASAR BAHKAN DALAM HAL AQIDAH.

Syaikh Nizhamuddin Muhammad al A’zham dalam pengantar kitab berjudul Syi’ah dan Muth’ah antara lain menulis  bahwa perbedaan antara kami (Ahlussunnah) dengan mereka (Syi’ah) tidak hanya berpusat pada perbedaan-perbedaan masalah fiqihiyah yang bersifat furu’iyyah seperti masalah nikah muth’ah. Bukan itu saja.
 
Perbedaan ini pada hakikatnya adalah perbedaan dalam masalah-masalah yang sangat mendasar sekali yaitu perbedaan pada segi aqidah. Diantaranya adalah tiga point sebagai berikut : 

Pertama : Orang-orang Syiah mengatakan bahwa al Qur‘an mengalami perubahan dan pengurangan.

Kami mengatakan bahwa al Qur’an adalah Kalamullah yang sempurna tidak ada pengurangan. Tidak pernah dan tidak akan ada penggantian, pengurangan atau penambahan sampai hari Kiamat. Allah berfirman : “Inna nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahu lahafizun. Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. Al Hijr 9).

Kedua : Orang-orang Syi’ah mengatakan bahwasanya para sahabat Nabi semuanya murtad setelah wafatnya Rasulullah kecuali sedikit saja dari mereka (yang tidak murtad). Mereka (para sahabat) mengkhianati amanah dan agamanya, khususnya tiga khalifah yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Oleh sebab itu mereka dicap sebagai orang-orang yang paling besar kekafiran dan kesesatannya.

Sedangkan kami mengatakan bahwa para sahabat Rasulullah adalah sebaik-baik manusia setelah para Nabi. Mereka semua adalah orang-orang yang adil, tak pernah dengan sengaja membuat kedustaan kepada Nabi dan mereka dipercaya dalam meriwayatkan hadits dari Nabi. 

Ketiga : Orang-orang Syi’ah mengatakan imam-imam mereka yang jumlahnya 12, maksum dijaga dari kesalahan dan mengetahui ilmu ghaib, mengetahui segala ilmu yang datang kepada malaikat, para nabi dan rasul. Mengetahui yang sudah berlalu, yang akan datang, tidak ada sedikitpun samar bagi mereka. Mereka memahami semua bahasa yang ada didunia ini dan bumi ini diciptakan untuk mereka.

Kami Ahlussunnah mengatakan bahwa mereka manusia biasa sebagaimana yang lain, tidak ada perbedaan. Sebagian mereka ahli fiqih, ulama dan khalifah. Kami tidak menisbahkan kepada mereka sesuatu apapun yang tidak pernah mereka dakwakan bagi diri mereka karena mereka sendiri mencegah hal itu dan berlepas diri darinya. (Demikian penjelasan Syaikh Nizhamuddin Muhammad al A’zham)
 
Selain tiga point diatas, sungguh masih banyak lagi perbedaan yang mendasar antara Syi’ah dan Ahlussunnah, diantaranya :

Pertama : Perbedaan dalam rukun Iman.
Syi’ah memiliki rukun Iman yang berbeda dengan Ahlussunnah. Rukun Iman Syi’ah adalah pertama : Tauhid (at Tauhid), kedua : Keadilan (al Adl), ketiga : Kenabian (an Nubuwwah), keempat : Kepemimpinan (Imamah), kelima : Hari Kiamat (al Maad).

Kedua : Perbedaan dalam rukun Islam.
Syi’ah memiliki rukun (Islam) sendiri yang berbeda dengan Ahlussunnah. Rukun (Islam ?) Syi’ah adalah : (1)  Al Wilayah, loyal kepada Imam 12. (2)  Shalat. (3) Puasa. (4)  Zakat. (5)  Haji. 

Ketiga : Perbedaan dalam Syahadat.
Syi’ah memiliki Syahadat sendiri yang berbeda dengan Syahadat Ahlussunnah, yakni : Asyhadu alla ilaha ilallah. Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Wa asyhadu anna Aliyan Waliyullah.

Jadi dalam syahadat Syi’ah ada tambahan satu kalimat tentang Ali sebagai Waliyullah. Ternyata syahadat Syi’ah berbeda dengan syahadat orang orang Islam  yang diajarkan Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam.

Keempat : Perbedaan dalam lafazh Adzan.
Lafazh adzan Syi’ah adalah :

         Allahu Akbar, Allahu Akbar  (2 x)
         Asyhadu alla ilaha ilallah (2 x)
         Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 x)
         Asyhadu anna ‘Aliyan Waliyullah (2 x)
         Asyhadu anna ‘Aliyan Hujjatullah (2 x)
         Haiya ‘alash Shalah (2 x)
         Haiya ‘alal Falah (2 x).
         Haiya ‘ala khairil amal (2 x)
         Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha ilallaah.

Lalu dengan adanya perbedaan yang begitu banyak dan mendasar antara kaum Syi’ah dan Ahlussunnah yang mengikuti Rasulullah maka datang pertanyaan  apakah Syi’ah masih layak disebut dengan Islam ?. Tentu tidak karena mereka telah menyimpang dalam hal hal yang pokok. Oleh karena itu Ahlussunnah wajib untuk waspada terhadap propaganda Syi’ah yang sesat dan menyesatkan.

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari semua keburukan faham Syi’ah yang membahayakan bahkah bisa merusak aqidah kita. (942)