Jumat, 30 Juni 2023

HAJAR IBUNDA NABI ISMAIL TIDAK DISIA SIAKAN ALLAH KARENA TAAT

 

HAJAR IBUNDA NABI ISMAIL TIDAK DISIA SIAKAN ALLAH  KARENA TAAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap hamba yang taat kepada Allah Ta'ala pastilah akan mendapat pertolongan, tidak disia siakan dan diberi kemudahan serta keselamatan. Dalam perkara ini, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Hajar ibunda Nabi Ismail yang ditinggalkan bersama anaknya Ismail yang masih bayi tanpa ada bekal untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam Kitab Shahihnya : Kemudian (atas perintah Allah) Nabi Ibrahim membawa istrinya Hajar dan anaknya Ismail  menuju Makkah. Ketika itu Hajar masih menyusui Ismail.

Hingga akhirnya Ibrahim menempatkan keduanya ditempat yang nantinya dibangun Baitullah, tepatnya dibawah pohon besar yang berada diatas bakal sumur zamzam dibagian atas bakal Masjidil Haram. Pada saat itu di Makkah tidak ada (penghuni) seorang pun dan juga tidak ada air. Ibrahim meninggalkan keduanya di sana dan meletakkan di sisi mereka geribah yang didalamnya ada  kurma dan bejana yang didalamnya ada (sedikit) air.

Setelah itu, Ibrahim berangkat maka Hajar mengejarnya seraya berkata : Wahai Ibrahim hendak kemana engkau pergi ?. Apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula ada makanan apa pun ?. Hajar berulang ulang mengatakannya. Akhirnya Hajar bertanya kepada Ibrahim : Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini ? . Ya jawab Ibrahim. Lalu Hajar berkata : Kalau begitu kami tidak akan disia siakan.

Begitu HEBATNYA KETAATAN   HAJAR TERHADAP PERINTAH ALLAH maka akhirnya Allah Ta’ala betul betul tidak mensia siakannya. Allah memberinya air yang berlimpah berupa sumur zamzam. Akhirnya  Hajar dan anaknya Ismail  bisa hidup dengan selamat di Makkah. (Lihat Kitab Qishashul Anbiyaa’ oleh Imam Ibnu Katsir

Sungguh Allah Ta'ala benar benar akan memberikan keselamatan  kepada hamba hamba-Nya yang SUNGGUH SUNGGUH TAAT KEPADA-NYA yaitu dengan menjaga iman dan amal shalih. Inilah jalan yang paling jelas untuk mendapat kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahal 97).

Imam Ibnu Katsir berkata : Inilah janji dari Allah Ta’ala bagi orang yang mengerjakan amal shalih, yaitu amal yang mengikuti al Qur an dan as Sunnah, baik laki laki maupun wanita yang hatinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Amal yang diperintahkan itu telah disyariatkan dari sisi Allah, yaitu Dia akan memberinya kehidupan yang baik di dunia  dan memberikan balasan di akhirat kelak dengan balasan yang lebih baik dari pada apa yang telah dikerjakannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Tentang  surat  an Nahal 97 ini, Syaikh as Sa’di berkata : Firman Allah Ta’ala : “Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. Maksudnya : Dengan memberikan KETENANGAN HATI DAN KETENTERAMAN JIWA serta tidak menoleh kepada objek yang mengganggu hatinya dan Allah Ta’la memberinya rizki yang halal dari arah yang tak disangka sangka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Insya Allah ada manfaatnya. Wallahu A'lam. (3.038)

MENGIKUTI RASULULLAH TANDA SEORANG HAMBA MENCINTAI ALLAH

 

MENGIKUTI RASULULLAH TANDA SEORANG HAMBA  MENCINTAI ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh kecintaan orang orang beriman kepada Allah Ta’ala sangatlah besar diantaranya disebutkan dalam surat al Baqarah 165 :  

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ

Adapun orang orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.

Ketahuilah bahwa kecintaan orang beriman kepada Allah Ta'ala memiliki tanda atau bukti yang SANGAT KUAT yaitu  benar benar ittiba' atau mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Salallahu 'alaih Wasallam.

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan kepada kita semua tentang hal ini dalam firman-Nya :  

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

قُلْ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْكَٰفِرِينَ

Katakanlah (Muhammad) :  Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha penyayang. Katakanlah (Muhammad) : Ta’atilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang orang kafir.  (Q.S Ali Imran 31-32).

Syaikh as Sa’di berkata : Ayat ini merupakan patokan dimana dengannya kita dapat membedakan orang yang mencintai Allah dengan sebenar benarnya dan orang yang hanya sekedar mengaku ngaku semata. Tanda tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah dimana Allah menjadikan tindakan mencontoh Rasulullah dan mengikuti apa yang diserukannya sebagai jalan kepada kecintaan kepada Allah dan keridhaan-Nya. 

Oleh karena itu tidaklah akan diperoleh kecintaan Allah dan keridhaan-Nya serta pahala-Nya kecuali dengan membenarkan apa yang dibawa oleh Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam berupa al Qur an dan as Sunnah. Mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi larangan keduanya. 

Maka barangsiapa yang  melakukan hal itu niscaya Allah akan mencintainya lalu membalasnya dengan balasan (untuk) orang orang yang dicintainya. Mengampuni dosa dosanya dan menutup aib aibnya. (Lihat Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Jadi, tidaklah pantas jika seorang yang banyak meninggalkan, melalaikan  dan menyelisihi sunnah, tidak meneladani contoh dari Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam, lalu mengaku mencintai Allah Ta’ala. Apalagi jika penampilannya, akhlaknya jauh dari sunnah, ibadahnya banyak yang menyelisihi sunnah. Malulah kepada Allah dan segeralah berdoa memohon hidayah-Nya,  minta ampun dan bertaubat kepada-Nya.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (3.037)

 

 

Kamis, 29 Juni 2023

 


MENGHARAP RIDHA ALLAH DENGAN BERBUAT BAIK KEPADA MANUSIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Seseorang yang melakukan kebaikan haruslah semata mata karena Allah Ta'ala.  Hanya karena mengharapkan pahala dan balasan dari-Nya, bukan karena yang selainnya. Misalnya dalam hal berinfak, maka haruslah dilakukan semata mata karena Allah Ta'ala sehingga benar benar bernilai disisi-Nya. Allah Ta'ala  berfirman :  

إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَىٰ وَلَسَوْفَ يَرْضَىٰ

Tetapi (ia memberi itu semata mata) karena mencari keridhaan Rabbnya yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar benar mendapat kepuasan. (Q.S al Lail 20-21).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Dia berinfak hanyalah mengharap wajah Allah agar dapat mencapai Jannah (milik) Allah sebagai negeri yang yang penuh kemuliaan dan (juga) dapat melihat (wajah) Allah kelak. Allah Ta'ala pasti membuatnya Bahagia dan ridha dengan anugerah pahala yang banyak dan berlipat ganda. (Tafsir Juz 'Amma).

Jadi berbuat baik janganlah  mengharap  balasan dari manusia. Sebuah ungkapan menyebutkan bahwa jika engkau telah berbuat kebaikan buanglah kelaut. Maksudnya tidak perlu disebut sebut, jangan diungkit ungkit. Lupakan saja. Insya Allah kebaikan itu akan tetap ada pada catatan amal kita sampai hari Kiamat.

Jika seseorang  berharap balasan dari manusia ujung-ujungnya adalah kekecewaan karena kemampuan manusia untuk membalas kebaikan sangatlah terbatas. Ketahuilah bahwa manusia itu sedikit sekali yang mau berterima kasih. Jangankan berterima kasih kepada sesama manusia, berterima kasih (baca : bersyukur)   kepada Allah Ta'ala  juga  masih sangat banyak manusia  yang tidak melakukannya. Allah Ta'ala berfirman :

 وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba hamba-Ku yang bersyukur (Q.S Saba’ 13). 

Padahal Allah Ta'ala telah memberikan nikmat yang sangat  banyak dan tidak terhitung jumlah dan jenisnya. Allah Ta'ala berfirman :  

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) Q.S Ibrahim 34.

Jadi janganlah berharap terima kasih atau balasan dari manusia. CARILAH RIDHA ALLAH SAJA DENGAN BERBUAT BAIK KEPADA MANUSIA. Dan dalam perkara ini maka perhatikan pula   firman Allah Ta'ala  pada ayat berikut ini : 

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا

Dan memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanya untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. (Q.S al Insan 8-9).

Wallahu A'lam. (3.036)

 

ALLAH TA'ALA MENYELAMATKAN ORANG BERTAKWA

 

ALLAH TA'ALA MENYELAMATKAN ORANG BERTAKWA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu perintah utama dalam syariat Islam adalah perintah untuk bertakwa dengan sebenar benarnya takwa. Allah berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Q.S Ali Imran 102).

Ketahuilah bahwa takwa dalam pengertian bahasa berarti batasan atau penghalang yang mencegah seseorang dari hal yang ditakutinya. Jadi takwa kepada Allah bermakna membuat penghalang antara diri pribadi dengan siksa-Nya. Untuk memperoleh takwa itu maka seorang hamba haruslah mentaati perintah dan larangan Rabb-nya. (Tahdzibul Atsar, Imam ath Thabari).

Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as Sayyid Nada antara lain menjelaskan maksud dari bertakwa adalah : (1) Menyibukkan diri dengan ketaatan kepada Allah Ta'ala. (2) Menjauhi kemaksiatan. (3) Mengharap ketaatan hanya kepada-Nya, dan (4) Takut terhadap siksa-Nya. (Ensikklopedi Adab Islam).

Sungguh, Allah Ta'ala akan menyelamatkan orang bertakwa yaitu sebagaimana janji Allah Ta'ala yang disebutkan dalam firman-Nya :

ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Kemudian Kami akan menyelamatkan orang orang bertakwa dan membiarkan orang orang yang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut  (Q.S Maryam 72).

Selain itu pula, ketahuilah bahwa orang bertakwa akan mendapat furqan dan ampunan. Allah Ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

Wahai orang orang yang beriman !. Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan FURQAN (kemampuan untuk membedakan antara yang hak dengan yang bathil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar  (Q.S al Anfal 29).

Tentang ayat ini, dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebut  : Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan syariat-Nya, jika kalian bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan larangan-Nya. 

Niscaya Dia akan menjadikan bagi kalian pemisah atara yang haq dengan yang batil, menghapuskan dari kalian dosa-dosa kalian yang sudah terjadi, dan menutupnya bagi kalian, sehingga Dia tidak menghukum kalian karenanya. (Kementrian Agama Saudi Arabia).

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah berusaha dengan sungguh sungguh untuk menjaga sifat takwa dalam dirinya DIMANAPUN BERADA. Satu hadits dari  Abu Dzar al Ghifari  menyebutkan tentang perkara ini : 

اتق الله حيثما كنت ، وأتبع السيئة الحسنة تمحها، وخالق الناس بخلق حسن

Bertakwalah kepada Allah dimanapun kau berada, dan hendaknya setelah melakukan keburukankan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik. (H.R Imam Ahmad dan at Tirmidzi, ia berkata : Hadits ini hasan shahih).

 Wallahu A'lam. (3.035)

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 27 Juni 2023

DOA MEMILIKI KEDUDUKAN TINGGI DALAM SYARIAT ISLAM

 

DOA MEMILIKI KEDUDUKAN TINGGI DALAM SYARIAT ISLAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala memerintahkan hamba hamba-Nya untuk berdoa memohon kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabb-mu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (Q.S al Ghafir 60).

Berdoa adalah salah satu ibadah yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah Ta'ala. Oleh karena itu berdoa adalah termasuk ibadah yaitu sesuatu yang mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda  :

 إِنَّ الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Sesungguhnya doa adalah ibadah. (H.R Imam Ahmad dan yang selainnya).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga menjelaskan keutamaan berdoa sebagaimana disebutkan dalam banyak sabda beliau, diantaranya :

الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ الله بالدُّعَا

Doa itu bermanfaat untuk apa yang sudah terjadi dan apa yang belum terjadi. Karena itu para hamba Allah, hendaklah kalian banyak berdoa. (H.R at Tirmidzi dan al Hakim)

ليس شيءٌ أكرمَ على الله من الدعاء

Tidak ada yang paling mulia di sisi Allah Ta'ala daripada doa. (H.R Imam Ahmad dan at Tirmidzi dan al  Hakim).

Sungguh ketika seorang hamba berdoa maka dia menunjukkan bukti kelemahannya dan ketergantungannya kepada Allah Ta'ala yaitu untuk meraih apa apa yang bermanfaat dan menolak apa apa yang mendatangkan mudharat.

Ketahuilah bahwa satu hal penting diantara adab berdoa adalah JANGAN PERNAH BOSAN ATAU JENUH DALAM BERDOA. Sungguh rugi kalau seorang hamba  tidak berdoa terus menerus.

Perhatikanlah nasehat Imam Ibnul Qayyim berikut ini. Beliau berkata  : Salah satu kesalahan yang dapat menghalangi terkabulnya doa adalah ketergesa gesaan seorang hamba. Ia menganggap doanya lambat dikabulkan, lantas dia merasa jenuh dan letih.  

Ibarat seorang petani yang menanam tanaman, kemudian ia menjaga dan menyiraminya. Namun karena terlalu lama menunggu hasilnya, orang itu pun membiarkan dan mengabaikan tanaman tersebut. (Kitab Ad Daa’ wa ad Dawaa’)

Wallahu A'lam. (3.034)

 

Senin, 26 Juni 2023

MEMOHON TIGA NIKMAT BESAR DALAM RANGKAIAN DZIKIR PAGI

 

MEMOHON TIGA NIKMAT BESAR DALAM RANGKAIAN DZIKIR PAGI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dan senantiasa dibaca beliau dalam rangkaian dzikir pagi setelah shalat shubuh adalah : 

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Ya Allah, aku bermohon kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima. (H.R Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah, dari Ummu Salamah).

Ketahuilah bahwa sungguh  tiga hal yang diminta dalam hadits ini termasuk nikmat yang besar. Syaikh Hamd al Kaus berkata : Di antara nikmat  besar dalam kehidupan adalah :

(1) Allah Ta'ala beri taufik pada seorang insan untuk MENDAPATKAN ILMU YANG BERMANFAAT, sehingga dia terhindar dari syubhat, kesesatan dan fitnah.

(2) Allah Ta'ala beri juga TAUFIK PADANYA UNTUK BERAMAL SHALIH sehingga ia terhindar dari syahwat, menyia nyiakan waktu dan umur.

(3) Allah Ta'ala CUKUPKAN DIA DENGAN YANG HALAL sehingga ia tak mengambil yang haram. Allah Ta'ala beri dia karunia-Nya sehingga tak perlu yang lain. (Dari twitulama).

Oleh karena itu, sungguh doa ini  sangatlah baik untuk kita amalkan dalam rangkaian dzikir pagi setelah shalat shubuh sebagaimana diajarkan dan diamalkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dan diamalkan pula oleh para sahabat dan orang orang shalih sesudahnya.

Ketahuilah bahwa doa saja tentulah belum cukup tetapi hamba hamba Allah hendaklah melihat perbuatannya apakah SUDAH SELARAS ATAU SEJALAN    dengan makna doa yang dimohonkan kepada Allah Ta’ala.

(1) Saat kita meminta  ILMU YANG BERMANFAAT, maka kita harus banyak belajar ilmu dan bersegera mengamalkannya KARENA ILMU YANG BERMANFAAT ADALAH ILMU YANG DIAMALKAN.

(2) Saat kita meminta RIZKI YANG BAIK, maka kita harus memilah milah rizki yang akan kita ambil. Yang syubhat kita jauhi apalagi yang haram.

(3) Saat kita meminta AMALAN YANG DITERIMA, maka periksa cara cara kita beramal apakah sudah betul  betul ikhlas karena Allah  dan apakah sudah ittiba' yaitu sesuai dengan tuntunan. Sungguh tidak ada khilaf dalam hal ini bahwa syarat diterima ibadah seorang hamba adalah IKHLAS KARENA ALLAH DAN SESUAI DENGAN TUNTUNAN RASULULLAH SALALLAHU 'ALAIHI WASALAM.

Wallahu A'lam. (3.033)

 

 

 

 

SYARIAT ISLAM ITU MUDAH KALAU DISELISIHI JADI SULIT

 

SYARIAT ISLAM ITU MUDAH KALAU DISELISIHI JADI SULIT

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Orang orang beriman wajib meyakini bahwa sungguh syariat Islam itu mudah. Sungguh Allah Ta'ala tidak mensyariatkan kepada manusia sesuatu yang dipandang sulit. Allah Ta'ala berfirman :

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ

… Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghindari kesukaran bagimu …  (Q.S al Baqarah 185)

Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

… dan Dia sekali kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Q.S al Hajj 78).

Allah Ta'ala berfirman : 

مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak hendak menyulitkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kamu, supaya kamu bersyukur (Q.S. al Maa-idah 6).

Maksud ayat ini adalah Allah memberikan kemudahan, tidak memberikan kesulitan. Dan agar kalian bersyukur terhadap nikmat-nikmat yang diberikan Allah atas apa apa yang telah disyariatkan berupa kelonggaran, kelembutan, rakhmat, keindahan dan kelapangan (Tafsir Ibnu Katsir).

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wassalam  menjelaskan tentang kemudahan Islam, dalam sabda beliau  dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

  إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ  

Sesungguhnya agama itu mudah. Dan selamanya agama tidak akan memberatkan seseorang melainkan memudahkannya. Karena itu, luruskanlah, dekatilah, dan berilah kabar gembira !. Minta tolonglah kalian di waktu pagi-pagi sekali, siang hari di kala waktu istirahat dan di awal malam. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Selain itu ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga menjelaskan dalam sabda beliau :

ما خُيِّر رسول الله صلى الله عليه وسلم بين أمرين إلَّا أخذ أيسرهما، ما لم يكن إثمًا فإن كان إثمًا كان أبعد النَّاس منه، 

Tidaklah Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam diberi dua pilihan kecuali beliau memilih yang mudah diantara keduanya, selama itu bukan dosa. Adapun jika itu dosa maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya … (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Aisyah).

Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as Sayyid Nada berkata : Maknanya, bahwasanya seluruh perkara di dalam syariat adalah mudah, SEDANGKAN PERKARA YANG MENYELISIHINYA PASTI SULIT. Tidak mungkin syariat dan lawannya mudah pada saat yang sama. MAKA APABILA SUNNAH ITU MUDAH BERARTI YANG MENYELISIHINYA PASTI SULIT. Sebab, sekiranya itu mudah tentulah Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam telah memilihnya.

BARANGSIAPA YANG MENYELISIHI SUNNAH SESUNGGUHNYA IA TELAH MEMPERSEMPIT DAN MEMPERSULIT DIRINYA SENDIRI meskipun ia beranggpan sebaliknya atau berkeyakinan telah memilih yang mudah. Pada hakikatnya, itu merupakan persangkaan yang keliru.

Dengan demikian, agama ini berhak disifati dengan kemudahan seluruhnya sebagaimana Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ هذا الدِيْنَ يُسْرٌ

Sesungguhnya agama ini mudah. (H.R Imam Bukhari,  dari Abu Hurairah).   

Syaikh juga berkata : Adapun keyakinan (sebagian manusia) bahwa sesuatu dari agama ini sulit atau keyakinan bahwa Allah Ta'ala telah memperslit hamba hamba-Nya maka HAL INI TERMASUK ADAB YANG (SANGAT) KEPADA ALLAH dan prasangka kepada Allah Ta'ala dengan prasangka Jahiliyah. (Ensiklopedi Adab Islam). 

Jadi agama ini mudah tetapi ketika seseorang menyelisihi ajarannya maka akan mendatangkan kesulitan meskipun dianggap seolah olah mudah. Diantara contohnya adalah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perayaan atau hari raya atau hari yang dirayakan dalam syariat hanya  ada dua sebagaimana disebutkan dalam hadits :

الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr). (H.R an Nasa’i dan Imam  Ahmad).

Jadi hari raya atau hari yang dirayakan dalam syariat Islam hanya dua yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Lalu, ketika sebagian orang menyelisihi Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dengan mengadakan banyak sekali hari yang dirayakan maka tentu akan mendatangkan kesulitan dan tambahan kesibukan.

Wallahu A'lam. (3.032)

   


 

 

 

 

Minggu, 25 Juni 2023

DUA AKHLAK UTAMA PENUNTUT ILMU

DUA AKHLAK UTAMA PENUNTUT ILMU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh belajar ilmu adalah perbuatan yang sangat terpuji bahkan diwajibkan dalam syariat Islam. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Disebutkan pula dalam sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam satu diantara keutamaan belajar ilmu yaitu Allah mudahkan jalan menuju surga :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فيه عِلْمًا سَهَّلَ الله له بِهِ طَرِيقًا إلى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga. (H.R Imam Muslim).

Para penuntut ilmu sangatlah mendambakan agar ilmu yang dipelajari memberi manfaat terutama  bagi dirinya. Untuk itu maka penuntut ilmu hendaklah memiliki akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Dua diantaranya adalah :

Pertama : Selalu menjaga sifat tawadhu’

Tawadhu’ atau merendahkan hati, tidak sombong. Seseorang yang tawadhu' melihat dirinya memiliki nilai lebih dari orang lain.  Ini adalah sikap yang selalu dijaga oleh seorang yang belajar ilmu dan juga ahli ilmu. Allah Ta'ala mengingatkan dalam  firmanNya :  

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S Luqman 18).

Imam al Mawardi berkata : Adapun yang wajib bagi para (penuntut ilmu) dan ahli ilmu adalah berhias dengan akhlak yang pantas baginya. Diantaranya adalah sifat tawadhu’ dan menjauhi sifat ujub. (Adabud Dun-ya wad Din).

Imam an Nawawi mengingatkan tentang tawadhu' bagi penuntut ilmu : Janganlah seseorang merasa enggan untuk belajar  dari orang lain yang lebih rendah darinya dalam hal usia, nasab, ketenaran, ilmu agama atau ilmu  yang lainnya.

Bahkan hendaknya dia semangat untuk mengambil faedah yang ada pada orang lain meskipun orang lain itu berada di bawahnya dalam semua perkara tadi. (Al Majmu').

Kedua : Zuhud dalam perkara dunia.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat.

Imam Ibnu Jamaah al Kinani berkata : Hendaknya (penuntut ilmu) dan orang yang berilmu berakhlak dengan perangai  kezuhudan dalam perkara dunia. Mengambil sedikit dari dunia sesuai kemampuan yang tidak membahayakan dirinya karena apa yang dia ambil sedikit dari perkara dunia dengan qanaah bukanlah termasuk tanda mencintai dunia. 

Imam al Mawardi berkata : Diantara ahklak (penuntut ilmu) dan ahli ilmu adalah hendaknya dia membersihkan dirinya dari syubhat dalam mata pencarian. Hendaknya dia qanaah dengan apa yang mudah baginya dalam mencari rezki tidak rakus dengan keinginan. Sebab terjatuh ke dalam syubhat mata pencarian adalah sebuah dosa dan rakus dengan keinginan adalah kehinaan. (Adab Dun-ya wad Din).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (3.031)

  

Sabtu, 24 Juni 2023

HAMBA ALLAH BERDOA DENGAN SUARA LEMBUT

 

HAMBA ALLAH BERDOA DENGAN SUARA LEMBUT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala telah memberi SANGAT BANYAK NIKMAT untuk hamba hamba-Nya. Begitu banyaknya nikmat yang telah diberikan Allah Ta'ala baik jumlah dan jenisnya sampai sampai kita tak mampu menghitungnya. Allah Ta'ala mengingatkan hal ini dalam firman-Nya :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh manusia itu sangat ZHALIM DAN MENGINGKARI (NIKMAT ALLAH). Q.S Ibrahim 34.

Allah Ta'ala Maha Pengasih Maha Penyayang dan Mahakaya. Ketika seorang hamba yang telah diberi nikmat yang banyak masih membutuhkan tambahan nikmat, tetap  diberi kesempatan untuk meminta tambahannya yaitu dengan berdoa. Allah Ta'ala berjanji untuk mengabulkan doa hamba hamba-Nya, yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

Dan Rabb-mu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Q.S al Ghafir 60).

Ketahuilah bahwa berdoa  meminta tambahan nikmat kepada Allah Ta'ala mestilah memperhatikan adab adabnya. Salah satu adab dalam berdoa hakikatnya adalah DENGAN SUARA LEMBUT ATAU LIRIH. Diantara dalilnya adalah firman Allah Ta'ala :

ٱدْعُوا۟ رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang  melampaui batas. (Q.S al A’raf 55).

Dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Berdoalah wahai orang orang beriman, kepada Rabb kalian, dengan keadaan penuh menghinakan diri kepada-Nya, dengan SUARA RENDAH DAN PERLAHAN. Dan hendaknya doa dilakukan dengan hati khusyu dan jauh dari riya.

Selain itu disebutkan pula dalam al Qur an tentang sifat doa Nabi Zakaria : 

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّا

(Yakni) ketika dia (Zakaria) berdoa kepada Rabb-nya DENGAN SUARA YANG LEMBUT. (Q.S Maryam 3).

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Apabila seseorang berdoa untuk dirinya sendiri dan orang lain, maka doa tersebut dibaca jahr (keras). Seperti doa imam saat qunut dibaca dengan jahr karena doa tersebut untuk dirinya dan orang lain. Dan doa tersebut dibaca dengan bentuk jamak (plural) seperti “Ya Allah berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami keselamatan.

Oleh karena itu kami katakan, jika doa tersebut bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, maka dibaca dengan jahr (keras). Namun doa yang bersifat kolektif untuk orang yang berdoa dan selainnya, ini hanya sebatas pada doa-doa yang disebutkan syari’at saja (untuk dikerjakan secara berjamaah). Tidak boleh mengada-adakan doa-doa berjamaah yang tidak didasari oleh dalil. Karena mengada-adakan amalan semisal itu merupakan bid’ah yang terlarang.

Adapun jika seseorang berdoa untuk dirinya sendiri (di luar shalat) dan di sekitarnya tidak terdapat orang lain, dan dia bisa merasa lebih baik untuk hatinya, maka lebih utama dibaca dengan suara pelan. Sedangkan jika dia merasa lebih baik dibaca dengan suara keras, maka dibaca dengan suara keras.

Akan tetapi, tidak diperbolehkan mengeraskan bacaan doa sampai menyulitkan atau membebani dirinya sendiri. (Dari http://iswy.co/e29ron dengan sedikit diringkas).

Wallahu A'lam. (3.030)