Minggu, 28 April 2024

ADA MANUSIA YANG DIPANGGIL OLEH NERAKA DAN DIRINDUKAN SURGA

 

ADA MANUSIA YANG DIPANGGIL OLEH NERAKA DAN DIRINDUKAN SURGA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh di negeri akhirat Allah Ta'ala hanya menyediakan dua tempat tinggal bagi manusia. Hanya dua, tidak ada tempat ketiga.  : (1) Yaitu neraka tempat yang amat sangat menyengsarakan. (2) Yaitu surga tempat yang amat sangat menyenangkan.

Ketahuilah bahwa ada orang yang dipanggil oleh neraka untuk mendatangi dan memasukinya. Selain itu ada pula orang dirindukan oleh surga yakni  yang ingin segera bertemu dengannya dan memasukinya. Lalu siapa mereka ?.

Pertama : Orang dipanggil oleh neraka. Allah Ta'ala berfirman :

كَلَّا ۖ إِنَّهَا لَظَىٰ نَزَّاعَةً لِلشَّوَىٰ تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّىٰ وَجَمَعَ فَأَوْعَىٰ

Sama sekali  tidak !. Sungguh neraka itu api yang bergejolak. Yang mengelupaskan kulit kepala. Yang MEMANGGIL ORANG YANG MEMBELAKANGI DAN BERPALING (dari agama). Dan orang yang mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya (tidak mau mengeluarkan untuk zakat, infak dan sedekah). Q.S al Ma'arij 15-18.

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa'di berkata : "Yang MEMANGGIL ORANG YANG MEMBELAKANGI DAN BERPALING (dari agama)", yakni, orang yang BERPALING UNTUK MENGIKUTI KEBENARAN dan tidak memiliki keinginan untuk ke sana (yaitu menuju kebenaran, peny.).

Mereka saling mengumpulkan harta satu sama lain. Dikumpulkan dan tidak diinfakkan yang seharusnya bisa bermanfaat baginya dan melindunginya dari siksa neraka. Neraka MENYERU ORANG ORANG SEPERTI ITU KEPADA DIRINYA serta siap untuk membakarnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Orang yang dirindukan oleh surga.

Ketahuilah bahwa ternyata ada hamba hamba Allah yang beruntung. Mereka  dirindukan oleh surga. Lalu apa makna rindu ?. Dalam KBBI disebutkan salah satu makna rindu adalah : MEMILIKI KEINGINAN YANG KUAT UNTUK BERTEMU. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan tentang amalan  orang orang yang dirindukan oleh surga yaitu  dalam sabda beliau :

الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَا

Surga merindukan empat golongan yaitu orang yang membaca Al Quran, menjaga lisan (ucapan), memberi makan orang lapar, dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

           

Dari zhahir hadits ini kita mengetahui empat golongan yang dirindukan surga yaitu :

(1) Orang yang senantiasa membaca al Qur an.

Sungguh sangatlah besar pahala yang disediakan Allah Ta’ala bagi orang orang yang mau membaca al Qur an. Yang masih terbata batapun ketika  membaca al Qur an dijanjikan dengan dua pahala, bukan satu, yaitu pahala karena mau membacanya dan pahala karena berat dan susahnya dalam membaca. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

الْمَاهِرُ بِالْقُرآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Orang yang membaca al Qur an dengan mahir, akan bersama Malaikat yang mulia lagi taat dan yang membaca al Qur an dengan terbata bata dan merasa berat, maka ia mendapat dua pahala. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dan ternyata satu keutamaan besar diperoleh orang yang senantiasa membaca al Qur an yaitu dirindukan oleh surga.

(2) Orang yang senantiasa menjaga lisan.

Salah satu golongan yang dirindukan oleh surga adalah yang senantiasa menjaga lisannya. Ingatlah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah memberi wasiat atau bimbingan kepada orang orang beriman tentang memelihara dan menjaga lisan, diantaranya adalah sabda beliau :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Ketahuilah  bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah etika berbicara tapi terkait dengan iman. Lihatlah lafazh hadits ini : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, bukankah ini tentang iman ?.

Umar bin Khaththab yang memberi nasehat tentang memelihara dan menjaga lisan. Beliau berkata : Semoga Allah merakhmati orang yang menahan diri dari banyak berbicara dan lebih mengutamakan banyak beramal. (Uyun al Akhbar, Ibnu Taimiyah)

(3) Suka memberi makan orang yang lapar.

Memberi makan orang yang lapar atau dengan kata lain memberikan sebagian harta kepada orang yang kekurangan adalah suatu perbuatan sangat dianjurkan.

Bukankah dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan  tentang seseorang yang memberi minum kepada anjing yang kehausan lalu Allah Ta'ala berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Apalagi memberi makan orang yang lapar tentulah Allah lebih ridha dan SURGA MERINDUKANNYA.

(4) Orang yang senantiasa berpuasa di bulan Ramadhan.

Allah Ta'ala mewajibkan orang orang beriman untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Ibadah ini hakikatnya tidaklah ringan karena tidak makan dan minum serta menjaga hal hal yang membatalkannya selama lebih kurang 14 jam.

Tetapi Allah Ta'ala memberikan balasan dengan keutamaan yang banyak diantaranya  diampuni dosanya yang telah lalu.  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.  (H.R Imam Bukhari  dan Imam  Muslim dari Abu Hurairah).

Nah, ternyata puasa fardhu ini juga mendatangkan rasa rindu surga kepada orang yang mengamalkannya. Sungguh, surga ingin segera bertemu dengannya. Bahkan di surga ada satu pintu bernama ar raiyan yang disediakan khusus untuk dimasuki orang orang yang berpuasa yaitu sebagaimana disebutkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Wallahu A'lam. (3.279)

 

  

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

Senin, 22 April 2024

SUNGGUH BERUNTUNG JIKA HARTA SEGERA DIKIRIM KE AKHIRAT

 

SUNGGUH BERUNTUNG JIKA HARTA SEGERA DIKIRIM KE AKHIRAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika hidup di dunia, maka orang orang beriman sangat dianjurkan mengirimkan harta ke negeri akhirat yaitu dengan cara membelanjakannya di jalan Allah. Inilah orang yang sangat beruntung karena bisa menikmati manfaat hartanya di akhirat kelak. Bahkan Allah Ta'ala akan memberi balasan berlipat ganda. Allah Ta'ala berfirman : 

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.(Q.S al Baqarah 261).

Ketahuilah bahwa ketika seseorang mengharapkan balasan berlipat ganda dari harta yang diinfakan atau dikirim ke akhirat sebagai bekal baginya, maka ada beberapa hal yang sangat baik diperhatikan :

Pertama : Sangat dianjurkan agar harta itu dikirim ke akhirat melalui infak, sedekah dan hibah  di jalan Allah, sebelum seseorang wafat. Allah berfirman : 

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu SEBELUM KEMATIAN DATANG kepada salah seorang diantara kamu, lalu dia berkata (menyesali) : Ya Rabb-ku sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang orang yang shalih.  (Q.S al Munafiqun 10)

Kedua : Diinfakkan dengan ikhlas, tidak menyebut nyebut dan tidak menyakiti perasaan penerima. Allah Ta’ala berfirman : 

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَآ أَنفَقُوا۟ مَنًّا وَلَآ أَذًى ۙ لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima) mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.  (Q.S al Baqarah 262)

Ketiga : Harus dari hasil kerja atau usaha yang baik dan halal.

Ketahuilah bahwa hanya berinfak dengan harta yang baik yang akan benilai di sisi Allah dengan berlipat ganda.

(1) Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang Thayyib. (H.R Imam Muslim).

(2) Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

لاَ يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ إِلاَّ أَخَذَهَا اللَّهُ بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّى أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ قَلُوصَهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ أَوْ أَعْظَمَ

Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma DARI HASIL KERJA YANG HALAL yang halal melainkan Allah akan mengambil sedekah tersebut dengan tangan kanan-Nya lalu Dia membesarkannya sebagaimana seseorang membesarkan anak kuda atau anak unta betinanya hingga sampai semisal gunung atau lebih besar dari itu.  (H.R Imam Muslim)


Sebagai penutup tulisan ini, dinukil satu hadits tentang   ahli sedekah bahwa mereka akan dipanggil untuk masuk surga dari pintu khusus. Yakni Baab Ash Shadaqah. Pintu sedekah.

وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

Barangsiapa yang termasuk ahli sedekah, niscaya ia dipanggil (masuk surga) dari pintu sedekah. (H.R Imam Bukhari).

Wallahu A'lam. (3.278)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 21 April 2024

TIGA TANDA ORANG BODOH MENURUT ABU DARDA'

 

TIGA TANDA ORANG BODOH MENURUT ABU DARDA'

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hakikatnya, tidak ada diantara kita yang mau disebut sebagai orang bodoh apalagi menjadi orang yang memang bodoh. Tetapi terkadang kita terjatuh kepada keadaan seperti orang bodoh karena melakukan sesuatu perbuatan bodoh.

Lalu apa tanda orang bodoh ?, Abu Darda' seorang sahabat menyebutkan beberapa tanda orang bodoh, beliau berkata : Tanda orang bodoh itu ada tiga : (1) Ujub atau bangga diri. (2) Banyak berbicara yang tidak bermanfaat. (3) Melarang orang lain melakukan sesuatu perbuatan, tetapi dia sendiri melakukannya. (Uyunu al Akhbar, Ibnu Qutaibah).

Sungguh, kita bisa mengambil banyak manfaat dengan mencoba merenungkan dan mendalami  perkara ini,  diantaranya adalah :

Pertama : Tentang ujub atau bangga diri.

Ujub atau bangga diri adalah salah satu sifat tercela yang harus dijauhi dan tak pantas dipelihara oleh orang orang beriman. Sungguh orang yang cerdas selalu menghindar dari sifat ini karena banyak keburukannya. Diantaranya adalah  sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikui dan UJUBNYA SESEORANG TERHADAP DIRINYA SENDIRI.  (H.R at Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Dan juga beliau  bersabda :

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) UJUB !, UJUB !. (H.R al Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Kedua : Tentang banyak berbicara yang tidak bermanfaat.

Ketika seorang hamba meninggalkan sesuatu yang tidak berguna, tak bermanfaat baik dalam BERBICARA MAUPUN BERBUAT maka jadilah dia termasuk HAMBA YANG BAIK KEISLAMANNYA. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :     

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ».

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Salalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : Di antara baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu YANG TIDAK BERMANFAAT BAGINYA. (H.R at Tirmidzi dan yang selainnya, hadits Hasan).

Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad berkata : Makna hadits ini adalah seorang muslim itu meninggalkan parkara yang tidak penting baginya dalam urusan agama dan dunia. Baik berupa ucapan maupun perbuatan. Artinya dia harus berusaha keras melakukan perkara yang bermanfaat baginya dalam semua itu. (Syarah Arba’in an Nawawiyah).

Ketiga : Tentang melarang orang lain tetapi dia sendiri melakukan.

Melarang atau memberi nasehat kepada orang ain untuk tidak melakukan sesuatu tetapi dia sendiri melakukan. Sungguh ini adalah perbuatan tercela dalam syariat Islam.  Allah Ta’ala memberikan peringatan keras kepada orang orang yang BERKATA TAPI TAK MENGAMALKANNYA.  Ini dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya, diantaranya  :    

Pertama : Dalam surat ayat ash Shaff ayat 2-3 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman !. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?. (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan

Kedua : Dalam surat al Baqarah ayat 44.

Allah Ta’ala berfirman :  

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri pada hal kamu membaca Kitab. Tidakkah kamu berakal (mengerti) ?.

Syaikh as Sa’di berkata : Bahwa akal menganjurkan kepada pemiliknya untuk menjadi orang yang pertama  melakukan apa yang diperintahkan dan orang yang meninggalkan apa yang dilarang. Jadi barangsiapa yang memerintahkan orang lain kepada kebaikan lalu dia tidak melakukannya atau melarang dari kemungkaran namun dia tidak meninggalkannya maka hal itu menunjukkan TIDAK ADANYA AKAL PADANYA DAN (YANG ADA ADALAH) KEBODOHANNYA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)    

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (3.277)  

 

DUA DIANTARA SIFAT MANUSIA TERBAIK

 

DUA DIANTARA SIFAT MANUSIA TERBAIK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, orang orang beriman selalu berusaha menjadi manusia terbaik yang selalu mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dalam setiap keadaanya. Dengan demikian ada jalan baginya untuk selamat hidup di dunia dan Kembali ke negeri akhirat dengan selamat pula.

 Lalu adakah sifat sifat yang harus dimiliki oleh orang orang beriman yang ingin menjadi manusia terbaik ?. Ada, dua  diantaranya adalah :

Pertama : Belajar dan mengajarkan al Qur an.

Sungguh, beruntung hamba hamba Allah yang selalu belajar dan mengajarkan al Qur an karena  akan mengangkat dirinya menjadi manusia terbaik. Dari Usman bin Affan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :  

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik baik kalian adalah yang belajar al Qur an dan mengajarkannya (H.R Imam Bukhari).

Tentang hadits ini, Imam Ibnu Hajar Ashqalani  berkata : Tidak diragukan lagi bahwa orang yang bisa menggabungkan antara belajar dan mempelajari al Qur an adalah orang yang sempurna bagi dirinya dan bagi orang lain, yaitu orang yang mampu mengumpulkan yang manfaat  yang sedikit dan yang banyak.

Kedua : Yang paling takwa dan paling banyak ilmunya tentang al Qur an.

Diantara sifat manusia terbaik adalah juga yang paling bertakwa dan juga paling banyak ilmunya tentang  al Qur an. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda : “Manusia terbaik adalah yang paling banyak bacaan dan ilmu Qur’annya, paling bertaqwa dan paling suka beramar ma’ruf nahi munkar serta paling rajin menyambung silaturahim.” (H.R Imam  Ahmad).

Bahkan sungguh Allah Ta’ala menyebutkan bahwa orang yang paling takwa adalah orang paling mulia di sisi Allah Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya :  

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Q.S al Hujurat 13).

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah selalu bersegera belajar ilmu terutama ilmu tentang al Qur an. Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan dalam sabda beliau tentang hakikat dunia adalah terlaknat. Salah satunya yang dikecualikan adalah orang yang ORANG BERILMU DAN YANG BELAJAR ILMU :    

 

أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلا ذكرُ الله وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ

Ketahuilah sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat apa saja yang ada didalamnya kecuali dzikir kepada Allah, amalan yang mendekatkan kepada Allah, orang yang berilmu atau orang yang belajar  ilmu. (H.R. At Tirmidzi dan Ibnu Majah. dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam dalam Misykah al Mashabih)

Wallahu A'lam. (3.276).

Sabtu, 20 April 2024

BERUSAHALAH AGAR RAMADHAN BERLALU DOSA DIAMPUNI

 

BERUSAHALAH AGAR RAMADHAN BERLALU DOSA DIAMPUNI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, salah satu nama yang masyhur dan disematkan kepada bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan. Kenapa ?, karena di bulan Ramadhan sangatlah banyak kesempatan  beribadah untuk PENGHAPUS DOSA YANG TELAH LALU.

Di antara dalil dalil yang menunjukkan bahwasannya Ramadhan adalah bulan ampunan yaitu sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

 

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ، مُكَفِّرَاتُ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Shalat lima waktu, mengerjakan shalat jumat kepada shalat jumat yang lain, berpuasa Ramadhan adalah penghapus-penghapus dosa di antaranya jika dijauhi dosa-dosa besar. (H.R Imam Muslim).

 

Selain itu ada beberapa dalil yang juga menunjukkan kepada kita tentang Ramadhan sebagai bulan penuh ampunan yaitu :

Pertama : Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah).

Kedua : Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

 مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa  melaksanakan shalat taraweh atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah)

 

Maksud qiyam Ramadhan, secara khusus, menurut Imam Nawawi adalah shalat taraweh. Hadits ini memberitahukan, bahwa shalat taraweh itu bisa mendatangkan maghfirah dan bisa menggugurkan semua dosa.  Tetapi dengan syarat : (1)  Karena berlandaskan iman. (2)  Membenarkan pahala-pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala tersebut dari Allah Ta’ala. (3) Bukan karena riya’ atau sekedar (mengikuti) adat kebiasaan. (Fathul Bari).

 

Ketiga : Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

 مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إَيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Selanjutnya, ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau  bahwa ada orang yang merugi bahkan celaka karena tak diampuni dosanya ketika Ramadhan telah berlalu : 

“CELAKALAH SEORANG HAMBA yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni”. (H.R Imam Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh  al Albani).

Al Hafidz al Munawi berkata : Makna hadits yang mulia ini adalah seorang hamba yang mengetahui seandainya dia menahan syahwatnya dalam sebulan (Ramadhan) di setiap tahun dan melakukan amalan khusus yang disyariatkan baginya yaitu puasa dan shalat taraweh maka akan DIAMPUNI DOSA DOSANYA YANG TELAH LALU. Namun dia menyia nyiakan dan tak mengerjakannya sampai Ramadhan berakhir. Maka dia menjadi HAMBA YANG CELAKA. (Faidhul Qadir).

 

Dalam riwayat yang lain,   ada hadits  riwayat Imam Tirmidzi dan haditsnya dishahihkan Imam al Albani rahimahullah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ

Sungguh sangat merugi seseorang yang disebutkan namaku di hadapannya tetapi dia tidak bershalawat atasku. Dan sungguh sangat rugi seseorang yang ia masuk dalam bulan Ramadhan kemudian berlalu Ramadhan sebelum diampuni dosanya. Sungguh sangat rugi seseorang mendapati di sisinya (orang tua tersebut tinggal bersamanya) kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dalam keadaan tua tetapi tidak memasukkannya ke dalam surga. (H.R at Tirmidzi)

Qatadah berkata : Siapa saja yang tidak diampuni dosanya di bulan Ramadhan maka sungguh di hari yang lain, diluar Ramadhan, iapun akan sulit diampuni. (Lathaif al Ma'arif).

Oleh karena itu hamba hamba Allah  selalu berusaha mengisi bulan Ramadhan dengan amal amal shalih yang disyariatkan sebagai kesempatan paling baik untuk penghapus dosa yang telah lalu.

Wallahu A'lam. (3.275)

Selasa, 16 April 2024

SIFAT SUKA DIPUJI BISA MEMBAHAYAKAN DIRI

 

SIFAT SUKA DIPUJI BISA MEMBAHAYAKAN DIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu sifat yang  berbahaya bagi diri seorang hamba  adalah memelihara sikap dipuji. Sungguh seorang hamba tidak akan mulia dengan pujian manusia Kalaupun ada kemuliaan cuma sangat kecil dan sementara. Kemulian yang hakiki hanya untuk orang orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah Ta'ala :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sungguh orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha mengetahui, Mahateliti. (Q.S al Hujuraat 13).

Syaikh as Sa'di berkata : Ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa. Orang yang paling mulia di antara sesam adalah yang paling bertakwa kepada Allah Ta'ala, paling banyak melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan, bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang keturunannya paling terpandang. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Imam Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa pujian adalah salah satu  musuh ikhlas dalam beramal. Sifat suka dipuji  kata beliau bila bercampur dengan ikhlas maka yang satu akan membunuh yang lain.

Ibarat api dicampur dengan air, tidak akan pernah bersatu. Kalau apinya besar akan membunuh air dan kalau airnya besar akan membunuh api. Sifat suka dipuji jika bercampur dengan ikhlas adalah seperti juga biawak bercampur dengan ikan, yang satu akan membunuh yang lain. Kalau ikannya lebih besar akan membunuh biawak dan kalau biawaknya lebih besar maka akan membunuh ikan. (Lihat Fawaidul Fawaid).

Ustadz Dr. Firanda Andirja memberi nasehat : Untuk apa engkau ujub dan bangga dengan pujian manusia. Apakah pujian tersebut akan merubah hakekatmu ?. Sedikitpun tidak akan mengangkat derajatmu di sisi Allah….jika memang engkau rendah di sisi Allah.

Carilah keridhaan Allah…jangan pernah mencari keridhaan manusia… Bagaimanapun engkau dipuji orang pasti ada orang lain yang mencelamu….sebagaimana bagaimanapun engkau dicela pasti ada saja yang  memujimu (https://firanda.com).

Ketahuilah bahwa ketika engkau mendapat pujian, berlaku bijaklah, diantaranya dengan memahami betul bahwa :

Pertama : Seseorang yang dipuji haruslah sungguh sungguh menyadari bahwa orang yang memuji  tidak mengetahui semua keadaan dirinya. Apalagi yang ada didalam hatinya. Orang yang memuji biasanya hanya ibarat melihat photo atau gambaran sesaat  tidak melihat video sebagai gambaran keseluruhan. Jika orang yang memuji mengetahui seluruh keadaan orang yang dipuji tentulah dia tidak akan mau memberi pujian.

Kedua : Bila mau berfikir jernih, maka jujur saja, sungguh kita ini tidak ada apa-apanya. Kita hanya seorang manusia yang berlumur dosa yang sementara ini ditutupi aib-aibnya oleh Allah Ta’ala. Kita hanya manusia lemah dan  bodoh sedikit sekali ilmu.

Kita  tidak tahu banyak tentang kekurangan dan  kebodohan kita. Kita tidak mempunyai apa-apa kecuali yang sekadar dititipkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk waktu yang sangat  terbatas dan segera berakhir. Kalau Allah Ta’ala mau mengambilnya, kapan saja, maka kita tidak kemampuan secuilpun untuk menahannya. Lalu dengan keadaan yang demikian pantaskah kita dipuji ataupun mengharapkan pujian ?. 

Ketiga : Apa pun yang kita lakukan dalam beramal, berbuat baik katakanlah bisa mencapai prestasi yang mungkin mengagumkan orang banyak ketahuilah bahwa itu semua adalah karena karunia dan pertolongan Allah Ta’ala semata. Oleh karena itu maka Dzat yang pantas bahkan wajib dipuji hanya Allah Ta’ala saja, bukan yang selain-Nya.

Wallahu A'lam. (3.274)