Minggu, 31 Juli 2016

MEMAHAMI MUSIBAH SECARA BENAR



MEMAHAMI MUSIBAH SECARA BENAR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah.
Semua manusia pasti akan diuji. Ujian itu bisa terhadap dirinya, keluarganya, hartanya dan yang lainnya.  Allah berfirman : “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar”.   (Q.S al Baqarah 155) 

Ketahuilah saudaraku bahwa semua keadaan yang diturunkan Allah  kepada seorang hamba, termasuk ujian dan cobaan, pastilah  memiliki hikmah yang sempurna. Bukan sesuatu yang sia sia. Allah berfirman : “Ya Rabb kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari adzab neraka” (Q.S Ali Imran 191)

Rasulullah bersabda :  “Matsalul mu’mini kamatsaliz zar’i, laatazaalur riihu tamiiluhu, walaa yazaalul mu’minu yushiibuhul bala’. Perumpamaan seorang mu’min tak ubahnya seperti tanaman, angin akan selalu meniupnya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim).

Paling tidak ada tiga tujuan dari ujian, yaitu :
Pertama : Untuk diketahui apakah seseorang itu  benar benar beriman.
Allah berfirman : “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan beriman, dan mereka tidak diuji ? (Q.S al Ankabuut 2).

Syaikh as Sa’di dalam menafsirkan ayat ini, antara lain menjelaskan bahwa : Dia (Allah) akan menguji mereka dengan kesenangan dan kesengsaraan hidup, kesulitan dan kemudahan, hal hal yang membuat semangat dan yang membenci, kekayaan dan kefakiran, dengan penguasaan musuh musuh terhadap mereka pada saat tertentu serta berbagai cobaan lainnya. Sesungguhnya, kata beliau, ujian dan cobaan bagi jiwa tak obahnya seperti alat tempa besi yang memisahkan karat dan besi.  
  
Kedua : Untuk diketahui siapa yang paling baik amalnya.
Allah berfirman : “(Allah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa yang lebih baik amalnya.”  (Q.S al Mulk 2). 

Dalam surat al Mulk ayat 2 diatas disebutkan kalimat “ahsanu ‘amala” yaitu amalan atau ibadah yang lebih baik. Imam Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa  makna ahsanu ‘amala dalam ayat ini adalah amalan yang ikhlas semata-mata karena Allah dan mengikuti contoh yang diajarkan oleh Rasulullah.

Ketiga : Untuk menghapus sebagian dosa.
Ini adalah berita gembira untuk seorang hamba yang sedang mendapat ujian dan mereka menerima dengan sabar. Rasulullah bersabda : “Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesedihan, gangguan, kegundah gulanaan hingga duri yang menusuknya melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan kesalahannya”  (H.R Imam Bukhari dari Abu Hurairah).

Jika kita lihat lebih jauh, maka ketiga tujuan maka tampak dengan jelas bahwa ujian tersebut sebenarnya adalah bagian dari kasih sayang Allah terhadap hambaNya. Sebab semua maksud ujian tersebut akan kembali kepada kebaikan bagi hamba-Nya.

Tingkatan manusia menghadapi musibah.
Dalam menerima musibah manusia berada pada beberapa keadaan atau tingkatan.  Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelaskan tentang hal ini :

Tingkatan pertama : Manusia yang mengerutu, mendongkol,  tidak mau menerima. Ini direfleksikan dengan hati yang tidak menerima, dengan lisannya berupa umpatan dan dengan anggota badan seperti menampar nampar pipi sendiri, merobek robek baju dan yang lainnya. Semua ini haram hukumnya karena menafikan kewajiban dan perintah bersabar.

Tingkatan kedua : Bersabar atas musibah. Hal ini seperti ungkapan seorang penyair : “Sabar itu seperti namanya, pahit rasanya. Akan tetapi hasilnya lebih manis daripada madu”.
Manusia dalam tingkatan ini beranggapan bahwa musibah tersebut sebenarnya berat baginya akan tetapi dia kuat menanggungnya. Dia tidak suka musibah itu terjadi tetapi iman yang ada di hatinya menjaganya dari menggerutu. Terjadi musibah atau tidak terjadinya musibah tidak sama baginya. Perbuatan atau sikap sabar seperti itu wajib hukumnya karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar sebagaimana dalam firman-Nya : Washbiruu, innallaha ma’ash shaabiriin” Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. (Q.S al Anfal 46).

Tingkatan ketiga : Ridha terhadapnya seperti keridhaan seseorang terhadap musibah yang dialaminya dimana baginya sama saja, ada dan tidak musibah tersebut. Adanya musibah tidak membuatnya sesak dan tidak (merasa) berat menanggungnya.  Sikap seperti ini dianjurkan tapi bukan suatu kewajiban menurut pendapat yang raajih. 
  
Perbedaan antara tingkatan ini dan tingkatan kedua diatas amat jelas. Sebab dalam tingkatan ketiga ini ada dan tidak adanya musibah sama saja bagi orang yang mengalaminya sementara pada tingkatan kedua adanya musibah dirasakan sulit baginya tetapi dia bersabar.

Tingkatan keempat : Bersyukur terhadap musibah. Ini merupakan tingkatan paling tinggi. Hal ini dilazimkan oleh orang yang mengalaminya dengan bersyukur kepada Allah Ta’ala atas musibah apa saja yang dialami. 

Dalam hal ini dia mengetahui bahwa musibah ini merupakan sebab atau sarana untuk menghapus semua keburukannya (dosa dosa kecilnya) dan barangkali bisa menambah kebaikannya. Rasulullah bersabda : “Maa min mushiibatin tushiibul muslima illa kaffarallahu bihaa ‘anhu hattasy syaukati yusyaakuhaa” Tiada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan dengannya Allah hapuskan (dosa dosa kecil) darinya sampai sampai sebatang duri pun yang menusuknya. (H.R Imam Bukhari no. 5640 dan Imam Muslim no. 2572).  
  
Sikap yang benar dan bermanfaat ketika ada musibah ataupun ujian.
Seorang hamba yang benar imannya maka dia akan menerima musibah dengan cara yang terpuji sehingga menuai kebaikan yang banyak dari ujian atau musibah yang mendatanginya.

Pertama :  Berbaik sangka kepada Allah.
Inilah sikap pertama yang harus dikedepankan  seorang yang mendapat musibah atau  ujian. Tidaklah menjadi sempurna imam seseorang jika tidak berbaik sangka kepada Allah dalam setiap keadaan.

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Engkau wajib husnuzhan atau berbaik sangka kepada Allah terhadap perbuatan Allah di alam ini. Engkau wajib meyakini bahwa apa yang Allah lakukan adalah untuk suatu hikmah yang sempurna. Terkadang akal manusia memahaminya, terkadang tidak. Maka janganlah ada yang menyangka bahwa jika Allah melakukan sesuatu di alam ini karena kehendak-Nya yang buruk.

Kedua : Menjaga sikap sabar
Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Kitab Madaarijus Saalikin, menjelaskan makna sabar ada empat,  yaitu : (1) Menahan diri  dari berputus asa. (2) Meredam amarah jiwa. (3) Mencegah lisan untuk mengeluh, dan (4)  Mencegah anggota badan untuk berbuat kemungkaran.

Sungguh sangatlah banyak keutamaan sabar. Diantaranya seperti yang dikatakan oleh Syaikh Sulaiman bin Qaashim : Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran yaitu seperti air yang mengalir deras. Lalu beliau membacakan al Qur an surat az Zumar 10 : Innamaa yuwaffash shabiruna ajrahum bighairi hisaab” Sesungguhnya hanyalah pahala orang-orang bersabarlah yang dicukupkan tanpa batas.
Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin dalam Kitab Syarah Riyadush Shalihin menjelaskan : Adapun kesabaran pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tidak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa diukur dengan bilangan. 

Bahkan, pahala sabar termasuk perkara yang maklum disisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula bisa disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. Demikian penjelasan Syaikh Utsaimin.

Ketiga : Banyak beristighfar.  
Seorang hamba yang mendapat musibah atau ujian dalam hidupnya hendaklah banyak beristighfar.
Imam al Qurthubi  dalam Kitab Tafsirnya menjebutkan tentang seseorang yang datang kepada Imam Hasan al Bashri mengadukan cobaan dirinya yaitu susah sekali 
mendapatkan rizki. Imam Hasan al Bashri memberi nasehat agar banyak beristighfar.
Yang lain datang  mengadukan musibah tentang tanamannya yang kekeringan karena hujan sudah lama tidak turun.  Imam Hasan al Bashri memberi nasehat agar banyak beristighfar.

Yang lain lagi datang mengadukan cobaan yang menimpa dirinya. Dia sudah lama menikah tapi belum mendapatkan keturunan.  Imam Hasan al Bashri memberi nasehat agar banyak beristighfar. 

Lalu ada seseorang yang bertanya kepada Imam Hasan al Bashri. Ya Syaikh kenapa setiap orang yang datang mengadukan keadaannya selalu engkau beri nasehat agar banyak beristighfar. 

Imam Hasan al Bashri menjelaskan : Aku mengatakan  (agar banyak beristighfar) itu bukan dari diriku. Lalu beliau membacakan surat Nuh 10 -12) : Faqultu astaghfiruu rabbukum innahu kaana ghafaaraa. Yursilis samaa-a ‘alaikum midraaraa. Wayumdidkum biamwaalin wa baniina wa yaj’allakum jannaatin wayaj’allakum anhaaraa.”    Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Mahapengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepadamu hujan yang lebat dari langit. Dan Dia memberikan kepadamu anak-anak dan harta yang banyak, diadakan-Nya bagimu kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.

Keempat : Banyak berdoa.
Seorang hamba haruslah senantiasa berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan dan kesabaran dalam menerima musibah. Juga bermohon untuk mendapatkan   kemudahan dalam hidupnya di dunia dan akhirat. Apalagi pada saat ada musibah atau ujian yang ringan maupun berat.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala  berjanji akan mengabulkan doa hamba hambaNya. Allah berfirman : “Wa qaala rabbukum ud’unii astajiblakum.” Dan Rabbmu berfirman  : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Q.S al Mu’min 60). 

Rasulullah bersabda : “Innad du’a-a yanfa’u mimma nazala wa mimma lam yanzil, fa’alaikum ‘ibadallahi biddu’a-i”  Doa itu bermanfaat terhadap apa yang sudah maupun belum menimpa. Oleh karena itu wahai sekalian hamba Allah hendaklah kalian berdoa (H.R Imam at Tarmidzi dan al Hakim dari Ibnu Umar).

Rasulullah bersabda : “Laisa syai’un akrama ‘alallahi  Ta’ala minad dua’i” Tidak ada yang lebih mulia disisi Allah daripada doa (H.R Imam Ahmad, Imam at Tirmidzi dari Abu Hurairah

Rasulullah bersabda : “Innad du’a-u huwal ibadah”  Sesungguhnya doa itu ibadah. Suatu ibadah tentulah mendatangkan pahala dan kebaikan. Andaikata  seseorang merasa doanya belum dikabulkan maka melakukan doa sebagai ibadah saja insya Allah sudah memberi manfaat bagi yang berdoa tersebut.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (737).

HILANGNYA SEMANGAT BERIBADAH SETELAH RAMADHAN



HILANGNYA SEMANGAT BERIBADAH SETELAH RAMADHAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Syaikh Abdul Aziz as Sadhan dalam Kitabnya Tentang Shaum, menyebutkan enam kelompok manusia menghadapi Ramadhan. Satu diantaranya adalah kelompok yang (seolah olah) tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan.

Beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa bila Ramadhan datang maka mereka yang termasuk kelompok ini akan ikut puasa, ruku’ dan sujud serta melakukan ibadah lainnya bersama orang banyak. Tapi setelah Ramadhan berlalu mereka kembali pada kondisi mereka sebelum Ramadhan. Tidak lagi ruku’ dan sujud atau beribadah yang lainnya. Mereka kembali kepada kebiasaan sebelumnya.

Ketahuilah bahwa kelompok manusia seperti ini bukan hanya ada pada dewasa ini. Bahkan pada zaman Imam Ahmad bin Hambal juga sudah ada. Sampai sampai Imam Ahmad berkomentar tentang mereka. Imam Ahmad berkata : Mereka adalah seburuk buruk  kaum lantaran (mereka seolah olah) tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan. 

Kelompok ini perlu diingatkan bahwa sesungguhnya nikmat Allah yang dia peroleh dan dia butuhkan bukan pada bulan Ramadhan saja tapi setiap detik dari umurnya. Dan tentu sangatlah tidak pantas kalau bersyukur dan mengingat Allah hanya pada bulan Ramadhan saja, demikian uraian Syaikh as Sadhan.

Kalau kita perhatikan  semangat beribadah dari sebagian besar kaum muslimin  setelah Ramadhan ternyata memang kendor. Jadi apa yang dikatakan Syaikh as Sadhan memang ada benarnya. Lihatlah faktanya di masyarakat kita, diantaranya dapat kita saksikan :

Pertama : Bukankah setelah Ramadhan sangat banyak orang Islam yang tidak lagi melakukan shalat malam. Pada hal selama Ramadhan kita telah menjadi orang orang yang rajin menegakkan shalat taraweh. Adalah sangat terpuji jika kebiasaan shalat taraweh (shalat malam di bulan Ramadhan) diganti dengan shalat lail di luar ramadhan.

Ketahuilah bahwa  shalat ini menjadi kebiasaan orang orang shalih dari dahulu hingga sekarang. Mereka dengan sungguh sungguh dan istiqamah melaksanakannya karena ingin mendapat kemuliaan dan keutamaannya yang banyak. Rasulullah bersabda : … Wa afdhalush shalaati ba’dal faridhati shalaatul laili” … Dan sebaik baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (H.R Imam Muslim).

Ingatlah bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencela  orang yang dahulu rajin shalat malam, namun kemudian ia meninggalkannya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku : “Yaa ‘abdullah, laa takun mitla fulaanin, kaana yaquumul lailil laila fa taraka qiyaam”. Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si Fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (H.R Imam Bukhari).
 
Kedua : Bukankah puasa sunnah tidak dikerjakan lagi oleh sebagian besar umat Islam setelah Ramadhan. Pada hal selama Ramadhan mereka begitu bersemangatnya melaksanakan puasa. Praktek puasa selama sebulan penuh seolah olah tidak bisa memberi dampak yang baik untuk bisa melakukan puasa sunnah pada bulan berikutnya, meskipun tiga atau lima hari saja dalam sebulan.

Sangatlah banyak jenis puasa sunnah. Salah satu puasa yang bisa dilakukan adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Man shaama ramadhaana tsumma atba’ahu sittan min syawwaalin kaana kashiyaamid dahri”  Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh. (H.R Imam Muslim).

Juga merupakan keutamaan puasa  adalah : Mendapat perisai sebagai benteng terhadap api neraka. Rasulullah bersabda : Ash shiyamu junnatun yastahjinnu bihal ‘abdu minnaar. Puasa merupakan perisai yang digunakan seorang hamba untuk membentengi diri dari neraka (H.R Imam Ahmad).

Oleh karena itu tentulah merugi orang orang yang meninggalkan puasa sunnah setelah ramadhan. 

Ketiga : Bukankah setelah Ramadhan sebagian besar umat Islam telah lalai dalam membaca, mentadaburi dan mempelajari makna ayat ayat al Qur-an. Ini adalah fakta.
Memang Ramadhan disebut juga sebagai bulan al Qur-an.  Sehingga  selama ramadhan umat Islam sepertinya berlomba membaca dan mempelajari al Qur an. Bahkan ada yang sempat mengkhatamkan beberapa kali.  Ketahuilah bahwa al Qur-an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia tidaklah untuk dibaca dan dipelajari pada bulan Ramadhan saja tapi pada setiap waktu dan keadaan. 

Rasulullah pernah mengadu kepada Allah tentang kaumnya yang lalai terhadap al Qur an yaitu sebagaimana disebut dalam surat al Furqan 30 : “Wa qaalar rasuulu yaa rabbi inna qaumiit takhdzuu haadzaal qur-aana mahjuuraa”.  Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al Qur-an ini sesuatu yang tidak diacuhkan.

Sungguh membaca al Qur an mendatangkan manfaat yang sangat banyak bagi pembacanya, diantaranya :

(1) Mendapat syafaat di akhirat kelak. Rasulullah bersabda : Rasulullah bersabda : “Aqraul qur’ana fainnahu yakti yaumal qiyamati syafi’an li ashhabih.” Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa’at kepada sahabatnya. (H.R. Muslim, dari Abu Umamah).

Para ulama menjelaskan bahwa makna sahabatnya dalam hadits ini adalah orang membacanya, mentadaburi dan mengamalkannya. 

(2) Mendapat sepuluh pahala dari setiap huruf yang dibaca. Rasulullah bersabda :  Rasulullah bersabda : “Man qara-a harfan min kitaabillah falahu bihi hasanatun. Wal hasanatun bi’asyri amtsalihaa. Laa aquulu “aliflammim” harfun. Walakin alifun harfun, wa laamun harfun wa miimmun harfun” .Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. (H.R Imam at Tirmidzi).

Perhatikanlah saudaraku, berapa banyak huruf yang ada dalam setiap ayat, setiap surat dan setiap juz dari al Qur an. Diantara surat yang pendek dalam al Qur an adalah surat al Kautsar yang terdiri dari 42 huruf. Untuk membacanya membutuhkan waktu hanya kira kira 13 detik dan mendatangkan 420 pahala. Kemudiaan surat al Ikhlas. Surat ini terdiri dari 47 huruf dan untuk membacanya butuh waktu kira kira 15 detik. Ini akan mendatangkan 470 pahala bagi yang membacanya. Lalu bagaimana dengan membaca surat surat   yang lebih panjang. Tentu akan mendatangkan pahala yang lebih banyak lagi.

Keempat : Ini fakta yang lebih memprihatinkan lagi. Bukankah sehabis Ramadhan masjid masjid menjadi sepi. Sebagian orang sudah jarang ke masjid. Mereka lebih banyak disibukkan oleh urusan harta dunia dan segala perhiasannya. Shalat berjamaah sering dilalaikan. Pada hal Allah dan Rasul-Nya telah memerintahkan orang beriman untuk melakukan shalat berjamaah. 

Allah berfirman : “Wa aqimush shalata wa aatuz zakaata war ka’u ma’ar raaki’in. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (Q.S al Baqarah 43).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini bahwa : Hendaklah kalian bersama orang orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah. 

Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as Sa’di dalam kita Tafsirnya menjelaskan : “Dan rukuklah bersama orang  yang rukuk” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya.

Ketahuilah bahwa sungguh Rasulullah senantiasa shalat berjamaah di masjid bersama para sahabat. Dan kita sebagai pengikut beliau haruslah berusaha dengan sungguh sungguh untuk  melazimkannya pula sebagaimana yang dicontohkan beliau dan para sahabat serta orang orang shalih sesudahnya.  
         
Dalam sebuah riwayat disebutkan : “Inna Rasulullahi shalallahu ‘alaihi wasallam ‘allamnaa sunanul huda, wa inna min sunanil huda shalata fil masjidil ladzi yuadzdzanu fiih.”  (Dari Ibnu Mas’ud) Sesungguhnya Rasulullahi salallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kami jalan-jalan petunjuk. Dan diantara jalan jalan petunjuk itu adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan didalamnya. (H.R Muslim).

Itulah beberapa fakta tentang semangat sebagian manusia yang mulai kendor setelah Ramadhan. Ketahuilah saudaraku bahwa Rabb kita di bulan Ramadhan dan di luar Ramadhan adalah Rabb yang satu. Nikmat dan rizki yang diberikan Allah kepada kita datang terus menerus apakah bulan Ramadhan atau bulan selainnya. Oleh sebab itu tidaklah pas kalau semangat kita beribadah hanya di bulan Ramadhan saja dan bulan yang lain kita abaikan.

Ketahuilah bahwa kewajiban beribadah tidaklah pernah gugur terhadap seorang mukallaf yakni semenjak dia baligh sampai ajal menjemputnya. Allah berfirman : Wa’bud rabbaka hattaa ya’tiyakal yaqiin”. Dan beribadahlah kepada Rabb-mu  sampai datang kepadamu yang diyakini, yaitu ajal. (Q.S al Hijr 99).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (736)


     

Kamis, 28 Juli 2016

DAPAT BANYAK KEBAIKAN DENGAN MEMBACA AL QUR-AN



DAPAT BANYAK KEBAIKAN DENGAN  MEMBACA AL QUR-AN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Seorang muslim haruslah  melazimkan dirinya untuk membaca al Qur-an. Sungguh ini  akan mendatangkan  keuntungan dan  kebaikannya yang banyak baginya. Apalagi jika diiringi pula dengan amal shalih yang lainnya seperti shalat, berinfak dan yang lainnya.
Tentang hal ini telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya : “Sesungguhnya orang orang yang selalu membaca Kitab Allah (al Qur an) dan malaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam diam dan terang terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan  yang tidak akan rugi. Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karnia-Nya. Sungguh Allah Maha Pengampun Maha Mensyukuri. (Q.S Faathir 29-30). 

Ketahuilah bahwa diantara keutamaan membaca al Qur-an adalah sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah tentang adanya syafaat dari al Qur an. Beliau bersabda : Aqra-ul qur-aana fa innahu ya’tii yaumal qiyamati syafii’an li ash-haabih. Bacalah al Qur an karena ia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada orang orang yang membacanya. (H.R Imam Muslim).

Dalam  hadits yang yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi, al Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani,  Rasulullah bersabda : “Man qara-a harfan min kitaabillah falahu bihi hasanatun. Wal hasanatun bi’asyri amtsalihaa. Laa aquulu “aliflammim” harfun. Walakin alifun harfun, wa laamun harfun wa miimmun harfun” .Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. (H.R Imam at Tirmidzi).

Perhatikanlah saudaraku, berapa banyak huruf yang ada dalam setiap ayat, setiap surat dan setiap juz dari al Qur an. Diantara surat yang pendek dalam al Qur an adalah surat al Kautsar yang terdiri dari 42 huruf. Untuk membacanya membutuhkan waktu hanya kira kira 13 detik dan mendatangkan 420 pahala. Kemudiaan surat al Ikhlas. Surat ini terdiri dari 47 huruf dan untuk membacanya butuh waktu kira kira 15 detik. Ini akan mendatangkan 470 pahala bagi yang membacanya.

Lalu bagaimana dengan surat surat  lain yang lebih panjang. Pastilah akan mendatangkan kebaikan yang lebih banyak lagi bagi pembacanya. Tinggal menghitung jumlah huruf dan mengalikannya dengan sepuluh. Diantaranya adalah surat an Naba’ terdiri dari 690 huruf, surat al Insan terdiri dari 1054 huruf, surat al Waqi’ah 1703 huruf dan surat al Baqarah terdiri dari 25.500 huruf. Bukankah ini seharusnya menjadi pendorong yang kuat bagi kita untuk senantiasa membaca al Qur an karena ada kebaikan yang banyak disitu. 

Itulah diantara ayat dan hadits yang  seharusnya menjadi pendorong bagi setiap hamba untuk terus melazimkan dirinya membaca al Qur-an di setiap waktu dan keadaan. 

Dan tentu yang lebih penting  adalah  berusaha memahami dan mentadaburi makna maknanya untuk diamalkan. Perhatikanlah apa yang dikatakan Syaikh as Sa’di dalam menafsirkan potongan awal dari surat Fathir 29 : “Sesungguhnya orang orang yang selalu membaca kitab Allah” maknanya, mengkaji  perintah perintahnya dan melaksanakannya. 
Terhadap larangan larangannya lalu mereka meninggalkannya. Terhadap kabar yang dibawanya lalu mereka membenarkan dan meyakininya. Mereka tidak mengutamakan apa apa yang bertentangan dengannya dari pendapat pendapat manusia. Dan merekapun membaca lafazh lafazhnya dengan mempelajarinya membaca artinya dengan menghayati dan menyimpulkannya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Insya Allah ada  manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (735).