Rabu, 31 Agustus 2022

ALLAH MEMBERIKAN HIDAYAH KEPADA YANG MAU MENCARI DAN MENYAMBUTNYA

 

ALLAH MEMBERIKAN HIDAYAH KEPADA YANG MAU MENCARI DAN MENYAMBUTNYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika manusia menginginkan keselamatan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat maka sangat dibutuhkan hidayah atau petunjuk dari Allah Ta'ala. Dan  ketahuilah bahwa Allah Ta'ala memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.

Sungguh hidayah Allah itu sangatlah banyak dan luas. Oleh karena itu, meskipun kita telah diberikan sebagian hidayah  tetapi di di dalam shalat kita selalu meminta (tambahan) hidayah yaitu ketika membaca surat al Fatihah dan disebutkan dalam ayat 6 :

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa'di berkata : Maksudnya, tuntunlah kami, bimbinglah kami dan arahkan kami kepada jalan yang lurus yaitu jalan yang sangat jelas mengantarkan kepada Allah Ta'ala dan kepada surga-Nya yaitu (dengan) mengetahui kebenaran dan melaksanakannya.

Tunjukilah kami kepada jalan, maka petunjuk kepada jalan adalah konsisten terhadap agama Islam dan meninggalkan agama agama selainnya. Dan petunjuk kepada jalan adalah meliputi petunjuk kepada seluruh perincian perincian agama baik ILMU MAUPUN AMALAN. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Syaikh Dr. Shalih Fauzan al Fauzan menjelaskan bahwa : Allah Ta'ala memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Ini adalah dengan qadha dan qadar-Nya.

Akan tetapi Dia memberikan hidayah kepada YANG DIA KETAHUI MEMANG BAIK UNTUK MENERIMA HIDAYAH DAN MEMBERIKAN HIDAYAH KEPADA ORANG YANG MEMILIKI KEMAUAN KUAT UNTUK MENCARI DAN MENYAMBUT HIDAYAH. Maka sesungguhnya Allah Ta'ala memudahkannya (memberikannya taufik) kepada jalan kemudahan (hidayah).

Dan Allah Ta'ala menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya karena mereka berpaling dari usaha mencari hidayah dan jalan kebaikan. Maka Allah Ta'ala menyesatkannya sebagai hukuman baginya atas keberpalingannya tersebut dan juga tidak ada kecintaan kepada kebaikan. (Syarah Matan al Aqidah ath Thahawiyah)

Oleh karena itu kita kuatkan upaya mencari hidayah dan kita persiapkan diri untuk menyambutnya. Dan kita tetap dan terus menerus bermohon dan berdoa dengan khusyu' kepada Allah Ta'ala agar diberi hidayah sebagaimana doa yang  disebut dalam surat al Fatihah ayat 6 tersebut diatas.

Selain itu, sangat dianjurkan pula untuk berdoa dengan doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah aku bermohon kepada Engkau HIDAYAH, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari yang tidak halal dan tidak baik) dan berilah aku kecukupan.  (H.R Imam Muslim, dari Ibnu Mas’ud).

 Insya Allah ada mafaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.726)    

 

 

 

 

BERSABAR ITU BERAT TETAPI BANYAK MANFAAT

 

BERSABAR ITU BERAT TETAPI BANYAK MANFAAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Al Iman Ibnul Qayyim  menjelaskan tentang makna dan hakikat sabar yaitu : (1) Secara bahasa sabar bermakna mencegah dan menahan. (2) Hakikat sabar adalah menahan diri dari berputus asa, meredam amarah jiwa, mencegah lisan untuk mengeluh serta menahan anggota badan untuk berbuat kemungkaran.

Sabar adalah akhlak mulia yang muncul dari dalam jiwa. Dapat mencegah perbuatan yang tidak baikSabar adalah kekuatan jiwa yang dengannya akan tegak dan baik segala perkara. (Madarijus Saalikin).

Jadi hakikatnya sabar itu adalah berat karena harus sungguh sungguh menahan dari dari sesuatu yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu sabar memiliki keutamaan dan mafaat yang banyak. Ibnu Rajab al Hambali berkata : Ini sejalan dengan makna suatu kaidah yang besar yaitu al jaza-u min jinsil amal, balasan yang didapat seorang hamba adalah sesuai dengan jenis (berat) perbuatannya. (Jami’ul Ulum wal Hikam).

Sungguh hamba hamba Allah yang bersabar akan memperoleh banyak manfaat dan keutamaan. Dua diantaranya adalah :

Pertama : Allah Ta'ala mencintai orang orang yang sabar.

Sabar salah satu sikap yang mulia dan disukai Allah Ta'ala. Oleh karena itu siapapun orang yang selalu mampu bersikap  dan mengusahakan kesabaran dalam menjalani kehidupannya akan dicintai Allah Ta'ala yaitu sebagaimana firman-Nya : 

وَكَاَيِّنۡ مِّنۡ نَّبِىٍّ قٰتَلَ ۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوۡنَ كَثِيۡرٌ ۚ فَمَا وَهَنُوۡا لِمَاۤ اَصَابَهُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوۡا وَمَا اسۡتَكَانُوۡا ‌ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيۡنَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah MENCINTAI orang-orang yang sabar. (Q.S Ali Imran 146).

Syaikh as Sa'di berkata : "Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh)". Artinya, hati mereka tdaklah lemah dan tubuh mereka tidaklah lesu dan tidak pula mereka menyerah. Mereka tidak terhina dihadapan musuh. Akan tetapi mereka bersabar, tegar dan mengobarkan semangat. Oleh karena itu Allah Ta'ala berfirman : 

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيۡنَ

 Dan Allah mencintai orang orang yang sabar. (Lihat Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Allah Ta'ala memberi pahala tanpa batas bagi orang yang sabar.

Sungguh, Allah Ta'ala akan memberikan balasan yang luar biasa untuk hambanya berupa pahala yang tiada batas bagi mereka yang selalu sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan. Allah Ta'ala berfirman :

قُلۡ يٰعِبَادِ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوۡا رَبَّكُمۡ‌ ؕ لِلَّذِيۡنَ اَحۡسَنُوۡا فِىۡ هٰذِهِ الدُّنۡيَا حَسَنَةٌ ‌ ؕ وَاَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ‌ ؕ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوۡنَ اَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ

Katakanlah (Muhammad) : Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman !. Bertakwalah kepada Rabbmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang DISEMPURNAKAN PAHALANYA TANPA BATAS. (Q.S az Zumar 10).

Syaikh Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. 

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat.  Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin).

Kiranya dua keutamaan bersabar yang disebut dalam firman Allah diatas sudah lebih dari cukup untuk mendorong hamba hamba Allah agar tetap menjaga sikap sabar dalam berbagai keadaannya.  

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.725).


Selasa, 30 Agustus 2022

JIKA INGIN MASUK SURGA MELALUI PINTUNYA PALING TENGAH

 

JIKA INGIN MASUK SURGA MELALUI PINTUNYA PALING TENGAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan kewajiban kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Allah Ta’ala berfirman :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ 

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah BERBUAT BAIK KEPADA IBU BAPAK. (Q.S al Isra’ 23).

Ketika menjelaskan surat Luqman ayat 14 tentang kewajiban berbuat baik kepada orang tua, Syaikh Abdurrazaq bin Muhsin al Badr berkata : Apakah dengan kerepotan dan pengorbanan yang begitu banyak dari orang tua kepada kita maka pantaskah kita melupakan jasa mereka ?.

ORANG BERAKAL TIDAK PANTAS MELUPAKANNYA. JIKA ADA YANG MELUPAKANNYA, (SUNGGUH) INI SUATU MUSIBAH. ORANG YANG LALAI TERHADAP ORANG TUANYA BERATI DIA TELAH MELAKUKAN KEJAHATAN DAN DOSA YANG BESAR. (Dinukil dari ceramah Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq dari Madinah, di radio Rodja' 21 Juni 2010)

Oleh karena itu bersungguh sungguhlah untuk berbuat baik kepada orang tua. Ketahuilah bahwa jika seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya maka tentu orang tua merasa senang dan  nyaman menjalani hari tuanya untuk   senantiasa bisa banyak beribadah kepada Allah Ta'ala.

Selain itu, ketahuilah bahwa sungguh sangatlah banyak  keutamaan  akan mendatangi seorang anak yang senantiasa berbuat baik  dengan menjaga, memelihara, menyayangi  dan memberi nafkah kedua orang tuanya. Diantaranya  adalah bahwa seorang anak bisa memasuki  surga melalui pintu yang paling tengah. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah PINTU SURGA PALING TENGAH. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi dan Ibn Majah.   Dihasankan oleh Syuaib al Arnauth).

Al Qadhi Baidhawi berkata : Makna hadits, bahwa cara terbaik untuk masuk surga, dan sarana untuk mendapatkan derajat yang tinggi di surga adalah mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa di surga ada banyak pintu. Yang PALING NYAMAN DIMASUKI ADALAH PINTU PALING TENGAH. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu itu adalah menjaga hak orang tua. (Tuhfatul Ahwadzi).

Selain itu ketahuilah bahwa sungguh berbuat baik kepada orang tua adalah TERMASUK AMALAN PALING DICINTAI ALLAH TA’ALA. Rasulullah Salallahu ‘alaih Wasallam bersabda :

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Ibnu Mas’ud, aku bertanya kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : Amalan apakah yang paling dicintai Allah ?. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam   menjawab : Mengerjakan shalat pada waktunya.

Aku bertanya : Kemudian apa ?. Beliau menjawab : Kemudian BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA. Aku bertanya : Kemudian apa ?. Beliau menjawab, kemudian jihad di jalan Allah. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.724).

 

 

 

SETIAP ORANG SEDANG BERJALAN MENUJU RABB-NYA

 

SETIAP ORANG SEDANG BERJALAN MENUJU RABB-NYA

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Saudaraku, perhatikanlah firman Allah dalam Al-Qur’an yang mengingatkan tentang mati :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلْإِنسَٰنُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَٰقِيهِ

Wahai manusia !, sesungguhnya kalian ini benar-benar telah bekerja menuju Rabb kalian, dan kalian pasti akan menjumpai-Nya. (Q.S al Insyiqaq 6).

Tentang ayat ini Syaikh as Sa'di berkata : Yakni, sesungguhnya engkau TELAH BERJALAN MENUJU ALLAH TA'ALA, mengerjakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan MENDEKAT KEPADANYA dengan kebaikan dan keburukan. Kemudian engkau bertemu dengan Allah Ta'ala pada hari Kiamat. Balasan (dari Allah Ta'ala) tidak terlepas dari karunia dan keadilan. Karunia bila engkau termasuk orang yang berbahagia dan hukuman bila engkau termasuk orang yang sengsara. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Dan juga Allah Ta'ala menjelaskan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati  yaitu sebagaimana firman-Nya :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan.(Q.S al Ankabut 57). 

Tentang perjalanan yang sedang kita lakukan menuju akhirat dan kematian  yang pasti datang, Allah Ta'ala telah mengingatkan kita agar senantiasa bertakwa dan berbekal atau memperhatikan apa yang telah kita lakukan sebagai persiapan menuju akhirat.  Sungguh Allah Ta'ala  berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini, yaitu terdapat tiga perintah Allah didalamnya :

Pertama : Perintah bertakwa kepada Allah dalam firman-Nya: “Bertakwalah kalian kepada Allah”. Kata takwa berarti mengerjakan segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kedua : Perintah untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah), sudah seberapa persiapan bekal amal shalih yang akan ia bawa untuk menghadap Allah di hari akhir kelak. Sebagaimana firman-Nya :“… Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

Ketiga : Perintah untuk kembali bertakwa. Perintah ini menjadi penguat dari perintah bertakwa yang pertama. Ketakwaan yang diinginkan adalah ketakwaan yang benar-benar kuat mengakar dalam jiwa dan dibuktikan dalam amalan nyata. Itulah ketakwaan yang telah diperkuat oleh proses evaluasi diri (muhasabah), sehingga menyampaikan seorang hamba kepada tingkatan merasakan pengawasan Allah yang melekat (muraqabah), sebagaimana firman-Nya : ”Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan”.

Ketika seseorang tak berusaha mempersiapkan bekal maka pastilah akan menyesal di akhirat kelak. Tentang bentuk penyesalan mereka adalah sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Ta'ala dan sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman :

رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

(Mereka berkata), Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar maka kembalikanlah kami (ke dunia) niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh kami adalah orang orang yang yakin. (Q.S as Sajdah 12)

Orang orang  yang sudah meninggal dunia ada yang  berangan-angan bisa hidup kembali UNTUK  BERSEDEKAH  dan menjadi orang shalih, sebagaimana dijelaskan  Allah Ta’ala  dalam firman-Nya :

فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Maka lalu dia berkata (menyesali) : Ya Rabb-ku sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang orang yang shalih. (Q.S al Munafiqun10)

Bahkan ada pula yang ingin dikembalikan ke dunia  untuk bisa shalat sunnah dua rakaat. Kenapa ?, karena setelah berada di alam barzah mereka  mengetahui bagaimana hebatnya nilai shalat sunnah dua  rakaat di sisi Allah Ta'ala.   Dahulu dia   di sibukkan oleh urusan  dunia, sehingga sering meninggalkan shalat sunnah. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ مَرَّ بِقَبْرٍ فَقَالَ : مَنْ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ؟ فَقَالُوْا: فُلاَنُ، فَقَالَ : رَكْعَتَانِ أَحَبَّ إِلَى هَذَا مِنْ بَقِيَّةِ دُنْيَاكُمْ

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalam   melewati sebuah kuburan, kemudian bertanya : Siapa penghuni kuburan ini ?. Mereka menjawab : Ini kuburan si Fulan.  Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Dua rakaat lebih dia cintai daripada dunia kalian. (Shahihut Targhib Wat Tarhib)

Oleh karena itu hamba hamba Allah yang saat ini masih diberi kesempatan hidup di dunia dan sedikit waktu lagi PASTI MATI, MAKA BERFIKIRLAH DENGAN SUNGGUH SUNGGUH. Mau mempersiapkan bekal sekarang ini atau mau menyesal setelah mati.

Wallahu A'lam. (2.723)

 

 

 

Senin, 29 Agustus 2022

MENYEMPURNAKAN WUDHU MENDATANGKAN BANYAK KEUTAMAAN

 

MENYEMPURNAKAN WUDHU MENDATANGKAN BANYAK KEUTAMAAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sebelum shalat, setiap hamba Allah wajib berwudhu. Sungguh Allah Ta'ala  tidak menerima shalat seseorang jika tidak berwudhu’ yaitu sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : 

لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةَ أَحَدِكُمْ إذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Allah tidak akan menerima shalat salah seorang diantara kalian jika dia berhadats sampai dia wudhu. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Disamping kewajiban berwudhu maka  orang orang beriman haruslah juga berusaha dengan sungguh sungguh untuk menyempurnakan setiap wudhu-nya karena berkaitan sangat dengan nilai dan kesempurnaan shalatnya.

Selain itu, ketahuilah bahwa berwudhu memang wajib bagi seseorang yang akan menegakkan shalat, tetapi juga mendatangkan banyak keutamaan bagi yang melakukannya, diantaranya adalah :

Pertama : Berwudhu sebelum tidur didoakan oleh malaikat .

Malaikat adalah makhluk yang sangat taat dan tak pernah bermaksiat kepada Allah Ta’ala sehingga sangat besar kemungkinan doanya diijabah.

Dari Abdullah bin Umar radliyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa : Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena (dia) tidur dalam keadaan suci. (H.R Ibnu Hibban dinilai shahih oleh Syaikh al Albani dalam Shahih at Targhib wat Tarhib).

Kedua  : Berwudhu menghapus kesalahan.

Wudhu dapat menghapus  kesalahan seorang hamba. Ya memang benar, karena Rasulullah yang mengabarkan melalui sabda beliau : 

مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ، وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ، إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Tidak ada seorang pun diantara yang mendekatkan air wudhunya lalu dia berkumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kecuali akan berjatuhan kesalahan kesalahan wajahnya, kesalahan-kesalahan mulutnya dan kesalahan-kesalahan hidungnya. Jika dia mencuci wajahnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allâh, kesalahan-kesalahan wajahnya akan berjatuhan bersama tetesan air dari ujung jenggotnya.

Kemudian mencuci kedua tangannya sampai siku, kecuali kesalahan-kesalahan tangannya akan berjatuhan bersama air lewat jari-jemarinya. Kemudian jika ia mengusap kepala, maka kesalahan-kesalahan kepalanya akan berjatuhan melalui ujung rambutnya bersama air. 

Lalu jika dia mencuci kakinya sampai mata kaki, maka kesalahan kedua kakinya akan berjatuhan melalui jari-jari kakinya bersama tetesan air. Jika kemudian, ia berdiri lalu shalat, kemudian dia memuji Allâh menyanjung dan mengagungkan-Nya dengan pujian dan sanjungan yang menjadi hak-Nya dan mengosongkan hatinya hanya untuk Allah kecuali dia terlepas dari kesalahan kesalahannya seperti pada hari ia dilahirkan dari perut ibunya. (Muttafaqun ’alaihi)

Ketiga : Seseorang yang berwudhu dan  berdoa sesudahnya  boleh memilih  pintu surga yang dia mau.

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian mengucapkan : Asyhadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu. (Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah), kecuali Allah akan bukakan UNTUKNYA DELAPAN PINTU SURGA  yang bisa dia masuki dari pintu mana saja yang dia suka. (H.R Imam Muslim dan yang selainnya).

Di dalam riwayat Imam at Tirmidzi ada tambahan  doa setelah berwudhu ini  yang juga shahih : 

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ المُتَطَهِّرِينَ

Ya Allah jadikanlah aku termasuk hamba hamba-Mu yang  bertaubat dan mensucikan diri (H.R at Tirmizi dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.722)

 

Minggu, 28 Agustus 2022

TERHINDAR DARI LALAI JIKA TERBIASA SHALAT BERJAMAAH

 

TERHINDAR DARI LALAI JIKA TERBIASA SHALAT BERJAMAAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Banyak ayat dan hadits yang memerintahkan seorang hamba untuk mendirikan shalat dan   menjaga waktunya. Tidak melalaikannya.  Allah Ta'ala berfirman :  

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sungguh, shalat itu adalah kewajiban DITENTUKAN WAKTUNYA atas orang orang beriman. (Q.S an Nisa’ 103).

Ketahuilah bahwa shalat seorang hamba pada awal waktunya adalah termasuk AMALAN YANG DICINTAI ALLAH TA'ALA. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata :

سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ,  قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Amal apakah yang paling dicintai Allah ?. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : SHALAT PADA WAKTUNYA (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya). Aku bertanya lagi : Kemudian apa ?. Nabi menjawab : Berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi : Kemudian apa ?. Nabi menjawab : Jihad di jalan Allah. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan juga yang selainnya).

Sungguh ada ancaman  kecelakaan bagi orang orang yang shalat tetapi melalaikannya. Allah Ta’ala berfirman :  

  الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ   فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Maka kecelakaanlah bagi orang orang yang shalat. (Yaitu) orang orang yang lalai dari shalatnya. (Q.S al Maa-uun 4-5).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan  bahwa salah satu makna MELALAIKAN SHALAT dalam ayat ini adalah : TIDAK MELAKSANAKAN SHALAT DI AWAL WAKTU. Selanjutnya beliau berkata : TIDAK DIRAGUKAN LAGI, (SEORANG YANG) LENGAH, LALAI DAN MENGANGGAP REMEH TERHADAP SHALAT MERUPAKAN PERBUATAN TERCELA. (Tafsir Juz ‘Amma, dengan diringkas).

Sungguh, seorang hamba yang senantiasa MENJAGA SHALAT BERJAMAAH maka dia terhindar dari sikap melalaikan shalatnya karena dia akan segera berangkat ke masjid jika mendengar adzan bahkan bisa lebih awal dari itu.

Sebaliknya jika seseorang tidak shalat berjamaah ke masjid dan biasa shalat di rumah maka BESAR KEMUNGKINAN AKAN LALAI  UNTUK MELAKUKAN SHALAT PADA WAKTUNYA, sebagaimana yang disyariatkan.

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu hadits tentang ancaman Allah Ta'ala akan MENGUNCI HATI orang orang yang tidak melakukan shalat berjamaah bahkan dikelompokkan sebagai ORANG YANG LALAI.  Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجَمَاعَاتِ، أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ

Hendaklah orang-orang itu menghentikan tindakan mereka meninggalkan shalat jamaah. Atau Allah akan mengunci mati hati-hati mereka kemudian mereka akan termasuk ke dalam KELOMPOK ORANG ORANG YANG LALAI. (H.R Ibnu Majah dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

 Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam.(2.721).

ADA CARA UNTUK BISA MERAIH PETUNJUK DARI AL QUR AN

 

ADA CARA UNTUK BISA MERAIH PETUNJUK DARI AL QUR AN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kakek kita Adam, dahulunya adalah penduduk surga. Beliau diciptakan Allah Ta'ala dengan tangan-Nya di surga. Allah Ta'ala berfirman :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

(Allah) berfirman : Wahai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk golongan  yang (lebih) tinggi ?.  (Q.S Shad 75).

Kemudian Allah Ta'ala menurunkan Adam dan istrinya dari surga ke bumi, sebagaimana firman-Nya :

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Turunlah kamu semuanya dari surga itu !. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S al Baqarah 38).

Dalam ayat ini Allah Ta'ala berjanji akan mendatangkan petunjuk kepada Adam dan anak keturunannya. Sungguh diantara petunjuk itu berupa kitab dan yang terakhir adalah  al Qur an yaitu untuk keselamatan hidup di dunia dan agar bisa kembali lagi dengan selamat ke surga negeri asal manusia.

Sungguh dalam al Qur an banyak  ayat menjelaskan  bahwa al Qur an sebagai petunjuk diantaranya adalah firman Allah :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Kitab (al Qur an) ini tidak ada keraguan padanya, PETUNJUK BAGI MEREKA YANG BERTAKWA.  (Q.S al Baqarah 2)

Allah Ta'ala berfirman :

وَلَقَدْ جِئْنٰهُمْ بِكِتٰبٍ فَصَّلْنٰهُ عَلٰى عِلْمٍ هُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ 

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur`an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S al A’raf 52).

Ketahuilah bahwa SIFAT DARI SUATU PETUNJUK ADALAH UNTUK DIKETAHUI, DIPELAJARI DAN DIIKUTI, DIAMALKAN. Ketika seseorang sedang menuju suatu tempat atau lokasi di suatu kota misalnya maka dia akan mempelajari denahnya dengan baik lalu mengikutinya sesuai petunjuk.

Nah, ketika ingin menjalani hidup di dunia dengan selamat dan  ingin selamat pula di akhirat, SUNGGUH PILIHAN SATU SATUNYA ADALAH MENGIKUTI KITAB PETUNJUKNYA YAITU AL QUR AN. Tentu juga dengan mengikuti sunnah Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dengan pemahaman salafush shalih.

Ketahuilah bahwa ada cara cara yang sangat dianjurkan untuk mendapat petunjuk dari al Qur an, diantaranya adalah :

Pertama : Banyak membaca al Qur an

Membaca al Qur an di setiap waktu mestilah dilakukan oleh hamba hamba Allah. Ini termasuk jalan untuk mendapat petunjuk dari al Qur an. Sungguh sulit dibayangkan, bagaimana seseorang yang tak pernah membaca al Qur an lalu akan bisa mengambil petunjuk dari al Qur an.

Selain itu, ketahuilah bahwa membaca al Qur an akan memberikan kebaikan dan pahala yang banyak. Rasulullah Salallahu 'alahi Wasallam bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. (H.R Imam at Tirmidzi).

Kedua : Banyak mendengarkan bacaan al Qur an

Ketahuilah bahwa ketika seorang hamba mendengarkan bacaan al Qur an maka sungguh banyak kebaikan akan mendatanginya. Allah Ta'ala berfirman :

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan al Qur an maka dengarlah dan diamlah agar kamu mendapat  rahmat. (Q.S al A'raf 204).

Mendengarkan bacaan al Qur an adalah salah satu jalan untuk mendapat petunjuk dari al Qur an. 

Ketiga : Berusaha menghafal al Qur an

Juga sangat dianjurkan untuk menghafalkan ayat al Qur an sesuai kemampuan bahkan sekuat tenaga. Bahkan ada ayat al Qur an yang  WAJIB UNTUK DIHAFAL yaitu surat al Fatihah. Sungguh surat al Fatihah adalah satu satunya surah yang wajib dibaca dalam semua shalat.

Ketahuilah bahwa sangatlah banyak kebaikan yang akan diperoleh orang orang yang menghafal al Qur an baik sebagian kecil, sebagian besar  apalagi seluruhnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti : Bacalah  dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya !. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal). (H.R Abu Daud, at Tirmidzi dan Ibu Hibban. At Tirmidzi berkata : Hadits Hasan Shahih).

Keempat : Berusaha memahami dan merenungi ayat al Qur an

Termasuk kewajiban seorang muslim terhadap al-Qur an adalah berusaha mempelajari makna dan memahaminya atau mentadaburinya. Itulah cara yang penting untuk mendapatkan petunjuk. Sungguh Allah Ta’ala mengingatkan manusia agar senantiasa memperhatikan dan mentadaburi al Qur-an. Allah Ta’ala berfirman :

اَفَلاَ يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan (mentadaburi) al-Qur’an atau apakah hati mereka terkunci (Q.S. Muhammad 24).

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan makna tadabbur, yakni : “Memandang tajam dengan mata hati kepada setiap maknanya (ayat  al Qur an) dan memfokuskan fikiran untuk memperhatikan dan memahaminya”.

Sungguh saat ini sangatlah banyak sarana untuk bisa mempelajari makna ayat ayat al Qur an terutama dengan membaca kitab kitab tafsir, melalui media sosial dan utama sekali adalah dengan  hadir di majlis majlis ilmu.

Selain itu, sangat dianjurkan pula kepada hamba hamba Allah untuk mengajarkan al Qur an. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingat kita semua tentang hal ini dalam sabda beliau :

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku, meskipun satu ayat. (H.R Imam Bukhari)

Ada satu hadits dari Usman bin Affan, dia berkata,  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

خيركم من تعلم القرآن وعلمه 

Sebaik baik kalian adalah yang belajar al Qur an dan MENGAJARKANNYA. (H.R Imam Bukhari).

Tentang hadits ini, Imam Ibnu Hajar Ashqalani  berkata : Tidak diragukan lagi bahwa orang yang bisa menggabungkan antara belajar dan mempelajari al Qur an adalah orang yang sempurna bagi dirinya dan bagi orang lain, yaitu orang yang mampu mengumpulkan yang manfaat  yang sedikit dan yang banyak.

Ketahuilah saudaraku, ketika seseorang berusaha mempelajari al Qur an lalu mengajarkannya pula maka semakin kokoh petunjuk yang akan didapatnya dari al Qur an. Wallahu A'lam. (2.720)