Jumat, 07 November 2014

BENTUK PENGABULAN DOA



BENTUK PENGABULAN DOA

Oleh Azwir B. Chaniago

Allah berjanji akan mengabulkan doa hamba hambaNya. Allah berfirman : “Wa qaala rabbukum ud’unii astajiblakum.” Dan Rabbmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Q.S al Mu’min 60). 

Seorang yang berdoa janganlah memahami bahwa doanya akan dikabulkan seperti yang diminta. Bisa juga diberikan dalam bentuk lain yang lebih bermanfaat. Bisa pula dalam bentuk dihindarkan dari keburukan. Bahkan bisa pula ditangguhkan sebagai simpanan di akhirat kelak.

Rasulullah bersabda : “Maa min muslimin bida’watin laisa fiihaa itsmun walaa qathii’atu rahimin illaa ‘athahullahu ihda tsalatsa : Imma an yu’ajjila lahu da’watahu, wa immaa  au yudakhkhirahaa lahu fiil akhirati, wa imma au yashrifa ‘anhu minas suu-i mitslihaa.” Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus selaturrahim, melainkan Allah akan menyegerakan  doanya untuk dikabulkan, atau Allah simpan untuknya di akhirat, atau Allah akan palingkan darinya keburukan yang semisalnya (H.R Imam Bukhari dalam Adab al Mufrad, dishahihkan oleh Syaikh al Albani) 
     
Ketahuilah bahwa jika pada suatu waktu kita merasa doa kita belum diijabah, maka pastilah ada disitu hikmah yang sempurna dan  kita tidak mengetahuinya. Dalam hal ini paling tidak ada dua hal yang perlu kita pahami. 

Pertama : Apapun pilihan Allah buat kita itulah yang terbaik, termasuk doa yang kita merasa belum dikabulkan. Sufyan ats Tsauri berkata : Allah (apabila) mencegah dari sesuatu pada hakikatnya adalah pemberian dan nikmat. Tidaklah Dia mencegah sesuatu karena kebakhilanNya, bukan pula karena tidak punya, melainkan (karena) Dia melihat kebaikan para hambaNya. Apabila Allah tidak memberi maka itu adalah atas dasar pilihan dan pandangan baik dari-Nya (Madarijus Salikin).

Kedua : Hakikatnya, manusia tidak mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya. Allah berfirman : …“Wa ‘asaa an takrahuu syai-an wa huwa khairul lakum. Wa ‘asaa an tuhibbuu syai-an wa huwa syarrul lakum. Wallahu ya’lamu wa antum laa ta’lamun” … Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal  ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu.  Allah Mahamengetahui,  sedangkan kamu tidak mengetahui” (Q.S al Baqarah 216). 

Sufyan ats Tsauri berkata : Apa yang dibenci oleh seorang hamba adalah lebih baik baginya daripada yang dia cintai. Karena (bisa jadi) yang dia benci akan membangkitkannya untuk berdoa sedangkan apa yang dicintainya hanya akan melalaikannya.

Ini adalah hikmah yang sangat  baik untuk kita renungkan. Allahu a’lam. (118)        


                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar