Jumat, 30 April 2021

BERTAUBAT HARUS IKHLAS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH

 

BERTAUBAT HARUS IKHLAS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Terkadang ada saudara saudara kita yang telah berhenti dari perbuatan dosa atau maksiat yang telah dilakukannya dalam waktu cukup lama yaitu minum khamer. Ketika ada yang bertanya kenapa sudah berhenti minum khamer. Lalu dijawab : Bulan yang lalu saya sakit berat selama dua pekan lebih. Dokter memberi nasehat dan mengatakan  : Kalau mau sehat engkau mesti berhenti minum khamer. Jadi saya berhenti minum khamer, saya bertaubat.

Ada pula yang berhenti dari kebiasaan berjudi. Ketika ada yang bertanya kenapa sudah berhenti berjudi. Lalu dijawab : Bulan yang lalu saya kalah judi dalam jumlah yang sangat besar. Harta saya habis terjual. Mau berhutang sebagai modal berjudi tak ada orang yang percaya meminjamkan uang kepada saya. Jadi saya berhenti berjudi, saya bertaubat.

Dari ilustrasi diatas mudah dipahami bahwa orang tersebut berhenti minum khamer karena alasan kesehatan dan patuh kepada dokter. Yang lain berhenti berjudi karena sudah bangkrut, tak punya modal lagi. Mereka mengatakan  bertaubat. Tetapi apakah taubatnya ikhlas dan karena takut kepada Allah ?. Wallahu A’lam.   

Sungguh, seseorang bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat adalah BETUL BETUL termasuk perbuatan sangat terpuji dan sangat beruntung. Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk bertaubat sebagaimana firman-Nya :

وَتُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, Wahai orang orang yang beriman, agar kamu beruntung. (Q.S an Nur 31).

Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan orang orang yang telah mengerjakan keburukan (dosa) kemudian bertaubat dan beriman, niscaya setelah itu Rabb-mu Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S al A’raf 153)

Ketahuilah bahwa bertaubat menjadi terpuji dan mendatangkan manfaat adalah dengan memenuhi syarat syarat taubat. Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin menyebutkan LIMA SYARAT TAUBAT, satu diantaranya adalah IKHLAS KARENA ALLAH.

Yaitu, kata Syaikh Utsaimin  : Yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah RASA TAKUTNYA KEPADA ALLAH DAN MENGHARAPKAN PAHALA DARI-NYA. Terkadang ada orang yang bertaubat karena ingin dipuji manusia atau menghindari celaan manusia terhadapnya. Atau untuk mencapai kedudukan tertentu atau karena ingin mendapatkan harta dengan taubatnya.

Orang yang bertaubat dengan motivasi seperti itu tidak diterima taubatnya, karena syarat taubat harus ikhlas. (Tafsir Juz ‘Amma, pada surat al Buruj).

Jadi, ketika seorang hamba bertaubat dengan sesungguhnya atau taubat nashuha maka pertama harus MEMBETULKAN NIATNYA agar ikhlas dalam taubatnya yaitu  karena takut kepada Allah Ta’ala dan mengharapkan pahala dari-Nya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.299).     

JANGAN BERMUDAH MUDAH MENYAMPAIKAN HADITS SEBELUM TAHU KEDUDUKANNYA

 

JANGAN BERMUDAH MUDAH MENYAMPAIKAN HADITS SEBELUM TAHU KEDUDUKANNYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Pada sebelum dan juga dalam bulan Ramadhan kita sering mendengar hadits lemah, palsu bahkan tak jelas asal usulnya. Dan sangat banyak pula kita membaca hadits seperti itu melalui media sosial. Terutama sekali dalam bentuk tulisan dengan mengutip hadits hadits yang tak jelas kedudukannya.

Salah satu contoh hadits lemah sekali tentang tidur orang berpuasa adalah ibadah, yaitu : Keterangan ini disandarkan pada suatu hadits (?) yang cukup masyhur yaitu : “Shamtush shaa-imi tasbiihun. Wa nuumuhu ‘ibaadatun, wa du‘aa-uhu mustajabun, wa ‘amaluhu mudhaa-‘afun” Diamnya orang yang berpuasa adalah tasbih, TIDURNYA ADALAH IBADAH, doanya mustajab dan amal dilipat gandakan. (H.R ad Dailami dari Ibnu Umar).

Tapi ketahuilah bahwa para ahli hadits menilai  sanad hadits ini adalah dha’if jiddan atau LEMAH SEKALI. Jadi tidaklah bisa dijadikan hujjah. Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ nomor 3784 menjelaskan bahwa kelemahannya ada pada seorang diantara perawinya yaitu Rabi’ bin Badr. Dia adalah seorang rawi yang ditinggalkan.   

Oleh karena itu, ketika mendengar atau membaca satu hadits, maka seorang hamba hendaklah menahan diri untuk TIDAK SERTA MERTA  menyampaikan kepada orang lain. SUNGGUH SANGAT PENTING untuk mengetahui lebih dahulu tentang kedudukan suatu hadits sebelum disampaikan atau disebarkan.  Dalam perkara ini paling tidak ada tiga hal yang  patut menjadi perhatian kita.

Pertama : Jika seseorang belum mengetahui kedudukan suatu hadits lalu disebarkan kan  kepada orang lain dengan lisan maupun tulisan maka ini suatu yang tercela. Bukankah semua yang kita ucapkan dan kita lakukan harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Ta’ala. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala : 

 وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.  (Q.S al Isra’ 36).

Kedua : Jika seseorang belum mengetahui kedudukan suatu hadits maka sangatlah terpuji jika dia mencari tahu kepada yang lebih mengetahui sebelum menyampaikan secara lisan ataupun tertulis melalui media sosial dan yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman : 

                                                                                                فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُون 

Maka bertanyalah kepada orang orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui. (Q.S al Anbiyaa 7).

Jikalau seseorang belum mengetahui kedudukan suatu hadits lalu disebarkan dan ternyata derajat hadits itu tidak shahih dan tidak hasan  maka jika diamalkan oleh yang mendengarkannya maka bisa jadi mendatangkan kekeliruan.

Ketiga : Jika seseorang sudah mengetahui kedudukan suatu hadits itu dha’if  ataupun maudhu’  lalu disampaikan kepada orang banyak tanpa menjelaskan derajat atau kedudukan hadits maka ini suatu yang lebih tercela lagi  yaitu berdusta atas nama Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Beliau  telah mengingatkan perkara ini :

إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu seorang hamba hendaklah berhati hati untuk menyebutkan, menulis, menyebarkan suatu hadits lewat medsos ataupun yang lainnya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.298)