Selasa, 29 September 2015

JANGAN MENGUMBAR AIB SAUDARAMU



JANGAN MENGUMBAR AIB SAUDARAMU

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh orang beriman itu adalah bersaudara yaitu sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya : “Innamal mu’minuuna ikhwatun, fa ashlihuu baina akhawaikum, wattaqullaha la’allakum turhamuun” Sesungguhnya orang orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al Hujurat 10).

Oleh karena itu maka seorang mukmin haruslah menjaga kehormatan saudaranya yaitu antara lain dengan tidak mengumbar aib  saudaranya. Tidak boleh menceritakan aib saudaranya kepada orang lain.  Aib itu bisa berupa cacat dirinya, auratnya, kesalahan dan kekeliruan serta berbagai kekurangannya.

Allah berfirman : “Wahai orang orang yang beriman !. Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain. …(Q.S al Hujuraat 12).

Rasulullah bersabda : “Man satara akhaahul muslima fid dun-ya satarahullahu yaumal qiyaamah. ” Barang siapa menutup aib saudaranya di dunia, niscaya Allah akan menutup aibnya pada hari Kiamat. (H.R Imam Ahmad, lihat Shahihul Jami’)

Maka berbahagialah orang orang yang mampu menahan diri untuk tidak membicarakan aib saudaranya karena Allah akan menutup aibnya di akhirat kelak. 
Rasulullah bersabda : “Man radda ‘an ‘irdhi akhiihi radhdhaallahu ‘an wajhihin naara yaumal qiyaamah”. Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya sesama muslim maka Allah akan membelanya dari neraka kelak dihari kiamat. (H.R at Tirmidzi dan Imam Ahmad). 
  
Bahkan Rasulullah mengingatkan agar tidak saling  menzhalimi  sesama muslim yaitu sebagaimana sabda beliau : “Janganlah kalian saling dengki, saling menghasut, saling marah dan saling membelakangi. Tapi jadilah hamba hamba Allah yang bersaudara. Orang muslim itu adalah saudara muslim (yang lain) tidak menzhaliminya, tidak mengacuhkannya dan tidak mendustakannya. (Muttafaq ‘alaih)

Di zaman sekarang memang ada  manusia yang terkadang lupa kepada Rabbnya dan lupa kepada dirinya tapi tidak pernah lupa dengan aib atau kekurangan orang lain. Pada hal sungguh setiap diri memiliki kekurangan, kekeliruan, kealpaan dan kelalaian yang banyak. Dan juga  tidaklah kita ridha kalau aib kita dibicarakan atau dibuka sehingga diketahui orang banyak. 

Imam Ibnul Qayyim (wafat 751 H) mengingatkan bahwa  : Barang siapa mengenal (keadaan) dirinya maka dia akan sibuk memperbaiki dirinya dari pada mencari aib orang lain. Barang siapa yang mengenal Rabbnya maka dia akan sibuk dengan-Nya dari pada mengikuti hawa nafsunya.

Manusia yang paling rugi adalah orang yang jauh dari Allah tersebab sibuk dengan dirinya. Namun yang lebih merugi lagi adalah orang yang jauh dari (mengurusi) dirinya sendiri tersebab sibuk mengurusi aib orang lain. 

Mudah mudahan bermanfaat. Wallahu A’lam. (412)

PERINTAH IBADAH SESUAI KEMAMPUAN



PERINTAH IBADAH SESUAI KEMAMPUAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Ada sebagian manusia yang beranggapan bahwa agama Islam ini sulit dan berat dalam pelaksanaan ibadahnya. Ketahuilah bahwa tidak ada yang merasa berat dalam pelaksanaan ibadah kecuali (1) Tidak ikhlas dalam beribadah (2) Tidak memiliki ilmu yang memadai dalam beribadah.

Jika ibadah dilakukan dengan ikhlas dan dilakukan sesuai petunjuknya yang shahih maka tidaklah ditemukan sesuatu yang sulit dan berat dalam menjalankan syariat ataupun ibadah dalam agama Islam yang mulia ini. 

Diantara bukti kemudahan  syari’at Islam khususnya dalam ibadah adalah bahwa Islam   hanya menyuruh umatnya melakukan perintah sesuai kemampuan. Allah berfirman : “Fattaqullaha mastatha’tum” Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu (Q.S at Taghabun 16).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memerintahkan para hambaNya agar bertakwa kepadaNya yaitu dengan menunaikan perintah sesuai kemampuan dan menjauhi larangannya. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan. (Tafsir Karimur Rahman). 

Rasulullah bersabda : “Maa nahaitukum anhu fajtanibuhu. Wamaa amartukum bihi faktu minhu matatha’tum.” Apa yang aku larang kalian atasnya maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kalian maka lakukanlah semampu kalian (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Setelah diberikan perintah untuk melaksanakan ibadah sesuai kemampuan, Allah Ta’ala juga memberikan banyak rukhsah sebagai keringanan bagi umatnya.  
Sungguh Allah Ta’ala sebagai Khaliq, Maha Mengetahui tentang kelemahan hambaNya. Maka dalam syari’at Islam Allah memberikan rukhshah atau keringanan yang banyak. 

Allah berfirman : “Yuriidullahu ‘aiyukhaffifa ankum, wa khuliqal insaanu dha’iifaa” Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan (bersifat) lemah. (Q.S an Nisaa’ 28).

Maksud ayat ini adalah dengan mudahnya perkara yang Allah perintahkan kalian kepadanya dan perkara perkara yang kalian dilarang darinya, semua itu karena rakhmat Allah yang sempurna kebaikanNya. Yang menyeluruh dari ilmu dan hikmahNya akan kelemahan manusia dari berbagai segi. Lemah fisik, lemah dalam kehendak, lemah dalam tekad, lemah dalam iman dan lemah dalam kesabaran. Lalu untuk menyesuaikan hal itu Allah meringankan apa yang mereka lemah padanya dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh keimanan, kesabaran dan kekuatan mereka (Syaikh as Sa’di Tafsir Karimur Rahman). 

Oleh karena itu wajiblah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberi petunjuk kepada kita untuk memegang Islam ini sebagai agama yang mudah. Dan kita diperintahkan melakukan ibadah  hanya sebatas kemampuan bahkan  diberikan pula rukhshah yang banyak. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

Wallahu A’lam (411)

Senin, 28 September 2015

SIKAP SABAR DIBUTUHKAN DALAM KEHIDUPAN



SIKAP SABAR SANGAT DIBUTUHKAN DALAM KEHIDUPAN
Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah.
Pada dasarnya, ketika menjalani kehidupan di dunia ini, seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam setiap keadaannya. Kenapa sabar ini penting dan dibutuhkan di setiap saat. 


Ini antara lain sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ahmad Faridh seorang Ulama dari Mesir  dalam Kitabnya Tazkiyatun Nufus yang mengatakan bahwa  : Seorang hamba  selalu membutuhkan kesabaran dalam setiap keadaannya. Sebab ia selalu berada dalam perintah yang wajib dilaksanakan dan larangan yang wajib dia tinggalkan. Dia senantiasa berada pada takdir Allah serta kenikmatan yang wajib dia syukuri. Apabila semua perkara ini tidak bisa lepas dari diri seseorang maka kesabaran harus senantiasa berada pada dirinya.

Selain itu, mari kita renungkan sejenak bagaimana mungkin kita menjalani kehidupan ini dengan nyaman tanpa menjaga sikap sabar karena setiap saat kita berinteraksi dengan orang lain  yang punya latar belakang, pola pikir dan kepentingan yang  berbeda bahkan bisa jadi berlawanan. Oleh karena itu maka kedudukan sikap sabar menjadi semakin penting baik dalam bermuamalah ataupun dalam menjalankan syariat.

Makna sabar.
Lalu apa makna sabar. Imam Ibnul Qayyim dalam Kitabnya Madarijus Saalikin menjelaskan bahwa secara etimologi sabar itu bermakna menahan atau mencegah.

Secara istilah kata beliau makna sabar adalah : (1) Menahan diri dari berputus asa (2) Menahan amarah jiwa (3) Mencegah lisan dari mengeluh (4) Mencegah anggota badan untuk berbuat mungkar.

Kewajiban bersabar.
Ketahuilah bahwa  sikap sabar adalah kewajiban bagi seorang hamba. Allah berfirman : “Ya aiyuhal ladzina aamanushbiruu wa shaabiruu wa raabithuu wattaqullaha la’allakum tuflihuun Wahai orang orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu  dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Q.S Ali Imran 200).  
  
Imam Hasan al Bashri berkata : Mereka diperintahkan agar bersabar di atas agama yang telah Allah Ta’ala ridhai untuk mereka yaitu agama Islam. Jangan sampai mereka meninggalkannya dengan sebab senang atau susah, sengsara atau sejahtera, sehingga mereka mati dalam keadaan sebagai orang Islam. Dan agar mereka menambah kesabaran menghadapi musuh musuh yang menyembunyikan agama mereka (Tafsir Ibnu Katsir).

Pahala tanpa batas.
Sungguh amatlah tinggi kedudukan orang yang bersabar karena dia dijanjikan Allah Ta’ala untuk   mendapat pahala yang tidak terbatas.  Sulaiman bin Qashim berkata : Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran yang ganjarannya seperti air mengalir. Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta’ala : “Innama yuwaffash shaabiruuna ajrahum bighairi hisaab”    Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat.  Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin).

Berkah yang sempurna, rahmat dan petunjuk.
Diantara kedudukan  dan keutamaan sikap sabar adalah berita gembira berupa kumpulan dari tiga kebaikan yaitu  berkah, rahmat dan petunjuk. Kumpulan keutamaan ini tidaklah akan diperoleh kecuali bagi orang orang yang sabar. 

Allah berfirman : “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang sabar.    
(Yaitu) orang orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk. (Q.S al Baqarah 155-157).

Sungguh kita butuh sikap sabar. Oleh karena itu mari kita jaga sikap sabar ini agar selalu ada dalam diri kita sehingga kita akan memperoleh manfaat yang banyak darinya. Insya Allah.

Wallahu A’lam.  (410)

Minggu, 27 September 2015

HADITS KISAH TSA'LABAH TIDAK SHAHIH



HADITS KISAH TSA’LABAH TIDAK SHAHIH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Salah  satu kisah yang pernah kita dengar adalah tentang seorang sahabat bernama Tsa’labah bin Hathib al Anshari. Kisah Tsa’labah ini cukup masyhur dan  agak sering diceritakan oleh beberapa ustadz dalam kajian kajian terutama dalam memotivasi jamaah agar tidak lalai dalam  berzakat, berinfak dan bersedekah.

Kisah ini bersumber dari Abu Umamah al Bahili dari Tsa’labah bin Hathib al Anshari, pernah berkata kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulullah berdoalah kepada Allah agar aku diberi harta. Lalu Rasulullah bersabda : Celakalah engkau wahai Tsa’labah, sesungguhnya harta yang sedikit yang engkau syukuri lebih baik dari harta yang banyak yang engkau tidak sanggup mensyukurinya.

Kemudian hal yang sama diulangi lagi oleh Tsa’labah kepada Rasulullah sehingga beliau bersabda kepadanya : Tidakkah engkau ridha menjadi seperti Nabi Allah ?. Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika aku mau (lalu aku berdoa), gunung gunung ini akan menjadi emas  dan perak untukku.
Kemudian Tsa’labah berkata : Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau memohonkan kepada Allah agar aku dikaruniai harta (yang banyak) sungguh aku akan memberikan haknya (zakat/sadaqah) kepada yang berhak menerimanya. Lalu Rasulullah berdoa : Ya Allah, karuniakanlah harta kepada Tsa’labah.

Kemudian ia mendapatkan seekor kambing. Lalu kambing itu beranak pinak sebagaimana tumbuh berkembang biaknya ulat. Kota Madinah terasa sempit baginya. Sesudah itu ia menjauh dari Madinah dan tinggal di suatu lembah. Karena kesibukannya, ia hanya berjamaah pada shalat zuhur dan ashar saja. Kemudian kambing itu semakin banyak maka mulailah ia meninggalkan shalat berjamaah, sampai shalat Jumat pun ia tinggalkan. 

Suatu ketika Rasulullah bertanya kepada para sahabat, apa yang dilakukan Tsa’labah. Mereka menjawab : Ia mendapatkan seekor kambing lalu kambingnya bertambah banyak sehingga kota Madinah terasa sempit baginya. Rasulllah bersabda : Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah. 

Ketika Allah menurunkan ayat : Ambillah dari sebagian harta mereka itu sebagai shadaqah/zakat. Setelah turun perintah wajib zakat maka Rasulullah mengutus dua orang dari bani Juhaimah dan dua orang lagi dari bani Salim dan menyebutkan bagaimana cara memungut shadaqah dan zakat kaum muslimin seraya berkata : Pergilah kalian ke tempat Tsa’labah dan tempat fulan dari Bani Salim. Ambillah zakat mereka berdua. Lalu keduanya pergi menjalankan tugasnya sehingga sampailah kepada Tsa’labah untuk meminta zakatnya. Sesampainya disana dibacakan surat dari Rasulullah. 

Serta merta Tsa’labah berkata : Apakah ini tidak lain dan tidak bukan kecuali pajak atau semacam pajak ? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya yang kalian minta ini. Pergilah kalian dahulu nanti setelah selesai,  datang lagilah kepadaku. Maka kedua orang itu pun pergi untuk memungut zakat orang orang disekitar itu. Hal itu terdengar pula oleh bani Salim yang kemudian memilih ternaknya yang paling bagus untuk dikeluarkan zakatnya. Karena pemungut zakat melihat bahwa apa yang diserahkan kepada mereka melebihi dari apa yang harus dikeluarkan, petugas itu berkata kepadanya : Kamu tidak wajib mengeluarkan ini dan kami tidak berkeinginan menerimanya. Orang itu menjawab : Betul, tapi terimalah ini sesungguhnya aku ikhlas melakukannya. 

Kemudian petugas zakat itu melakukan tugasnya terhadap orang orang yang ada di sekitar itu dan setelah itu mereka kembali menemui Tsa’labah. Kemudian Tsa’labah berkata : Perlihatkanlah kepadaku surat tugasmu. Setelah selesai membacanya ia pun berkata : Pungutan ini tidak lain kecuali pajak dan sejenisnya. Pergilah dulu sementara aku berfikir fikir apakah yang akan aku lakukan. Setelah kedua petugas zakat itu bertemu dengan Rasulullah. Beliau bersabda : Celakalah wahai Tsa’labah hal itu beliau katakan sebelum kedua petugas itu bercerita kepada Rasulullah dan beliau mendoakan keberkahan bagi orang orang dari bani Salim itu. 

Kemudian kedua petugas zakat tersebut menceritakan kepada Rasulullah tentang apa yang telah dilakukan oleh Tsa’labah dan orang orang dari bani Salim. Ketika itu turun ayat : “Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian kerunia-Nya kepada kami pastilah kami akan bershadaqah dan pastilah kami termasuk orang orang yang shalih. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan mereka memanglah orang orang yang selalu membelakangi (kebenaran) Q.S at Taubah 75-76.

Ketika ayat ini turun, salah seorang kerabat Tsa’labah berada di dekat Rasulullah dan mendengar ayat tersebut. Kemudian ia keluar dan pergi menemui Tsa’labah seraya berkata : Celakalah engkau wahai Tsa’labah, sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat yang berkenaan denganmu. Mendengar hal itu Tsa’labah langsung pergi menemui Rasulullah dan meminta beliau untuk menerima zakatnya. Namun Rasulullah bersabda : Sesungguhnya Allah telah melarangku menerima zakat darimu. 
  
Tsa’labah lalu melumuri kepalanya dengan debu sebagai tanda berduka cita, menyesal. Rasulullah kembali mengatakan kepadanya : Ini adalah akibat perbuatan kamu sendiri. Dulu aku telah perintahkan kamu untuk mengeluarkannya tetapi kamu tidak mau mentaatiku. Setelah ia menyadari bahwa Rasulullah tidak bakal menerima zakatnya, Tsa’labah langsung pulang ke rumahnya. Sampai pada saat Nabi wafat beliau tidak mau menerima zakat dari Tsa’labah.

Pada masa Khalifah Abu Bakar Tsa’labah berkata kepadanya : Bukankah engkau tahu kedudukanku di sisi Rasulullah serta keberadaanku di kalangan kaum Anshar, karenanya terimalah zakat ku ini. Abu Bakar menjawab : Rasulullah kan tidak mau menerima zakat dari engkau. Akhirnya Abu Bakar pun tidak mau menerimanya sampai beliau wafat. 

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, Tsa’labah mendatangi Umar seraya berkata : Wahai Amirul Mukminin terimalah zakatku ini. Umar menjawab : Rasulullah dan Abu Bakar tidak mau menerima zakat dari engkau, sementara akukah yang akan menerimanya. Sampai wafatpun Umar tidak mau menerima zakat Tsa’labah. Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Tsa’labah mencoba mendatangi Usman seraya berkata : Terimalah zakatku ini. Namun Utsman menjawab : Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tidak mau menerima zakat dari engkau apakah aku akan menerimanya ?. Akhirnya Utsman bin Affan pun tidak mau menerima zakat Tsa’labah. Dan Tsa’labah pun wafat pada masa pemerintahan  Utsman bin Affan (Tafsir Ibnu Katsir).

Tentang kelemahan hadits ini.

Pertama : Dalam sanad atau periwayatan haditsnya. 

Dalam sanad hadits ini terdapat dua orang perawi yang bermasalah yaitu  
(1) Mu’an bin Rifa’ah as Salami. Tentang Mu’an ini, Syaikh Muhammad Nasiruddin al Albani dalam Kitab Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’ berkata : Mu’an bin Rifa’ah adalah seorang perawi yang lemah. 
 
(2) Ali bin Yazid al Alhani ad Dimasyqi yang dikomentari ulama ahli hadits sebagai berikut (a) Imam Bukhari berkata : Ali bin Yazid adalah munkarul hadits. (b) Imam Abu Zur’ah berkata : Ali bin Yazid bukanlah seorang perawi yang kuat. (c) Imam ad Daraquthni berkata : Dia adalah matruk, yaitu periwayatannya ditinggalkan, tidak dipakai. (d) Ibnu Hibban menganggap Ali bin Yazid adalah perawi yang tidak benar.

Kedua : Matan atau redaksi hadits ini sangat bathil.
Dalam matan hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah tidak mau mengakui taubat yang telah dilakukan seorang sahabat yaitu Tsa’labah yang telah mengakui kesalahannya. Tidaklah Rasulullah memiliki sifat yang demikian karena beliau selalu berharap agar umatnya yang telah terlanjur berbuat dosa untuk kembali bertaubat. 

Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan ketakwaan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah : cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertwakal dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.  (Q.S at Taubah 128-129).

Dan Allah berfirman : “Wahai orang orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar benarnya, mudah mudahan Rabb-mu akan menghapus kesalahan kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang dibawahnya mengalir sungai sungai..   (Q.S at Tahrim 8)

Dalam banyak hadits juga disebutkan bahwa Allah dan Rasul-Nya senantiasa berharap agar para pelaku maksiat segera bertaubat. 

Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah senantiasa menghamparkan tanganNya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di siang harinya. Dan Dia senantiasa menghamparkan tanganNya di waktu siang untuk menerima taubat orang yang melakukan kesalahan di malam harinya. Yang demikian itu terus berlaku sampai matahari terbit di sebelah barat (Kiamat). H.R Imam Muslim.

Rasulullah bersabda : “Innallaha yaqbalu taubatal ‘abdi maa lam yugharghir. Sesungguhnya Allah senantiasa menerima taubat yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya selama taubat tersebut dilakukan sebelum nafasnya sampai ke tenggorokan (sakara).  H.R at Tirmidzi.

Jadi sungguh tampak sekali kejanggalan bahkan kebathilan pada kisah Tsa’labah dalam hadits ini bahwa Rasulullah dan tiga Khalifah sesudah beliau tidak mau menerima zakat dan tidak menerima pengakuan keteledoran Tsa’labah.

Keutamaan Tsa’labah.    
    
Diantaranya juga  alasan yang membuat hadits ini dihukumi tidak shahih adalah gambaran tentang keutamaan Tsa’labah. Dengan keutamaan yang dimilikinya maka  sangatlah sedikit   kemungkinan dia berlaku buruk yaitu melalaikan kewajiban syariat berupa zakat, infak dan sedekah.  Selain itu diantara sikap yang mulia dari  seorang sahabat adalah tidak mencintai harta dunia begitu juga dengan Tsa’labah. Apalagi Tsa’labah adalah sahabat dari golongan Anshar yang umumnya mereka sangat dermawan terutama dalam menyambut dan melayani kaum Muhajirin. Secara khusus, keutamaan Tsa’labah terlihat paling tidak pada dua hal sebagai berikut :

Pertama : Tsa’labah termasuk kelompok sahabat yang pertama tama masuk Islam dari golongan Anshar, yang dalam al Qur an disebut sebagai : assabiqunal awwaluun, yaitu orang orang yang terdahulu lagi yang pertama tama masuk Islam. 

Kedua : Tsa’labah adalah sahabat yang ikut dalam perang Badr. Dalam Kitab sejarah yang ditulis oleh Syaikh Mahmud Syit Khaththab disebutkan bahwa Tsa’labah bin Hathib al Anshari dari Ban Umaiyah bin Zaid bin ‘Auf dari suku Aus dicatat pada urutan 123 sebagai pejuang perang Badr dari golongan Anshar.

Asbabun Nuzul surat at Taubah ayat 75-76.  
Ayat 75-76 surat at Taubah  tidaklah berkaitan dengan Tsa’labah. Imam al Qurtubi berkata : Semua riwayat yang mengatakan bahwa ayat ini turun dalam kaitannya dengan Tsa’labah tidak ada satu pun yang shahih. Yang shahih adalah bahwa ayat tersebut diturunkan  berkaitan dengan orang orang munafik yaitu Nabtal bin Harits, Jad bin Qais dan Mu’attab bin Qusyair, Demikian yang dikatakan adh Dhahak. (Tafsir al Qurtubi). 

Wallahu A’lam. (409)