Kamis, 29 Februari 2024

MEMOHON PETUNJUK HANYA KEPADA ALLAH

 

MEMOHON PETUNJUK HANYA KEPADA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, satu perkara sangat penting yang wajib diketahui dan BENAR BENAR DIYAKINI   oleh hamba hamba Allah adalah bahwasanya yang MEMBERI PETUNJUK ATAU HIDAYAH ITU ADALAH HAK ALLAH SEMATA MATA. Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya :

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Sungguh engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang orang yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang orang yang mau menerima petunjuk. (Q.S al Qashash 56).

Oleh karena itu orang orang beriman memohon petunjuk atau hidayah dari Allah Ta'ala paling sedikit 17 kali dalam sehari semalam yaitu diucapkan saat shalat fardhu yaitu dengan kewajiban membaca Ummul Kitab :

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Q.S al Fatihah 6)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa'di berkata : Maksudnya, tuntunlah kami, bimbinglah kami dan arahkan kami kepada jalan yang lurus yaitu jalan yang sangat jelas mengantarkan kepada Allah Ta'ala dan kepada surga-Nya yaitu (dengan) mengetahui kebenaran dan melaksanakannya.

Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus, maka petunjuk kepada jalan yang lurus adalah konsisten terhadap agama Islam dan meninggalkan agama agama selainnya. Dan petunjuk kepada jalan yang lurus adalah meliputi petunjuk kepada seluruh perincian perincian agama baik ILMU MAUPUN AMALAN. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah untuk mendapatkan hidayah tentu belum cukup dengan berdoa saja karena hidayah itu juga harus dijemput dengan sungguh sungguh. Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang orang yang berjihad untuk (mencari ke ridhaan) Kami, Kami akan TUNJUKKAN kepada mereka jalan jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik. (Q.S al Ankabut 69)

Syaikh Dr. Shalih Fauzan al Fauzan menjelaskan bahwa : Allah Ta'ala memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya. Ini adalah dengan qadha dan qadar-Nya.

Akan tetapi Dia memberikan hidayah kepada YANG DIA KETAHUI MEMANG BAIK UNTUK MENERIMA HIDAYAH DAN MEMBERIKAN HIDAYAH KEPADA ORANG YANG MEMILIKI KEMAUAN KUAT UNTUK MENCARI DAN MENYAMBUT HIDAYAH. Maka sesungguhnya Allah Ta'ala memudahkannya (memberikannya taufik) kepada jalan kemudahan (hidayah).

Dan Allah Ta'ala menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya karena mereka berpaling dari usaha mencari hidayah dan jalan kebaikan. Maka Allah Ta'ala menyesatkannya sebagai hukuman baginya atas keberpalingannya tersebut dan juga tidak ada kecintaan kepada kebaikan. (Syarah Matan al Aqidah ath Thahawiyah).

Sebagai penutup tulisan ini, dinukil satu doa memohon hidayah atau petunjuk yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, keterjagaan (dari kesucian), dan kecukupan). (H.R Imam Muslim, at Tirmidzi  dan juga yang selainnya).

Wallahu A'lam. (3.250)

Rabu, 28 Februari 2024

HADITS TENTANG RAMADHAN YANG MENDATANGKAN KEGEMBIRAAN

 

HADITS TENTANG RAMADHAN YANG MENDATANGKAN KEGEMBIRAAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Tentang bulan Ramadhan yang membuat orang orang beriman bergembira adalah sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan   :

            ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

Telah datang kepada kalian Ramadhan, (1) Bulan yang diberkahi.  Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. (2) Pintu-pintu surga dibuka padanya. (3) Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup.  (4) Syaithan syaithan dibelenggu. (5) Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi. (H.R Imam Ahmad),

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa  kita mestilah bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan SANGAT BANYAK KEBAIKAN YANG ADA PADANYA :

Pertama : Ibnu Rajab Al-Hambali.

Beliau berkata : Bagaimana tidak gembira ?. Seorang beriman diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para syaithan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan). Latha'if al Ma'arif)

Kedua : Syaikh Shalih Al-Fauzan.

Beliau berkata  : Hadits ini adalah kabar gembira bagi hamba Allah yang shalih dengan datangnya Ramadhan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi kabar kepada para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum mengenai datangnya Ramadhan. Ini bukan sekedar kabar semata, tetapi maknanya adalah bergembira dengan datangnya momen yang agung. (Ahaditsus  Shiyam).

Selain itu ketahuilah bahwa tentang bergembira dengan Ramadhan juga dijelaskan oleh  Dr. Abdurrahman as Sudais imam Masjidil Haram. Dalam satu khutbah di Masjidil Haram menjelang bulan Ramadhan  beberapa tahun yang lalu  menyebutkan : Wahai umat Islam !. BERGEMBIRALAH dengan kedatangan bulan Ramadhan yang mulia. Sebab Ramadhan merupakan kesempatan yang sangat baik bagi kalian semuanya yaitu :

Pertama : Bagi orang orang yang taat ini kesempatan UNTUK MENAMBAH AMAL SHALIHNYA.

Kedua : Bagi orang orang yang selama ini mungkin penuh dosa, ini merupakan kesempatan paling berharga untuk MEMOHON AMPUN DAN BERTAUBAT, kembali kepada syariat Islam yang benar. (Dari Kumpulan Khutbah Masjidil Haram).

Oleh karena itu, para salaf dahulu berdoa kepada Allah Ta'ala agar dipertemukan dengan Ramadhan. Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan bahwa sebagian salaf berkata : Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan.

Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka. (Latha'if al Ma'arij).

Wallahu A'lam. (3.249)

 

   

HAMBA ALLAH SANGAT TAKUT MENUTUP HIDUPNYA DENGAN KEBURUKAN

 

HAMBA ALLAH SANGAT TAKUT MENUTUP HIDUPNYA DENGAN KEBURUKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Selanjutnya ketahuilah bahwa setiap hamba haruslah terus menerus melakukan amal shalih yang diperintahkan kepadanya karena tidak ada yang tahu kapan seseorang akan diwafatkan. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa amal amal seseorang tergantung pada amal amal penutup hidupnya.

Dari Sahl bin Sa’di, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaih Wasallam  bersabda :

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

S
esungguhnya amal perbuatan seseorang adalah tergantung penutupnya. (H.R Imam Bukhari).

Al Imam az Zarqani mengatakan bahwa amalan akhir manusia itulah yang jadi penentu dan atas amalan itulah akan dibalas. Siapa yang beramal buruk lalu beralih beramal baik, maka ia dinilai sebagai orang yang bertaubat. Sebaliknya, siapa yang berpindah dari iman menjadi kufur, maka ia dianggap murtad. (Syarh al Muwatha').

Syaikh Dr. Shalih Fauzan al Fauzan berkata : Amal perbuatan tergantung pada amal amal penutup, artinya seseorang TIDAK BOLEH TERTIPU DENGAN AMALNYA sekalipun dia seorang yang shalih. Dia harus takut dengan buruknya penutup amal. Akan tetapi diantara (bentuk) kasih sayang Allah Ta'ala terhadap hamba hamba-Nya adalah bahwasanya BARANGSIAPA YANG HIDUP DALAM KEBAIKAN MAKA HIDUPNYA AKAN DITUTUP DENGAN KEBAIKAN.

Sebaliknya barangsiapa yang hidup bergelimang dosa dan kejahatan maka hidupnya akan ditutup dengan keburukan. Maka manusia harus senantiasa beramal dan melakukan sebab sebab (yang mengantarkan kepada kebaikan) dan selanjutnya adalah BERBAIK SANGKA KEPADA ALLAH TA'ALA.

Ada sebagian orang berkata : Saya akan bertaubat sebelum saya mati. Kami katakan kepadanya : TAHUKAH ENGKAU  KAPAN AKAN MATI ?.  Mungkin engkau mati sesaat lagi, sehingga engkau tidak mungkin bisa bertaubat. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa engkau TIDAK TAHU APAKAH TAUBATMU DITERIMA ATAU TIDAK ?, karena taubat yang diterima memiliki beberapa syarat. (Dari Penjelasan Ringkas Matan al Aqidah ath Thahawiyah, dengan diringkas, insya Allah dengan tidak mengurangi makna).

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah terus menerus melakukan amal  shalih dengan dilandasi iman sampai akhir hayat sehingga dijauhkan dari akhir kehidupan yang buruk. Sungguh, setiap hamba jangan merasa aman meskipun sehari hari selalu berusaha melakukan amal amal shalih dengan hidayah Allah.

Sungguh hati manusia itu mudah berbolak balik.  Ingatlah satu doa yang paling sering  dibaca oleh Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam yaitu :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa doa ini yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : 

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya. (H.R at  Tirmidzi, di shaihkan oleh Syaikh Al Albani).

Sungguh, doa ini sangat baik untuk kita amalkan setiap saat karena ini doa diajarkan dan sering dibaca oleh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Wallahu A'lam. (3.248)

 

 

 

Selasa, 27 Februari 2024

BERTAUBAT MESTILAH DENGAN SEBENAR BENAR TAUBAT

 

BERTAUBAT MESTILAH DENGAN SEBENAR BENAR TAUBAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa salah satu LANGKAH PALING CERDAS dan betul betul sangat dianjurkan untuk SEGERA DILAKUKAN seseorang yang tergelincir kepada dosa dan maksiat adalah BERTAUBAT DENGAN SEBENAR BENAR TAUBAT ATAU TAUBAT NASUHA. Ketika Langkah atau Tindakan ini diambil dan dilaksanakan maka dosanya akan dihapus dan Allah Ta'ala memberi keselamatan kepadanya. Allah Ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang sebenar benarnya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Q.S at Tahrim 8).

Lalu apa makna taubat ?. Makna taubat dijelaskan oleh Prof. DR Shalih Ghanim as Sadlan, beliau berkata : Secara syar’i  taubat adalah meninggalkan dosa karena takut kepada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya dan terus memperbaiki apa yang bisa diperbaiki dari amalnya.

Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabb-nya, inabah yaitu kembali kepada Allah Ta’ala dan konsisten menjalankan ketaatan. Jadi, sekedar meninggalkan perbuatan dosa namun tidak melaksanakan amalan yang dicintai Allah Ta’ala maka itu belum dianggap bertaubat. (Kitab At Taubatu Ilallah)

Sungguh, perlu diketahui bahwa bertaubat ternyata bukan sekedar  atau asal asalan. Dalam surat at Tahrim ayat 8 diatas disebutkan dengan TAUBATAN NASUHA ATAU SEBENAR BENAR TAUBAT. Salah satu makna tentang taubatan nasuha disebutkan oleh Syaikh Hafidz al Hakami, beliau berkata : Taubat nasuha adalah TAUBAT YANG JUJUR. Terkumpul padanya tiga perkara yaitu: (1) Meningggalkan dosa. (2) Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan. (3) Bertekad untuk tidak kembali mengulanginya selama lamanya. (Al A'lam as Sunnah Mansyurah).  

Selain itu perlu dipahami pula bahwa BERTAUBAT MESTILAH DILAKUKAN DENGAN IKHLAS KARENA RASA TAKT KEPADA  ALLAH DAN MENGHARAP PAHALA-NYA.. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelasan perkara ini  dalam Kitab beliau, Tafsir Juz ‘Amma pada Tafsir surat al Buruj,  antara lain adalah tentang lima syarat taubat nasuha. Satu diantaranya disebutkan beliau : Ikhlas karena Allah semata, yaitu yang mendorong seseorang untuk bertaubat adalah rasa takutnya kepada Allah dan mengharap pahala dari-Nya. Terkadang ada orang yang bertaubat karena ingin dipuji manusia atau menghindari celaan manusia terhadapnya. Atau untuk mencapai kedudukan tertentu atau karena ingin mendapatkan harta dengan taubatnya.

Orang yang bertaubat dengan motivasi seperti itu tidak diterima taubatnya, karena (salah satu) syarat taubat harus ikhlas. Demikian penjelasan Syaikh Utsaimin).

Wallahu A'lam. (3.247)

     
 

 

Senin, 26 Februari 2024

WAKTU DAN KESEMPATAN BERTAUBAT SANGATLAH LUAS

 

 

WAKTU DAN KESEMPATAN BERTAUBAT SANGATLAH LUAS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika seseorang tergelincir atau terlanjur atau sedang berada dalam kemaksiatan maka sungguh Allah dan Rasul-nya menyuruh untuk segera bertaubat. Sebesar apapun dosa pastilah Allah Ta’ala dengan kasih sayang-Nya akan mengampuni jika seseorang betul betul memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

Sungguh sangatlah banyak ayat al Qur-an dan sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam yang menyuruh hamba hamba-Nya yang berbuat maksiat untuk bertaubat dan Allah akan mengampuni dosanya. Diantaranya adalah : 

(1) Allah Ta'ala berfirman :  

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, agar kamu beruntung (Q.S an Nuur 31).

(2) Allah Ta'ala berfirman :  

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Wahai orang orang yang beriman !.  Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nashuha (sebenar benar taubat) Q.S at Tahrim 8.

(3) Allah Ta'ala berfirman : 

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Wahai hamba hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri !. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sungguh Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S az Zumar 53).  

(4) Dari Abu Musa ‘Abdillah bin Qais al Asy’ari, dari Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

 

إنَّ الله تعالى يَبْسُطُ يدَه بالليلِ ليتوبَ مسيءُ النَّهارِ، ويَبْسُطُ يدَه بالنَّهارِ ليتوبَ مسيءُ الليلِ، حتى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا   

Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat pelaku maksiat pada siang hari. Dan Dia  membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat pelaku maksiat pada malam hari, sampai matahari terbit dari tempat terbenamnya. (H.R Imam Muslim). 

Oleh karena itu hamba hamba Allah yang  sedang berada dalam maksiat dan perbuatan dosa maka  kuatkan hati untuk segera BERHENTI DARI PERBUATAN DOSA DAN SEGERA MEMOHON AMPUN DAN BERTAUBAT.

Selanjutnya  adalah : MENGIRINGI PERBUATAN BURUK DENGAN PERBUATAN BAIK sehingga bisa menutup perbuatan buruk itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik. (H.R at Tirmidzi, ia  berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih)

Wallahu A'lam. (3.246).

MAKSIAT MEMILIKI KORELASI YANG KUAT DENGAN MUSIBAH

 

MAKSIAT MEMILIKI KORELASI YANG KUAT DENGAN MUSIBAH

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Banyak orang berilmu  yang menjelaskan bahwa maksiat dan musibah mempunyai hubungan yang sangat kuat. Perhatikanlah apa yang diingatkan oleh orang orang yang berilmu :

Pertama : Imam Ibnul Qayyim al Jauziah.

Diantara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan juga mendatangkan bencana atau musibah. Oleh karena itu hilangnya nikmat dari seseorang adalah akibat dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah adalah juga disebabkan dosa (al Jawabul Kafi) 

Kedua : Ibnu Rajab al Hambali.

Tidak disandarkan suatu keburukan  atau kerusakan melainkan pada dosa, karena semua  musibah itu disebabkan dosa. (Latha’if al Ma’arif).

Ketahuilah bahwa  maksiat menghilangkan nikmat dan  mendatangkan kesempitan. Kalau di zaman ini kita merasakan banyak nikmat yang hilang sedangkan musibah terjadi berkepanjangan maka penyebabnya adalah kelalaian dari kebanyakan manusia untuk taat kepada perintah Allah.

Kita menyaksikan bagaimana saat ini ada manusia dengan mudahnya meninggalkan perintah perintah Allah yang wajib seperti shalat, puasa di bulan Ramadhan, berzakat dan yang lainnya. 

Selain itu, kita melihat betapa banyak manusia yang melanggar dan mengabaikan larangan larangan Allah Ta’ala. Saat ini kesyirikan terjadi dibanyak tempat dalam masyarakat. Diantaranya adalah dengan mendatangi dukun, para normal. Minta berkah ke tempat tempat yang mereka sebut keramat bahkan minta berkah kepada orang yang sudah mati. 

Sekali lagi perlu dipahami bahwa semua kemaksitan itu akan menghilangkan berbagai nikmat dan mendatangkan musibah berupa adzab di dunia.  Adzab di akhirat pasti lebih berat lagi. Sungguh selagi manusia belum betul betul bertaubat dari segala macam maksiat apalagi perbuatan syirik, maka tidaklah berkah akan turun kepada manusia.

Dan juga selagi manusia belum beriman dengan benar dan belum melakukan amal shalih yang diperintahkan Allah Ta'ala  maka baginya akan selalu ada musibah, diantaranya adalah berupa kehidupan yang sempit. Allah Ta'ala berfirman :  

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat (dibangkitkan) dalam keadaan buta.  (Q.S Thaha 124)

Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat ini : Barangsiapa yang menyelisihi perintah-Ku dan ketentuan syariat yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku (dengan) berpaling darinya, melupakannya, dan mengambil selain petunjuknya  maka baginya penghidupan yang sempit dan sengsara, yaitu di dunia, dan tidak ada kelapangan dalam hatinya.

Bahkan hatinya sempit dan sesak karena penyimpangannya, meskipun (terlihat) secara zhahir (hidupnya) senang. Berpakaian , makan dan bertempat tinggal sesukanya. Akan tetapi hatinya selalu diliputi kegundahan, keguncangan dan keraguan karena jauhnya dari kebenaran dan petunjuk-Nya. (Kitab Tafsir Ibnu Katsir).

Diantara ulama tafsir juga menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari mengingat Allah termasuk adalah yang enggan beribadah kepada-Nya maka kehidupannya akan senantiasa dirundung kesedihan dan duka (Adhawaul Bayan, dinukil oleh Syaikh asy Syinqiti).

Wallahu A'lam. (3.245).

TIDAK ADA AMALAN KHUSUS MENYAMBUT RAMADHAN ??.

 

TIDAK ADA AMALAN KHUSUS MENYAMBUT RAMADHAN ??.

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Di zaman ini sebagian manusia melakukan berbagai kegiatan atau amalan menyambut bulan Ramadhan. Dua diantaranya adalah :

Pertama : Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan.

Ziarah kubur memang dianjurkan yaitu sebagaimana disebutkan sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ اْلقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana. (H.R Imam Muslim).

Dari zhahir hadits ini dapat diambil pelajaran bahwa melakukan ziarah kubur memang dianjurkan TETAPI TIDAK DITETAPKAN PADA WAKTU KHUSUS DAN LEBIH UTAMA. Jadi tidaklah tepat keyakinan bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat dan yang lainnya.

Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar maka ini termasuk suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

Lalu bolehkan ziarah kubur beberapa hari sebelum Ramadhan ?. Ya, tentu boleh karena ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja. Tetapi jangan dianggap bahwa jika melakukan ziarah kubur sebelum Ramadhan sebagai suatu kemestian dan memiliki nilai lebih utama.

Kedua : Melakukan Mandi Besar atau padusan  untuk menyambut Ramadhan

Sebagian orang  menyambut bulan Ramadhan dengan padusan atau mandi besar  terlebih dahulu. Di salah satu daerah di Sumatra disebut balimau kasai. Sungguh,  perkara ini tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan lebih tercela lagi mandi besar atau padusan ini   ada  yang melakukannya dengan campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian umum sehingga setiap orang bisa melihat aurat satu sama lain bahkan lain jenis. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan syari'at Islam. Ini berarti menyambut  Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah Ta'ala.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya : Apakah ada amalan-amalan khusus yang disyariatkan untuk menyambut bulan Ramadhan ?. Syaikh  rahimahullah menjawab: Aku tidak mengetahui ada amalan tertentu (khusus, peny.) untuk menyambut bulan Ramadhan selain seorang Muslim menyambutnya dengan bergembira, senang dan penuh suka cita, serta bersyukur kepada Allah karena bisa  berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan.

Semoga Allah memberi taufik dan menjadikan kita termasuk orang yang menghidupkan Ramadhan dengan berlomba-lomba dalam melakukan amalan shalih. (Majmu' Fatawa, Syaikh bin Baz).

Wallahu A'lam. (3.244)

 

Sabtu, 24 Februari 2024

SANGAT BANYAK KEBAIKAN MENDATANGI ORANG YANG BERPUASA

 

SANGAT BANYAK KEBAIKAN MENDATANGI ORANG YANG BERPUASA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, ibadah puasa termasuk ibadah yang relatif berat untuk diamalkan oleh sebagian hamba hamba Allah. Kenapa ?, karena harus menahan makan dan minum serta hal hal yang membatalkannya selama lebih kurang 14 jam.

Namun demikian mengingat sangat banyak keutamaannya maka sebagian saudara saudara kita tetap bersemangat untuk berpuasa sunnah apalagi puasa fardhu bulan Ramadhan. Diantara keutamaan yang akan mendatangi orang orang  berpuasa adalah :

Pertama : Mendapat perisai sebagai benteng dari api neraka. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  bersabda : 

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.  (H.R Imam Ahmad).

Syaikh Shalih Fauzan hafidzahullah menjelaskan : Maksudnya puasa adalah penghalang antara dirinya dengan api neraka. Hal ini mencakup puasa yang wajib seperti puasa Ramadhan dan juga puasa sunnah seperti puasa enam hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa tiga hari setiap bulan, puasa Dzulhijjah, puasa ‘Arafah, dan puasa ‘Asyura (Lihat al Minhatu ar Rabaniyyah fii Syarhi Al-Arba’in An-Nawawiyyah).

Kedua : Dijauhkan wajahnya dari api neraka

Ketahuilah bahwa ternyata melakukan ibadah puasa adalah salah satu cara untuk terhindar dari api neraka bahkan bisa dijauhkan sejauh jauhnya dari api neraka yang dahsyat itu. Rasulullah Salallahu ‘alai Wasallam  bersabda :  

ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذالك وجهه عن النار سبعين خريفا

Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh musim karena puasanya itu. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Sa’id al Khudri)

Bahwa maksud sabda Rasulullah tentang 70 musim adalah perjalan 70 tahun, sebagaimana disebutkan Ibnu Hajr Ashqalani dalam Fathul Bari.

Ketiga : Mendapat syafaat dari amalan puasa.

Sungguh amalan puasa seseorang akan menjadi penolongnya di akhirat kelak yaitu sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : 

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

Amalan puasa dan amalan (bacaan) al Qur an itu akan memberikan syafa’at (pertolongan) kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata : Wahai Rabb-ku, aku telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya.

Dan amalan al Qur an  berkata pula : Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya. Beliau bersabda : Maka syafaat keduanya diperkenankan. (H.R Imam Ahmad, al Hakim dan ah Thabrani

Keempat : Orang berpuasa dirindukan oleh surga.

Ketahuilah bahwa ternyata ada hamba hamba Allah yang dirindukan oleh surga. Lalu apa makna rindu ?. Dalam KBBI disebutkan salah satu makna rindu adalah : MEMILIKI KEINGINAN YANG KUAT UNTUK BERTEMU.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan tentang amalan  orang orang yang dirindukan oleh surga yaitu  dalam sabda beliau :

الْجَنَّةُ مُشْتَاقَةٌ اِلَى أَرْبَعَةِ نَفَرٍ : تَالِى الْقُرْانِ, وَحَافِظِ اللِّسَانِ, وَمُطْعِمِ الْجِيْعَانِ, وَصَا ئِمٍ فِى شَهْرِ رَمَضَا

Surga merindukan empat golongan yaitu orang yang membaca Al Quran, menjaga lisan (ucapan), memberi makan orang lapar, DAN YANG BERPUASA di bulan Ramadhan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

 

Masuk surga melalui pintu khusus untuk orang orang berpuasa.

Ketahuilah bahwa orang orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu khusus  yaitu PINTU RAYYAN,  sebagaimana BERITA GEMBIRA yang disebutkan sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : 

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut AR RAYYAN. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru : Mana orang yang berpuasa.

Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.  (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.243)

 

 

 

 

 

 

 

 

BERSIAP DIRI MENJELANG DATANG RAMADHAN

 

BERSIAP DIRI MENJELANG DATANG RAMADHAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam urusan dunia, hakikatnya manusia selalu berbekal atau mempersiapkan segala sesuatu sebelum melakukan sesuatu aktivitas. Persiapan ini tentu semakin penting apabila terkait dengan urusan  yang besar apalagi dalam perkara ibadah dan urusan akhirat.

Sungguh, ketika menjelang masuk bulan Ramadhan maka hamba hamba Allah selalu bersiap diri dengan SEBAIK MUNGKIN sehingga bisa mengisi Ramadhan tahun ini LEBIH BAIK DARI TAHUN TAHUN SEBELUMNYA. Diantara persiapan atau bekal yang dianjurkan dalam hal ini adalah :

Pertama : Berbekal dengan ilmu.

Bulan Ramadhan memberi kesempatan kepada orang orang beriman untuk melakukan semua amal amal utama dalam Islam, kecuali ibadah Haji. Diantaranya ada puasa wajib,  ada shalat sunnah tarawih, sedekah, baca al Qur an, i’tikaf dan yang lainnya. Ketahuilah bahwa semua ibadah baru bernilai bila dilakukan dengan ikhlas dan dengan  cara yang diajarkan oleh Rasulullah.

Untuk mengetahui cara beribadah yang benar kita butuh ilmu dan ilmu hanya didapat dengan belajar. Oleh karena itu sambutlah Ramadhan dengan banyak belajar ilmu terutama tentang cara cara beramal yang  khususnya amal di bulan Ramadhan yang  sesuai syariat. Para ulama mengingatkan agar berilmu dulu baru beramal.

Khalifah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengingatkan : Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan. (Al Amru bil Ma'ruf)

 Kedua : Banyak memohon ampun.

Memohon ampun hakikatnya haruslah dilakukan setiap hamba terus menerus setiap waktu dan keadaan karena  kita hamba hamba Allah banyak  berbuat dosa. Ketahuilah bahwa diantara waktu yang sangat dianjurkan dan juga sangat bermanfaat adalah memohon ampun sebelum Ramadhan.

Sungguh, orang orang berilmu mengingatkan bahwa ketika seseorang banyak dosa dan maksiat,  dan belum dimintakan ampun maka AKAN MELEMAHKAN SEMANGAT UNTUK BERIBADAH. Agar ibadah kita di bulan Ramadhan jangan melemah dan berkurang bahkan seharusnya semakin bertambah maka perbanyak memohon ampun sebelum Ramadhan.

Ali bin Abi Thalib berkata : Akibat buruk dari dosa adalah : (1) Kelemahan dalam beribadah. (2) Kehidupan yang sempit. (3) Keburukan dalam perkara yang (mestinya)  nyaman. (Dari Tarikh Khulafa).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Sungguh banyak ketaatan yang TERPUTUS KARENA DOSA. Padahal satu ketaatan, lebih baik daripada dunia beserta isinya. (Ad Daa' wad Dawaa')

Ketiga : Menyambut Ramadhan dengan banyak berdoa.

Sungguh tidak ada yang bisa mempertemukan kita dengan Ramadhan kecuali jika Allah Ta'ala mengizinkan.  Oleh karena itu  mohonlah dan berdoalah kepada-Nya dan salah satu doa yang dianjurkan  adalah : 

أللهمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.

Ketiga : Banyak beribadah  sebelum Ramadhan.

Kesempatan beribadah sangatlah luas dan  banyak di bulan Ramadhan. Sehingga dibutuhkan semangat yang tinggi. Untuk itu sangat dianjurkan memperbanyak ibadah sebelum Ramadhan sehingga ketika melakukan ibadah Ramadhan menjadi TIDAK TERLALU BERAT dan tetap dalam keadaan semangat. Ibarat dalam olah raga lari maka perlu ada pemanasan.

Dianjurkan banyak shalat sunnah termasuk shalat lail, puasa sunnah, membaca al Qur an, sedekah dan yang lainnya sebelum datang Ramadhan. Dan di bulan Ramadhan tinggal meneruskan. Semoga Allah memudahkan kita semua dalam beribadah.

Wallahu A'lam. (3.242)