Kamis, 30 November 2023

JALAN UNTUK MENGOBATI PENYAKIT SUKA BERGUNJING

 

JALAN UNTUK MENGOBATI PENYAKIT SUKA BERGUNJING

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ghibah dalam bahasa kita adalah bergunjing. Dalam KBBI disebutkan bahwa  bergunjing adalah : Berbicara (beromong-omong) tentang kejelekan (kekurangan) seseorang dan sebagainya. Menurut syariat ghibah atau bergunjing adalah sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dalam sabda beliau : 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخْيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tahukah kalian apa itu ghibah ?. Lalu sahabat berkata : Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Rasulullah bersabda : Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang dia benci. 

Beliau ditanya : Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan benar tentang saudaraku ?. Rasulullah bersabda : Jika engkau menyebutkan tentang kebenaran saudaramu maka sungguh engkau telah meng-ghibah  saudaramu dan jika yang engkau katakan yang sebaliknya maka engkau telah menyebutkan fitnah tentang saudaramu. (H.R Imam Muslim).

Sungguh Allah Ta'ala melarang secara tegas tentang berbuat ghibah atau bergunjing sebagaimana firman-Nya : 

وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمُ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَنْ يَأكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۚ وَاتَّقُوْا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوّابٌ رَحيمٌ

DAN JANGANLAH DIANTARA KALIAN MENGGUNJING SEBAGIAN YANG LAIN. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ?. Tentu kalian akan merasa jijik. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang. (Q.S al Hujurat 12).

Berkenaan dengan ayat ini, Syaikh as Sa’di berkata : Didalam ayat ini terdapat peringatan keras dari melakukan ghibah karena ghibah tergolong kepada dosa besar. Allah menyamakan ghibah dengan memakan daging bangkai, yang mana memakan bangkai adalah termasuk dosa besar. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu, hamba hamba Allah senantiasa, terus menerus  berusaha menjauhi perbuatan buruk ini. Ketahuilah ada beberapa cara yang diajarkan oleh Imam Ibnu Qudamah untuk menghindarinya, yaitu :

(1) Menyadarkan diri bahwa orang yang mengghibah atau suka bergunjing akan mendatangkan MURKA ALLAH.

(2) Kebaikan kebaikan orang yang mengghibah akan berpindah kepada orang yang dighibah. Dan jika orang yang mengghibah tidak mempunyai kebaikan maka keburukan orang yang dighibah akan dipindahkan kepada dirinya. Siapa yang menyadari hal ini tentu LIDAHNYA TIDAK AKAN BERANI MENGUCAPKAN GHIBAH.

(3) Jika terlintas pikiran hendak mengghibah maka hendaklah dia mengintrospeksi diri dengan MELIHAT AIB SENDIRI lalu berusaha untuk memperbaikinya. Mestinya dia mersa malu jika mengungkap aib atau keburukan orang lain sementara dirinya penuh pula dengan aib.

(4) Sekiranya seseorang merasa tidak mempunyai aib maka yang lebih baik baginya adalah MENSYUKURI NIKMAT ALLAH YANG DIBERIKAN KEPADANYA. Dia tidak perlu mengotori diri sendiri dengan aib yang sangat buruk yaitu membicarakan aib orang lain. (Disarikan dari Minhajul Qashidin)     

Wallahu A'lam. (3.153)

 

 

Rabu, 29 November 2023

SHALAT FARDHU BAGI LAKI LAKI DI MASJID BUKAN DI RUMAH

 

SHALAT FARDHU BAGI LAKI LAKI DI MASJID BUKAN DI RUMAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagian orang mengatakan bahwa shalat fardhu bagi laki laki boleh di rumah. Dan juga ada yang mengatakan bahwa shalat fardhu di masjid sifatnya adalah fardhu kifayah yaitu jika sebagian orang di suatu lingkungan masyarakat sudah ada yang shalat di masjid itu dianggap sudah mencukupi.

Ketahuilah bahwa kalau kita melihat beberapa dalil tentang shalat berjamaah pahamlah kita bahwa shalat fardhu di masjid bagi laki laki adalah fardhu 'ain yaitu wajib bagi setiap diri. Diantara dalilnya adalah  firman Allah Ta'ala :

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (Q.S al Baqarah 43).

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah  wafat tahun 751 H, beliau  berkata : Makna firman Allah rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama. (Ashalatu wa Hukmu Tarikiha)

Tentang surat al Baqarah ayat 43 ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, wafat tahun 1307 H, beliau  menjelaskan : “Dan rukuklah bersama orang yang rukuk” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah (di masjid) dan kewajibannya. 

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :         

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari).

Perintah shalat sebagaimana beliau shalat berkaitan dengan seluruh aspek shalat. Diantaranya adalah bacaan shalat, gerakannya yang sempurna, waktunya yang harus dijaga, TEMPATNYA (beliau shalat fardhu bersama sahabat di masjid, bukan di rumah) dan yang lainnya. Dan juga Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّمِنْ عُذْرٍ

Barangsiapa yang mendengar panggilan adzan kemudian dia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.” (HR. Ibnu Majah)

Sungguh, ketika seseorang shalat fardhu berjamaan di masjid itu sebagai bukti kepatuhannya kepada perintah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Selain itu ketahuilah bahwa sangatlah banyak keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba jika shalat berjamaah di masjid, satu diantaranya adalah bernilai lebih utama 25 atau 27 derajat dari shalat sendiri. Dari Anas,  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ

Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat. (H.R Imam Muslim)

Kalau kita hitung nilai shalat berjamaah di masjid dibanding shalat di rumah akan tahulah kita bahwa jika seseorang SHALAT DI MASJID SELAMA 10 TAHUN MAKA ITU MENYAMAI JUMLAH SHALAT DI RUMAH  SELAMA 250 ATAU 270 TAHUN.

Wallahu A'lam. (3.152)  

    

ZHALIM KEPADA MANUSIA DI DUNIA BANGKRUT DI AKHIRAT

 

ZHALIM KEPADA MANUSIA DI DUNIA BANGKRUT DI AKHIRAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa jika seseorang lancang berbuat zhalim atau keburukan kepada orang lain berarti dia menjatuhkan dirinya kebinasaan karena ini adalah perbuatan yang sangat tercela dan dilarang dalam syariat Islam. Allah Ta'ala berfirman :

وَلَا تَرْكَنُوٓا۟ إِلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ فَتَمَسَّكُمُ ٱلنَّارُ

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka. (Q.S Hud 113).

Imam al Baghawi dalam kitab tafsirnya menerangkan bahwa : Ayat ini bisa dikatakan sebagai ayat yang paling keras tentang larangan dan ancaman  terhadap perbuatan zhalim.

Selain itu, dalam satu hadits Qudsi disebutkan bahwa Allah Ta'ala mengharamkan kezhaliman atas diri-Nya dan mengharamkan pula kepada manusia untk berlaku zhalim.

Dari Abu Dzar dari Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau meriwayatkan dari Rabbnya bahwa Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman : 

يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا

Wahai sekalian hamba-Ku, Sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman pada diri-Ku dan mengharamkannya pada kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi … (H.R Imam Muslim).

Di zaman ini sangatlah banyak manusia berani melakukan kezhaliman terhadap manusia lain, diantaranya adalah sebagaimana tiga contoh yang disebutkan oleh Imam adz Dzahabi  yaitu :  (1) Memakan harta manusia dengan cara yang bathil. (2) Menzhalimi manusia dengan cara membunuh, melukai, memukul dan yang lainnya. (3) Menzhalimi manusia dengan celaan, laknat dan tuduhan dusta. (al Kaba'ir).

Sungguh sangatlah banyak keburukan yang akan menimpa orang orang yang suka berlaku zhalim kepada orang lain. Satu diantaranya adalah bahwa ORANG ZHALIM AKAN  BANGKRUT DI AKHIRAT KELAK. Dalam satu hadits dijelaskan :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ” قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”. أخرجه مسلم و أحمد وغيرهم

Dari Abu Hurairah Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : Tahukah kalian siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu ?. Para sahabat menjawab : Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda. 

Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : Muflis di antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di Hari Kiamat datang lengkap dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah zakatnya. 

Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh yang ini, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain. 

 

Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah dosa-dosa mereka (orang orang yang di zhalimi) itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka. (HR Muslim, Ahmad, dan yang selainnya).

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetaplah menjaga diri untuk tidak melakukan kezhaliman sekecil apapun  kepada manusia. Sungguh dosa dan keburukan perbuatan zhalim tidak akan terlepas kecuali dengan MEMOHON MAAF DAN MEMITA RIDHA DARI ORANG YANG PERNAH DI ZHALIMI. Jaga diri jangan menjadi orang yang bangkrut di akhirat kelak.

Wallahu A'lam. (3.151)

 

 

 

Senin, 27 November 2023

HAMBA ALLAH MESTILAH TERUS MENERUS BERDOA MEMOHON HIDAYAH

 

HAMBA ALLAH MESTILAH TERUS MENERUS BERDOA MEMOHON HIDAYAH

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Ketahuilah bahwa hidayah adalah sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat.  Sungguh, barangsiapa yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk meraihnya, maka dia telah meraih keberuntungan yang besar dan tidak akan ada seorangpun yang mampu mencelakakannya. Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat). Q.S al A’raaf 178).

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah mestilah terus menerus berdoa memohon kepada Allah Ta'ala untuk diberi petunjuk atau hidayah. Diantara doa yang sering kita baca bahkan diwajibkan untuk dibaca dalam semua shalat adalah :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tujukilah kami jalan yang lurus. (Q.S al Fatihah 6).

Selain itu, hidayah itu juga harus dicari dan dijemput dengan sungguh sungguh. Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Dan orang orang yang berjihad untuk (mencari ke ridhaan) Kami, Kami akan TUNJUKKAN kepada mereka jalan jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik. (Q.S al Ankabut 69)

Dalam menjelaskan ayat ini, Imam Ibnul Qayyim berkata : Allah Ta’ala mengkaitkan atau menggantungkan hidayah dengan perjuangan atau jihad. Manusia yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling besar jihadnya (kesungguh sungguhannya). Jihad yang paling utama yaitu jihad untuk mendidik jiwa, jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan syaithan dan JIHAD MELAWAN FITNAH DUNIA. (Kitab al Fawaid).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan orang orang yang berjihad untuk di jalan Kami” yaitu : (1) Mereka yang berhijrah fii sabilillah, dan (2) Berperang melawan musuh musuh mereka. (3) Mengorbankan segenap kemampuan mereka mencari ridha-Nya, “benar benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan jalan Kami”. Maksudnya, jalan jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Kami.

Hal itu karena mereka adalah orang orang yang berbuat kebajikan sedangkan Allah Ta’ala selalu bersama orang orang yang berbuat kebajikan, memberi pertolongan, kemenangan dan HIDAYAH. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Wallahu A'lam. (3.150)

Sabtu, 25 November 2023

MEMOHON KEPADA ALLAH AGAR MAMPU MENUNDUKKAN PANDANGAN

 

MEMOHON KEPADA ALLAH AGAR MAMPU MENUNDUKKAN PANDANGAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, saat ini semakin banyak ujian bagi hamba hamba Allah berupa pemandangan yang tak pantas atau tak boleh dilihat baik berupa photo, video bahkan tampilan manusia yang tak menutup aurat. Oleh itu hamba hamba Allah hendaklah terus memperkokoh imannya agar bisa menahan diri sehingga   terhindar dari melihat sesuatu yang tak pantas dilihat. Dalam bahasa agama disebut sebagai menundukkan pandangan.

Sesuatu yang tak pantas dilihat seperti aurat wanita maupun  aurat laki laki, saat ini bukan hanya ada di cafe, di pasar, di mal atau tempat keramaian tetapi ada juga di genggaman kita yaitu pada handphone dan yang semacamnya.

Untuk itu ada  diantara saudara kita yang sulit menahan pandangannya. Bahkan yang di telepon genggam ada yang sengaja chatting photo atau video yang haram untuk dilihat.

Sungguh, Allah Ta'ala telah memerintahkan hamba hambanya untuk menundukkan pandangan yaitu tidak melihat sesuatu yang sangat tidak pantas dilihat. Allah Ta'ala berfirman :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada laki laki yag beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. (Q.S an Nuur 30).

Kemudian, dalam ayat ke 31 surat an Nuur Allah Ta’ala  memerintahkan pula para wanita untuk menundukkan padangan mereka.

Tentang menundukkan pandangan, Syaikh as Sa’di berkata : Maksudnya, berilah pengarahan dan katakan  kepada orang orang beriman yang masih mempunyai keimanan yang dapat mencegah mereka terjerumus dalam perbuatan yang menodai keimanan mereka dari melihat aurat aurat (hal hal yang tak pantas dilihat). Tafsir Taisir Karimir Rahman.

Oleh karena itu hamba hamba hendaklah menjaga dirinya agar tidak jatuh kepada perbuatan yang tercela ini. Dan juga sangat dianjurkan untuk sungguh sungguh memohon pertolongan atau taufik dari Allah Ta'ala. Laa hawla wa laa quwwata illa billah, tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan dan menjauhi maksiat kecuali dengan pertolongan Allah Ta'ala.

Diantara doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasalam bagi kita adalah :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى

 

Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari keburukan pendengaran, penglihatan, lisan, hati dan angan-angan yang rusak. (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

 

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu kisah tentang seorang pemuda yang sempat melihat video video porno dan gambar lain yang diharamkan. Ia pun bertekad kuat agar terhindar dari melihat seperti itu. Namun ia tidak mampu.

 

Kemudian ia mampu. Ia pun berdoa kepada pada Allah Ta’ala agar Allah menjaga pendengaran dan penglihatannya dari yang haram. Akhirnya, Allah memperkenankan doanya. Setelah itu ia pun tidak suka melihat gambar-gambar yang terlarang seperti itu. Sampai-sampai (akhirnya) ia pun bisa menghafalkan Al Qur’an karena sikapnya yang menjauhi maksiat. (Dari Ajaib Ad Du’aa’, Syaikh Khalid bin Sulaimin bin Ali Ar Robi’i).

 

Wallahu A'lam. (3.149)

 



 

 

SUNGGUH BERUNTUNG HAMBA ALLAH YANG BANYAK BERDOA

 

SUNGGUH BERUNTUNG HAMBA ALLAH YANG BANYAK BERDOA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Berdoa yaitu memohon segala kebutuhan dan kebaikan serta memohon dijauhkan dari marabahaya adalah  yang sangat sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Oleh karena itu sungguh benar benar beruntung hamba Allah yang selalu berdoa kepada Allah Ta'ala.

Sungguh, ketika seorang hamba berdoa maka itu adalah salah satu wujud memenuhi perintah Allah Ta'ala yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

Dan Rabb-mu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Q.S Ghafir 60).

 Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (katakan) sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan PERMOHONAN ORANG YANG BERDOA apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran. (Q.S al Baqarah 186).

Sungguh sangatlah banyak keberuntungan dan keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba yang selalu berdoa dan memohon kepada Allah Ta'ala, diantaranya :

Pertama : Orang yang berdoa adalah beribadah kepada Allah Ta'ala. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 إِنَّ الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Sesungguhnya doa adalah ibadah. (H.R Imam Ahmad dan yang selainnya).

Tentang makna ibadah adalah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yakni :  Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin.  (al ’Ubudiyah).

Kedua : Doa sungguh mulia di sisi Allah. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

ليس شيءٌ أكرمَ على الله من الدعاء

Tidak ada yang paling mulia di sisi Allah Ta'ala daripada doa. (H.R Imam Ahmad dan at Tirmidzi dan al  Hakim).

Ketahuilah bahwa ketika seorang hamba berdoa maka dia menunjukkan bukti kelemahannya dan ketergantungannya kepada Allah Ta'ala yaitu untuk meraih apa apa yang bermanfaat dan menolak apa apa yang mendatangkan mudharat.

Ketiga : Doa bermanfaat dalam tiga keadaan. Dalam perkara ini, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal : (1) Allah akan segera mengabulkan doanya. (2) Allah akan menyimpan baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya keburukan yang semisal.

Para sahabat lantas mengatakan : Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata : Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan doa doa kalian. (H.R. Imam Ahmad).

Oleh karena itu hamba hamba Allah perbanyaklah doa memohon kebaikan kepada Allah Ta'ala disetiap saat dan terutama pada waktu waktu yang mustajab. Sungguh berdoa hakikatnya adalah termasuk ibadah yang ringan atau mudah dilakukan.

Sebagai penutup tulisan ini,  dinukil satu hadits tentang   orang yang paling lemah yaitu yang tidak mau berdoa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُهُمْ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلاَمِ

Orang yang lemah adalah orang yang meninggalkan berdoa dan orang yang paling bakhil adalah orang yang bakhil terhadap salam. H.R ath Thabrani dan yang selainnya. Dishahihkan oleh Syaikh  al Albani).

Wallahu A'lam. (3.148)

  

Kamis, 23 November 2023

DIDATANGI MUSIBAH BESAR TETAPI TAK DIRASAKAN

 

DIDATANGI MUSIBAH BESAR TETAPI TAK DIRASAKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika didatangi gempa yang besar, banjir bandang dan tsunami, kehilangan harta yang sangat banyak disebut sebagai musibah besar. Tetapi ketahuilah itu adalah musibah dunia yang memang kita takuti karena membuat kita tidak nyaman dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Tetapi, selain itu  ternyata ada saudara saudara kita yang  setiap waktu ditimpa MUSIBAH BESAR tanpa menyadarinya yaitu  LALAI BERIBADAH. Kenapa keadaan ini disebut sebagai musibah besar bahkan paling besar karena ketika seseorang lalai dalam beribadah secara SANGAT JELAS dia telah mengabaikan kewajiban utamanya yaitu sebagai makhluk yang wajib beribadah, menyembah dan mengabdi kepada Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzariyat 56).

Ketahuilah bahwa diantara penyebab seseorang didatangi musibah besar tetapi tidak merasakannya yaitu LALAI BERIBADAH adalah tersebab perbuatan dosa dan maksiat. Dalam Kitab ad Daa’ wad Dawa’, Imam Ibnul Qayim menyebutkan lebih dari 50 akibat buruk yang akan menimpa manusia jika melakukan maksiat, diantaranya : 

(1)  Maksiat menyebabkan  kehampaan hati dari mengingat Allah Ta’ala.

(2) Andaikan perbuatan dosa tidak ada hukumannya kecuali MENGHALANGI KETAATAN  yang seharusnya menempati posisi dosa tersebut, serta memotong jalan menuju ketaatan lainnya, ketiga keempat dan seterusnya maka hal ini sudah cukup. Banyak sekali ketaatan terputus karena dosa. Pada hal satu ketaatan lebih baik daripada dunia beserta isinya. Kitab ad Daa’ wa ad Dawaa’)

Oleh sebab itu hamba hamba Allah TAKUTLAH KEPADA ADZAB ALLAH.  Hendaklah senantiasa  menjaga diri dari perbuatan maksiat sekecil apapun karena  PASTI AKAN  membuat seseorang lalai atau malas beribadah. Dan juga akan mendapat balasannya di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ  وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. (Q.S al Zalzalah 7-8 

Wallahu A'lam. (3.147)

 

Rabu, 22 November 2023

TERBIASA BERBUAT BURUK SUSAH BEROBAH UNTUK BERBUAT BAIK

 

TERBIASA BERBUAT BURUK SUSAH BEROBAH UNTUK BERBUAT BAIK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Sungguh, Allah Ta’ala telah menunjukkan dua jalan yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

Kami telah menunjukkan kepadanya (manusia) dua jalan.(Q.S al Balad 10)

Imam Ibnu Katsir, dalam Kitab Tafsirnya antara lain menjelaskan bahwa : Para sahabat seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ali bin Abi Thalib, dan juga Mujahid (seorang Tabi’in murid Ibnu Abbas) dan yang lainnya mengatakan bahwa dua jalan itu bermakna JALAN KEBAIKAN DAN JALAN KEBURUKAN.

Tentang surat al Balad ayat 10 ini, Syaikh as Sa’di berkata : (Dua jalan) yaitu JALAN KEBAIKAN DAN JALAN KEBURUKAN. Allah menjelaskan antara petunjuk dan kesesatan padanya (manusia). Tafsir Taisir Karimir Rahman.

Nah, ketika seseorang dalam hidupnya senantiasa  menempuh jalan yang buruk yaitu MELAKUKAN KEBURUKAN, maksiat dan dosa maka sungguh sangatlah berat baginya untuk MELAKUKAN SESUATU YANG BAIK.

Kenapa ?, karena ketika seseorang terbiasa, sering bahkan terus menerus melakukan keburukan seperti berbuat maksiat dan dosa maka itu menjadi tabiatnya. Bahkan akhirnya timbul perasaan bahwa keburukan yang dia lakukan sebagai sesuatu yang baik. Lalu dia cari cari alasan untuk mengatakan bahwa maksiat yang dia lakukan itu adalah dengan tujuan baik dengan niat baik pula.

Kemudian, jika seseorang terbiasa melakukan perbuatan baik berupa amal shalih yang disyariatkan maka amal shalihnya itu  menghalangi dirinya untuk melakukan perbuatan buruk. Diantara contohnya adalah ibadah shalat fardhu dan shalat sunnah. Allah Ta'ala berfirman :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ

Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. (Q.S al Ankabut 45).

Ketahuilah bahwa seseorang yang senantiasa melakukan shalat AKAN SANGAT RISIH BAHKAN SANGAT TAKUT UNTUK MELAKUKAN PERBUATAN BURUK DAN TERCELA lalu sangat senang berbuat baik.

Syaikh as Sa'di berkata : Seorang hamba yang menegakkan shalat, menunaikan rukun rukun, syarat syarat dan kekhusyu'-annya maka : (1) Hatinya akan bersinar. (2) Jiwanya menjadi suci. (3) Imannya bertambah. (4) Kemauannya pada kebaikan makin kuat dan (5) Kemauannya pada keburukan berkurang atau habis. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Ketahuilah bahwa ketika   Imam Ibnul Qayyim memberikan  nasehat, beliau berkata : Bahwa satu wadah baru bisa diisi dengan sesuatu JIKA KOSONG DARI LAWAN SESUATU ITU. (Kitab Fawaidul Fawaid).

Kesimpulannya adalah  bahwa : (1) Ketika diri seseorang dipenuhi dengan kesibukan dalam melakukan kebaikan maka hal ini akan menghalanginya dari perbuatan buruk. (2) Begitupun sebaliknya, ketika diri seseorang dipenuhi dengan kesibukan melakukan perbuatan buruk maka hal ini akan menghalanginya dari perbuatan baik.

Wallahu A'lam. (3.146)     

 

 

 

Senin, 20 November 2023

JANGAN MENGGALI AIB ORANG LAIN LALU MENGUBUR AIB SENDIRI

 

JANGAN MENGGALI AIB ORANG LAIN LALU MENGUBUR AIB SENDIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Terkadang kita menemukan saudara saudara kita yang suka menggali gali atau mencari cari aib atau kekurangan orang lain. Sementara itu,  dia berusaha keras  mengubur atau melupakan aibnya. Ketahuilah bahwa sungguh tidak ada manusia yang sempurna bahkan manusia diciptakan dalam lemah. Allah Ta'ala berfirman : 

وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisaa’ 28.)

Jadi sungguh manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Syaikh as Sa’di berkata : Manusia itu adalah lemah dalam hal fisik, lemah dalam berkehendak, lemah dalam bertekad dan lemah dalam iman dan kesabaran (Lihat Tafsir Kariimir Rahman).

Sungguh Allah Ta'ala melarang hamba hamba-Nya untuk mencari cari kesalahan orang lain, sebagaimana firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ وَ لَا تَجَسَّسُواْ …

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah pula kalian MENCARI CARI KESALAHAN ORANG LAIN …” (Q.S al Hujurat 12).  

Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus yaitu mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk.  

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :

 إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian SALING MENCARI BERITA BURUK. saling memata matai, saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dan juga Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengingatkan kita semua agar menutup aib atau kekurang orang lain. Beliau  bersabda :

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

Barang siapa yang menutupi aib (kekurangan) saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya walau ia di dalam rumahnya. (H.R. Ibnu Majah). 

Ketika saudara kita sesama orang beriman berlaku tidak baik, memiliki kekurangan atau aib  maka sangat dianjurkan mendoakannya agar Allah Ta’ala memberinya petunjuk kepada kebaikan. Ketahuilah bahwa ketika mereka didoakan untuk selalu berbuat baik maka doa itu akan di-aamiinkan oleh Malaikat. Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata : Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan. (H.R Imam Muslim).

 Wallahu A'lam. (3.145).