Jumat, 14 November 2014

BAIK SANGKA




BAIK SANGKA TERHADAP SESAMA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Menurut fitrahnya seorang muslim itu adalah baik. Oleh karena itu berbaik sangkalah kepadanya. Jangan cepat cepat memvonis bahwa seseorang itu begini dan begitu tanpa ada bukti yang kuat. Dahulukan atau kedepankan baik sangka. Janganlah mengatakan sesuatu menurut hawa nafsu tapi haruslah dengan ilmu yaitu dengan sesuatu yang diyakini adanya.

Allah berfirman: “Walaa taqfu maa laisa laka bihii ‘ilmun, innas sam’a wal bashara wal fu-aada kullu ulaaika kaana ‘anhu mas-uulaa.   Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S al Isra 36)

Jika datang  suatu berita buruk atau celaan terhadap seseorang muslim maka janganlah tergesa-gesa dalam membenarkan berita tersebut. Lakukan cek dan ricek, apalagi jika yang membawa berita itu adalah orang fasik.

Allah berfiman : “Yaa aiyuhalladziina aamanuu injaa-akum fasiqun binabain fa tabaiyanuu an tushiibuu qauman bijahaalatin fa tushbihuu ‘alaa maa fa‘altum naadimiin”  Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (Q.S al Hujurat 6)

Syaikh as Sa’di mengatakan : Yang wajib ketika datang berita dari orang fasik adalah memeriksanya dengan teliti terlebih dahulu. Jika ada indikasi kebenarannya bisa diterima dan diamalkan. Jika ternyata beritanya dusta maka jangan dibenarkan. Ayat ini menunjukkan bahwa:

Pertama : Berita orang yang jujur adalah diterima
Kedua : Berita orang yang dusta adalah ditolak
Ketiga : Berita orang yang fasik (bisa diterima bisa ditolak) tergantung indikasi dan setelah cek dan ricek.
Demikian Syaikh as Sa’di dalam Kitab Taisir Tafsir Kariimur  Rahman.

Ingat, janganlah terburu-buru berburuk sangka terhadap perbuatan dan ucapan saudara kita yang sekilas tampak salah. Mungkin dia punya udzur yang kita belum mengetahuinya. Sekali lagi kedepankanlah sikap baik sangka, mestinya kita takut terhadap ancaman dosa bagi orang yang menyebarkan setiap berita yang dia dengar.
Rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Kafa bil mar’i kadziban aiyuhaditsa bi kulli maa sami’. Cukuplah bagi seseorang untuk dikatakan berbohong jika ia membicarakan segala sesuatu yang ia dengar”(H.R.Muslim).

Umar bin Khathab mengatakan: “Janganlah kamu curiga terhadap suatu ucapan yang terlontar dari saudaramu sesama muslim, melainkan kebaikan, selagi dirimu masih mendapatkan celah kebaikan dalam ucapan tersebut (Kitab al Zuhd, Imam Ahmad).

Sungguh buruk sangka termasuk perangai yang tercela. Tidaklah patut seorang muslim mengikuti prasangka buruknya kepada sesama muslim, tidak boleh bagi siapapun merusak harga diri saudaranya sesama muslim apalagi hanya berdasarkan dugaan dan prasangka yang belum tentu benar.

Allah berfirman : “Wa maa yattabi’uaktsaruhum illaa zhanna, innazh zhanna laa yughnii minal haqqi syai-a, innallaha ‘alimun bimaa yaf’aluun” Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sungguh persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka kerjakan (Q.S Yunus 36)

Allah juga berfirman : Yaa aiyuhal ladzina aamanuj tanibuu katsiran minazh zhaani, inna ba’dhazh zhanni itsmun” Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan) karena sebagian prasangka itu adalah dosa”. (Q.S al Hujurat 12)

Berkenaan dengan ayat ini al Imam Ibnu Katsir berkata : Allah melarang para hamba-hambaNya yang beriman, dari perbuatan curiga, prasangka, dan dugaan, baik kepada keluarganya, kerabat atau manusia pada umumnya jika tidak pada tempatnya. Sebab pada sebagian prasangka dan curiga itu terdapat dosa, maka jauhilah perbuatan banyak curiga sebagai pencegah dari dosa.

Seorang muslim adalah orang yang selalu memberi udzur kepada orang lain sehingga batinnya selamat. Sedangkan orang munafik adalah orang yang selalu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain karena batinnya buruk.

Rasulullah bersabda:“Iyyaakum wazh-zhan. Fainnazh zhanna ahdzabul haditsi” Waspadalah kalian terhadap prasangka karena prasangka adalah seburuk buruk perkataan (H.R Imam Bukhari dan Imam  Muslim).

Sungguh ulama terdahulu sangat berhati hati dalam hal prasangka. Beliau meninggalkan nasehat untuk kita, diantaranya adalah :

Pertama :Abu Qilabah berkata : Jika sampai kepadamu berita jelek tentang saudaramu maka carilah udzur untuknya. Jika engkau tidak mendapatkannya. Maka katakanlah : Barangkali dia punya udzur yang tidak aku ketahui.

Kedua : Makhlul berkata : Aku melihat seseorang sedang shalat. Setiap kali rukuk dan sujud dia menangis. Aku berprasangka jangan-jangan orang ini menangis karena riya. Setelah itu aku tidak bisa menangis (dalam shalatku) selama satu tahun.

Ketiga : Abdul Wahhab bin Wardi dari Abu Umayyah berkata : Jika kamu mampu agar seorang tidak masuk dari pintu ini kecuali engkau berbaik sangka kepadanya maka lakukanlah.

Keempat : Umar bin Abdul Aziz berkata : Ayahku berkata kepadaku, wahai anakku apabila kamu mendengar ucapan dari seorang muslim maka janganlah engkau membawanya pada kejelekan selagi engkau masih mendapatkan celah kebaikan dalam ucapan tersebut.

Kelima : Hamdun berkata: Jika saudaramu tergelincir maka carilah untuknya tujuh puluh udzur. Jika hatimu tidak menerimanya maka ketahuilah bahwa celaan itu ada pada dirimu sendiri yaitu  ketika tampak olehmu tujuh puluh udzur tetapi engkau tidak menerimanya.

Semoga Allah selalu memberi kekuatan kepada kita untuk mengedepankan baik sangka kepada saudara saudara kita.

Wallahu a’lam. (127)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar