Senin, 17 November 2014

BEKAL UNTUK HARI ESOK



MEMPERSIAPKAN BEKAL UNTUK HARI ESOK

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah
Tidak ada seorangpun yang bisa membantah bahwa semua manusia yang hidup saat ini sedang dalam perjalanan menuju akhirat. Baik dia sadar maupun tidak. Setiap manusia sedang dipaksa dan harus melakukan perjalanan ini. Dalam perjalanan menuju akhirat ini, tidak seorangpun tahu siapa yang lebih dahulu sampai.
Selain itu, tidak ada seorangpun yang sanggup berhenti dalam perjalanan ini, walau sejenak, apalagi mundur kebelakang untuk menghindar atau keluar dari rute perjalanan.

Perhatikanlah apa yang difirmankan Allah dalam Al-Qur’an, surat Al- Insyiqaaq ayat 6 “Yaa aiyuhal insanu innaka kaadihun ilaa rabbika kad-han famulaaqiih” Wahai manusia, sesungguhnya kalian ini benar-benar sedang berjalan menuju Rabb kalian, dan kalian pasti akan menjumpai-Nya

Sikap tidak ambil peduli
Ada diantara  kita yang  begitu rela dan bersemangat untuk bekerja keras, mencurahkan segenap tenaga, pikiran, waktu, biaya dan apapun untuk mendapatkan kehidupan duniawi yang hanya sesaat. Sementara itu, untuk kehidupan akhirat yang kekal ada diantara kita yang nyaris tidak melakukan apapun yang berarti. Boleh jadi ada diantara kita yang bahkan tidak ambil peduli, tidak mau mengerti akan nasib yang akan  ditemui kelak diakhirat.

Barangkali kita sudah merasa pintar padahal sebenarnya bukan. Kenapa merasa pintar karena kita mengetahui secara detail semua rencana dan langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kesuksesan hidup duniawi. Tetapi hati dan pikiran kita kadang kadang kosong dari rencana dan langkah-langkah yang harus dilakukan demi meraih kebahagiaan yang abadi di akhirat kelak.

Allah berfirman dalam surat ar-Ruum ayat 7: “Ya’lamuuna zhaahiran minal hayaatid dun-yaa, wahum ‘anil aakhirati hum ghaafiluun” . Mereka mengetahui hal yang lahir (yang tampak) saja dari kehidupan dunia dan mereka lalai dari kehidupan akhirat”.
Imam Ibnu Katsir, menjelaskan maksud ayat ini bahwa kebanyakan manusia, mereka tidak memiliki pengetahuan kecuali tentang dunia dan pergulatan serta kesibukannya. Juga segala yang ada didalamnya dan mereka cukup cerdas untuk mencapai dan menggeluti berbagai kesibukan (dunia), tetapi mereka lalai terhadap urusan agama dan berbagai hal yang bermanfaat bagi mereka di alam akhirat. Seakan-akan seseorang dari mereka yang lalai, tidak berakal dan tidak memiliki pemikiran. 

Imam Ibnu Katsir, dalam tafsirnya mengutip perkataan Imam Hasan Al- Basri tentang ayat ini. Kata beliau : Demi Allah, seseorang dari mereka akan berhasil menggapai dunia, di mana dia bisa membalikkan dirham diatas kukunya, lalu dia memberitahu anda tentang beratnya (begitu hebatnya dalam urusan dunia) tetapi dia tidak bisa mengerjakan shalat dengan baik.

Perhatikan apa yang telah dipersiapkan
Berkenaan dengan perjalanan yang sedang kita lakukan menuju akhirat yang pasti datang, Allah telah mengingatkan kita agar senantiasa bertakwa dan berbekal atau memperhatikan apa yang telah kita lakukan sebagai persiapan menuju akhirat. Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hasyr: 18).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat ini, yaitu terdapat tiga perintah Allah didalamnya;

Pertama : Perintah bertakwa kepada Allah dalam firman-Nya: “Bertakwalah kalian kepada Allah”. Kata takwa berarti mengerjakan segala hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan meninggalkan segala hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kedua : Perintah untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah), sudah sejauh mana persiapan bekal amal shaleh yang akan ia bawa untuk menghadap Allah dihari akhir kelak. Sebagaimana firman-Nya:“… Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”

Ketiga : Perintah untuk kembali bertakwa. Perintah ini menjadi penguat dari perintah bertakwa yang pertama. Ketakwaan yang diinginkan adalah ketakwaan yang benar-benar kuat mengakar dalam jiwa dan dibuktikan dalam amalan nyata. Itulah ketakwaan yang telah diperkuat oleh proses evaluasi diri (muhasabah), sehingga menyampaikan seorang hamba kepada tingkatan merasakan pengawasan Allah yang melekat (muraqabah), sebagaimana firman-Nya ”Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kalian kerjakan”.

Mempersiapkan bekal
Seekor burung bila sudah mengetahui pasangannya hamil, maka dia mulai mengumpulkan jerami dan yang lainnya untuk membuat sarang. Dengan sarang ini maka pasangannya akan merasa nyaman pada saat bertelur dan mengerami telur sampai menetas.  Ada kemungkinan cikal bakal telur burung ini rusak sehingga dia tidak membutuhkan sarang. Namun demikian burung tetap mempersiapkan sarangnya dengan baik. Kalau nanti cikal telur itu rusak dan gagal itu soal lain.

Lalu bagaimana dengan manusia. Kematian  pasti akan datang kepadanya bukan kemungkinan datang. Bukan bisa datang bisa tidak. Tapi pasti datang, hanya tinggal menunggu waktu.  Kalau sesuatu itu sudah pasti datang maka tentu persiapannya juga haruslah dipastikan ada. Demikianlah semestinya.

Lalu apa persiapannya. Persiapan seorang hamba untuk menuju akhirat, adalah  amal shalih  yang memenuhi persyaratan dan diterima  Allah. Bekal amal  shalih itu haruslah berada diatas landasan iman, ilmu, pemahaman dan pengamalan yang benar, antara lain sebagai berikut:

Pertama : Melaksanakan tauhid dan menjauhi kesyirikan.
Kalau kita memperhatikan mushaf al Qur an kita akan mendapati bahwa perintah pertama adalah menyembah atau beribadah kepada Allah saja yaitu dengan mentauhidkan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Ya aiyuhannasu’ buduu rabbakumul ladzi khalaqakum walladzina min qablikum la’allakum tattaquun” Wahai manusia, beribadahlah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu, mudah mudahan kamu menjadi orang orang yang bertakwa. (Q.S al Baqarah 21). 

Sungguh tauhid adalah pelajaran pertama yang diperintahkan Allah kepada Nabi dan Rasul, yang tentu wajib diikuti oleh umatnya. Allah berfirman : Wa laqad ba’atsnaa fii kulli ummatin rasuulan, ‘ani’budullaha wajtanibuth thaghuut”. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan) sembahlah Allah (saja) dan jauhilah taghut”. (Q.S an Nahl 36).

Kebalikan dari tauhid adalah kesyirikan. Sungguh melakukan kesyirikan adalah 
puncak kemurkaan Allah. Sungguh kesyirikan  adalah kezhaliman yang sangat besar. Allah mengharamkan surga bagi orang orang yang melakukan kesyirikan. Allah berfirman :  “Innahuu man yusyrik billahi faqad harramallahu ‘alaihil jannata, wama’waahun naar. Wamaa lizhalimiina min anshaar.”    Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga atasnya, dan tempatnya adalah neraka. Dan orang-orang yang zalim (berbuat syirik) itu tidak akan mendapat seorang penolongpun”. (Q.S al Maidah 72).

Oleh sebab itu tetaplah dalam bertauhid dan meng-Esakan Allah. Ketahuilah bahwa  mempersekutukan Allah atau melakukan kesyirikan adalah salah satu penyebab amal seorang hamba terhapus. Allah berfirman : “Walau asyrakuu lahabitha ‘anhum maa kaanuu ya’maluun” .  Seandainya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah dari mereka amal-amal yang telah mereka kerjakan”. (Q.S al An’am  88). Na’udzubillahi min dzaalik.

Rasulullah bersabda :“ Hak Allah atas hamba-hamba-Nya ialah bahwa mereka beribadah (hanya) kepada Nya dan mereka tidak menyekutukan –Nya dengan sesuatu yang lain”.(H.R. Bukhari dan Muslim dalam kitab Ash-Shahihain, dari sahabat Muaz bin Jabbal).

Kedua : Berpegang teguh kepada al Qur an dan as Sunnah.
Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah pedoman hidup yang utama dan paling utama bagi seorang muslim untuk selamat hidupnya  di dunia dan di akhirat.

Rasulullah telah bersabda : “Sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat. Keduanya adalah kitabullah dan sunnahku, dan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga keduanya mendatangiku kelak disisi al-Audh (H.R. Al-Hakim).

Ketiga : Melaksanakan perintah yang  wajib dan giat melakukan amalan sunat.
Allah berfirman : “Tilka huduudullah, waman yuthi’illaha wa rasulahuu yudkhilahu jannaatin tajrii min tahtihal anhaaru khaalidiina fiihaa, wa dzaalikal fauzul ‘azhiim” Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya dan itulah kemenangan yang besar. (Q.S an Nisaa’13)

Salah satu bekal hari esok adalah kewajiban seorang hamba melaksanakan ibadah yang fardhu baginya. Sementara itu dia akan memperoleh tambahan kebaikan yang sangat agung yaitu berupa kecintaan Allah kepadanya jika melakukan amal atau ibadah ibadah sunat. Diantaranya adalah shalat sunat, puasa sunat dan yang lainnya.

Dalam sebuah hadits qudsi disebut bahwa :“Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih saja mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunat sehingga Aku mencintainya”(H.R. Imam Bukhari).

Ketiga : Menjauhi dosa-dosa besar
Dosa-dosa besar yang dibawa mati oleh seorang hamba tanpa sempat bertaubat bisa menyebabkan kerugian yang amat besar baginya di akhirat kelak. Rasulullah telah mengingatkan bahwa dosa dosa besar adalah akan membinasakan. Beliau bersabda :“Jauhilah oleh kalian tujuh dosa besar yang membinasakan”. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rasulullah juga bersabda : “Tidaklah seorang hamba membaca kalimat La ilaaha illallah dengan ikhlas, kecuali akan dibukakan untuknya pintu-pintu langit sampai menembus ke ‘Arsy, selama dosa-dosa besar dijauhinya.” (H.R. at Tirmidzi). 

Sungguh Allah akan menghapus kesalahan kesalahan berupa dosa dosa kecil jika dosa besar dijauhi. Allah berfirman : “In tajtanibuu kabaa-ira maa tuhauna ‘anhu tukaffir ‘ankum saiyi-atikum wa nudkhilkum mudkhalaa kariimaa” Jika kamu menjauhi dosa dosa besar diantara dosa dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kamihapus kesalahan kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ketempat yang mulia (surga) Q.S an Nisaa’ 31).

Imam adz Dzahabi berkata : Dengan ayat ini Allah menjamin surga kepada siapa saja yang menjauhi dosa dosa besar. (Lihat Muqaddimah Kitab al Kaba-ir)  
Namun demikian seorang hamba seharusnya juga berhati hati dan terus berusaha untuk tidak melakukan dosa sekecil apapun. Dosa dosa kecil kalau diremehkan atau ditumpuk   juga akan menjadi dosa besar. Apalagi jika dilakukan terus menerus. Bukankah gunung yang besar terdiri dari butiran butiran pasir dan tanah.

Keempat :Tidak menunda-nunda pelaksanaan suatu amalan
Umur manusia sangat terbatas dan merupakan sesuatu yang ghaib. Oleh karenanya jangan menunda-nunda suatu amalan. Segera beramal selama mampu dikerjakan saat itu juga.
Ibnu Umar berkata : Jika kamu sedang berada di pagi hari maka janganlah kamu bicarakan tentang dirimu disore hari (nanti). Jika dirimu sedang berada di sore hari jangan membicarakan dirimu di pagi hari (kelak).

Rasulullah bersabda :“Gunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu dan hidupmu sebelum matimu. Sesungguhnya engkau tidak akan mengetahui namamu untuk esok, wahai Abdullah” (H.R. at Tirmidzi.)
Imam Hasan al Bashri mengingatkan agar kita tidak menyia nyiakan dan melalaikan waktu untuk beramal. Beliau berkata : Jauhkan dirimu dari “taswif” yaitu berkata “nanti sajalah.

Kelima : Menjaga semangat  dan istiqomah dalam beribadah.
Dalam beramal, seorang hamba haruslah menjaga semangat agar tidak terganggu oleh kemalasan, kemauan hawa nafsu dan gangguan syaithan. Pelihara kesabaran  dalam melakukan  ketaatan. Selanjutnya harus istiqomah dalam beramal. Meskipun sedikit tetapi tetap dipelihara dan dijaga sehingga tidak jatuh kepada kelalaian.

Sebuah hadits dari A’isyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah bersabda : “Ahabbu a’mali ilallahi adwaamuhaa wa inqalla.” Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu (terus menerus) dikerjakan walaupun sedikit. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Semoga Allah  Taa’la memudahkan kita semua  untuk mempersiapkan bekal menghadapi  hari akhirat yang baqa.

Wallahu a’lam. (134)





                                                                                   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar