Sabtu, 31 Desember 2022

SEDEKAH MELINDUNGI DARI PANAS KUBUR MAHSYAR DAN NERAKA

 

SEDEKAH MELINDUNGI DARI PANAS KUBUR MAHSYAR DAN NERAKA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Berinfak atau bersedekah adalah salah satu perbuatan yang sangat mulia dan sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Sungguh infak atau sedekah yang  kita berikan kepada orang orang fakir dan miskin tentulah sangat bermanfaat untuk menopang sebagian kebutuhan hidup mereka.

Namun demikian SUNGGUH MANFAAT PALING BESAR dari infak atau sedekah yang dikeluarkan oleh seorang hamba adalah BAGI DIRINYA. Diantara manfaatnya bagi seorang hamba yang bersedekah  adalah :

Pertama : Memadamkan panas di alam kubur.

Orang yang bersedekah dapat memadamkan  panasnya alam kubur bagi dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُوْرِ، وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِـيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ.

Sesungguhnya sedekah itu memadamkan panasnya alam kubur bagi pelakunya. Dan sungguh, pada hari Kiamat, seorang mukmin akan bernaung di bawah naungan sedekahnya. (H.R ath Thabrani).

Kedua : Sebagai sebab keselamatan dari panasnya di padang Mahsyar

Setelah hari Kiamat semua manusia akan dikumpulkan di suatu tempat yang datar disebut dengan padang Mahsyar.  Ketika itu hari sangatlah panas keadaan sangatlah sulit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi gambaran tentang al ini dalam sabda beliau : 

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ حَتَّى تَكُوْنَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيْلٍ، قَالَ سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ : فَوَاللهِ، مَا أَدْرِي مَا يَعْنِي بِالْمِيْلِ أَمَسَافَةَ اْلأَرْضِ أَمْ الْمِيْلَ الَّذِي تُكْتَحَلُ بِهِ الْعَيْنُ، قَالَ : فَيَكُوْنُ النَّاسُ عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ فِي الْعَرَقِ فَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى كَعْبَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُوْنُ إِلَى حَقْوَيْهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يُلْجِمُهُ الْعَرَقُ إِلْجَامًا، وَأَشَارَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ إِلَى فِيْهِ

Pada hari Kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil. Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata: Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata ?. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sehingga manusia tersiksa dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya (yakni dosa-dosanya).

Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua lututnya, dan ada yang sampai pinggangnya, serta ada yang tenggelam dalam keringatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat dengan meletakkan tangan ke mulut beliau. (H.R Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa hamba hamba Allah yang senantiasa bersedekah akan mendapat naungan dengan sedekahnya. Diriwayatkan dari ‘Uqbah bin Amir Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : 

كُلُّ امْرِئٍ فِـيْ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ.

Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya hingga diputuskan (perkara) di antara manusia.

Dan juga beliau bersabda :

يُـحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ.

Hingga diputuskan (perkara) di antara manusia. (H.R Imam Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari Kiamat satu diantaranya adalah orang yang bersedekah :

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُـهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ.

“… Dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ketiga : Membentengi diri dari api neraka dengan sedekah.

Sungguh sedekah seorang hamba akan melindunginya dari panasnya api neraka. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Siapa di antara kalian yang mampu membentengi diri dari (panasnya) neraka walau dengan separoh butir kurma hendaknya ia lakukan. (H.R Imam Muslim).

Itulah sebagian keutamaan bersedekah yang dilakukan orang orang beriman. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.859).

 

 

  

Jumat, 30 Desember 2022

MUKJIZAT UNTUK PARA NABI DAN KAROMAH UNTUK WALI ALLAH

 

MUKJIZAT UNTUK PARA NABI DAN KAROMAH UNTUK WALI ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam al Qur an dan juga dalam berapa riwayat ada diceritakan  tentang peristiwa luar biasa, diluar logika  yang terjadi pada diri seseorang. Peristiwa yang luar biasa itu bisa terjadi pada para Nabi  dan Rasul dan juga pada wali wali Allah, yaitu :

Pertama : Berupa mukjizat untuk para Nabi dan Rasul.

(1) Salah satu mu'jizat Nabi Ibrahim adalah selamat ketika dilemparkan ke dalam api yang besar. Sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat bahwa setelah Nabi Ibrahim menghancurkan patung patung kaum musyrikin di zamannya, maka Raja Namrud yang berkuasa saat ini memerintahkan agar Nabi Ibrahim dilemparkan kedalam api yang besar yang telah mereka siapkan. Tetapi Nabi Ibrahim selamat. Allah Ta'ala berfirman :

قُلْنَا يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ

Kami (Allah) berfirman : Wahai api !. Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim. (Q.S al Anbiya' 69).

(2) Allah menurunkan al Qur an yang agung kepada Rasulullah Salallahu alaihi Wasallam  sebagai MUKJIZAT TERBESAR bagi beliau. Al Qur an memiliki bahasa yang sangat sempurna, sangat indah sehingga membuat kagum para ahli ahli syair kafir Quraisy.

Ada diantara mereka yang mengatakan ayat ayat al Qur an itu bukan syair (ya pasti bukan syair). Lafazh al Qur an menurut  mereka  sangat tinggi dan  tidak sebanding dengan kalimat syair syair yang terbaik sekalipun yang pernah mereka buat. Lafazh al Qur an yang begitu hebat merupakan salah satu hujjah kekuatan untuk mendakwahi mereka.

Bahkan lafazh al Qur an itu mengandung mukjizat yang menantang setiap makhluk baik jin maupun manusia untuk membuat yang semisal dengannya. Allah Ta'ala berfirman :  

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا 

Dan jika kalian tidak mampu membuatnya dan (pasti) tidak mampu (membuatnya) ….Q.S al Baqarah 24.

Yang demikian itu tidak lain karena ia merupakan firman Allah Maha Pencipta dan Maha Perkasa lagi Mahamulia. Allah Yang Mahatinggi, yang tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya baik dalam Dzat, sifat maupun perbuatan. (Lihat Kitab Qishashul Anbiyaa’, Imam Ibnu Katsir)

Kedua : Karomah untuk  wali wali Allah.

Wali Allah adalah orang orang yang beriman dan selalu bertakwa yaitu sebagaimana difirmankan Allah Ta'ala :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Ingatlah wali wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak  hati. (Wali wali Allah yaitu) orang orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. (Q.S Yunus 62-63).

Sungguh sangatlah banyak diantara wali Allah yang pernah mendapat karomah. Diantaranya  adalah Khalifah Umar bin Khaththab. Ketika  Khalifah Umar mengutus pasukan  ke Persia, dan yang di percaya sebagai pemimpin pasukan adalah Sariyah bin Hushain. Pasukan tersebut kemudian terlibat pertempuran di sebuah lembah di Nahawand (wilayah Iran) dan hampir saja mengalami kekalahan karena kekuatan musuh sangat besar, dan bersebelahan dengan lembah itu terdapat gunung.

Pada waktu bersamaan, Khalifah Umar yang sedang berkhutbah di Masjid Madinah terbuka mata hatinya (mukasyafah) sehingga bisa melihat kejadian tersebut. Umar langsung memberikan komando, berteriak : Wahai Sariyah !.  Menyingkir ke arah gunung, ke arah gunung. Teriakan  Umar itu terdengar oleh Sariyah dan pasukannya.

Mereka kemudian menyingkir ke arah gunung dan menyerang musuh dari satu arah. Pertempuran itu akhirnya dimenangkan pasukan muslim dan berhasil mendapatkan banyak harta rampasan dari perang. (Dinukil dari BincangSyari'ah.Com).

Ketahuilah bahwa mukjizat untuk para Nabi dan karomah untuk Wali wali Allah adalah perkara luar biasa yang terjadi  atas kehendak Allah semata. Dan mukjizat ataupun karomah tidaklah bisa dipelajari atau diajarkan tetapi datang dengan tiba tiba kapan saja Allah berkehendak.

Saudaraku, terkadang kita mendapat kabar atau boleh jadi pernah melihat perkara luar biasa yang terjadi pada orang orang yang TIDAK TAAT  bahkan pada orang orang yang ingkar kepada Allah Ta'ala.  Ada  diantaranya yang tahan dipukul dengan benda keras atau senjata tajam atau senjata api. Ada pula yang berjalan di atas air dan yang lainnya. 

Inilah yang disebut dengan AHWAAL SYAITHANIYAH YAKNI PERKARA LUAR BIASA YANG MUNCUL DENGAN BANTUAN ATAU KERJASAMA SYAITHAN. Perkara ini termasuk yang bisa dipelajari melalui kerjasama bahkan dengan menundukkan diri atau menyerahkan diri pada kehendak syaithan.

Oleh karena itu jika ada seseorang yang terlihat didatangi suatu perkara yang luar biasa jangan cepat cepat menganggap dia adalah wali Allah tetapi bisa jadi dia  wali syaithan karena dia tidak taat kepada Allah tapi taat kepada syaithan.

Wallahu A'lam. (2.858)

 

Kamis, 29 Desember 2022

TIDAKLAH ALLAH MENYIKSA HAMBA-NYA YANG BERSYUKUR

 

TIDAKLAH ALLAH MENYIKSA HAMBA-NYA YANG BERSYUKUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Didalam al Qur-an sangatlah banyak perintah untuk bersyukur kepada-Nya, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala : 

فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (Q.S an Nahl 114)

Allah Ta’ala berfirman :  

كُلُوا۟ مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لَهُۥ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Makanlah olehmu rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Q.S Saba’ 15). 

Ketahuilah bahwa ridha Allah Ta'ala akan mendatangi orang orang yang bersyukur. Allah Ta'ala berfirman :  

وَإِن تَشْكُرُوا۟ يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ

Dan jika kamu bersyukur Dia (Allah) meridhai kesyukuranmu (Q.S az Zumar 7).

Sungguh bersyukur  mendatangkan balasan dari Allah Ta’ala berupa  kebaikan yang banyak. Allah Ta’ala berfirman :  

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Dan Kami akan memberi balasan kepada orang orang yang bersyukur.  (Q.S Al Imran 145).

Syaikh as Sa’di berkata : (Dalam ayat ini) Allah Ta’ala tidak menyebutkan (bentuk) BALASAN BUAT MEREKA YANG BERSYUKUR. Hal ini menunjukkan akan banyak dan agungnya balasan itu. Dan agar diketahui bahwa balasan adalah menurut kadar syukur yang dilakukan (oleh seorang hamba), sedikitnya atau banyaknya maupun mutunya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).    

Imam ath Thabari menafsirkan ayat ini dengan membawakan riwayat dari Ibnu Ishaq : Maksudnya adalah, karena bersyukur, Allah memberikan kebaikan yang Allah janjikan di akhirat dan Allah juga melimpahkan rizki baginya di dunia. (Tafsir ath Thabari)

Selain itu, ketahuilah saudaraku, bahwa diantara perkara yang  bisa menghindari adzab Allah Ta'ala adalah dengan senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya. Dengan banyak bersyukur maka datang ridha Allah. Ketika ridha-Nya datang tentulah adzab-Nya akan dijauhkan. Allah Ta’ala berfirman : 

مَّا يَفْعَلُ ٱللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَءَامَنتُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Allah tidak akan mengadzabmu jika kamu BERSYUKUR DAN BERIMAN. Dan Allah Maha Mensyukuri dan Maha Mengetahui. (Q.S an Nisa’ 147)

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah senantiasa dan terus menerus bersyukur kepada Allah Ta'ala.  Imam Ibnul Qayyim memberi nasehat bahwa syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah Ta'ala pada dirinya :

(1) Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat oleh Allah Ta'ala.

(2)  Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah Ta'ala. 

(3) Melalui anggota badan, yaitu berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah Ta'ala. (Madarijus Salikin)

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.857)

 

 

 

TAKUTLAH KEPADA DOSA SEKECIL APAPUN

 

TAKUTLAH KEPADA DOSA SEKECIL APAPUN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman sungguh sangatlah takut berbuat dosa sekecil apapun. Kenapa ?, karena dosa kecil jika diabaikan lalu bertumpuk akhirnya menjadi dosa besar. Bukankah padang pasir yang luas akhirnya bisa terbentang karena butiran butiran pasir yang banyak.

Iman Ibnu Qudamah dalam kitabnya Minhajus Qashidin, membuka satu pasal khusus dengan judul “Dosa Besar”. Beliau rahimahullah menjelaskan beberapa penyebab kenapa dosa kecil bisa menjadi besar, yaitu :

(1) Jika dosa kecil dilakukan terus menerus.

(2) Jika dosa kecil dianggap remeh oleh pelakunya.

(3) Jika pelaku dosa kecil  merasa senang melakukannya.

(4) Jika dosa kecil yang dilakukan diceritakan kepada orang lain.

(5) Jika dosa kecil dilakukan oleh orang yang berilmu. Demikian penjelasan Imam Ibnu Qudamah.

Sungguh, setiap dosa kecil apalagi dosa besar pastilah mendatangkan keburukan dan mudharat bagi yang melakukannya. Keburukan atau mudharat itu akan dirasakan oleh pelakunya di dunia dan adzab di akhirat pasti lebih berat lagi.

Ketahuilah bahwa musibah dan bencana yang mendatangi manusia adalah akibat dosa dosa mereka. Allah Ta'ala berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Q.S. ar Rum  41.

Syaikh as Sa’di berkata : Kerusakan penghidupan dan berkurangnya serta terjadi bencana seperti sakit dan musibah lainnya karena perbuatan dosa manusia. Agar mereka sadar bahwa dia disegerakan hukumannya di dunia agar mereka memperbaiki diri. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)    

 Allah Ta’ala  berfirman : 

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ    

Dan musibah apa saja yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan kesalahanmu). Q.S asy Syuura 30.

Para ulama menjelaskan bahwa kasabat aidiikum, perbuatan tanganmu dalam ayat ini maknanya adalah dosa dosa kalian.

Ibnu Qayyim al Jauziyah rahimahullah mengatakan : Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa. (Al Jawabul Kaafi

Wallahu A'lam. (2.856)

 

PAHALA IBADAH LIPATGANDA DI BULAN RAMADHAN

 

PAHALA IBADAH LIPATGANDA DI BULAN RAMADHAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, tidak ada kegunaan kita manusia ini diciptakan Allah Ta'ala kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Perkara ini dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. 

Nah, kalau kita perhatikan ternyata kita dan sebagian  saudara kita masih sangat sedikit amal shalih atau ibadahnya. Pada hal amal shalih akan ditimbang di akhirat kelak. Dan setiap amal shalih yang besar atau kecil akan memberatkan timbangan amal. Allah Ta'ala berfirman :

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan) nya, MEREKA ITULAH ORANG YANG BERUNTUNG. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan) nya maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat ayat kami. (Q.S al A’raf 8-9).

Sungguh setiap tahun Allah Ta'ala menurunkan satu bulan yang mulia dan penuh berkah serta penuh ampunan yaitu bulan Ramadhan. Ini adalah salah satu tanda kasih sayang Allah Ta'ala kepada orang orang beriman yaitu diberi Ramadhan sebagai kesempatan untuk bisa lebih banyak dan lebih semangat dalam beribadah karena sebagian ibadah di bulan Ramadhan DIBERI PAHALA BERLIPAT GANDA BAHKAN TAK BISA DIHITUNG DENGAN BILANGAN TERTENTU, diantaranya adalah :

Pertama : Ibadah puasa

Sungguh ibadah paling utama di siang hari  bulan Ramadhan adalah ibadah puasa sebulan penuh. Demikian besarnya pahala ibadah puasa maka tak bisa dihitung dengan bilangan.   Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

 

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700 kali lipat. Allah Ta'ala berfirman  : Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku.

Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. (H.R Imam Bukhari)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata : Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam. (Lathaif Al-Ma’arif).

Kedua : Ibadah shalat tarawih.

Selanjutnya ibadah paling utama di malam hari bulan Ramadhan adalah shalat tarawih. Ibadah ini juga sangatlah banyak lipat gandanya. Shalat tarawih yang dilakukan disebagian malam bisa jadi hanya satu jam atau lebih tetapi DIHITUNG SEBAGAI SHALAT SATU MALAM PENUH. Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda : 

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh. (H.R Imam Ahmad, Abu Dawud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ketiga : Ibadah di malam Lailatul Qadar

Sungguh salah satu keutamaan yang besar di bulan Ramadhan adalah diturunkan Allah Ta'ala satu malam yang disebut dengan malam lailatul. Ibadah pada malam lailatul qadar memiliki lipat ganda yang sangat istimewa dan luar biasa karena lebih baik dari seribu bulan. Allah Ta'ala berfirman :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Q.S al Qadr 3).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata :  Amalan yang dilakukan di malam Lailatul Qadar lebih baik daripada amalan yang dilakukan di seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadar. Itulah yang membuat akal dan pikiran menjadi tercengang. Sungguh menakjubkan. Allah Ta'ala  memberi karunia pada umat yang lemah bisa beribadah dengan nilai seperti itu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Keempat : Ibadah umrah di bulan Ramadhan.

Satu ibadah yang juga dianjurkan dalam bulan Ramadhan adalah ibadah umrah. Sungguh sangat agung nilai pahala ibadah umrah di bulan Ramadhan yaitu menyamai nilai PAHALA HAJI BAHKAN BERHAJI BERSAMA RASULULLAH SALALLAHU 'ALAIHI WASALLAM. Beliau bersabda :  

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan (ibadah)  haji. (H.R Imam Muslim).

Dalam lafazh yang lain disebutkan :

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku. (H.R Imam Bukhari)

Al Qari berkata : Maksud senilai dengan haji adalah sama dan semisal dalam pahala. Akan tetapi yang sebenarnya terjadi pahala haji lebih berlipat-lipat daripada pahala umrah. Karena haji adalah salah satu rukun Islam. (Mirqah Al-Mafatih). 

Wallahu A'lam. (2.855)

 

 

 

 

 

KEUTAMAAN BERJALAN KE MASJID UNTUK SHALAT

 

KEUTAMAAN BERJALAN KE MASJID UNTUK SHALAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Shalat berjamaah  bagi laki laki ke masjid adalah kewajiban. Diantara dalilnya adalah firman Allah Ta'ala :

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (Q.S al Baqarah 43).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini bahwa : Hendaklah kalian bersama orang orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah. 

Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as Sa’di dalam kita Tafsirnya menjelaskan :  “Dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, ” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari).

Shalat sebagaimana yang beliau  lakukan berkaitan dengan seluruh aspek shalat. Diantaranya adalah bacaan shalat, gerakannya yang sempurna, waktunya yang harus dijaga, TEMPATNYA (beliau shalat fardhu di masjid, bukan di rumah) dan yang lainnya.

Sungguh sangatlah banyak keutamaan yang akan mendatangi hamba hamba Allah yang senantiasa shalat di masjid. Satu diataranya adalah ketika seorang hamba yang senantiasa berjalan menuju masjid untuk melaksanakan shalat maka akan diampuni dosa dosanya, diangkat derajatnya dan surga baginya. Demikian yang dijanjikan Allah Ta’ala melalui sabda Rasul-Nya, yaitu :

(1) Hadis dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

من توضأ للصلاة فأسبغ الوضوء ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة فصلاها مع الناس، أو مع الجماعة، أو في المسجد غفر الله له ذنوبه

Siapa yang berwudhu untuk shalat dan dia sempurnakan wudhunya, kemudian dia menuju masjid untuk shalat fardhu. Lalu dia ikut shalat berjamaah atau shalat di masjid maka Allah mengampuni dosa-dosanya. (H.R Imam Muslim)

(2) Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

 “Man raaha ila masjidil jamaa’ati fakhuthwatun tamhuu saiyatun wa khuthwatun taktubu lahu hasanatun dzahiban waraji’an” Siapa yang berangkat ke masjid (untuk shalat) berjamaah maka langkah (yang satu) menghapus satu keburukan dan langkah (yang lain) menuliskan baginya satu kebaikan, saat pergi dan kembali (Shahihut Targhib wat Tarhib). 

(3)  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu : Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مَنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ، كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

Barangsiapa yang berwudhu’ di rumahnya lalu berjalan menuju rumah di antara rumah-rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban (dari) Allah maka salah satu dari kedua langkahnya menghapus dosa-dosa dan yang lain meninggikan derajatnya. (H.R Imam Muslim). 

(4) Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

“Man ghadaa ilal masjidi waraaha a’adalallahu lahu nuzulan minal jannati kullama ghadaa waraah.”  Siapa yang pergi menuju masjid dan pulang (darinya) niscaya Allah menyediakan tempat tinggal baginya di surga setiap kali ia pulang pergi. (Mutafaq ‘alaih).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.854)

 

 

Selasa, 27 Desember 2022

BERLETIH LETIH DI DUNIA DEMI KESENANGAN ABADI DI AKHIRAT

 

BERLETIH LETIH DI DUNIA DEMI KESENANGAN ABADI DI AKHIRAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, puncak tertinggi keinginan orang orang beriman adalah kesenangan di akhirat dengan mendapat surga. Ketahuilah bahwa surga adalah tempat yang paling baik, paling nyaman dan paling istimewa kenikmatannya. Allah Ta'ala menyediakannya untuk orang yang beriman dan beramal shalih.

Surga adalah tempat yang sangat menyenangkan di akhirat kelak dan tak ada yang mengetahui keindahannya.  Allah Ta’ala berfirman:

فَلا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam nikmat yang tinggi di Surga) yang menyedapkan pandangan mata, balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S as Sajdah 17).

Imam Ibnu Katsir berkata : Arti ayat di atas, tidak ada seorangpun yang mengetahui agungnya ganjaran (kebaikan) yang Allah sembunyikan (dan sediakan) bagi mereka (orang-orang yang beriman) di Surga, berupa kenikmatan yang abadi dan berbagai macam kelezatan yang belum pernah disaksikan semisalnya oleh seorangpun. (Tafsir Ibnu Katsir).

Gambaran tentang begitu hebatnya kenikmatan ini dinyatakan dalam hadits qudsi yang shahih, Allah Ta’ala berfirman : Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Allah ‘Azza wa jalla berfirman : Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia. (H.R Imam Bukhari, Imam Muslim dan juga yang selainnya)

Artinya adalah bahwa  semua kenikmatan dan keindahan di dunia yang pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga atau dibayangkan dalam hati manusia, maka kenikmatan di Surga jauh melebihi semua itu. (Faidhul Qadiir).

Shahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas radhiallahu’anhu berkata : Tidak ada sesuatupun di dunia yang serupa dengan apa yang ada di Surga kecuali namanya (saja). Ibnu Jarir ath Thabari

Ketika seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu YANG TERBAIK DAN YANG PALING BAIK maka haruslah pula di awali atau dibarengi perbuatan yang paling baik pula. Oleh karena itu untuk mendapatkan tempat di surga maka hamba hamba Allah HARUSLAH SIAP UNTUK BERLETIH LETIH DAN BERPAYAH PAYAH KETIKA DI DUNIA menyiapkan bekal terutama sekali adalah AMAL SHALIH YANG DILANDASI IMAN.

Sungguh amal shalih yang di syariat untuk dilakukan oleh hamba hamba Allah sangatlah banyak jumlah dan jenisnya. Diantara amal amal shalih itu ada yang ringan bahkan sangat ringan untuk dilakukan. Tetapi adapula amal shalih yang terasa agak berat bagi sebagian hamba hamba Allah.

Lihatlah bagaimana seorang hamba harus berusaha terus menerus melakukan shalat berjamaah lima waktu di masjid. Lalu bagaimana pula dengan ibadah puasa yang  harus menahan makan dan minum sekitar 14 jam serta menjaga hal hal yang membatalkannya.

Dan juga disyariatkan untuk beribadah di sepertiga malam terakhir meskipun tidak wajib. Dan juga ada kewajiban berhaji yang membutuhkan tenaga dan harta. Ada pula disyariatkan untuk mengeluarkan sebagian harta  zakat, infak  dan sedekah dan  yang lainnya.

Meskipun sebagian ibadah yang disyariatkan itu terkadang terasa berat terkadang tanpa istirahat tetapi bagi orang orang yang betul betul menginginkan KESENANGAN YANG ABADI DI NEGERI AKHIRAT maka tetap dilakukan meskipun harus berletih letih di dunia.

Sungguh hakikatnya, bagi orang orang beriman tidak ada istirahat total di dunia, kecuali  di akhirat kelak. Ulama ulama terdahulu memberi nasehat dalam perkara  ini :

(1) Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata : Seorang mukmin itu tidaklah memiliki waktu istirahat melainkan ketika ia telah memasuki Surga. (Mausuu'ah Ibnu Abid Dunya).

(2) Imam Ibnul Jauzi raimahullah berkata : Wahai jiwa-jiwa, berletih-letihlah sedikit (dalam beramal shalih), maka engkau pun (kelak) akan banyak beristirahat di surga Firdaus. (Dari Kitab al-Mawaa'izh).

(3) Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : Barangsiapa yang lebih mementingkan untuk beristirahat (di dunia), pasti akan terlewatkan untuk mendapat istirahat (di akhirat). (Miftaah Daaaris Sa’aadah)

Wallahu A'lam. (2.853)