Jumat, 14 November 2014

BERKATA YANG BAIK



KEWAJIBAN BERKATA YANG BAIK

Oleh : Azwir B. Chaniago

Muqaddimah.
Salah satu hadits yang sangat masyhur dikalangan kaum muslimin adalah sabda Rasulullah : “Man kaana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yaqul khairan au liyasmut”. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits ini menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara aqidah yang benar dengan berkata baik. Rasulullah mengkaitkan antara beriman kepada Allah dan hari Akhir dengan berbicara yang baik. Beriman kepada Allah dan hari Akhir adalah aqidah yang lurus sedangkan berbicara yang baik atau diam adalah sangat dianjurkan. Disini dapat diambil pemahaman bahwa orang yang aqidahnya lurus tentu seharusnya dia akan senantiasa berbicara yang baik atau diam.

Nasehat ulama tentang keharusan berkata yang  baik.

Pertama : Imam asy Syafi’i  (wafat 204 H).
Beliau berkata : Jika salah seorang diantara kalian akan berbicara maka hendaklah ia berfikir tentang pembicaraannnya itu. Jika tampak mashlahatnya maka berbicaralah.  Namun jika ragu  akan kemashlahatannya maka  hendaklah kalian tidak berbicara.

Kedua : Imam an Nawawi (wafat  676 H)
Beliau berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut  benar benar baik dan berpahala, baik  dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan dia mengatakannya. Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu  tampak samar baginya  antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. (Syarah Shahih Muslim).

Ketiga : Imam Ibnu Hajar Ashqalani (wafat 852 H)
Beliau menjelaskan : Perkataan itu jika tidak baik pasti buruk, atau bermuara pada salah satunya. Termasuk perkataan yang baik adalah segala perkataan yang dianjurkan dalam syari’at baik yang wajib maupun yang sunnah. Begitu pula perkataan yang mengarah kepadanya. Adapun perkataan yang buruk dan segala yang mengarah kepada keburukan, maka diperintahkan untuk diam. (Fathul Bari).

Berkata yang baik lebih utama dari pada diam.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tersebut diatas, Rasululah  menyebutkan  berkata yang baik lebih dahulu dari pada kata diam. Para ulama, diantaranya Syaikh Utsaimin, dalam Kitab Syarah Arbain Nawawiyah mengatakan bahwa berbicara yang baik lebih utama daripada diam. Ketahuilah kalau yang dibicarakan itu baik maka ada beberapa manfaat :

Pertama : Bagi yang berbicara mendapat manfaat karena telah menyampaikan ucapan ucapan yang baik. 

Kedua : Bagi yang mendengar, dia telah menerima ucapan ucapan yang baik , bisa berupa nasehat, tambahan ilmu dan yang lainnya. Ini juga bermanfaat.

Ketiga : Kalau diam hanya ada satu manfaat yaitu bagi yang tidak berbicara, karena dengan diam bisa lebih selamat.

Insya Allah ada manfaatnya. (126)   

1 komentar: