Senin, 30 Oktober 2023

BERIBADAH HARUS SESUAI DENGAN PETUNJUK RASULULLAH

 

BERIBADAH HARUS SESUAI DENGAN PETUNJUK RASULULLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu sifat orang orang beriman adalah selalu menjaga semangatnya dalam beribadah kepada Allah Ta'ala. Sungguh bekal paling utama seorang hamba untuk selamat menuju negeri akhirat adalah IBADAH ATAU AMAL SHALIH yang dilandasi imam. Allah Ta'ala berfirman :

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ

Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka (disediakan) surga surga yang mengalir dibawahnya sungai sungai. (Q.S al Baqarah 25).

Sungguh, ketahuilah bahwa ketika beribadah, ada satu PERKARA PENTING BAHKAN SANGAT PENTING yang harus dijaga dalam MELAKUKAN IBADAH YAITU SESUAI  dengan cara cara yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Allah Ta’ala berfirman :  

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ

Dan apa apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Q.S al Hasyr 7)

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasalam bersabda :  

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang mengada ada dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalannya tertolak. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa  beramal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalannya tertolak. (H.R Imam Muslim).

Ada satu atsar yang berkaitan dengan menyelisihi sunnah atau petunjuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam, dikeluarkan antara lain oleh Ad Darimi, al Baihaqi dan di shahihkan oleh Syaikh al Albani :  

“Dari Sa’id bin Musayyib, ia melihat seorang laki laki menunaikan shalat sunat fajr lebih dari dua raka’at. Ia memanjangkan rukuk dan sujudnya. Maka Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu bertanya : Wahai Abu Muhammad, apakah Allah akan menyiksaku dengan sebab aku shalat. Beliau menjawab : Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyelisihi Sunnah.”  

Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani memberi komentar terhadap atsar ini dalam kitab Irwa’ul Ghalil. : Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan bantahan terhadap orang orang yang menganggap baik sesuatu bid’ah dengan alasan dzikir dan shalat. Kemudian menuduh ahlus sunnah mengingkari dzikir dan shalat. Padahal sebenarnya yang mereka ingkari adalah penyelisihan terhadap tuntunan Rasulullah dalam dzikir, shalat dan yang lainnya.

Oleh karena itu mari kita pelihara amal ibadah kita agar tetap memenuhi syarat ikhlas dan ittiba’ yaitu tidak menyelisihi apa yang di ajarkan oleh Rasulullah Sallahu ‘alaihi wasallam.

Sungguh Allah telah memberikan peringatan keras dengan datangnya cobaan dan adzab terhadap orang orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya. Allah Ta’ala  berfirman :  

فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang orang yang menyalahi (menyelisihi) perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (Q.S an Nuur 63)

Wallahu A'lam. (3.120)

 

 

BERSAMA RASULULLAH DI SURGA KARENA MENCINTAI BELIAU

 

 

BERSAMA RASULULLAH DI SURGA KARENA MENCINTAI BELIAU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam adalah KHALILULLAH yaitu kekasih Allah Ta'ala yang paling dekat kepada-Nya. Beliau bersabda :

 إنّ الله اتخذني خليلاً كما اتخذ إبراهيم خليلاً

Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai Khalil-Nya seperti Ia menjadikan Ibrahim sebagai Khalil-Nya” (HR. Muslim).

Sebagai kekasih Allah yang paling dekat, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang pertama yang masuk surga. Bahkan beliaulah orang yang meminta dibukakan pintu surga. Hal ini didasarkan pada hadits Anas bin Malik, ia berkata :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Aku mendatangi pintu surga pada hari Kiamat. Lalu aku minta dibukakan. Maka penjaga pintu surga berkata : Siapakah engkau ?. Lalu aku jawab : Aku Muhammad. Lantas malaikat (penjaga)  tersebut berkata : Aku diperintahkan dengan sebab engkau. Aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelum engkau’.” (HR Muslim).

Sungguh, kita yakin dengan  seyakin yakinnya  bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam akan menempati TEMPAT YANG PALING TINGGI DI SURGA. Lalu bagaimana umat beliau. Pastilah semuanya ingin bersama  atau dekat dengan beliau di surga.

Ketahuilah bahwa salah satu jalan agar bisa bersama beliau di surga adalah DENGAN SUNGGUH SUNGGUH MENCINTAI BELIAU. Perkara ini dijelaskan dalam sabda beliau yaitu dari Anas bi Malik berkata :  

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

 

Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).

Anas pun mengatakan :

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka. (H.R Imam  Bukhari).

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan : Itulah keutamaan orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang shalih, pelaku kebaikan yang masih hidup atau pun yang telah wafat. Namun, kecintaan ini dilakukan dengan melakukan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.  Menjauhi setiap larangan dan beradab sesuai yang diajarkan oleh syari’at Islam. (Lihat Syarh Shahih Muslim)

Selain itu perlu dipahami bahwa sifat mencintai Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam haruslah melebihi cinta kepada selain beliau. Perkara ini dijelaskan dalam sabda beliau :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia. (H.R Imam Bukhari).

Wallahu A'lam. (3.119).

 

 

Sabtu, 28 Oktober 2023

JANGAN SIA SIAKAN WAKTU SEHAT UNTUK BERIBADAH

 

JANGAN SIA SIAKAN WAKTU SEHAT UNTUK BERIBADAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Tujuan penciptaan manusia secara jelas dan tegas disebutkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzariyat 56).

Hakikatnya perintah ibadah yang dibebankan kepada manusia tidaklah berat. Semua dalam batas batas kemampuan manusia. Allah Ta'ala berfirman : 

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu (Q.S at Taghabun 16).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memerintahkan para hamba-Nya agar bertakwa kepada-Nya yaitu dengan menunaikan perintah sesuai kemampuan dan menjauhi larangannya. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan seorang hamba menjadi gugur.

Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan. (Tafsir Karimur Rahman). 

Selain itu, ketahuilah bahwa Allah Ta'ala memberi nikmat kesehatan fisik kepada hamba hamba-Nya agar bisa melakukan ibadah SECARA SEMPURNA sebagaimana yang disyariatkan. Oleh karena itu ketika fisik dalam keadaan sehat berusahalah dengan sungguh untuk melaksanakan ibadah sebagaimana petunjuk Allah Ta'ala melalui Rasul-Nya.

Diantara contohnya adalah ibadah shalat. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :  

 صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat (H.R Imam Bukhari).

Nah, ketika fisik dalam keadaan sehat seseorang bisa shalat sesuai petunjuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam sehingga mendatangkan nilai pahala yang tinggi. Oleh karena itu  bersungguh sungguhlah melaksanakan shalat fardhu dengan sempurna dan JANGAN LALAI MELAKSANAKAN SHALAT SHALAT SUNNAH YANG DISYARIATKAN.

Sungguh ketika datang keadaan sakit atau karena fisik mulai lemah karena umur bertambah bilangannya, maka akan sulit melaksanakan shalat dengan sempurna, seperti berdiri. Tetapi terpaksa duduk atau mungkin dalam keadaan berbaring.

Memang jika tidak mampu berdiri boleh melakukan shalat dengan duduk atau dengan berbaring. Tetapi ketahuilah bahwa nilai shalat dengan duduk atau dengan berbaring  tidak penuh. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan perkara ini dalam sabda beliau :

روى عمران ابن الحصين رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم قال " صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لم تستطع فعلي جنب

Imran bin Hushain meriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam  bersabda : Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu shalatlah dengan duduk, jika tidak mampu shalatlah dengan berbaring. (H.R Imam Bukhari)

Tetapi seutama utama atau hukum asal  shalat adalah dengan berdiri, karena ada udzur maka boleh sambil duduk atau berbaring. Imran bin Hushain juga pernah bertanya kepada  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam, lalu beliau bersabda :

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ

Siapa yang shalat berdiri maka itulah yang paling utama, dan barang siapa yang shalat dengan duduk maka baginya setengah dari pahala berdiri, dan barang siapa shalat dengan berbaring maka baginya setengah dari pahala yang duduk. (H.R Imam Bukhari).

Imam al Khathabi berkata : Yang dimaksud dalam hadits ini adalah orang sakit yang melaksanakan SHALAT FARDHU, yaitu yang masih memungkinkan baginya untuk menahan sakitnya sehingga dapat berdiri meskipun dengan susah payah.

Jadi, dijadikannya pahala orang  yang duduk separuh dari pahala orang yang berdiri hanya dorongan bagi dirinya untuk melaksanakan shalat dengan berdiri meskipun dibolehkan melakukannya sambil duduk. (Fathul Bari).

Oleh karena itu pada saat fisik masih sehat dan kuat berusahalah dengan sungguh sungguh untuk melaksanakan ibadah ibadah yang disyariatkan. Sungguh pada satu waktu  fisik akan melemah baik karena tambahan bilangan umur dan yang lainnya.

Jangan tunggu sampai bilangan umur bertambah, fisik mulai melemah lalu baru datang keinginan untuk banyak beribadah dengan sungguh sungguh.

Wallahu A'lam. (3.118)

       

 

HAMBA ALLAH MENGISI WAKTU DENGAN YANG BERMANFAAT

 

HAMBA ALLAH MENGISI WAKTU DENGAN YANG BERMANFAAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang, dari strata atau golongan manapun di dunia ini mendapat nikmat waktu 24 jam sehari semalam. Tak lebih dan tak kurang. Sungguh, orang orang yang cerdas akan memanfaatkan nikmat waktu untuk segala sesuatu yang bermanfaat dalam urusan dunianya dan TERUTAMA SEKALI untuk mengingat Allah Ta'ala dan beribadah kepada-Nya. 

Orang yang membiarkan waktunya kosong, intinya dia termasuk orang yang tertipu dengan  waktu.  Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan agar hamba hamba Allah jangan tertipu dengan waktu :

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang. (H.R Imam Bukhari)

Orang bijak memberi nasehat : Jika dirimu tidak tersibukkan dengan perkara yang baik (haq, bermanfaat), pasti akan tersibukkan perkara yang sia-sia (bathil, tidak bermanfaat).

Sungguh ketika seseorang meninggalkan hal hal yang tak bermanfaat, itu adalah salah satu indikasi baik Islamnya. Satu hadits dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat. (H.R at Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Oleh karena itu, wahai hamba hamba Allah !. Janganlah membiarkan waktu kosong. Jika sudah selesai satu kegiatan yang bermanfaat maka  hendaklah segera lanjutkan dengan kegiatan lain yang juga bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman : 

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila shalat telah dilakukan maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak banyak agar kamu beruntung. (Q.S al Jumu’ah 10).

Allah Ta'ala berfirman :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ

 Maka jika kamu selesai (dari suatu urusan) maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap (Q.S. al Insyiraah 7-8).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Apabila engkau telah selesai mengerjakan suatu tugas maka bersiap sedialah mengerjakan tugas yang lainnya. Yakni, kerjakanlah tugas yang lain. Jangan menyia nyiakan kesempatan  

Oleh karena itu, hidup seorang yang berakal penuh dengan kesungguhan. Setiap kali selesai mengerjakan satu tugas ia bersiap mengerjakan tugas yang lain. Karena waktu akan terus berlalu baik kita dalam keadaan terjaga maupun tidur. Dalam keadaan sibuk maupun longgar. Waktu terus berjalan, tidak ada seorangpun yang dapat menahannya. (Tafsir Juz 'Amma).

Sebagai penutup, dinukil satu hadits yang menjelaskan bahwa nikmat waktu harus dipertanggung jawabkan. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba ketika hari Kiamat kelak hingga ia ditanya : (1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan. (2) Tentang ilmunya untuk apa dia amalkan. (3) Tentang hartanya darimana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan. (4) Tentang badannya untuk apa dia letihkan(H.R Imam at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Shahih).

 Wallahu A'lam. (3.117)

 

 

Jumat, 27 Oktober 2023

RUGI BESAR JIKA TAK BANYAK MEMBACA AL QUR AN BULAN RAMADHAN

 

RUGI BESAR JIKA TAK BANYAK MEMBACA AL QUR AN BULAN RAMADHAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ramadhan adalah bulan al Qur an yaitu diturunkannya al Qur an. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al Qur an) pada malam lailatul qadar. (Q.S al Qadr 1). 

Oleh karena itu orang orang beriman haruslah meningkatkan semangatnya untuk membaca dan mempelajari al Qur an.

Ketahuilah  bahwa pada setiap malam Ramadhan, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dan Malaikat Jibril ber-mudarasah al Qur an. Rasulullah membaca al Qur an dan disimak oleh Jiibril kemudian bergantian Jibril membaca dan Rasulullah yang menyimak. Rasulullah  Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas, dia  berkata, Rasulullah  adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril  menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam adalah orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus. (H.R Imam Bukhari).

Imam Ibnu Rajab al Hambali berkata : Hadits ini menunjukkak disunnahkannya mempelajari al Qur an di bulan Ramadhan dan berkumpul dengan sesame untuk hal tersebut. Juga mengecek bacaan dan hafalan kepada orang yang lebih hafal. Didalamnya juga disunnahkan MEMPERBANYAK MEMBACA AL QUR AN di bulan Ramadhan. (Lathaif al Ma’arif).

Sungguh Allah Ta’ala melalui Rasul-Nya telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang orang yang membaca al Qur an. Terlebih lagi di bulan Ramadhan dimana pahala suatu amal akan dilipatgandakan. Rasulullah bersabda : 

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf. (H.R Imam at Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa melihat zhahir hadits ini maka orang yang tak tahu arti ayat yang dibacanya dari al Qur an tetap mendapat pahala. Namun demikian tentu lebih baik jika membaca paham artinya yaitu dengan memperlajari terjemahannya.

Syaikh Ibnu Utsaimin juga pernah ditanya, apakah seseorang akan tetap mendapat pahala ketika membaca al-Quran tanpa tahu artinya ?. Beliau menjawab : 

فَالْإِنْسَانُ مَأْجُوْرٌ عَلَى قِرَاءَتِهِ سَوَاءٌ فَهِمَ مَعْنَاهُ أَمْ لَمْ يَفْهَمْ

Seseorang akan tetap mendapat pahala atas bacaan al-Qur an nya baik tahu atau tidak tentang artinya. (www.ibnothaimeen.com)

Ketahuilah bahwa orang  yang masih terbata bata membaca al Qur an akan bersama dengan malaikat yang mulia dan memperoleh dua pahala. Rasulullah bersabda : 

الْمَاهِرُ بِالْقُرآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

Orang yang membaca al Qur an dengan mahir, akan bersama Malaikat yang mulia lagi taat dan yang membaca al Qur an dengan terbata bata dan merasa berat, maka ia mendapat dua pahala (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim).

 Oleh karena itu SANGATLAH MERUGI orang orang yang tak memperbanyak  bacaan al Qur an di bulan Ramadhan. Wallahu A'lam. (3.116)

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 26 Oktober 2023

JANGAN MEMAKSA DIRI MENJAWAB PERTANYAAN JIKA TIDAK TAHU

 

JANGAN MEMAKSA DIRI MENJAWAB PERTANYAAN JIKA TIDAK TAHU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika kita sering menghadiri majlis majlis ilmu mungkin sebagian orang yang melihat merasa kita sudah punya ilmu sedikit atau tidak banyak. Apalagi kalau kita mulai memberi tausiyah di beberapa majlis ilmu seperti kuliah shubuh, kultum zhuhur dan yang lainnya. Lalu terkadang ada saja orang orang yang  bertanya sesuatu hal tentang ilmu syariat.

Ketika ada yang bertanya tentang sesuatu permasalahan yang tidak dikuasai atau belum diketahui jawabannya yang benar atau ragu dengan dalilnya maka sangat dianjurkan UNTUK TIDAK MEMAKSA DIRI MENJAWAB PERTANYAAN ITU. Jangan pernah merasa sungkan apalagi malu karena tidak bisa menjawab. Paling dianjurkan dan selamat  jawablah DENGAN LAA ADRI, saya tidak tahu. Atau bisa dijawab dengan : Wallahu A'lam.

Ketahuilah bahwa ketika dijawab tidak berdasarkan dalil  shahih yang diketahui maka bisa jadi menyesatkan orang yang bertanya dan menyusahkan diri sendiri. Sungguh Allah Ta’ala berfirman :    

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani , semua itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S al Isra 36).
 

Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as Sa’di berkata : Maksudnya janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui. Namun, telitilah setiap apa yang akan kamu katakan dan kerjakan Janganlah pernah sekali kali menyangka semua itu akan pergi tanpa memberi manfaat bagimu dan (bahkan bisa juga) mencelakakanmu.

Sudah sepantasnya seorang hamba yang mengetahui bahwasanya dia akan diminta pertanggung jawaban tentang segala yang telah dia katakan dan kerjakan serta (cara) pemanfaatan anggota  badan yang telah Allah Ta’ala ciptakan untuk beribadah kepada-Nya, untuk mempersiapkan jawaban atas pertanyaan pertanyaan yang akan diajukan. (Lihat Kitab Tafsir Karimir Rahman).

Dalam perkara ini, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz memberi nasehat : Jadi janganlah sembarang menjawab pertanyaan tentang agama ini. Ketahuilah bahwa jika anda menjawab suatu pertanyaan tentang syariat maka itu dianggap anda telah berfatwa.

Memang saat ini terkadang kita melihat banyak orang yang berani  memberikan jawaban  semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. Hal ini tentu tidak sepenuhnya salah apabila dia memang benar benar mengetahui al haq.  Jika tidak tahu lebih baik dijawab saya tidak tahu demi menjaga diri untuk mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya secara shahih. (Majalah Al Buhuts al Islamiyah edisi nomor 47)

Ketahuilah bahwa ulama ulama besar terdahulu yang mumpuni ilmunya juga mengambil sikap untuk menjawab tidak tahu jika ditanya suatu permasalahan, diantaranya adalah :

(1) Imam asy Sya'bi, seorang ulama besar di zaman Tabi'in.

Suatu ketika pernah ditanya tentang suatu permasalahan, maka beliau mengatakan : Aku tidak mengetahui jawabannya.

Maka ada yang berkata pada beliau : Apakah engkau tidak malu dengan jawabanmu (dengan mengatakan tidak tahu)  sementara engkau adalah seorang yang faqih dari negeri Iraq ?.

Beliau pun mengatakan : Kenapa aku harus malu, bukankah para malaikat saja tidak malu ketika mereka mengatakan : Kami tidak memiliki ilmu kecuali apa yang Engkau ajarkan kepada kami. (Dari I'lamul Muwaqi'in).

(2) Imam Malik bin Anas, seorang Imam Mazhab.

Dikisahkan bahwa  ada seorang dari negeri yang jauh datang kepadanya. Lalu orang ini mengajukan empat puluh pertanyaan. Namun yang dijawab hanya empat pertanyaan saja. Untuk tiga puluh enam pertanyaan lainnya, Imam Malik berkata : Allahu a’lam. 

Maka orang tersebut bersebut berkata : Engkau adalah Imam Malik bin Anas. Kepada engkau kendaraan kendaraan dipersiapkan dan kepada engkau pula perjalanan dari segala arah menuju, sementara engkau menjawab : Allahu a’lam. Apa yang akan saya katakan kepada penduduk negeriku (yang telah menitipkan 40 pertanyaan) jika aku kembali kepada mereka ?.

Imam Malik berkata : Katakanlah kepada mereka : Sesungguhnya Malik mengatakan : Allahu A’lam. (Nukilan dari Al Maqalat Al Kautsari).

Wallahu A'lam. (3.115)

 

SANGAT BERAT MEMBALAS KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

 

SANGAT BERAT MEMBALAS KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika berkumpul dengan orang banyak seperti teman sekolah, teman sekantor, teman sesama ngaji ataupun ketika bergaul dengan masyarakat ternyata ada saja diantara mereka yang berbuat baik kepada kita. Bisa saja ada yang memberi harta, berbagi nasehat dan sesuatu yang bermanfaat.

Ketahuilah bahwa untuk setiap kebaikan yang diterima seorang,   sangatlah DIANJURKAN untuk membalas misalnya dengan ucapan terima kasih. Dan SANGAT DIANJURKAN pula mengucapkan JAZAKALLAHU KHAIRAN. Ini adalah petunjuk Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam, sebagaimana sabda beliau :

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ

Usamah bin Zaid berkata,  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang diberikan kepadanya kebaikan, lalu ia mengatakan kepada pelakunya  Jazakallah khairan (semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan), maka sungguh ia telah benar-benar meninggikan pujian.  (H.R at  Tirmidzi,  dishahihkan oleh Syaikh al Albani). 

Membalas kebaikan dengan berterima kasih dan mendoakan orang yang telah berbuat baik ataupun memberi balasan berupa sesuatu yang bermanfaat, hakikatnya tidaklah terlalu sulit dilakukan. Ini termasuk adab dalam bergaul dan bermasyarakat.

Yang terasa berat bahkan sangat berat bagi sebagian orang adalah MEMBALAS PERBUATAN BURUK DENGAN PERBUATAN BAIK.

Ketahuilah bahwa hakikatnya seseorang jika diperlakukan buruk atau dizhalimi dia boleh membalas dengan setimpal. Tetapi memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang telah berbuat buruk sangat dianjurkan.  Allah Ta'ala berfirman :

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat buruk) maka pahalanya dari Allah. Sungguh Dia tidak menyukai orang orang yang zhalim. (Q.S asy Syura 40).

Syaikh as Sa'di berkata : Dan pada pahalanya dari Allah, mengandung himbauan untuk memberikan maaf. Dan hendaknya seorang hamba memperlakukan manusia dengan perlakuan yang dicintai oleh Allah Ta'ala. Sebagaimana seseorang senang dimaafkan oleh Allah Ta'ala maka hendaknya dia memaafkan mereka. Sebagaimana dia senang kalau diampuni Allah Ta'ala maka hendaklah dia mengampuni mereka karena ganjaran itu sejenis dengan perbuatan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjanjikan rumah di surga bagi tiga golongan dan satu diantaranya adalah bagi orang yang memaafkan orang yang berbuat buruk kepadanya yaitu sebagaimana sabda beliau : 

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ

Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangunan (rumah) di surga, hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya (H.R ath Thabrani).

Oleh karena itu hamba hamba Allah janganlah merasa berat untuk membalas keburukan dengan kebaikan karena akan mendatangkan kebaikan yang banyak.

Wallahu A'lam. (3.114)

 

Rabu, 25 Oktober 2023

HAMBA ALLAH MESTI SUNGGUH SUNGGUH MENJAGA WAKTU SHALAT

 

HAMBA ALLAH MESTI SUNGGUH SUNGGUH MENJAGA WAKTU SHALAT

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Shalat fardhu adalah satu ibadah yang paling penting dalam syariat Islam. Begitu pentingnya ibadah shalat fardhu maka perintah untuk mengamalkannya adalah diterima langsung oleh Rasulullah Salalallahu 'alaihi Wasalam pada saat beliau mi'raj.

Perkara ini disebutkan oleh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam satu hadits yang panjang. Beberapa kalimat awal hadits tersebut adalah : Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.

Lalu dia bertanya : Apa yang diwajibkan Rabbmu atas ummatmu ?. Aku menjawab : 50 shalat. Dia (Musa)  berkata : Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakannya.…. (H.R Imam Muslim)

Selain itu, ketahuilah bahwa begitu pentingnya perintah shalat dan mengamalkannya, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  menjelaskan bahwa shalat adalah AMAL YANG PERTAMA KALI AKAN DIHISAB DAN DIPERHITUNGKAN, yaitu sebagaimana sabda beliau : 

 قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.

Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman : Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya. (H.R at Tirmidzi dan an Nasa’i,  dishahihlan oleh al Hafizh Abu Thahir).

Ketahuilah bahwa salah satu ibadah yang DICINTAI ALLAH TA'ALA adalah shalat PADA WAKTUNYA. Dalam hal ini Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjawab pertanyaan Ibnu Mas’ud :

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ ﷺ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Ibnu Mas’ud, aku bertanya kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : Amalan apakah yang paling dicintai Allah ?. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam   menjawab : Mengerjakan shalat pada waktunya. Aku bertanya : Kemudian apa ?. Beliau menjawab : Kemudian berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya : Kemudian apa ?. Beliau menjawab, kemudian jihad di jalan Allah. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah mestilah DENGAN SUNGGUH SUNGGUH MENJAGA WAKTU SHALAT FARDHU. Sangatlah berat ancaman Allah Ta'ala terhadap orang yang melalaikan shalat. Allah Ta’ala memberi cap dengan CELAKA, sebagaimana  firman-Nya : 

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ  فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Maka CELAKALAH ORANG YANG SHALAT. (yaitu) ORANG ORANG YANG LALAI terhadap shalatnya. (Q.S al Ma’un 4-5).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan  bahwa salah satu makna MELALAIKAN SHALAT dalam ayat ini adalah : TIDAK MELAKSANAKAN SHALAT DI AWAL WAKTU. (Tafsir Juz ‘Amma).

Wallahu A'lam. (3.113)