Rabu, 31 Mei 2017

SANGATLAH BAIK KALAU MAU BERTAUBAT SEKARANG



SANGATLAH  BAIK KALAU MAU BERTAUBAT SEKARANG JUGA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Di zaman ini ternyata ada  orang yang beragama Islam, ber-KTP Islam, tapi secara sengaja  telah memilih orang kafir sebagai pemimpin bahkan ikut mempromosikan dan berkampanye. Ikut membela dan menjelaskan kepada orang banyak, seolah olah pemimpin kafir itu baik dan perlu dipilih.

Pada hal Allah Ta’ala dengan sangat jelas dan tegas melarang dalam banyak ayat-Nya, diantaranya : “Janganlah orang orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang orang beriman. Barangsiapa berbuat demikian niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah, kecuali karena (siasat) atau menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali”.     (Q.S Ali Imran 28)

Mungkin mereka melakukan perbuatan tercela itu dengan berbagai sebab ataupun alasan. Bisa jadi karena ketidak tahuan tentang larangan Allah Ta’ala dalam hal ini. Bisa juga karena mengharapkan keuntungan dunia baik berupa harta, jabatan, pangkat, popularitas dan yang lainnya.

Terhadap orang orang yang sudah teledor ini sangatlah baik jika mau menyadari kesalahannya dan segera minta ampun dan bertaubat. Ketahuilah bahwa orang Islam sangat beruntung karena mengetahui bahwa Rabb-nya Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat serta Maha Penyayang.

Sungguh Allah Ta’ala menyuruh kita untuk segera memohon ampun agar kita menjadi orang yang beruntung. Allah Ta’ala berfirman :  “Wa tuubuu ilallahi jamiian aiyuhal mu’minuuna, la’allakum tuflihuun”. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, agar kamu beruntung.  (Q.S an Nuur 31).

Ketahuilah bahwa seorang hamba wajib  untuk bersegera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah. Jangan sekali kali menunda nundanya. Allah berfirman : “Wa saari’u ila maghfiratin min rabbikum” Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu. (Q.S Ali Imran 133).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Menyegerakan taubat dari dosa merupakan kewajiban dan tidak boleh ditunda tunda. Jika menunda taubat maka berarti telah bermaksiat dengan penundaan itu. Bila bertaubat dari dosa, maka masih tersisa darinya taubat yang lain, yaitu taubat dari sikap menunda nunda taubat itu. Hal ini jarang sekali terbetik dalam jiwa pelaku taubat, dia beranggapan bahwa jika ia bertaubat dari dosa tidak ada lagi dosa yang tersisa darinya. Padahal dia harus (pula) bertaubat terhadap dosa penundaan taubatnya. 

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan  bahwa Allah Ta’ala menyuruh manusia yang telah melakukan dosa untuk segera memohon ampun.  Allah berfirman : “Ya ‘ibaadi, innakum tukhti-una bil laili wan nahar” Wa ana aghfiru dzunuba jamii’a. Fastaghfiruni, aghfirlakum”. Wahai hamba hambaku, sesungguhnya kalian berbuat dosa (kesalahan) siang dan malam. Dan Aku Maha Pengampun, semua dosa. Minta ampunlah kepada-Ku, Aku akan ampuni kalian. (H.R Imam Muslim).

Memang kenyataannya banyak manusia telah melakukan kesalahan. TAPI KETAHUILAH BAHWA KELALAIAN DALAM MEMINTA AMPUN DAN BERTAUBAT ADALAH TERMASUK KESALAHAN BESAR. Kenapa ?.

Pertama : Sebagai seorang hamba yang sudah berbuat salah lalu lalai untuk memohon ampun itu namanya tidak ingin menjadi orang yang beruntung. Tidak memanfaatkan kesempatan paling berharga. Mungkin juga tidak paham tentang betapa besarnyanya kasih sayang Allah kepada hamba hamba-Nya. Allah berfirman : “Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Q.S an Nisa’ 110).

Kedua : Allah membuka pintu ampunan dan taubat setiap saat lalu tidak dimanfaatkan. Barangkali inilah tanda manusia yang tak mengiraukan bagaimana masa depannya di akhirat kelak. Pada hal Allah menyuruh manusia berlomba, adu cepat, dalam mendapatkan ampunan-Nya. Allah berfirman. “Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Rabb-mu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang luas”. (Q.S al Hadid                                      21).                                                                                                                                             
Ketiga : Kematian pasti akan mendatangi siapapun, kapapun dimana pun dan datangnya pun tiba tiba. Allah berfirman : “Dan taubat itu tidaklah (diterima Allah) dari mereka yang melakukan kejahatan hingga apabila datang ajal kepada mereka seorang di antara mereka (barulah) dia mengatakan, saya benar benar bertaubat sekarang. Dan tidak (pula diterima taubat) dari orang orang yang meninggal sedang mereka berada dalam kekafiran. Bagi orang orang itu telah Kami sediakan adzab yang pedih”. (Q.S an Nisa’ 18). 

Orang orang yang telah melampaui batas dan yang telah menzhalimi diri merekapun tetap dilarang berputus asa. Allah berfirman : “Qul yaa ‘ibaadiyal ladziina asrafuu ‘alaa anfusihim laa naqnathuu min rahmatillah, innallaha yaghfirudz dzunuuba jamii’aa, innahu huwal ghafuurur rahiim”. Katakanlah, wahai hamba hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Q.S az Zumar 53).

Jadi sangatlah merugi orang yang  berputus asa dari rahmat atau kasih sayang  Allah. Allah berfirman : “Innahu laa yaiasu min rauhillah illal qaumul kaafiruun” Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang orang yang kafir. (Q.S Yusuf 87).

Oleh karena itu seorang  yang cerdas akan selalu bersegera memohon ampun dan bartaubat kepada Allah Ta’ala. Lalu bersegera pula melakukan amal amal shalih dan berhenti dari segala perbuatan buruk sekecil apapun.
Sungguh sekaranglah saat terbaik dan paling tepat untuk memohon ampun dan bertaubat terhadap kasalahan dimasa lalu. Ketahuilah bahwa bisa saja Allah mendatangkan hukuman segera di dunia ini dan hukuman di akhirat tentu lebih berat lagi. Na’udzubillahi min dzaalik.

Jadi bukalah lembaran baru dalam hidup ini dan berhentilah dari kemaksiatan apalagi membela orang kafir karena itu termasuk dosa besar.   Sesal kemudian tak berguna. Insya Allah ada manfaatnya. Wallahu A’lam. (1.050).

Selasa, 30 Mei 2017

MERAIH PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK DENGAN TARAWIH



MERAIH PAHALA SHALAT SEMALAM SUNTUK
 DENGAN TARAWIH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Shalat tahajjud adalah   shalat sunnah dimalam hari atau shalat lail dan sangat dianjurkan. Melakukan shalat ini merupakan kebiasaan orang orang shalih dari dahulu hingga sekarang bahkan insya Allah sampai hari kiamat.

Shalat tahajjud ini bagi kebanyakan orang sulit untuk melakukannya karena waktunya adalah di malam hari dengan syarat tidur terlebih dahulu meskipun sebentar. Dan paling utama dilakukan pada sepertiga malam terakhir.

Shalat ini memiliki keutamaan yang banyak diantaranya adalah merupakan shalat yang paling afdhal setelah shalat fardhu.

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: … Wa afdhalush shalaati ba’dal faridhati shalaatul laili” … Dan seutama utama shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam. (H.R Imam Muslim).  

Kemudian, khusus pada bulan Ramadhan ada shalat tarawih   yang juga disebut shalat malam di bulan ramadhan. Shalat tarawih ini terasa lebih ringan dilakukan karena boleh dilakukan langsung setelah shalat isya. Jadi tak perlu tidur lebih dahulu. 

Sungguh shalat tarawih ini jika dikerjakan bersama imam maka memberikan nilai yang sangat besar yaitu  seperti shalat semalam penuh. 

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahualaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda :

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh. (H.R an Nasai no. 1605, at Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Jadi hadits  ini sekaligus juga  merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.
Selain itu, jika seorang hamba melakukan shalat tarawih ini maka dia akan mendapatkan pula ampunan atas dosa dosanya yang telah lalu.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.(HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).
 Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam an Nawawi. (Syarah Shahih Muslim).

Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. Dan yang dimaksud pengampunan dosa dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun an Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Fathul Bari) 

Oleh karena itu maka seorang hamba tidak akan pernah melalaikan shalat tarawih bersama imam sehingga mendapat kesempatan pahala shalat semalam suntuk. Dan juga diampuni dosanya yang telah lalu. Insya Allah ada manfaatnya untuk kita semua. Wallahu A’lam. (1.049).

APAKAH SETIAP WALI ALLAH MEMILIKI KAROMAH



APAKAH SETIAP WALI ALLAH MEMILIKI KAROMAH ??

Oleh : Azwir B. Chaniago  

Ketika berbicara tentang wali wali Allah maka kebanyakan manusia membayangkan bahwa wali Allah itu mestilah memiliki karomah. Juga memiliki tanda tanda atau sifat sifat khusus  yang tidak dimiliki oleh yang selainnya. 

Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan siapa yang dimaksud dengan wali wali Allah yaitu  sebagaimana firman-Nya : “Ingatlah wali wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Yakni) orang orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji janji Allah. demikian itulah kemenangan yang agung. (Q.S Yunus 62-64). 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan : Wali-wali-Nya adalah mereka yang beriman dan bertakwa sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala tentang mereka sehingga setiap orang yang bertakwa adalah wali-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah berkata : Wali Allah Ta’ala adalah orang yang selalu melaksanakan segala yang dicintai Allah Ta’ala dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya dengan segala perkara yang diridhai-Nya. (Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah)

Dalam ayat ini tidaklah disebutkan bahwa  wali Allah itu mesti memiliki karomah Tetapi memang wali Allah itu memiliki tanda yang jelas yaitu beriman dan bertakwa. Inilah keutamaan mereka. Kenyataannya pada saat Allah menghendaki bisa saja wali wali Allah tersebut diberi  kelebihan tertentu yang disebut karomah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa wali-wali Allah itu tidak memiliki sesuatu yang membedakan mereka dengan manusia lainnya dari perkara-perkara zhahir yang hukumnya mubah seperti pakaian, potongan rambut atau kuku. Dan merekapun terkadang dijumpai sebagai ahli Al Qur’an, ilmu agama, jihad, pedagang, pengrajin atau para petani. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa tidak setiap wali itu harus memiliki karomah. Bahkan wali Allah yang tidak memiliki karomah bisa jadi lebih utama daripada yang memilikinya. Oleh karena itu, karomah yang terjadi di kalangan para Tabi’in itu lebih banyak daripada di kalangan para Sahabat, padahal para Sahabat lebih tinggi derajatnya daripada para Tabi’in. (Disarikan dari Majmu’ Fatawa)

Lalu apa pengertian karomah ?. Ketahuilah bahwa diantara sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah meyakini adanya karomah bagi sebagian wali dan ia datang dari sisi Allah .  Karomah ialah suatu perkara (mencakup ucapan dan perbuatan) yang telah berada diluar dari adat kebiasaan umumnya manusia,  selamat dari berbagai sanggahan (hal-hal yang membatalkannya) yang Allah berikan kepada hambanya yang shalih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan : Dan termasuk dari prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya karomah para wali dan apa-apa yang Allah perbuat dari keluar biasaan melalui tangan-tangan mereka baik yang berkaitan dengan ilmu, mukasyafat (mengetahui hal-hal yang tersembunyi), bermacam-macam keluar dari  kebiasaan (kemampuan) atau pengaruh-pengaruh.” (Syarah Aqidah Wasithiyah hal.207).
Meskipun  wali Allah itu tidak selalu  memiliki karomah tapi memang ada yang diberi kelebihan berupa karomah itu   dari sisi-Nya. Diantara contoh karomah yang diberikan Allah kepada wali-Nya adalah :

Pertama : Karomah untuk Maryam.
Allah Ta’ala berfirman: “Maka Rabb-nya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata : Wahai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?.  Maryam menjawab : Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”. (Q.S Ali Imran 37).

Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata : Ayat ini merupakan dalil akan adanya karomah para wali yang keluar dari kebiasaan manusia, sebagaimana yang telah mutawatir dari hadits-hadits tentang permasalahan ini. Berbeda dengan orang-orang yang tidak meyakini tentang adanya karomah ini. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Kedua : Karomah untuk pemuda Ashhabul Kahfi.
Salah satu kisah agung yang terdapat dalam surat al Kahfi pemuda pemuda yang beriman adalah sebagaimana  Allah berfirman : “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan kami tambahkan pada mereka petunjuk.” (Q.S al Kahfi 13).

Mereka adalah  (Ashabul Kahfi) sebelumnya hidup di tengah-tengah masyarakat yang kafir (dengan pemerintahan yang kafir) lalu mereka lari dari masyarakat itu. Dalam rangka menyelamatkan agama mereka, kemudian Allah melindungi mereka di dalam al Kahfi (gua yang luas yang berada di gunung).

Tatkala Allah Ta’ala telah menyelamatkan mereka di dalam gua tersebut dan   Allah tidurkan mereka dalam waktu yang sangat panjang. Ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya : “Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (Q.S al Kahfi 25).

Itulah karomah yang diberikan Allah Ta’ala kepada mereka sehingga iman mereka tetap terpelihara.

Ketiga : Karomah untuk Khalifah Umar bin Khaththab
Sariyah bin Zanin Al-Khulaji mengisahkan bahwa ketika Umar bin Khattab  menjadi Amirul Mukminin, ia pernah mengutus pasukan Islam. Pasukan itu ditugaskan ke Nawahunda untuk menghadapi pasukan Persia.

Jumlah pasukan Persia jauh lebih besar sehingga hampir saja pasukan muslimin terkalahkan. Pada saat itu Umar bin Khatthab  sedang berkhutbah di masjid Nabi Madinah lalu ditengah khutbahnya beliau berteriak dengan lantang diatas mimbar “Wahai Pasukan Muslimin : Naiklah keatas gunung.

Seruan itu diperdengarkan oleh Allah kepada pasukan Islam yang sedang bertempur menghadapi musuh. Mendengar seruan itu, maka pasukan muslimin segera naik keatas gunung seraya berkata :  Itu tadi suara Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab.  Akhirnya, kaum muslimin pun dapat bertahan dan memperoleh kemenangan dengan pertolongan Allah.

Kesimpulannya adalah bahwa para wali Allah, karena keimanan dan senantiasa bertakwa serta kecintaan Allah kepada mereka, maka terkadang ada diantara mereka diberi kelebihan yang luar biasa. Kelebihan yang luar biasa untuk sebagian para wali itulah yang  disebut dengan istilah karomah.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.048).

Kamis, 25 Mei 2017

ADZAB BAGI MANUSIA YANG SOMBONG



ADZAB ALLAH BAGI MANUSIA YANG SOMBONG

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, salah satu penyakit hati dan berbahaya, tetapi sulit dihindari oleh manusia, adalah penyakit sombong atau takabur. Penyakit ini telah banyak membuat manusia celaka bahkan terhina kecuali yang mendapat petunjuk.

Makna sombong atau takabur ini telah dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabda beliau : “Al kibru, batharul haqqi wa ghamdunnaas” Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. (H.R Imam Muslim).

Tentang menolak kebenaran adalah tatkala semua dalil dan hujjah tentang kebenaran syariat telah berada di depan matanya namun orang yang sombong masih menolak dengan menggunakan akalnya. Justru inilah kesombongan yang paling parah karena dia akan berhadapan dengan murka Allah.

Kenapa, karena bukankah kebenaran  itu datang dari Allah Ta’ala.  Allah berfirman : “Al haqqu min rabbika, falaa takun  minal mumtariin” Kebenaran itu dari Rabbmu, maka janganlah engkau menjadi orang-orang yang ragu. (Q.S  Ali Imran 60).

Sungguh Allah telah mengingatkan bahwa Dia akan menutup hati orang yang sombong.
Allah berfirman : “…Kadzalika yathba’ullahu ‘ala kulli qalbin mutakabbirin jabbar” … Demikianlah Allah akan menutup setiap hati orang yang sombong dan sewenang wenang. (Q.S al Mu’min 35).

Ketahuilah bahwa jika hati seseorang telah tertutup maka  akan sulit baginya menerima kebenaran, sulit berhenti dari maksiat. Semua nasehat tidak berguna baginya. Dia akan melihat kebaikan sebagai keburukan dan sebaliknya.

Bahkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, seperti yang telah disebutkan di atas, orang-orang yang sombong diancam dengan hukuman tidak akan masuk surga. Ini dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabda beliau : “Laa yadkhulul jannata man kaana fi qalbihi mitsqalu habbatin min khardalin min kibrin” Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji (sawi) dari sifat kesombongan (H.R Imam Muslim).

Ketahuilah saudaraku bahwa surga itu milik Allah, tidak bersekutu dengan yang selain-Nya. Jika pemilik surga tidak mengizinkan kita masuk  karena kesombongan kita lalu kita mau kemana ?

Dari dahulu hingga sekarang sangatlah banyak manusia  yang terkena dan terjebak dalam perilaku sombong dan takabur. Diantara mereka  adalah orang-orang yang berpengaruh bahkan  pemegang kekuasaan dan kekayaan.

Ketahuilah bahwa manusia yang memiliki  sifat sombong atau takabur ini tidak akan mempunyai kehidupan yang indah dan bermakna. Biasanya akan berakhir dengan tragis dan mengenaskan bahkan terhina. Beberapa contoh manusia dengan sifat sombong dan takabur yang mendapat adzab Allah di dunia sebelum adzab yang berat di akhirat, adalah :  

Pertama : Raja Fira‘un

Allah Ta’ala banyak memberi kelebihan kepada Fir’aun diantaranya  kedudukan sebagai raja, kekuasaan yang luas, dan kerajaan yang besar serta harta berlimpah. Dengan kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh Allah Ta’ala dia tetap kufur.

Fir’aun adalah seorang penguasa yang zhalim, berlaku sewenang dan sombong. Allah berfirman : “Wa inna fir’auna la’aalin fil ardhi. Wa innahuu laminal musrifiin.”.  …Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang wenang di muka bumi,  dan sesungguhnya dia termasuk orang orang yang melampaui batas. (Q.S Yunus 83).

Selain itu, kita juga mengetahui bahwa manusia yang paling durhaka kepada Allah adalah Fir’aun. Diantara kedurhakannya adalah memusuhi Nabi Musa yang mendakwahkan tauhid dan juga   membunuh semua bayi laki laki. Bahkan demikian hebatnya kedurhakaan Fir’aun kepada Allah Ta’ala, sampai sampai dia mengaku sebagai tuhan. 

Allah menyebutkan dalam firman-Nya : “Dan Fir’aun berkata : Wahai para pembesar kaumku !. Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku. (Q.S al Qashash 38).

Lalu karena sudah melampaui batas maka Allah mengutus Nabi Musa dan Harun mendatangi Fir’aun untuk memberi nasehat. Allah berfirman : "Pergilah kalian (Musa dan Harun) kepada Fir’aun (untuk memberi peringatan atau nasehat), sesungguhnya dia telah melampaui batas. Berbicaralah kepadanya dengan lemah lembut. Mudah-mudah dia sadar (atas kesalahannya) atau takut (kepada Allah)” Q.S Thaaha 43-44.  
                                                                                     
Meskipun Allah Ta’ala telah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menasehatinya tetapi dia tetap dalam kekufuran dan kesombongan.  Lalu Allah Ta’ala mengadzab dengan menenggelamkan Fir’aun bersama bala tentaranya  sebagaimana firman-Nya : “Dan kami selamatkan Musa dan orang orang yang bersamanya secara keseluruhan. DAN KAMI TENGGELAMKAN GOLONGAN YANG LAIN ITU (FIR’AUN DAN BALA TENTARANYA). Q.S asy Syuaraa 65-66).

Kedua : Qarun dan hartanya.

Qarun adalah sepupu Nabi Musa. Dia   diberi Allah Ta’ala karunia dengan harta yang banyak. Tapi ternyata  dia tidak mau menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah. Bahkan dia menyombongkan diri di hadapan manusia bahkan dia mengaku bahwa  harta yang dimilikinya adalah diperoleh karena ilmu yang ada padanya. “Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku… (Q.S al Qashash 78).

Allah tidak ridha dengan kesombongan Qarun. Lalu Allah  memberi adzab yang berat kepadanya yaitu dibenamkan kedalam bumi. Sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya : “Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap adzab Allah dan tiadalah dia termasuk orang (yang dapat) membela (dirinya”). Q.S al Qashash 81.



Ketiga : Amr bi Hisham alias Abu Jahal

Kita mengetahui bahwa salah satu penghambat dakwah Rasulullah di Makkah adalah Amr bin Hisham alias Abu Jahal seorang pemuka dan pemimpin kaum Quraisy. Dia sering menghina Rasulullah dan ajaran yang dibawanya. Terkadang menyakiti Rasulullah bahkan ingin membunuhnya. 

Kemudian dikisahkan bahwa dalam pertempuran di perang Badar, Abu Jahal terjebak dalam kebingungan karena pasukannya mulai kocar-kacir dihajar pasukan kaum muslimin. Padahal jumlah pasukan kafir Quraisy yang dipimpin Abu Jahal adalah 1.000 orang menghadapi 313 orang pasukan orang beriman.

Namun karena begitu besarnya rasa angkuh  dalam dirinya, ia berdiri sambil berteriak dengan penuh kesombongan : "Demi Latta dan Uzza, kami tidak akan kembali hingga kami mengikat Muhammad beserta para sahabatnya dengan tali dan janganlah seorang dari kalian merasa iba hanya dengan membunuh satu orang dari mereka. Berilah mereka pelajaran yang sebenarnya hingga mereka tahu akibat perbuatan mereka yang membenci agama kalian.”

Akhirnya dengan pertolongan Allah Ta’ala, keangkuhan Abu Jahal bersama kaum kafir Quraisy  berakhir dengan  mengenaskan. Ia yang selalu menentang dakwah Rasulullah  akhirnya kalah total dalam perang Badar. Pasukan Islam mendapatkan kemenangan besar, sementara itu pasukan kafir Quraisy banyak yang terbunuh dan sebagiannya lari tunggang langgang karena tak kuasa menahan serangan pasukan orang beriman.

Abu Jahal sendiri sebagai pemimpin pasukan kafir Quraisy dalam perang Badar,  akhirnya juga mati di tangan Ibnu Mas’ud, setelah terlebih dahulu dibuat luka parah oleh serangan dua orang anak remaja dari kaum Anshar yaitu Muaz bin Amr Al-Jamuh dan Muawwiz bin Afra. Masing-masing berumur 14 tahun dan 13 tahun.  
  
Itulah diantara kisah orang orang yang sombong dan takabur yang  diadzab Allah di dunia dan tentu di akhirat akan memperoleh adzab yang lebih. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.047)