Kamis, 28 Maret 2024

SAHABAT RASULULLAH ADALAH MANUSIA TERBAIK

 

SAHABAT RASULULLAH ADALAH MANUSIA TERBAIK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Siapakah yang disebut sahabat Rasulullah. Banyak penjelasan ulama tentang hal ini.  Salah satu penjelasan, batasan atau definisi yang bagus adalah sebagaimana dikatakan al Hafizh Ibnu Hajar Ashqalani  : Sahabat adalah orang yang  bertemu dengan Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam, beriman kepadanya dan wafat dalam keadaan Islam. (al Ishabah fi Tamyiz as Shahabah).

Para sahabat adalah umat terpilih. Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dalam firman-Nya   

قُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَٰمٌ عَلَىٰ عِبَادِهِ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَىٰٓ ۗ ءَآللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ

Katakanlah, segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba hambaNya yang dipilihNya.. (Q.S an Naml 59). 

Tentang ayat ini dijelaskan dalam Tafsir ath Thabari : (1) Ibnu Abbas berkata : Para sahabat Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba hamba pilihan Allah untuk Nabi-Nya. (2) Firman Allah : Hamba hambaNya yang dipilih-Nya yaitu hamba hamba pilihan untuk Nabi-Nya Muhammad. Allah menjadikan mereka sebagai pendamping dan pembela Nabi untuk mengemban agama yang diutus.

Para sahabat adalah generasi yang pertama tama beriman, mengamalkan dan mendakwahkan risalah Rasulullah. Mereka melakukannya dengan penuh keikhlasan, sungguh sungguh, penuh kesabaran dan pengorbanan yang sangat besar pada diri dan hartanya. 

Allah Ta'ala menjelaskan tentang keutamaan para sahabat yaitu Muhajirin dan Anshar diantaranya adalah orang orang yang mendapat ridha Allah sebagaimana firman-Nya :

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

Dan orang orang yang terdahulu lagi yang pertama tama (masuk Islam) di antara orang orang Muhajirin dan Anshar dan orang orang YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK, ALLAH RIDHA kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.

Allah menyediakan bagi mereka surga surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai sungai sungai. Mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S at Taubah 100).

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah menetapkan bahwa para sahabat adalah GENERASI TERBAIK DARI UMAT INI. Beliau menjelaskan :  

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Manusia yang paling baik adalah generasi zamanku kemudian generasi yang sesudahnya kemudian generasi yang sesudahnya. (H.R Imam Bukhari).

Sebagai generasi terbaik, maka wajiblah bagi  kita yang termasuk generasi berikutnya  untuk meniru dan mengikuti jejak mereka baik dalam aqidah, ibadah, akhlak dan muamalahnya.

Wallahu A'lam. (3.268).

 

 

 

 

 

Rabu, 27 Maret 2024

HAMBA ALLAH BAYAK MEMOHON AMPUN DI WAKTU SAHUR

 

HAMBA ALLAH BAYAK MEMOHON AMPUN DI WAKTU SAHUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, salah satu kewajiban utama seorang hamba kepada Rabb-nya adalah banyak memohon ampun. Kenapa ?, karena kita sebagai hamba hamba Allah sering berbuat  berbuat dosa dan maksiat. Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini  dalam satu hadits qudsi :

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ 

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di malam dan siang hari. (H.R Imam Muslim).

Oleh karena itu, kita hamba hamba Allah haruslah banyak memohon ampun kepada-Nya disetiap waktu. Namun demikian ada waktu waktu yang sangat baik dan utama untuk memohon ampun kepada Allah Ta'ala. Diantaranya adalah MEMOHON DI WAKTU SAHUR atau sepertiga malam terakhir. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda  :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir. Allah berfirman : Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku penuhi. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, NISCAYA AKU AMPUNI. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Al Imam Ibnu Hajar Ashqalani ketika menjelaskan hadits ini, berkata : Doa dan MEMOHON AMPUN di waktu sahur mudah dikabulkan Allah Ta'ala. (Fathul Bari).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

Dan orang-orang yang beristighar meminta ampunan di waktu sahur (QS. Ali Imran: 17)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan BAYAK MEMOHON AMPUN di waktu sahur (Tafsir al-Qur'an al 'Azhim).

Selain MEMOHON AMPUN DI WAKTU SAHUR sangatlah dianjurkan melengkapi waktu sahur dengan shalat malam atau shalat lail. Ketahulah bahwa  shalat lail adalah shalat yang paling utama setelah shalat fardhu. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Salam bersabda : 

وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ : صَلاَةُ اللَّيْلِ

Dan shalat yang paling utama setelah shalat yang fardhu adalah shalat ditengah malam. (H.R Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Selain itu, ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam juga menjelaskan dalam sabda beliau bahwa shalat malam adalah KEBIASAAN ORANG ORANG SHALIH :  

  عَلَيٌكُمٌ بِقِيَامِ اللَّيٌلِ فَإِنَهُ  دَأَبُ الصَّالِحِيٌنَ قَبٌلِكُمٌ ، وَهُوَ قُرٌبَةٌ اِلَى رَبِّكُم ٌ ، ومُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّءَاتِ، مَنٌهَةٌ عَنٌ الإِثٌمِ

Hendaklah kalian melakukan shalat malam karena ia adalah kebiasaan orang orang shalih sebelum kalian, ia sebagai amal mendekatkan diri bagi kalian kepada Allah, penghapus kesalahan kesalahan dan menjauhkan dosa. (H.R  at Tirmidzi,  al Baihaqi dan al Hakim)

Wallahu A'lam. (3.267)

Selasa, 26 Maret 2024

KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR AN ADALAH NIKMAT YANG BESAR

 

KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR AN ADALAH NIKMAT YANG BESAR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Sungguh, bergembiralah hamba hmaba Allah yang diberi-Nya satu NIKMAT SANGAT BESAR KEMAMPUAN MEMBACA AL QUR AN  berbahasa Arab. Allah Ta'ala  menurunkan al Qur an dalam Bahasa Arab, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkan berupa al Qur an berbahasa Arab, agar kamu mengerti. (Q.S Yusuf 2).

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk belajar membaca al Qur an dari nol yaitu dari huruf hijaiyah. Mulai dari huruf alif, ba, ta dan seterusnya. Akhirnya berkat pertolongan Allah Ta'ala dengan melalui usaha yang sungguh sungguh dapatlah NIKMAT YANG SANGAT BESAR yaitu bisa membaca al Qur an dengan baik bahkan sangat baik. Makharijul huruf sempurna dan tajwidnya juga bagus.

Saudaraku, penyusun tulisan ini mohon izin sekali lagi untuk mengingatkan bahwa kemampuan seorang hamba membaca al Qur an dengan baik dan lancar ataupun masih terbata bata adalah NIKMAT YANG SANGAT BESAR yang dianugerahkan-Nya kepada hamba hamba yang dikehendaki-Nya.

Berbicara tentang nikmat ketahuilah bahwa SIFAT PALING UTAMA DARI SATU NIKMAT, besar ataupun kecil mestilah disyukuri termasuk syukur melalui perbuatan. Salah satu bentuk bersyukur dengan perbuatan terhadap nikmat kemampuan membaca al Qur an adalah dengan senantiasa membacanya, berusaha memahami maknanya, MENGAMALKANNYA.

Dan juga juga mengajarkannya. Sungguh orang yang belajar dan mengajarkan al Qur an adalah manusia terbaik. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

خيركم من تعلم القرآن وعلمه 

Sebaik baik kalian adalah yang belajar al Qur an dan mengajarkannya (H.R Imam Bukhari, dari Utsman bin Affan).

Oleh karena itu hamba hamba Allah menjadi kewajiban kita   mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Ta'ala atas anugerahnya DIBERI KEMAMPUAN UNTUK MEMBACA AL QUR AN meskipun bahasa ibu kita bukan Bahasa Arab.

Wallahu A'lam. (3.266)

 

Senin, 25 Maret 2024

KELIRU BERAT JIKA ORANG BERIMAN TIDAK BELAJAR AL QUR AN

 

KELIRU BERAT JIKA ORANG BERIMAN TIDAK BELAJAR AL QUR AN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, al Qur an adalah kitab yang mulia. Allah Ta'ala telah menurunkan al Qur an pada bulan yang mulia, melalui Malaikat yang mulia yaitu Jibril kepada seorang manusia paling mulia yaitu Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam sebagai petunjuk bagi orang orang beriman. Allah Ta'ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S al Baqarah 185).

Dan ketahuilah bahwa al Qur an diiturunkan pada malam yang mulia yaitu malam Lailatul Qadr yang lebih lebih baik dari seribu bulan. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْر  وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ?.  Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Q.S al Qadr 1-3).

Sebagai kitab petunjuk paling utama maka sungguh sangat keliru orang orang yang tidak belajar al Qur an, tidak berusaha merenungi makna maknanya, tidak mengamalkannya dan tidak mendakwahkannya sesuai kemampuan. Bahkan sikap ini bisa mendatangkan dosa.

Syaikh Dr Khalid al Mushlih pernah ditanya : Apakah  seorang muslim berdosa ketika dia tidak pernah membaca Al Quran di bulan Ramadhan ?. Beliau menjawab : Tentu saja, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam pernah mengadukan kaumnya kepada Rabb-nya :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul : Ya Rabb-ku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan. (Q.S al Furqan 30)

Bentuk tidak acuh dan meninggalkan Al Quran, itu ada beberapa macam : Tidak membacanya. Tidak merenungi maknanya (tadabbur).Tidak mengamalkannya. Tidak mendakwahkannya dan tidak berhukum dengannya. Ini semua adalah bentuk mengacuhkan Al Quran dan ini menunjukkan kurangnya iman dan kebaikan pada seseorang sekadar bentuk ketidakacuhan dia pada Al Quran.

Maka seorang yang perhatian pada Al Quran adalah yang membacanya, merenungkannya, mengamalkannya, berdakwah dengannya dan berhukum dengan Al Quran. Apabila ini dilakukan maka seseorang tidak termasuk orang yang tidak acuh dengan al Quran. (Dijawab oleh Syaikh dalam satu video di medsos)

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetap dan senantiasa membaca serta memberikan perhatian yang sungguh sungguh terhadap al Qur an sehingga bisa mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus, untuk keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.

Wallahu A'lam. (3.265)   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 21 Maret 2024

JANGAN JANGAN TAHUN INI ADALAH RAMADHAN TERAKHIR KITA

 

JANGAN JANGAN TAHUN INI ADALAH RAMADHAN TERAKHIR KITA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dengan kasih sayang-Nya Allah Ta'ala setiap tahun mendatangkan satu bulan yang penuh dengan kebaikan yang sangat banyak, diantaranya adalah :

Pertama : Bulan berkah, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ

Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah…” (H.R Imam Ahmad).

Kedua : Bulan ampunan, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim, dari Abu Hurairah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Ketiga : Ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Sungguh di bulan Ramadhan ada kesempatan untuk mendapat ibadah satu malam bernilai ibadah seribu bulan.  Allah Ta'ala berfirman :  

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (Q.S al Qadr 2-3). SUNGGUH MASIH SANGAT BANYAK KEUTAMAAN YANG ADA PADA BULAN RAMADHAN.

Selain tiga hal yang  disebutkan diatas SUNGGUH MASIH SANGAT BANYAK KEUTAMAAN YANG ADA PADA BULAN RAMADHAN. Jadi, SANGATLAH BERUNTUNG ORANG ORANG YANG DIPERTEMUKAN DENGAN BULAN RAMADHAN.

Nah, ketika mendapat kesempatan bertemu dengan Ramadhan maka hamba hamba Allah akan berusaha mengambil manfaat sebanyak banyaknya yaitu dengan MENGISI RAMADHAN DENGAN BERBAGAI AMAL SHALIH YANG DISYARIATKAN.

Kenapa ?, sungguh Ramadhan yang akan datang yaitu satu tahun lagi belum tentu kita dapatkan. KITA TIDAK TAHU JANGAN JANGAN JANGAN TAHUN INI ADALAH RAMADHAN TERAKHIR KITA karena kematian bisa datang kapan saja Allah Ta'ala berkehendak.  

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah menjadi orang yang cerdas dan salah satu tanda orang cerdas adalah selalu MENGINGAT KEMATIAN. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang PALING CERDAS adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas. (H.R at Tirmidzi).

Ad Daqaq berkata : Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, dia akan dimuliakan dengan tiga perkara, yaitu: (1) Bersegera dalam bertaubat, (2) Hati yang qanaah, (3) BERSEMANGAT UNTUK MELAKUKAN IBADAH. Barangsiapa yang lupa mengingat kematian, dia akan dihukum dengan tiga perkara, yaitu: (1) Menunda-nunda taubat, (2) Tidak ridha terhadap pemberian (takdir) Allah, (3) Malas beribadah. (At-Tadzkirah).

Wallahu A'lam. (3.264)

 

 



 

    

Rabu, 20 Maret 2024

PERKARA YANG MENGINGATKAN PARA PENCINTA DUNIA

 

PERKARA YANG MENGINGATKAN PARA PENCINTA DUNIA

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Di zaman ini, sebagian saudara saudara kita ada yang masih terus berjuang habis habisan untuk mengejar dunia. Sungguh dia merugikan dirinya sendiri dalam urusan akhirat, diantaranya adalah :

Pertama : Jika seseorang terus menerus mencintai  dan mengejar kehidupan dunia dipastikan dia akan lalai terhadap urusan akhirat dan membuat agamanya rusak. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

مَا ذئبان جَائِعَانِ أُرسِلاَ في غَنَمٍ بأفسَدَ لها مِنْ حِرصِ المرء على المال والشَّرَف لدينهِ

 

Dua serigala lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya. (H.R  at Tirmidzi, Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)      

      

Kedua : Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala Mahaadil. Jika seseorang berusaha untuk mendapatkan dunia maka Allah akan memberikan hasilnya berupa kenikmatan dunia. Di akhirat dia tidak mendapatkan apa apa dan apa yang mereka dapat berupa kehidupan dunia dengan segala  perhiasannya tidaklah bermanfaat sedikitpun untuk akhiratnya. Allah Ta'ala berfirman :

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ

أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُون 

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas apa yang mereka lakukan di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka dan sia sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Hud 15-16).

Allah Ta'ala  berfirman :

وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلْءَاخِرَةِ نُؤْتِهِۦ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِى ٱلشَّٰكِرِينَ

 Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu. Dan barangsiapa mengehendaki pahala akhirat Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Dan Kami memberikan balasan kepada orang orang yang bersyukur. (Q.S Ali Imran 145).    

Kiranya dua ayat ini sudah cukup memberi pelajaran yang berharga bagi kita bahwa jika kita mengejar dunia pasti akan diberi tetapi apa yang kita lakukan itu akan sia sia dan tidak bermanfaat sedikitpun untuk akhirat.

Allah Ta'ala juga berfirman :

وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلْءَاخِرَةِ نُؤْتِهِۦ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِى ٱلشَّٰكِرِينَ

Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu. Dan barangsiapa mengehendaki pahala akhirat Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Dan Kami memberikan balasan kepada  orang yang bersyukur. (Q.S Ali Imran 145). 

Sungguh, Allah Ta'ala telah memperingatkan  hamba hambanya untuk bersegera mencari akhirat dan mendapatkan surga. Allah berfirman  

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa. (Q.S Ali Imran 133).

Para ulama tafsir menjelaskan makna kata bersegeralah dalam ayat ini.  Imam al Baghawi  berkata : Bahwa makna bersegeralah dalam ayat ini adalah : BERSEGERALAH DAN BERGEGASLAH MENGERJAKAN AMALAN AMALAN YANG BISA MENDATANGKAN PENGAMPUNAN. (Kitab Tafsir al Baghawi).

Kenapa harus bersegera ?. Ketahuilah bahwa kematian akan datang tiba tiba.  Sehat atau sakit tidaklah merupakan  landasan dalam hal kematian. Orang bijak berkata : Sehat tidaklah menjauhkan seseorang dari kematian dan sakit tidaklah mendekatkan seseorang kepada kematian. Masih muda tidaklah menjauhkan seseorang dari kematian dan sudah tua tidaklah mendekatkan seseorang dari kematian. Semua adalah atas kehendak Allah Ta’ala semata.

Wallahu A'lam. (3.263)

 

 

 

Senin, 18 Maret 2024

BANYAK BERDOA DAN MOHON AMPUN DI 1/3 MALAM TERAKHIR

 

BANYAK BERDOA DAN MOHON AMPUN DI 1/3 MALAM TERAKHIR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu sifat orang beriman  adalah selalu berdoa dan memohon ampun disetiap waktu dan keadaannya.

(1) Kenapa  orang beriman harus banyak berdoa ?, karena  sangat membutuhkan pertolongan Allah di setiap saat untuk mendapatkan kebaikan dan untuk dijauhkan dari kesulitan serta marabahaya. Sungguh Allah Ta'ala akan mengabulkan doa hamba hamba-Nya. Allah Ta'ala berfirman :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

Dan Rabb-mu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu. (Q.S Ghafir 60) 

(2) Kenapa orang beriman harus banyak memohon ampun ?, karena banyak berbuat salah dan dosa kepada Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman dalam satu hadits qudsi :

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ 

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di malam dan siang hari. (H.R Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa untuk berdoa dan memohon ampun sangatlah banyak kesempatan bahkan terus menerus ada. Tetapi sungguh ada waktu waktu yang istimewa yaitu saat saat doa di ijabah dan permohonan ampun dikabulkan.

Diantaranya adalah pada sepertiga malam terakhir. Perkara ini disebutkan dalam satu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ

Rabb kita Tabarka wa Ta’ala turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman : Siapa saja yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan.

Siapa yang meminta kepada-Ku, maka akan Aku beri. Siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, maka akan Aku ampuni. (H.R Imm Bukhari dan Imam Muslim).

Berkenaan dengan hadits ini para imam ahli Hadits menjelaskan :

(1) Imam an  Nawawi, beliau berkata : Pada waktu itu adalah waktu tersebarnya rahmat, banyak permintaan yang diberi dan dikabulkan, dan juga nikmat semakin sempurna kala itu.

(2) Imam Ibnu Hajar, beliau   menjelaskan hadits di atas : Doa dan istighfar atau permohonan ampun  di waktu sahur adalah diijabah. (Fathul Bari).

Oleh karena itu hamba hamba Allah senantiasa mengambil waktu di sepertiga malam terakhir ini untuk berdoa dan memohon ampun. Dan juga mengambil kesempatan yang baik ini untuk melakukan shalat lail.

Wallahu A'lam. (3.262)

 

 

Minggu, 17 Maret 2024

MENGIKUTI JALAN PARA SAHABAT MENDATANGKAN RIDHA ALLAH

 

MENGIKUTI JALAN PARA SAHABAT MENDATANGKAN RIDHA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh para sahabat yang terdiri dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar adalah GENERASI TERBAIK UMAT INI. Kebersamaan mereka bersama Nabi dan membela Islam adalah bukti keutamaan dan  tidak bisa ditandingi oleh generasi manapun. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :  

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

Sebaik baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang yang setelahnya dan yang setelahnya. (H.R Imam Bukhari).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Hadits hadits yang semakna dengan ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir yaitu dalam (1) Menerangkan keutamaan sahabat (2) Pujian kepada mereka (3) Keutamaan generasi mereka dibandingkan yang setelahnya. Orang yang mencela sahabat berarti mencela al Qur an dan as Sunnah (Lihat Majmu’ Fatawa)

Allah Ta'ala menjelaskan tentang keutamaan para sahabat yaitu Muhajirin dan Anshar diantaranya adalah orang orang yang mendapat ridha Allah sebagaimana firman-Nya :

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

Dan orang orang yang terdahulu lagi yang pertama tama (masuk Islam) di antara orang orang Muhajirin dan Anshar dan orang orang YANG MENGIKUTI MEREKA DENGAN BAIK, ALLAH RIDHA kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.

Allah menyediakan bagi mereka surga surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai sungai sungai. Mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S at Taubah 100).

Dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Dan orang-orang yang mendahului orang-orang sejak pertama menuju keimanan kepada Allah dan rasulNya dari kalangan muhajirin yang berhijrah meninggalkan kaum mereka dan kerabat mereka, dan mereka berpindah menuju negeri Islam. Dan kaum Anshar yang menolong Rasulullah atas musuh-musuhnya dari orang-orang kafir, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam keyakinan, ucapan-ucapan mereka dan perbuatan-perbuatan dalam rangka mencari keridhaan Allah.

Mereka itulah orang-orang yang Allah meridhai mereka karena ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka ridha kepada Allah karena Dia melimpahkan pada mereka pahala atas ketaatan mereka dan keimanan mereka, dan menyiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawah istana-istana dan pohon-pohonnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamya selamanya. Itulah keberuntungan yang besar. (Kitab Tafsir dari Kementrian Agama Saudi Arabia)

Oleh karena itu hamba hamba Allah teruslah berusaha mengikuti cara cara beragama para sahabat. Semoga ridha Allah mendatangi kita semua.

Wallahu A'lam. (3.261)  

Sabtu, 16 Maret 2024

BERAMAL JANGAN KARENA MENGHARAPKAN DUNIA

 

BERAMAL JANGAN KARENA MENGHARAPKAN DUNIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh orang orang yang beramal untuk  tidaklah dianjurkan. Dalam perkara ini Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam berfirman-Nya :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S Hud 15-16).

Ayat ini menunjukkan tercelanya orang yang beramal karena berharap dunia. Diantara contohnya adalah ketika seseorang mengejar kebaikan hidup dunia agar DENGAN BERPUASA MENJADI  SEHAT maka  dia banyak berpuasa sunnah. Memang para dokter dimanapun  bersepakat bahwa berpuasa mendatangkan kesehatan fisik.

 

Tetapi sungguh merugi orang itu  karena niatnya mencari dunia maka di akhirat kelak dia tak mendapat apa apa dari ibadah puasanya. Paling baik adalah dia berpuasa dengan tujuan ibadah, mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dan berharap pahala. Lalu Allah Ta'ala memberinya  kesehatan maka bersyukurlah kepada Allah Ta'ala.

Imam al Qurthubi rahimahullah berkata : Jika pendorong untuk beramal adalah dunia maka tidak menjadi ibadah, tetapi ia adalah maksiat. Bahkan bisa menjadi kufur yaitu syirik besar atau riya yaitu syirik kecil. Ini bila pendorongnya hanya dunia semata, bila tidak mendapat dunia tentu ia tidak akan beramal. (Lihat Al Mufhim).


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Orang yang beramal shalih mengharapkan pahala dari Allah dan keridhaan-Nya, tetapi iapun mengharapkan dunia dari amalannya. Maka yang seperti dilihat mana yang lebih dominan :

 

– Jika yang lebih dominan adalah niat akheratnya, maka ia mendapat pahala.

– Jika yang lebih dominan adalah harapan dunia, maka ia mendapatkan dosa dan amalnya tidak diterima.

– Jika sama-sama kuat maka saling berguguran dan tidak mendapat pahala dan tidak juga dosa.  (Majmu’ Fatawa, Syaikh Utsaimin).

Oleh karena itu hamba hamba hendaklah selalu menjaga niatnya terutama dan paling untuk mengharap kebaikan akhirat dan kebaikan dunia akan mendatanginya. Wallahu A'lam. (3.260).