Kamis, 30 April 2015

TERCELANANYA PRILAKU SUAP



TERCELANYA PRILAKU SUAP MENYUAP

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sudah sejak lama kebiasaan atau prilaku suap menyuap telah ada dalam kehidupan bermasyarakat. Saat ini nampaknya semakin marak.  Entah kapan akan berakhir. Adakah manusia yang mampu untuk menghilangkannya. Wallahu A’lam. 
  
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (w. 1999 M), bekas Mufti Agung Kerajaan Saudi Arabia, pernah ditanya tentang bagaimana akibat buruk dari prilaku suap menyuap bagi kaum muslimin. Beliau memberikan penjelasan : 

Pertama : (Ini adalah) Kezhaliman terhadap kaum yang lemah. Hilangnya hak hak mereka atau paling tidak tertundanya mereka mendapatkan haknya dengan cara yang benar.Bahkan semua ini terjadi demi suap.

Kedua : Buruknya akhlak orang yang mengambil suap tersebut baik dari kalangan hakim, pegawai ataupun selain mereka. Takluknya diri orang tersebut terhadap hawa nafsunya. Hilangnya (sebagian) hak orang yang tidak memberi suap ataupun hilang keseluruhannya. Iman seseorang penerima suap akan menjadi lemah dan dirinya terancam mendapat kemurkaan Allah serta adzab yang pedih.

Beliau melanjutkan, sungguh Allah mengulur ulur waktu (untuk mengadzab mereka) tapi Dia tidak pernah lalai. Bisa jadi Allah mempercepat adzab di dunia terhadap sipelaku kezhaliman sebelum dia mendapatkannya di akhirat kelak sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shahih dari Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah bersabda : “Maa min dzambin ajdaru an an yu’ajjilallahu ta’aala lishaahibihil ‘uquubata fiid dun-yaa ma’a maa yaddakhiru lahu fiil aakhirati mitslul baghyi wa qathi’atir rahim”  Tidak ada dosa yang paling pantas untuk disegerakan siksaannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap pelakunya di dunia, disamping apa yang Dia simpan baginya  di akhirat kelak, seperti al baghyu  (perbuatan melampaui batas seperti kezhaliman, dan yang lainnya) dan memutuskan silaturrahim. (H.R Abu Dawud dan at Tirmidzi).

Tidak dapat diragukan lagi bahwa prilaku suap dan seluruh kezhaliman adalah termasuk al baghyu (yang disebutkan dalam hadits ini) dan telah diharamkan oleh Allah Ta’ala.

Rasulullah juga bersabda : “Innallaha yumlii lizh zhalimi fa idzaa akhadzahu lam yuflit-hu” Sesungguhnya Allah mengulur ulur (waktu) bagi orang yang zhalim, maka jika Dia mengadzabnya, Dia tidak akan melepaskannya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Kemudian, Rasulullah membaca firman Allah : “Wa kadzaalika akhdzu rabbika idzaa akhadzal qura-aa wa hiya zhaalimatun, inna akhdzahu aliimun syadiid” Dan begitulah adzab Rabb-mu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Q.S Hud 102).


(Lihat Kitab ad Da’wah fatwa Syaikh Ibnu Baz)

Wallahu A’lam.  (291)          

TENTANG MENGINGAT MATI



TENTANG MENGINGAT MATI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Mati mungkin bagi sebagian orang adalah sesuatu yang menakutkan. Pada hal itu adalah suatu yang pasti. Allah berfirman : “Ainamaa takuunuu yudrikkumul mautu walau kuntum fii buruujin musyaiyadah” Di mana saja kamu berada kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu berada didalam benteng yang tinggi dan kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Rasulullah bersabda :  “Aktsiruu dzikra haadzimil ladzdzaati ya’nil mauta” Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan kenikmatan kesenangan yaitu kematian. (H.R Imam at Tirmidzi dan Ibn Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Imam al Qurthubi berkata : Hadits ini sangat singkat namun mencakup peringatan dan nasehat yang agung. Siapa yang benar benar mengingat kematian maka ingatnya ini akan menghalanginya dari kesenangan syahwat masa kini, mencegahnya dari berangan angan panjang di masa datang dan membuatnya bersikap zuhud dari yang semula diharapkannya.

Para ulama menjelaskan bahwa kematian yang menimpa manusia adalah musibah atau bencana. Tapi ketahuilah bahwa ada musibah yang lebih besar lagi yang  menimpa sebagian manusia yaitu :

Pertama : Lalai terhadap akan datangnya kematian.

Kedua : Berpaling dari mengingat kematian.

Ketiga : Tidak merenungkan dan tidak pula mengambil pelajaran dari kematian.

Keempat : Tidak melakukan amal atau persiapan apapun muntuk menghadapi kematian.  

Sungguh Rasulullah memuji orang yang selalu mengingat mati itu sebagai orang mukmin yang cerdas. Dari Ibnu Umar, diriwayatkan bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam ditanya : Siapakah dari orang orang mukmin yang cerdas ? Rasulullah bersabda : “Yang paling banyak mengingat mati dan paling tekun membuat persiapan untuknya, mereka itulah orang yang cerdas” (H.R Ibnu Majah dan al Hakim, dihasankan oleh Syaikh al Albani).  
  
Ad Daqqaq berkata : Barangsiapa yang memperbanyak mengingat kematian maka akan dikaruniai tiga kebaikan :

Pertama : Dia akan  bersegera untuk bertaubat.

Kedua : Hatinya akan dipenuhi oleh sikap menerima.

Ketiga : Dia akan rajin dan semangat dalam beribadah.

Dalam Kitab az Zuhd Ibnu Mubarak disebutkan bahwa  Shalih al Murri berkata : Sesungguhnya mengingat kematian, jika terpisah dariku walau hanya sesaat maka hal itu membuat hatiku menjadi rusak. 

Imam al Qurthubi berkata bahwa para ulama memberi nasehat : Mengingat kematian dapat menghalangi seseorang dari melakukan kemaksiatan, melunakkan hati yang keras, menghilangkan perasaan gembira dengan dunia dan meringankan segala musibah. (Kitab at Tadzkirah).   

Sungguh ada banyak  cara untuk senantiasa mengingat mati, diantaranya adalah :

Pertama : Dengan merenungkan kemana perginya sebagian  teman dan kerabat kita yang saat ini tidak ada lagi di dunia. Mungkin diantara mereka adalah orang orang yang kita tahu lebih cerdas dan lebih gagah dari kita, lebih berharta, lebih berpangkat. Mungkin juga  diantara mereka ada yang lebih tua tetapi banyak juga yang jauh lebih muda dari kita.

Kedua : Dengan merenungkan kemana perginya sebagian teman dan kerabat kita yang saat ini sudah tidak ada lagi di dunia. Mungkin diantara mereka secara fisik dulu kelihatan sangat sehat. Dia seorang yang sangat paham tentang cara menjaga kesehatan bahkan diantara mereka ada yang Allah berikan karunia untuk berprofesi sebagai ahli kesehatan. 

Ketiga : Dengan merenungkan bahwa sehat atau sakit tidaklah merupakan  landasan dalam hal kematian. Orang bijak berkata : Sehat tidaklah menjauhkan seseorang dari kematian dan sakit tidaklah mendekatkan seseorang kepada kematian. Semua adalah atas kehendak Allah Ta’ala semata.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberi petunjuk kepada kita untuk selalu mengingat kematian dan memberi kekuatan kepada kita semua untuk mempersiapkan bekal menghadapi kematian yang sudah pasti.
Wallahu A’lam.  (290)

 

Rabu, 29 April 2015

BERHARTA TAPI MINTA MINTA



BERHARTA TAPI MINTA MINTA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Kita mengetahui bahwa dizaman ini ada banyak orang yang suka meminta minta dalam berbagai bentuk dan cara. Pada hal diantara mereka, tidak semua,  sebenarnya adalah orang yang berkecukupan dan juga ada sebagiannya yang memiliki harta  lebih dari cukup. Mereka melakukannya mungkin karena :

Pertama : Punya kesenangan untuk meminta minta sehingga tidak ada perasaan malu untuk meminta minta.

Kedua : Punya sifat serakah dan tidak pernah puas dengan apa yang telah dia miliki.

Ketiga : Malas berusaha mencari penghasilan dari usaha tangannya sendiri.

Keempat : Tidak mengetahui larangan  Rasulullah dan  keburukan bagi orang yang meminta minta padahal dia berkecukupan. 

Peminta minta tapi berharta juga pernah ada pada zaman Amirul Mukminin Umar bin Khaththab.
Dari Ibnu Abbas, ia bercerita : Suatu ketika seorang laki laki datang menemui Umar dan meminta minta kepadanya. Lalu Umar memandang ke arah kepalanya kemudian ke arah kedua kaki orang itu yaitu untuk melihat tanda tanda kemiskinan pada dirinya. Kemudian Umar berkata kepada peminta minta ini : Berapakah harta yang engkau miliki ? Orang ini menjawab : (dengan jujur) 40 ekor unta.

Maka Ibnu Abbas berkata : Sungguh benar apa yang disampaikan Allah dan RasulNya, seandainya anak Adam memiliki emas sebanyak dua lembah, niscaya ia ingin memiliki lembah yang ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi rongga (perut, mulut dan yang lainnya) anak Adam selain tanah. Kemudian Allah menerima taubat orang yang bertaubat kepadaNya.

Umar berkata : Hadits apakah ini ? Aku (Ibnu Abbas menjawab) : Demikianlah Ubay membacakannya kepadaku. Umar berkata : Kalau begitu kita pergi menjumpainya. Ibnu Abbas melanjutkan :  Lalu Umar mendatangi Ubay. Sesampai di sana Umar bertanya : Perkataan yang dikatakan olehnya (oleh Ibnu Abbas). Ubay menjawab : Demikianlah Rasulullah membacakannya kepadaku. (Lihat Silsilah Hadits Shahih, Syaikh al Albani No 2909).  

Ketahuilah bahwa orang yang meminta minta, pada hal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka dia terancam dengan bara api neraka. Sungguh Rasulullah telah mengingatkan hal ini dalam beberapa hadits, diantaranya adalah  sabda beliau : “Barangsiapa meminta minta padahal ia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka sungguh ia hanyalah memperbanyak  api neraka untuk dirinya” An Nufaili, perawi hadits ini berkata di tempat lain. “Dari bara api neraka Jahannam”  

Para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah apakah (makna) yang mencukupinya itu. ? An Nufaili berkata ditempat lain : Apa yang dimaksud dengan cukup yang tidak boleh seseorang meminta minta ? Rasulullah menjawab : “Sekedar ukuran yang dapat mencukupi untuk makan siang dan malam”. An  Nufaili berkata di tempat lain : “(Yaitu) ia memiliki sesuatu yang membuatnya kenyang dalam sehari semalam atau  satu malam satu hari” (H.R Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

Rasulullah  memberikan kelonggaran kepada tiga orang atau dalam tiga keadaan. Selain itu hukumnya haram sehingga apa yang dia makan dari hari hasil meminta minta itu dihukumi haram.

Rasulullah bersabda : “Wahai Qabishah. Sesungguhnya meminta minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang :

 (1) Seseorang yang menanggung hutang orang lain, sampai ia melunasinya, kemudian berhenti .

(2) Seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya ia boleh meminta minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan

 (3) Seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan : Si Fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup. Ia boleh meminta minta sampai dapat sandaran hidup. Meminta minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah, adalah haram dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.  (H.R Imam Muslim).

Namun demikian, juga dikecualikan dari hadits ini, jika seorang anak meminta kepada orang tuanya atau seorang istri meminta kepada suaminya maka tentu hal ini diperbolehkan karena orang tua berkewajiban menafkahi anaknya dan seorang suami berkewajiban memberi nafkah istrinya. Begitu juga jika  orang tua meminta kepada anaknya karena hakekatnya harta anak itu  adalah milik orang tuanya. Jadi orang tua meminta kepada anaknya itu diperbolehkan. 

Rasulullah bersabda : “Anta wa maaluka li abiika” Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu (H.R Ibnu Majah dan at Thabrani).

Sebagai penutup dinukilkan perkataan Ibnu Taimiyah. Beliau berkata :

Pertama : Seorang hamba mesti medapatkan rizki dan ia membutuhkan rizki.

Kedua : Apabila ia meminta rizki kepada Allah maka ia menjadi hamba Allah dan dia butuh kepada-Nya.

Ketiga : Apabila dia meminta kepada makhluk maka ia menjadi hamba makhluk dan butuh kepadanya. 

Mudah mudahan ada manfaatnya untuk kita semua. Wallahu A’lam.  (289)  



JIWA YANG TENANG



JIWA YANG TENANG

Oleh : Azwir B. Chaniago

Surat al Fajr adalah surat ke 89 dalam al Qur anul Kariim. Surat ini terdiri dari 30 ayat dan pada ayatnya yang 27 dan 28 Allah berfirman : “Yaa aiyatuhan nafsul muthma-innah. Irji’ii ilaa rabbiki raadhiyatan mardhiyah” Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya.

Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin berkata : Allah menutup surat ini dengan perkara yang membuat hati (seorang mukmin) menjadi senang dan dada (nya) menjadi lapang. Selanjutnya Syaikh menjelaskan :

Pertama : Kembalilah kepada Rabb-mu…, perkataan ini  kelak akan dikatakan kepada seorang mukmin pada detik detik terakhir dari kehidupannya di dunia. Akan dikatakan kepada ruhnya : Keluarlah wahai jiwa yang tenang, keluarlah untuk menemui rahmat Allah dan keridhaan-Nya. Maka seketika  itu ruh akan merasa berbahagia dan dengan mudahnya akan berpisah dari raganya. Hal itu karena berita gembira yang diterimanya tentang kenikmatan yang (jauh) lebih hebat dari segala kenikmatan dunia yang akan segera dirasakannya.

(Yaitu) sungguh suatu kenikmatan yang tidak dapat tergambar dalam otak dan pemikiran manusia. Allah berfirman : “Falaa ta’lamu nafsun maa ukhfiya lahum min qurrati a’yunin jazaa-an bimaa kaanuu ya’maluun” Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (Q.S as Sajdah 17)

Kedua : Jiwa yang tenang, maksudnya adalah jiwa yang beriman dan selamat. Sebab anda tidak akan pernah mendapati jiwa yang lebih tenang dari jiwa seorang mukmin selama lamanya. Seorang mukmin itu berjiwa baik dan tenang. Bahkan Rasulullah kagum terhadap kepribadian seorang mukmin. 

Rasulullah bersabda : “’Ajaban li amril mu’minini inna amrahu kullahu lahu khairun, wa laisa dzaalika li ahadin illaa lil mu’minin, in ashabat-hu sarraa-u syakara, fakaana khairal lahu, wain ashabat-hu dharraa-u shabara fakaana khairal lahu.” Memang sangat menakjubkan urusan orang mukmin itu, karena semua urusannya adalah baik, dan ini tidak akan terjadi pada seorangpun kecuali pada orang mukmin. Jika mendapat kesenangan dia bersyukur, maka yang demikian itu adalah lebih baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan dia bersabar, maka yang demikian itu adalah lebih baik  baginya. (H.R Imam Muslim).  
 
Seorang mukmin akan selalu tenang dan ridha dengan ketentuan Allah dan takdir-Nya. Dia tidak marah ketika ditimpa musibah. Tidak menjadi sombong dan lupa diri jika mendapatkan kenikmatan. Justru dia akan selalu bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika menerima cobaan. Maka dengan demikian anda akan mendapati seorang mukmin itu selalu tenang. 

Jadi, nafsul muthma-innah itulah jiwanya orang orang yang mendapatkan ketenangan selama di dunia dan akan selamat dari adzab Allah pada Hari Kiamat. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh al Utsaimin).

Wallahu A’lam.   (288)