Rabu, 26 Juli 2023

KELIRU JIKA USAHA MENCARI DUNIA DAN AKHIRAT SEIMBANG

 

KELIRU JIKA USAHA MENCARI DUNIA DAN AKHIRAT SEIMBANG

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, hamba hamba Allah yang cerdas tidak akan mencari dunia seimbang dengan akhirat  atau fifty fifty. Dunia itu fana atau sementara sedangkan akhirat itu baqa atau abadi. Oleh karena itu dalam menjalani kehidupan di dunia hamba hamba Allah yang cerdas PASTILAH  MENGUTAMAKAN BERBUAT UNTUK MENDAPATKAN AKHIRAT YANG BAQA.

Selain itu perhatikanlah ayat al Qur an dan Hadits berikut ini yang menjelaskan keutamaan akhirat disbanding dengan dunia :

(1) Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya bahwa akhirat itu (jauh)  lebih baik. Allah Ta’ala berfirman : 

  وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

Dan sungguh yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan. (Q.S adh Dhuha 4).

Syaikh Utsaimin berkata : Yakni (akhirat) lebih baik dari dunia karena di akhirat terdapat kenikmatan yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. (Tafsir Juz 'Amma).

(2) Ketahuilah bahwa dunia itu hanyalah permainan. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir ?. (Q.S al An’am 32).

(3) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat ?. (H.R Imam Muslim).

Selain itu ketahuilah bahwa dunia bukan hanya sekedar rendah dan tidak berharga tetapi dilaknat. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam mengingatkan perkara ini dalam sabda beliau :

 أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِـيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُـتَـعَلِّـمٌ

Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada didalamnya, kecuali (1) Dzikir kepada Allah dan (2) Ketaatan kepada-Nya, (3) Orang orang yang berilmu atau (4) Orang yang mempelajari ilmu. (H.R Imam at Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abdil Barr. Hadits ini Hasan).

Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu  dalam salah satu khutbah yang  disampaikan di akhir-akhir umur beliau, beliau berkata : Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memberikan dunia kepada kalian agar kalian dapat mencari akhirat dengannya. Dan tidaklah Allah memberikan dunia agar kalian condong kepadanya.

Sungguh, dunia akan binasa sementara akhirat akan abadi. Janganlah dunia yang fana ini membuat kalian menjadi sombong dan jangan pula (dunia ini) menyibukkan kalian dari yang abadi (akhirat).

Pilihlah oleh kalian yang baqa daripada yang fana !. Karena dunia ini akan terputus dan sesungguhnya tempat kembali hanya kepada Allah Ta'ala. (Taariikh Madiinah Dimisyq).

Nah intinya, ketika ada dua hal YANG INGIN DIPEROLEH. Satu diantaranya memiliki keutamaan yang SANGAT BANYAK maka seharusnya cara mendapatkannya  atau pengorbanan untuk mendapatkannya HARUSLAH JUGA JAUH LEBIH BESAR. Tidak pas atau keliru berat kalau digunakan istilah fifty fifty atau seimbang KETIKA MENCARI DUNIA DAN MENCARI AKHIRAT.

Wallahu A'lam. (3.058).

Selasa, 25 Juli 2023

SETELAH SALAM DIANJURKAN TETAP DITEMPAT SHALAT BEBERAPA SAAT

 

SETELAH SALAM DIANJURKAN TETAP DITEMPAT SHALAT BEBERAPA SAAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setelah mengucapkan salam sebagai tanda selesai melakukan shalat, terutama shalat fardhu sangat dianjurkan untuk tetap berada ditempat shalat beberapa saat. Jangan tergesa gesa meninggalkan tempat shalat. Gunakan waktu yang sangat baik ini untuk membaca dzikir setelah shalat.

Pada shalat shubuh gunakan untuk menambah dengan bacaan dzikir pagi dan pada shalat ashar gunakan untuk menambah dengan bacaan dzikir petang dan juga baik digunakan untuk ibadah ibadah lainnya yang disyariatkan seperti membaca al Qur an.

Memang agak sering kita menyaksikan sebagian saudara kita ada yang terburu buru meninggalkan tempat shalat setelah salam. Ketahuilah bahwa  sungguh sangat banyak keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba yang tetap tinggal ditempat shalat beberapa saat, diantaranya adalah :

Pertama : Mendapat ampunan dosa. Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barangsiapa bertasbih (mengucapkan Subhanallah) di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali, bertahmid (mengucapan Alhamdulillah) sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar) sebanyak 33 kali lalu sebagai penyempurna (bilangan) 100 ia mengucapkan : ‘Laa ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir (tiada yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka Aku akan mengampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak BUIH DILAUTAN. (H.R Imam Muslim)

Kedua : Mendapat doa dari malaikat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah  Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

المَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلاَّهُ الَّذي صَلَّى فِيهِ مَا لمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ

Para malaikat terus mendoakan salah seorang di antara kalian selama dia berada di tempat shalatnya yang dia shalat di tempat itu, selama dia tidak berhadats. Para Malaikat berdoa dengan mengucapkan : Ya Allah ampunilah orang ini, Ya Allah rahmatilah dia. (H.R Imam Bukhari)

Di dalam hadis ini disebutkan bahwa jika seseorang selesai melaksanakan shalat, namun dia tidak beranjak dan justru menetapi majelis tempat shalat nya tersebut, lalu menyibukkan dirinya dengan berzikir, membaca Al-Qur’an, tidak mengganggu orang lain, tidak melakukan ghibah dan tidak berhadats, maka selama itu pula malaikat senantiasa mendoakannya dan mengulang ulangi doanya.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata : Entah baginya tetap duduk di tempat dia shalat di dalam masjid atau berpindah. (Fathul Bari)

Oleh karena itu sungguh merugi orang orang terburu buru meninggalkan tempat shalat setelah salam. Mungkin mereka terburu buru karena ingin mengejar perkara dunia yang memang terkadang sangat menggiurkan bagi sebagian orang. Wallahu A'lam. (3.057)

 

 

Senin, 24 Juli 2023

JANGAN BIARKAN HANDPHONE MERUSAK TATA KESOPANAN

 

JANGAN BIARKAN HANDPHONE MERUSAK TATA KESOPANAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Perkembangan tekhnologi informasi dan komunikasi memang sudah sangat hebat, diantarnya seperti handphone dan semacamnya. Sungguh kita telah mengambil manfaat yang SANGAT BANYAK dalam hal ini. Kita telah mendapat banyak kemudahan dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi.

Tetapi memang segala sesuatu yang bermanfaat umumnya juga menyertakan kekurangan jika tidak bijak dalam menggunakannya. Ketahuilah ketika kita tidak bijak dalam memanfaat handphone dan semacamnya maka bisa jadi MERUSAK TATA KESOPANAN BERGAUL DAN BERBICARA baik dalam keluarga atau dengan masyarakat umumnya. Ujung ujungnya bisa jadi kita disebut sebagai tidak sopan ataupun kurang akhlak.

Sungguh perkara ini termasuk bagian dari akhlak seorang beriman yaitu hendaklah bergaul dengan akhlak yang baik. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik. (H.R Imam Ahmad, at Tirmizi dan yang selainnya).

Kalau kita perhatikan memang diantara orang orang di zaman ini  ada yang  telah kehilangan sebagian tata kesopanannya yaitu hampir tak pernah   fokus dalam  bergaul dan berbicara dengan teman duduknya TERSEBAB LEBIH FOKUS KEPADA HANDPHONE. Seolah olah dia lebih menghargai dan menghormati handphonenya dari pada teman bicaranya. Bukankah ini merupakan kerusakan dalam tata kesopanan ?.

Sungguh tentang TATA  KESOPANAN DAN BERGAUL DAN BERBICARA dengan orang lain ADA BAIKNYA kalau kita perhatikan nasehat ulama ulama terdahulu, diantaranya :

(1) Ibnu Abbas, beliau berkata : Teman dudukku (teman bicaraku) mempunyai tiga hak yang menjadi kewajibanku, aku arahkan pandanganku padanya jika berbicara, aku luaskan tempat duduknya jika ia akan duduk, aku dengarkan seksama jika ia berbicara. (‘Uyuunul Akhbaar).

(2) Imam Hasan al Bashri, beliau berkata : Apabila engkau sedang duduk berbicara dengan orang lain, hendaknya engkau bersemangat mendengar melebihi semangat engkau berbicara. Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Janganlah engkau memotong pembicaraan orang lain. (Al Muntaqa).    

Wallahu A'lam. (3.056).     

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 22 Juli 2023

MENJAGA BAHTERA RUMAH TANGGA AGAR TIDAK KANDAS

 

MENJAGA BAHTERA RUMAH TANGGA AGAR TIDAK KANDAS

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kita terkadang mendengar suatu bahtera rumah tangga kandas dalam perjalanannya dengan berbagai sebab. Sungguh jika ini terjadi terjadi akan mendatangkan banyak kerugian bagi pasangan suami istri. Dan yang paling merasakan akibatnya adalah anak anak. Sungguh kasihan mereka.

Sebenarnya tidak ada pasangan keluarga yang ingin rumah tangganya kandas diperjalanan meskipun kadang terjadi karena perkara perkara yang kecil tetapi menjadi besar.

Ketahuilah bahwa ada beberapa cara yang sangat dianjurkan dalam memelihara keutuhan rumah tangga. Diantaranya adalah : 

Pertama : Tetap siap menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.

Orang bijak berkata : Tak ada manusia yang sempurna kebaikannya dan sebaliknya tak ada pula manusia yang sempurna kekurangannya.

Seseorang bisa jadi akan melihat kekurangan dari pasangannya.  Ada kekurangan yang serius dan ada pula yang tidak terlalu berat.

Tetapi bagaimanapun kekurangan kekurangan itu umumnya bisa diperbaiki untuk menjadi lebih baik. Bahkan bisa jadi kekurangan itu merupakan ladang pahala  jika  disikapi dengan sabar dan sama sama ingin memperbaiki.

Janganlah seseorang yang hanya melihat kekurangan pasangannya bahkan tak mau pula melihat kekurangan dirinya, egois jadinya.  Biasanya ini  menjadi landasan pertama terjadinya  kericuhan dalam rumah tangga. Allah Ta’ala berfirman :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا

Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak. (Q.S an Nisa’ 19).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini : Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma tentang ayat ini, “Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah subhanahu wa Ta’ala berikan rezeki padanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak. (Tafsir Ibnu Katsir).

Sungguh Rasulullah juga telah mengajarkan bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi kekurangan pasangannya. Beliau bersabda :   

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain. (H.R Imam Muslim)

Imam an Nawawi berkata : Hendaknya seorang laki laki jangan membenci wanita, Jika dia mendapati pada wanita ada perangai yang tidak disukai maka pasti dia akan mendapati perangai lain yang dia sukai, seperti misalnya parasnya kurang cantik tetapi dia taat dalam beragama. Atau  bagus akhlaknya, penyayang, selalu menjaga diri dan sebagainya. (Syarh Shahih Muslim).

Kedua : Saling mengingatkan dan menasehati dengan lemah lembut.

Jika seseorang menemui kekurangan pasangannya maka berilah NASEHAT DENGAN LEMAH LEMBUT. Hindari perkataan kasar dan kalimat yang buruk. Berlemah lembutlah.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kalau kelembutan masuk pada sebuah rumah tangga maka itu pertanda adanya kebaikan. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا عَائِشَةُ ارْفُقِي, فَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا دَلَّهُمْ عَلَى بَابِ الرِّفْقِ

Wahai Aisyah lemah lembutlah. Sesungguhnya jika Allah menghendaki kebaikan pada sebuah keluarga Allah  akan menunjuki mereka menuju pintu kelembutan.(H.R Imam Ahmad)

Imam Muslim  meriwayatkan,  dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan.

Ketiga : Senantiasa saling mendoakan dalam kebaikan.

Sangatlah dianjurkan untuk saling mendoakan diantara pasangan suami istri dan anak anak. Diantara doa yang disebutkan dalam al Qur an adalah :

رَبَّنَا هَب لَنَا مِنْ أَزْوَجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْينٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S al Furqan 74).

Lazimkanlah membaca doa ini dan doa doa lainnya untuk saling memohon kebaikan dalam rumah tangga. Wallahu A'lam. (3.055).

 

 

Jumat, 21 Juli 2023

MEMBERI TAUSIYAH DENGAN CANDA DAN TERTAWA TAWA ?

 

MEMBERI TAUSIYAH DENGAN CANDA DAN TERTAWA TAWA ?

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Menyebarkan ilmu syar’i adalah termasuk dalam kegiatan saling berwasiat kepada kebenaran yang diperintahkan Allah Ta’ala , agar tidak menjadi orang yang merugi.   Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ   وَٱلْعَصْرِ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.  (Q.S al ‘Ashr 1-3)

Sungguh,  Allah Ta’ala  memuji  hamba hamba-Nya yang  berdakwah fii sabiilillah. Allah Ta'ala berfirman : 

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Dan siapakah yang yang lebih baik perkataannya daripada orang orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal shalih dan berkata, sungguh aku termasuk orang orang muslim.  (Q.S Fussilat 33).

Kemudian datang pertanyaan : Apakah ketika memberi tausiyah atau berdakwah perlu dilakukan dengan kalimat kalimat candaan sehingga membuat sebagian hadirin merasa senang bahkan banyak tertawa ?.

Sungguh saudaraku, salah satu tujuan berdakwah ataupun memberi tausiyah adalah untuk membuat rasa takut para hamba kepada Allah Ta'ala agar para hamba patuh kepada perintah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Lalu ketika pesan untuk takut kepada Allah Ta'ala perlu disampaikan dengan cara candaan ataupun tertawa tawa.

Ketahuilah bahwa tidak setiap pendengar tausiyah mampu menyerap apa yang disampaikan disebabkan terlalu banyak canda dan hal lucu yang ia sampaikan. Boleh jadi juga banyak jamaah terfokus pada canda dan lucu lalu lupa ilmu yang ingin didapatnya.

Tentang melucu dalam berdakwah (ceramah, pidato) ini, Asy-Syaikh Prof. DR. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya oleh seseorang : Sebagian da’i menjadikan tertawa sebagai metode dan sarana mendakwahi manusia agar mereka mendapat hidayah dan bertaubat kepada Allah dengan sebab ceramah dan kata-kata yang mereka sampaikan. Apa hukum cara seperti itu dalam berdakwah.

Maka Syaikh menjawab : Tidak akan pernah candaan dan tertawa tawa menjadi metode dakwah kepada Allah selamanya. Dakwah kepada Allah hendaklah dengan al Quran dan as Sunnah, serta nasihat dan peringatan.

Adapun candaan dan tertawaan maka ini mematikan hati. Manusia pun tertawa dan bercanda, mereka datang ke tempat ini bukan karena dakwah, tetapi untuk hiburan, maka ini tidak benar selamanya, ini bukan cara berdakwah tapi cara menghibur.  (Al Ijaabaat al Muhimmah).

Sebagai penutup tulisan ini dinukil dua hadits tentang ajakan untuk tidak banyak tertawa sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam :

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati. (H.R  at Tirmizi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Dan juga Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah pula mengingatkan kita semua dalam sabda beliau :

وَلَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. (H.R Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.054)

 

 

 

 

   

Selasa, 18 Juli 2023

PENJELASAN ULAMA BESAR SAUDI TENTANG PERAYAAN TAHUN BARU HIJRIYAH

 

PENJELASAN ULAMA BESAR SAUDI TENTANG PERAYAAN TAHUN BARU HIJRIYAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa hari raya atau hari yang dirayakan dalam Islam ada dua sebagaimana penjelasan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ ىوَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata : Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr). H.R an Nasa’i dan Imam  Ahmad.

Lalu bagaimana dengan perayaan hari hari lainnya atau merayakan event tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang di zaman ini. Tentang perkara ini, sangat baik kalau kita memperhatikan penjelasan DUA ORANG ULAMA KIBAR SAUDI YANG MUMPUNI ILMUNYA, yaitu :

Pertama : Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah.

Beliau berkata : Perayaan malam isra’ mi’raj, malam nisfu Sya’ban, perayaan tahun baru hijriyah (peringatan hijrah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam), atau fathu Makkah dan perang Badar, semua itu termasuk bid’ah (mengada-ada dalam agama), karena perkara-perkara ini terjadi di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam namun BELIAU SENDIRI TIDAK MERAYAKANNYA.

Andaikan perayaan itu termasuk (cara) pendekatan diri kepada Allah Ta’ala tentunya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah merayakannya, atau memerintahkan para sahabat untuk merayakannya atau para sahabat sendiri yang merayakannya sepeninggal beliau, maka tatkala Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat tidak merayakannya kita pun mengetahui bahwa itu adalah bid’ah atau tidak disyari’atkan.

Dan perayaan-perayaan ini tidaklah dibenarkan walau tokoh-tokoh tertentu melakukannya, atau negeri tertentu melakukannya, semua itu bukan dalil yang membolehkan, dalil itu hanyalah ucapan Allah dan Rasul-Nya, atau atau ijma’ Salaf umat ini atau amalan al Khulafa ar Rasyidin radhiyallahu’anhum". (Fatawa Nuur ‘alad Darbi).

Kedua : Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin rahimahullah.

Beliau berkata : Wahai kaum muslimin, sungguh di hari-hari ini kita menyambut pergantian tahun baru Hijriyyah. Bukanlah termasuk sunnah (ajaran Nabi), kita mengadakan hari raya ketika memasuki tahun baru atau membiasakan mengucapkan selamat tahun baru. (Adh-Dhiya al Lami).

Selain itu ketahuilah bahwa tentang perayaan atau memperingati tahun baru hijriyah maka sebenarnya yang paling berkompeten merayakan tahun baru hijriyah adalah Khalifah Umar bin Khaththab. Kenapa ?, karena beliaulah INISIATOR ADANYA TAHUN BARU HIJRIYAH.

Tetapi tak ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah merayakan datangnya tahun baru hijriah selama beliau menjadi khalifah. Kenapa ?, karena memang tidak disyariatkan. Kalau itu baik tentu beliau telah mengamalkannya dan juga bisa diikuti oleh  khalifah ataupun imam imam dan orang orang shalih setelah beliau. 

Wallahu A'lam. (3.053)

 

Senin, 17 Juli 2023

JIKA HATIMU KERAS ITU TERMASUK MUSIBAH

 

JIKA HATIMU KERAS ITU TERMASUK MUSIBAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

 Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati. (H.R Imam Bukhari no. 52 dan Imam Muslim no. 1599).

Ketahuilah bahwa salah satu bentuk hati yang rusak adalah HATI YANG KERAS bahkan lebih keras dari batu. Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya :  

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras, sehingga (hatimu) seperti batu bahkan lebih keras. (Q.S al Baqarah 74).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala menerangkan kekerasan hati mereka yaitu bahwa ia “seperti batu” (bukan)  daripada besi karena besi dan timah apabila dibakar niscaya meleleh. Berbeda dengan batu, dan firman-Nya : “Atau lebih keras lagi”, maksudnya bahwa ia tidaklah terbatas hanya sekeras batu dan (atau) tidaklah bermakna “bal” (bahkan). Tafsir Taisir Karimir Rahman.

Nah, ketika seseorang memiliki hati yang keras maka itu adalah musibah bahkan lebih besar dari musibah berupa bencana alam, penyakit, kehilangan harta, kehilangan mata pencaharian dan yang lainnya. Malik bin Dinar rahimahullah berkata :

Tidaklah seorang hamba ditimpa dengan suatu musibah yang lebih besar daripada hati yang keras. (Shifatush Shafwah).

Ketahuilah bahwa  bila hati semakin mengeras dan membatu maka disebut sebagai musibah karena ciri hati yang keras   adalah : (1)  Sulit menerima kebenaran. (2) Senang dan  bahkan bangga dengan maksiat. (3) Melihat kebaikan sebagai keburukan dan melihat keburukan sebagai kebaikan. Akibatnya adalah  sulit untuk bertaubat. (4) Sangat berambisi dengan dunia dan lalai dengan  akhirat. (5) Merasa sangat berat jika diajak beribadah dan tidak memiliki keinginan untuk berbuat kebaikan.

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah selalu bermohon kepada Allah Ta'ala  agar diberi  kekuatan untuk menjaga hatinya agar tetap kokoh dengan agama Islam yang lurus ini. Diantara doa yang baik untuk diamalkan adalah :

‏اللَّهُمَّ يا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلبَيْ على دِيْنِكَ،

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (H.R Imam Ahmad).

Wallahu A'lam. (3.052).

 

BERTAKWA DAN MEMOHON AMPUN KETIKA DIDATANGI KESULITAN

 

BERTAKWA DAN MEMOHON AMPUN KETIKA DIDATANGI KESULITAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini berbagai keadaan akan silih berganti mendatangi hamba hamba Allah. Ada keadaan senang, susah, gembira, sedih, sulit, mudah dan yang lainnya. Ketahuilah semua itu adalah ketetapan dari Allah Ta'ala yaitu sebagaimana firman-Nya :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad). Tidak akan menimpa kami melainkan APA YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH BAGI KAMI. (Q.S at Taubah 51).

Ketika didatangi keadaan  sedih yang berat, sulit dan susah mencari jalan keluar, sungguh itu adalah ujian bagi orang orang beriman. Ketahuilah bahwa itu adalah ujian. Dan sungguh Allah Ta'ala akan menguji hamba hamba-Nya dengan berbagai keadaan. Allah Ta'ala berfirman : 

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan. (Q.S al Anbiya 35)

Ibnu Zaid berkata : Kami akan menguji mereka dengan sesuatu yang mereka sukai dan mereka benci. Kami akan menguji mereka dengan semua itu untuk mengetahui tingkat kesyukuran mereka terhadap hal hal yang mereka cintai dan tingkat kesabaran mereka terhadap hal hal yang mereka benci. (Tafsir Ibnu Jarir at Thabari).

Namun demikian  ketika diberi ujian yang tidak menyenangkan maka hamba hamba Allah WAJIB BERSABAR. Selain itu ketahuilah bahwa sungguh Allah Ta'ala  memberi petunjuk atau jalan keluar ketika didatangi kesulitan, yaitu :     

Pertama : Dengan tetap menjaga takwa . Allah Ta'ala berfirman : 

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan  jalan keluar baginya, Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Q.S ath Thalaq  2-3).

Ibnu Mas’ud berkata  bahwa bertakwa dengan sebenar benar takwa adalah : (a) Taat kepada Allah dan tidak bermaksiat. (b) Ingat kepada-Nya dan tidak lupa. (c) Bersyukur kepada-Nya, tidak kufur. Inilah takwa. 

Kedua : Dengan banyak beristighfar.

Perkara ini dijelaskan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam sabda beliau : 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah akan menjadikan JALAN KELUAR PADA SETIAP KESULITAN, dan kelapangan untuk setiap kesempitan serta memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. (H.R Imam Ahmad).

Jadi, bertakwa kepada Allah Ta'ala dan banyak memohon ampun adalah termasuk jalan yang membuka pintu kemudahan jika seseorang mengalami kesulitan. Wallahu Alam. (3.051)

 

Minggu, 16 Juli 2023

HAMBA ALLAH TERUS MENERUS MEMOHON AMPUN

 

HAMBA ALLAH TERUS MENERUS MEMOHON AMPUN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, hamba hamba Allah  berbuat dosa bahkan berbuat dosa malam dan siang. Allah Ta'ala menjelaskan hal ini  dalam hadits qudsi berikut ini :

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ 

Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa di malam dan siang hari. (H.R Imam Muslim).

Oleh sebab itu maka hamba hamba Allah mestilah terus menerus memohon ampun. Jangan lalai memohon ampun disetiap waktu. Ketahuilah bahwa memohon ampun tentulah dengan sangat berharap dosa dosanya diampuni Allah Ta'ala.

Selain itu ketahuilah bahwa memohon ampun mendatangkan banyak keutamaan, diantaranya adalah :

Pertama : Orang yang selalu memohon ampun tak akan diadzab. Allah Ta’ala enjelaskan dalam firman-Nya : 

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka sedang mereka (masih) memohon ampunan. (Q.S al Anfaal 33). 

Ayat ini sejalan pula dengan sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam yaitu :  

العبْدُ آمنٌ منْ عذابِ الله عَزّ وجلَّ ما استغفر

Hamba akan aman dari ADZAB ALLAH TA'ALA selama dia memohon ampun kepada Allah Ta'ala. (H.R Imam Ahmad).

Kedua : Diberi jalan keluar terhadap setiap kesulitannya. Perkara ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam : 

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa memperbanyak istighfar niscaya Allah akan menjadikan jalan keluar pada setiap kesulitan, dan kelapangan untuk setiap kesempitan serta memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. (HR. Imam Ahmad).

Ketiga : Berbahagia dan beruntung hamba  yang mendapati banyak istighfar dalam catatan amalnya :

(1) Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

طُوْبَى ِلمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا.

Sangat beruntunglah orang orang yang menemukan pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar. (H.R Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

(2) Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalla bersabda : 

مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari Kiamat) hendaklah ia (banyak) beristighfar kepada Allah.(H.R ath Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Wallahu A'lam. (3.050)