Senin, 31 Mei 2021

RASULULLAH MENGAJARKAN DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR

 

RASULULLAH MENGAJARKAN DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap waktu dan kesempatan, hamba hamba Allah  senantiasa berdoa, memohon kebaikan kepada Allah Ta’ala bagi dunia dan akhiratnya. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala melalui Rasul-Nya mengingatkan bahwa ada beberapa waktu, tempat dan keadaan yaitu DOA SEORANG HAMBA LEBIH MUDAH DIIJABAH. Diantaranya adalah di akhir shalat yaitu setelah tasyahud akhir sebelum salam, sebagaimana hadits berikut ini : 

قيل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أي الدعاء أسمع قال جوف الليل الآخر ودبر الصلوات المكتوبات

Ada yang bertanya : Wahai Rasulullah, kapan doa kita didengar oleh Allah Ta’ala ?. Beliau bersabda : Diakhir malam dan diakhir shalat wajib.  (H.R at Tirmidzi).

Dalam hal ini Rasulullah mengajarkan beberapa doa yang baik untuk diamalkan  dalam shalat yaitu SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM, diantaranya adalah :

Pertama : Diriwayatkan dari Abu Hurairah 

وعن أَبي هريرة – رضي الله عنه – : أنَّ رسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أرْبَعٍ ، يقول : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila salah seorang di antara kalian bertasyahud, hendaklah ia meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan mengucapkan, ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ADZAABI JAHANNAM, WA MIN ‘ADZABIL QABRI, WA MIN FITNATIL MAHYAA WAL MAMAAT, WA MIN SYARRI FITNATIL MASIIHID DAJJAAL’ (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari kejahatan fitnah al Masih ad Dajjal). (H.R Imam Muslim)

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam berdoa dengan doa ini :

وكان يدعو به فيي تشهده

(Dan Rasulullah) berdoa dengan doa ini dalam tasyahud (akhir) beliau. (H.R Imam Ahmad dan Abu Daud)

Kedua : Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.

Dari Ali bin Abi Thalib berkata : Sesungguhnya Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam membaca doa antara tasyahud dan salam :

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah! Ampunilah dosa dosaku yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau. (H.R Imam Muslim)

Ketiga : Diriwayatkan dari Abu Bakar ash Shiddiq

Abu Bakar ash Shiddiq berkata kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : Ajarkanlah doa yang AKU BACA DALAM SHALATKU. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, ucapkanlah :

اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ

Ya Allah sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Doa doa ini berasal dari Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Oleh sebab itu sangatlah baik kalau kita amalkan. Insya Allah ada manfaatnya. Wallahu A’lam. (2.317)

 

 

BANYAK HARTA BELUM TENTU TANDA SESEORANG DICINTAI ALLAH

 

BANYAK HARTA BELUM TENTU TANDA SESEORANG DICINTAI ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa  Allah Ta’ala memberi rizki berupa harta kepada hamba hamba-Nya sesuai kehendak-Nya.  Ada hamba hamba-Nya diberi rizki dalam jumlah yang banyak  dan ada pula diberi tidak banyak. Allah Ta’ala berfirman :

أَوَلَمْ يَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki) ?. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Q.S az Zumar 52).

Syaikh as Sa’di berkata : Mereka terperdaya dengan harta benda dan mereka mengklaim berdasarkan berdasarkan kebodohannya bahwasanya (nikmat yang diberikan kepada mereka itu) membuktikan baiknya kondisi pemiliknya. Maka Allah Ta’ala menunjukkan kepada mereka bahwa rizki tidak menunjukkan kepada yang demikian. Dan sesungguhnya Allah : “Melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki”. Diantara hamba hamba-Nya yang shalih ataupun yang durhaka. Jadi rizki Allah itu diberikan (dalam keadaan) sama kepada semua manusia (yang shalih dan yang durhaka) SEDANGKAN IMAN DAN AMAL SHALIH diistimewakan hanya diberikan kepada manusia manusia terbaik. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Jadi, ketika seseorang diberi harta yang banyak bukanlah satu tanda Allah Ta’ala  menyayangi atau mencintainya. Memang terkadang ada manusia yang berkata : Allah sayang kepadaku dan aku diberi harta yang sangat banyak. Ini perkataan yang keliru.

Ketahuilah bahwa tahun tahun awal Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dan sahabat hijrah ke Madinah hampir semua berada dalam keadaan susah dan serba kekurangan harta. Bahkan banyak diantara sahabat Muhajirin  yang dibantu kebutuhannya oleh sahabat Anshar. Keadaan ini tentu bukanlah karena Allah Ta’ala tidak menyayangi Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam beserta para sahabat.

Sementara itu orang orang kafir di Madinah terutama kaum Yahudi hidup dalam keadaan serba cukup bahkan berlebih dalam hal harta. Dan juga kerajaan kerajaan besar kaum kafir saat itu seperti Romawi dan Persia hidup dalam suasana penuh kemewahan. Keadaan ini pastilah bukan karena Allah Ta’ala sayang kepada mereka kaum kafir ini.

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah menjelaskan siapa diantara hamba hamba yang disayangi dan dicintai-Nya, diantaranya adalah :

Pertama : Orang orang  yang sabar. Allah Ta’ala berfirman : 

وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari (pengikut) nya yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah kepada musuh. DAN ALLAH MENCINTAI ORANG ORANG YANG BERSABAR. (Q.S Ali Imran 146).

Kedua : Orang orang yang bertaubat. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menyeru manusia agar terus menerus memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman : 

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang orang yang beriman, agar kamu beruntung. (Q.S an Nuur 31).

Dan sungguh Allah mencintai orang yang taubat yaitu sebagaimana firman-Nya : 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sungguh, ALLAH MENCINTAI ORANG YANG TAUBAT dan orang yang mensucikan diri. (Q.S al Baqarah 222)

Ketiga : Orang orang yang berlaku adil. Allah Ta’ala memerintahkan orang beriman untuk berlaku adil sebagaimana firman-Nya : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ

Wahai orang orang yang beriman !. Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah. (ketika) Menjadi saksi dengan adil. (Q.S al Maidah 8).

Allah mencintai orang orang yang berlaku adil. Allah Ta’ala berfirman : 

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Sesungguhnya ALLAH MENCINTAI ORANG ORANG YANG (BERLAKU) ADIL. (Q.S al Maidah 42)  

Keempat : Orang orang yang berbuat baik. Allah Ta’ala berfirman :

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan ALLAH MENCINTAI ORANG YANG BERBUAT KEBAIKAN. (Q.S al Maidah 134).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.316)

 

 

 

Jumat, 28 Mei 2021

HAMBA ALLAH HARUS TEGAR MENYERU KEPADA KEBAIKAN

 

HAMBA ALLAH HARUS TEGAR MENYERU KEPADA KEBAIKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Barang dagangan yang berkualitas baik, harganya pantas serta dibutuhkan orang banyak BIASANYA TAK SULIT menyeru atau mengajak konsumen untuk membelinya. Tetapi ternyata tidak begitu mudah menyeru manusia kepada kebaikan dalam menjalani hidup ini.

Meskipun yang diserukan adalah kebaikan dan bermanfaat bagi keselamatan dirinya di dunia dan di akhirat bahkan disampaikan dengan  landasan atau sandarannya yang shahih menurut syariat, ternyata tidaklah mudah diterima oleh sebagian orang. Ketika diseru atau diajak kepada kebaikan sangatlah banyak hambatannya.

Diantaranya : (1) Ada orang orang yang suka membantah kebenaran dengan akalnya yang pendek. (2) Ada orang tidak suka diseru kepada kebaikan karena sudah terlalu lama bergelimang dengan maksiat dan dosa. (3) Ada orang yang tak suka untuk diseru kepada kebaikan karena akan mengganggu kepada KEPENTINGAN DUNIAWINYA seperti takut kehilangan HARTA, PANGKAT, KEDUDUKAN DAN JABATAN.

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah yang merasa punya kewajiban dan suka  menyeru atau mengajak manusia KEPADA KEBAIKAN hendaklah tetap tegar,  bersabar dan tak putus asa. Teruslah sampaikan kebenaran sesuai dengan situasi dan keadaannya. Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya :

وَذَكِّرْ فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

 

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S adz Dzariyat 55).

 

Dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Dan janganlah berpalingmu dari mereka menghalangimu untuk menasihati dan memperingatkan mereka. Nasihatilah dan ingatkan mereka, karena mengingatkan itu akan membawa manfaat bagi orang yang beriman kepada Allah. (Kementrian Agama Saudi Arabia).

 

Ketahuilah bahwa hambatan bahkan permusuhan yang sangat hebat DALAM MENYERU KEPADA KEBAIKAN TERNYATA TELAH DIALAMI OLEH PARA NABI DAN RASUL SERTA PARA ULAMA YANG MENITI DI JALAN DAKWAH DAN MENYERU KEPADA KEBAIKAN.

 

Diantara contohnya adalah dari kitab sirah Nabawiyah kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam sebelum diutus  sebagai Rasul, beliau sangat dihormati dan disenangi oleh kaumnya dan penduduk Makkah umumnya. Beliau bahkan diberi gelar ORANG YANG AMANAH DAN TERPERCAYA.

 

Tetapi ketika beliau berdakwah, menyeru kaumnya untuk menerima Islam dengan segala kebaikannya ternyata beliau dimusuhi oleh sebagian besar penduduk Makkah. Bahkan mereka memberi julukan yang buruk kepada beliau, diantaranya tukang sihir, pendusta, orang gila dan yang lainnya. Tetapi beliau tetap tegar dan bersabar dalam menyeru kepada kebaikan meskipun ada yang  berencana akan membunuh beliau.

 

Sebagian juru dakwah di zaman ini, yang menyeru kepada kebaikan  sering juga  mengalami hambatan dan tantangan bahkan ancaman. Tetapi semua itu belumlah seberat yang dialami oleh ulama ulama terdahulu apalagi yang dialami para Nabi dan Rasul.

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetaplah tegar dan bersabar ketika menyeru kepada kebaikan. Sungguh sangatlah banyak  keutamaan dan manfaat ketika seseorang menyeru kepada  kebaikan.  Diantaranya  adalah dia akan mendapat pahala sebanyak pahala orang yang mengikuti seruannya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

 

 مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِن الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

 

Barangsiapa mengajak kepada kebaikan  maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.  Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.(H.R Imam Muslim)

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

   مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

 

 Barangsiapa menunjukkan (manusia) kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya. (H.R Imam Muslim).     

 
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.315)