Sabtu, 30 September 2023

MANFAATKAN TIGA MACAM HARI DI DUNIA

 

MANFAATKAN TIGA MACAM HARI DI DUNIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh ketika menjalani hidup di dunia kita memiliki tiga macam atau tiga jenis hari yaitu hari yang telah lalu, hari ini dan hari yang akan datang. Semua hari itu mestilah kita ambil manfaat darinya, yakni :

Pertama : Hari kemaren yang sudah berlalu, sudah lewat.

Jadikan hari kemaren sebagai pengalaman. Lakukan introspeksi diri atau muhasabah. Seberapa banyak keburukan, dosa dan maksiat telah terjadi di hari kemaren. Perbanyak memohon ampun dan bertaubat.

Kedua : Hari ini, sekarang ini.

Kesempatan untuk memperbaiki diri. Memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Ambil pelajaran dari hari kemaren. Bersungguh sungguh dan bersegera untuk melakukan amal shalih hari ini bahkan detik ini.

Inilah kesempatan paling berharga untuk mempersiapkan bekal menuju negeri akhirat. Sungguh Allah Ta'ala mengingatkan : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman. Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Hasyr 18).

Ketiga : Hari yang akan datang.

Sungguh tak ada jaminan untuk seorang hamba  bisa bertemu dengan dengan hari yang akan datang. Bisa jadi hari esok hanya angan angan yang belum tentu dijangkau oleh umur kita.

Namun demikian tetaplah berusaha merencanakan untuk melakukan yang terbaik untuk hari yang akan datang terutama sekali untuk melakukan amal shalih yang lebih baik dari yang sebelumnya. Sungguh kita tidak tahu bahwa Allah Ta'ala masih memberi kita umur untuk beberapa waktu mendatang.

Sebagai penutup tulisan ini dinukil nasehat dari dua ulama terdahulu, yaitu :

(1) Imam Fudhail bin Iyadh berkata : Kemarin adalah sebuah pengalaman. Hari ini adalah amal. Dan esok adalah angan angan. (Az Zuhud al Kabiir).

(2) Imam Hasan al Bashri berkata : Dunia itu ada 3 hari   :  Pertama, Kemarin. Adapun kemarin telah pergi bersama dengan apa yang ada padanya. Kedua, Besok. Adapun besok (akan datang), maka barangkali kamu tidak bisa mendapatinya. Ketiga, Hari ini. Dan hari ini adalah milikmu, maka beramal-lah (dengan amalan yang baik) padanya. Az Zuhuud al Kabiir).

 

Wallahu A'lam (3.092).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 26 September 2023

MUSUH SELALU BERSEMANGAT UNTUK MERUSAK ISLAM

 

MUSUH SELALU BERSEMANGAT UNTUK MERUSAK ISLAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago


Semenjak Islam ini didakwahkan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam lebih kurang 1400 tahun yang lalu,  musuh musuh Islam telah berusaha untuk menghambat dakwah beliau. Tujuannya sangatlah jelas yaitu agar Islam ini menjadi lemah dan tak berkembang.

Selain itu, ketahuilah bahwa  orang orang kafir membelanjakan hartanya untuk menghalangi orang orang Islam dari jalan Allah.  Memang demikianlah keadaan yang kita saksikan di zaman ini. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ 

Sesungguhnya orang orang yang kafir itu, membelanjakan harta mereka untuk menghalang halangi (orang) dari jalan Allah. Q.S al Anfal 36). 

Upaya merusak dan melemahkan Islam terus berlangsung hingga saat ini termasuk di negeri kita yang penduduknya mayoritas Islam. Anehnya, di negeri kita, manusia yang  ingin melemahkan dan merusak Islam bukan hanya orang kafir tetapi dilakukan juga oleh orang orang yang mengaku Islam. KTP-nya Islam dan kalau mati tetap ingin mayatnya diselenggarakan secara Islam.

Mungkin, Allahu A’lam, mereka itu bisa (?) disebut sebagai orang munafik yang digambarkan oleh para ulama terdahulu.  Ibnu Juraij berkata : Orang munafik ialah orang yang omongannya atau bicaranya menyelisihi tindak-tanduknya, batinnya menyelisihi lahiriahnya, tempat masuknya menyelisihi tempat keluarnya, dan kehadirannya menyelisihi ketidakadaannya. (‘Umdah at-Tafsir).

Lalu kenapa mereka ingin melemahkan dan merusak Islam ?. Bisa jadi karena pemahamannya yang keliru tentang Islam. Kenapa bisa keliru ?. Bisa jadi terpengaruh oleh kemilaunya harta dunia, bergengsinya pangkat, jabatan, popularitas dan yang lainnya.

Bisa jadi juga karena SEBAGIAN MEREKA  memperdalam ilmu tentang Islam di negeri kafir dan disana mereka belajar Islam dari orang kafir pula. Setelah selesai belajar sudah dapat gelar, pulang ke tanah air. Lalu mulailah mereka memperlihatkan KEKELIRUAN BERAT mereka dalam memahami Islam. Diantaranya adalah dengan mengatakan dan mempromosikan bahwa semua agama sama.

Namun demikian ketahuilah bahwa Allah Ta'ala akan tetap memenangkan agama ini. Allah Ta'ala berfirman :

 يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفْوَٰهِهِمْ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ ٱلْكَٰفِرُونَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) dengan mulut  (ucapan ucapan) mereka tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang orang kafir membencinya. (Q.S ash Shaf 8).

Wallahu A'lam. (3.091)

Senin, 25 September 2023

POKOK PANGKAL KESELAMATAN ADALAH IMAN DAN SHALIH

 

POKOK PANGKAL KESELAMATAN ADALAH IMAN DAN SHALIH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, hamba hamba Allah dimanapun berada dalam keadaan bagaimanapun, BENAR BENAR SANGAT MENGINGINKAN KESELAMATAN DIRINYA DI DUNIA DAN DI AKHIRAT KELAK. Oleh karena itu hamba hamba Allah setiap saat berdoa memohon kepada Allah Ta'ala agar diberi keselamatan dirinya. Diantara doa yang SANGAT SERING DIBACA adalah doa   yang diajarkan Allah Ta'ala dalam surat al Baqarah 201. Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam sering sekali membaca doa ini : 

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dari Anas radhiyallahu anhu , ia berkata bahwa doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling sering diucapkan beliau  adalah : Ya Allah, Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. (H.R Imam Bukhari  dan Imam Muslim).

Tetapi selain itu ketahuilah bahwa kebaikan atau keselamatan di dunia dan di akhirat akan diperoleh dengan AMAL SHALIH YANG DILANDASI IMAN. Allah Ta'ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahal 97).

Imam Ibnu Katsir berkata : Inilah janji dari Allah Ta’ala bagi orang yang mengerjakan amal shalih, yaitu amal yang mengikuti al Qur an dan as Sunnah, baik laki laki maupun wanita yang hatinya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Amal yang diperintahkan itu telah disyariatkan dari sisi Allah, yaitu Dia akan memberinya kehidupan yang baik DI DUNIA  dan memberikan balasan DI AKHIRAT kelak dengan balasan yang lebih baik dari pada apa yang telah dikerjakannya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Tentang surat Nahal 97 ini, Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah berkata  : Allah Ta'ala menjamin ganjaran bagi orang BERIMAN DAN BERAMAL SHALIH berupa kehidupan yang baik di dunia serta ganjaran yang baik pada hari Kiamat. Mereka mendapat kehidupan yang paling baik di dua negeri tersebut. (Ad Daa' wad Dawaa')

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetaplah bersungguh sungguh melakukan amal shalih yang dilandasi iman yang kokoh sampai ajal datang. Inilah jalan keselamatan dan kebaikan, BUKAN SAJA DI AKHIRAT TETAPI JUGA DI DUNIA.

Wallahu A'lam. (3.090)

 

Sabtu, 23 September 2023

JAGA AGAR AGAMA KOKOH DALAM DIRI SAMPAI AKHIR HAYAT

 

JAGA AGAR AGAMA KOKOH DALAM DIRI SAMPAI AKHIR HAYAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Untuk keselamatan di dunia dan di akhirat kelak maka seorang hamba haruslah berusaha menjaga agama ini tetap berada dengan kokoh pada dirinya sampai akhir hayatnya. Allah Ta'ala befirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman !. Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S Ali Imran 102)

Ayat ini mengingatkan kita agar berusaha supaya akhir hidup kita dalam keadaan baik atau husnul khatimah. Ketahuilah bahwa keadaan seseorang saat tutup usia memiliki nilai tersendiri, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia. Sebagaimana dalam hadits yang shahih disebutkan : 

                                                             وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ                 

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya. (H.R Imam Bukhari dan yang selainnya).

Yang dimaksud bil khawaatiim adalah amalan yang dilakukan di akhir umur atau akhir hayat seseorang. Ketahuilah bahwa seberapapun baiknya amalan seseorang selama berpuluh puluh tahun tetapi di akhir hayatnya ditutup dengan amal yang buruk misalnya melakukan kesyirikan ataupun dosa dosa besar lainnya maka itu merupakan malapetaka besar baginya. 

Ketahuilah bahwa husnul khatimah adalah akhirnya yang baik. Yaitu seorang hamba, sebelum meninggal, ia diberi taufiq untuk menjauhi semua yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia bertaubat dari dosa dan maksiat, serta semangat melakukan ketaatan dan perbuatan-perbuatan baik, hingga akhirnya ia meninggal dalam kondisi baik. 

Dalil yang menunjukkan makna ini, yaitu hadits  dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قاَلُوُا: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ. رَواه الإمام أحمـد والترمذي وصحح الحاكم في المستدرك.

Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, maka Allah memanfaatkannya. Para sahabat bertanya : Bagaimana Allah akan memanfaatkannya? Rasulullah menjawab : Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal. (HR Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan al Hakim dalam Mustadrak)

Sebagai penutup tulisan ini, dinukil satu nasehat dari Imam Ibnul Qayyim, beliau berkata : Orang yang paling dungu adalah orang yang tersesat di akhir perjalanan pulangnya padahal rumahnya sudah dekat. (Al Fawa'id)

Wallahu A'lam. (3.089)

Selasa, 19 September 2023

SATU TANDA ORANG BERILMU ADALAH TAKUT KEPADA ALLAH

 

SATU TANDA ORANG BERILMU ADALAH TAKUT KEPADA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Agama Islam yang mulia ini sangat menghargai ilmu bahkan mewajibkan umatnya untuk belajar ilmu. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (H.R Ibnu Majah, dari  Anas bin Malik, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ketahuilah bahwa  ilmu yang PALING UTAMA untuk dipelajari adalah ilmu syar'i. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menjelaskan bahwa : Ilmu syar’i adalah ilmu yang terkandung dalam al Qur an dan as Sunnah, yakni : (1) Ilmu tentang Allah dan Sifat-sifat-Nya. (2) Ilmu tentang hak Allah terhadap hamba-Nya. (3) Ilmu tentang segala hal yang disyari’atkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. (4) Termasuk juga ilmu tentang jalan yang akan mengantarkan hamba kepada ilmu itu beserta segala rinciannya. (Dari Kitab al ‘Ilm wa Akhlaqu Ahliha).

Selain itu ketahuilah saudaraku bahwa INTI POKOK keutamaan belajar ilmu adalah mendatangkan rasa takut kepada Allah Ta’ala. Ketika seseorang tidak ada rasa takutnya kepada Allah Ta’ala maka binasa dan sengsaralah dirinya di dunia dan di akhirat kelak.

Ketahuilah bahwa perkara  paling utama agar timbul rasa takut kepada Allah Ta'ala,   adalah DENGAN BELAJAR ILMU  terutama sekali ilmu untuk mengenal Allah Ta’ala, nama dan sifat-Nya. Sungguh orang orang  yang berilmu adalah yang paling besar takut kepada-Nya karena dia mengetahui bahwa Allah Mahabesar dan Mahakuasa atas segala sesuatu.  Allah Ta’ala berfirman : 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ 

Sesungguhnya  yang takut kepada Allah diantara hamba-Nya hanyalah orang orang yang berilmu (mengenal Allah). Sungguh Allah Mahaperkasa dan Maha Pengampun. (Q.S Faathir 28).

Imam Ibnul Qayyim berkata :  Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Allah maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungannya kepada-Nya. Kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali serta ridha dan tunduk kepada perintah-Nya. (Raudhatul Muhibbin).

Tentang surat Fathir ayat 28 tersebut diatas, Syaikh as Sa’di berkata : Maka setiap orang yang (berilmu) LEBIH MENGENAL ALLAH, dia akan menjadi lebih takut kepada-Nya. Dan takutnya kepada Allah Ta’ala menjadikannya menahan diri dari perbuatan maksiat dan selalu bersiap diri untuk perjumpaan dengan Rabb yang ditakutinya. Ini merupakan dalil TINGGINYA KEUTAMAAN ILMU. Sebab ilmu mengajak kepada takut kepada Allah Ta’ala.

Berkata Masruq rahimahullah : Cukuplah seseorang dikatakan berilmu  KETIKA DIA TAKUT KEPADA ALLAH TA'ALA, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh ketika dia ujub atau berbangga akan ilmunya. (Akhlaq al Ulama oleh al Ajurry)

Berkata Mujahid rahimahullah : Orang yang faqih adalah orang yang takut kepada Allah walaupun sedikit ilmunya. Dan orang yang bodoh adalah orang yang durhaka kepada Allah walaupun banyak ilmunya. (Al Bidayah wan Nihayah).

Wallahu A'lam. (3.088)

 

Minggu, 17 September 2023

KEWAJIBAN LAKI LAKI MUSLIM SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

 

KEWAJIBAN LAKI LAKI MUSLIM SHALAT BERJAMAAH DI MASJID

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalil yang kuat dan tegas menyebutkan bahwa shalat berjamaah bagi laki laki adalah di masjid bukan di rumah. Sungguh Allah Ta'ala berfirman :

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang yang rukuk. (Q.S al Baqarah 43).

Imam Ibnul Qayyim  rahimahullah berkata : Makna firman Allah rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, faidahnya yaitu tidaklah dilakukan kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama. (Ashalatu wa Hukmu Tarikiha)

Tentang surat al Baqarah ayat 43 ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di, wafat tahun 1307 H, beliau  menjelaskan : “Dan rukuklah bersama orang yang rukuk” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah (di masjid) dan kewajibannya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :         

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari).

Perintah shalat sebagaimana beliau shalat berkaitan dengan seluruh aspek shalat. Diantaranya adalah bacaan shalat, gerakannya yang sempurna, waktunya yang harus dijaga, TEMPATNYA (beliau shalat fardhu bersama sahabat di masjid, bukan di rumah) dan yang lainnya.

Hadits dari Abu Hurairah menyebutkan begitu tegasnya perintah dan ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang shalat berjamaah di masjid, sebagaimana sabda beliau :

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْتَطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

 

Demi jiwaku yang ada pada tangan-Nya, aku telah bermaksud memerintahkan untuk mengambilkan kayu bakar, lalu dikumpulkan, kemudian aku memerintahkan azan shalat untuk dikumandangkan.

Lalu aku memerintahkan seseorang untuk mengimami orang-orang berjamaah, kemudian aku mendatangi orang-orang yang tidak shalat berjamaah lalu aku membakar rumah mereka. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Sungguh kita sangat paham bahwa Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam adalah seorang hamba dan utusan Allah yang sangat lembut pribadinya. Tetapi  beliau mengancam akan membakar rumah jika perintah syariat tentang shalat berjamaah diabaikan.

Sungguh sangatlah banyak keutamaan yang akan diperoleh seorang hamba jika shalat berjamaah di masjid, satu diantaranya adalah lebih utama 25 atau 27 derajat dari shalat sendiri. Dari Anas,  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ

Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat. (H.R Imam Muslim)

Kalau kita hitung nilai shalat berjamaah di masjid dibanding shalat di rumah akan tahulah kita bahwa jika seseorang SHALAT DI MASJID SELAMA 10 TAHUN MAKA ITU MENYAMAI JUMLAH SHALAT DI RUMAH  SELAMA 250 ATAU 270 TAHUN.

Wallahu A'lam. (3.087)

 

       

 

 

 

 

Selasa, 12 September 2023

ADA MANUSIA YANG TERTIPU DENGAN DIRINYA

 

ADA MANUSIA YANG TERTIPU DENGAN DIRINYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika bergaul dengan orang banyak dalam masyarkat  dengan berbagai tipenya, terkadang atau mungkin kita  sering  ditipu oleh orang lain. Mungkin ditipu oleh tetangga, ditipu pedagang, ditipu customer, ditipu teman sekantor dan yang lainnya. Sungguh yang paling berat itu adalah ditipu oleh pemimpin atau penguasa.

Tetapi ketahuilah bahwa selain itu bisa jadi juga SESEORANG TERTIPU DENGAN DENGAN DIRINYA SENDIRI. Apa mungkin ?. Iya bisa jadi, diantaranya adalah ketika seseorang :

Pertama : Selalu mengingat ingat dan membicarakan perbuatan baik yang telah dilakukan.

Berbuat baik atau melakukan amal shalih hakikatnya haruslah menjadi kebiasaan hamba hamba Allah. Sungguh Allah Ta’ala telah memerintahkan manusia untuk berbuat baik, diantaranya disebutkan dalam firman-Nya :

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ

Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana ALLAH TELAH BERBUAT BAIK KEPADAMU. (Q.S al Qashash 77).

Tetapi semua itu haruslah dilakukan dengan ikhlas mencari ridha Allah. Ketika seseorang telah melakukan perbuatan baik lalu diingat ingat dan dibicarakan atau disebut sebut maka dia telah tertipu dengan dirinya karena perbuatan itu jatuh kepada riya dan bisa jadi sia sia.   

Kedua : Selalu lupa dengan dosa dosa

Ketika seseorang selalu lupa dengan dosa dosanya maka hakikatnya dia telah tertipu dengan  dirinya sendiri karena berakibat dia lupa untuk memohon ampun dan bertaubat. Ini termasuk musibah.

Ketiga : Selalu melihat orang yang dibawahnya dalam beribadah

Termasuk orang tertipu dengan dirinya adalah tersebab selalu melihat orang yang dibawahnya dalam beribadah. Dengan begitu  merasa seolah olah dia adalah   orang  yang paling banyak ibadahnya. Akibat berikutnya adalah dia akan puas dengan ibadah yang dilakukan saat ini. Tak terbetik niat untuk menambah atau memperbanyak ibadah lebih lanjut.

Keempat : Selalu melihat orang yang diatas dalam urusan dunia

Salah satu bentuk tertipunya seseorang adalah dengan selalu melihat orang yang diatas dalam urusan dunia seperti dalam hal rizki. Akibatnya merasa tidak puas dengan apa yang diberikan Allah Ta'ala. Tidak bisa qana'ah.

Apa itu qana'ah ?. Qana’ah adalah engkau ridha dan menerima berapapun yang diberikan Allah dalam kehidupan dunia ini, baik sedikit ataupun banyak. Engkau menyerahkan urusanmu kepada Allah. Engkau mengetahui dan yakin bahwa Allah lebih tahu dan lebih sayang terhadap dirimu daripada dirimu sendiri. (Abdul Ilah bin Ibrahim Dawud, Kitab al Qana’ah).

Ketika seseorang jauh dari sifat qana'ah maka jadilah dia seorang yang suka mengeluh dan sulit untuk bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :

كن وَرِعًا تكن أعبدَ الناسِ ، و كن قنِعًا تكن أشْكَرَ الناسِ

Jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah engkau orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang PALING BERSYUKUR. (H.R Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Wallahu A'lam. (3.086)

 

Minggu, 10 September 2023

TETAP LAKUKAN MUHASABAH TERHADAP AKHLAK SENDIRI

 

TETAP LAKUKAN MUHASABAH TERHADAP AKHLAK SENDIRI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap orang yang menginginkan perbaikan bagi dirinya. Sungguh dalam menjalani kehidupan beragama menjadi lebih baik tak mungkin dicapai jika tidak mau melakukan muhasabah secara periodik bahkan juga berkelanjutan. Jangan merasa berat melihat kesalahan dan kekurangan diri untuk merencanakan dan menuju kepada yang lebih baik.

Imam Fudhail bin Iyadh memberi  nasehat : Orang yang beriman itu rajin mengintrospeksi atau melakukan diri. Dia selalu sadar bahwa kelak dirinya pasti akan menghadap Allah Ta’ala. Sedangkan orang munafik munafik malas mengoreksi dirinya.

Sungguh Allah Ta’ala akan merahmati hamba yang terus menerus mengoreksi diri sebelum datang Malaikat Maut menjemput ajalnya. (Dari Tarikh al Baghdadi).

Ketahuilah bahwa  salah satu perkara penting yang harus kita lakukan adalah muhasabah TERHADAP AKHLAK kita sehari hari. Sungguh perkara akhlak adalah termasuk muhasabah yang mesti dilakukan. Tujuannya adalah agar mencapai AKHLAK YANG MULIA.

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam adalah utusan Allah yang paling mulia akhlaknya. Allah Ta'ala memuji akhlak beliau   sebagaimana firman-Nya : 

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar benar berbudi pekerti yang luhur. (Q.S al Qalam 4)

Bahkan salah satu sebab beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang luhur. Beliau bersabda : 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur. (H.R Imam Ahmad  dan Imam Bukhari dalam Adaabul Mufrad,  dishahihkan  oleh Syaikh al Albani).

Nah, ketika seorang hamba senantiasa mengintrospeksi atau melakukan muhasabah terhadap akhlak dirinya maka ini merupakan  jalan paling baik untuk memperbaiki akhlaknya. Sungguh sangatlah banyak keutamaan yang akan didapat oleh hamba hamba hamba Allah yang memiliki akhlak mulia. Dua diataranya adalah :

Pertama : Menjadi orang yang paling dicintai dan duduk dekat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Beliau bersabda : 

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Sesungguhnya (orang) yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian (H.R at Tirmidzi dinilai hasan oleh Syaikh al Albani)

Kedua : Menjadi orang yang paling sempurna imannya.

Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  telah mengingatkan bahwa akhlak seseorang terkait dengan kesempurnaan imannya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (H.R at Tirmidzi, dishahih oleh Syaikh al Albani).

Sungguh muhasabah dalam perkara akhlak adalah satu jalan untuk memperbaiki akhlak seorang hamba. Setelah melakukan muhasabah maka seorang hamba akan mengetahui kekurangan atau keburukan akhlaknya. Lalu dia bertekad memperbaikinya dan juga berdoa kepada Allah Ta’ala yaitu dengan doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : 

اَللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي

Ya Allah, Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku. (H.R Imam Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al Albani). 

Wallahu A'lam. (3.085)

 

Sabtu, 09 September 2023

PERBANYAK BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA

 

PERBANYAK BERBUAT BAIK KEPADA SESAMA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sunguh, Allah telah menyuruh manusia untuk berbuat kebaikan dan  juga melarang manusia untuk berbuat keji dan mungkar. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S an Nahal 90).

Sungguh Allah Ta'ala SANGAT BANYAK  berbuat baik kepada hamba hamba-Nya dan Allah memerintahkannya untuk berbuat baik pula. Allah Ta'ala berfirman : 

وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ

Berbuat  baiklah (kepada manusia) sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu. (Q.S al Qashash 77).

Setiap kebaikan yang dilakukan seseorang pastilah kebaikan itu akan  kembali kepadanya. Jika seseorang suka menolong pasti akan ditolong, jika seseorang suka memaafkan pasti akan dimaafkan. Jika seseorang suka memudahkan urusan orang lain maka pada suatu waktu dia mendapat kesulitan pasti akan ada saja yang menolongnya, insya Allah.  Begitupun sebaliknya.  Allah Ta'ala berfirman : 

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kamu berbuat baik (berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat buruk , maka (keburukan) itu bagi dirimu sendiri. (Q.S al Isra' 7).

Dan juga AllahTa'ala  berfirman : 

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) Q.S ar Rahmaan 60.

Selain itu, ketahuilah bahwa sangatlah banyak keutamaan yang akan didapat oleh orang orang yang berbuat baik, diantaranya adalah :

Pertama : Mendapat kecintaan Allah Ta'ala.

Sungguh Allah Ta’ala mencintai orang orang yang berbuat baik yaitu sebagaimana firman-Nya :

فَـَٔاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ ٱلْءَاخِرَةِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan ALLAH MENCINTAI ORANG ORANG YANG BERBUAT BAIK.  (Q.S Ali Imran 148).

Kedua : Allah Ta’ala tidak menyia nyiakan pahala berbuat baik :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا

Sungguh, mereka yang beriman dan beramal shalih, Kami benar benar TIDAK AKAN MENYIA NYIAKAN pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. (Q.S al Kahfi 30).

Ketiga : Kebaikan sekecil apapun pasti bernilai.

Sungguh, Allah Ta’ala berjanji akan memberi balasan perbuatan sebesar dzarrah, sebagaimana firman-Nya :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ     

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya dia akan  melihat (balasan) nya.

Oleh karena itu hamba hamba hendaklah bersegera melakukan perbuatan baik diantaranya adalah membantu orang orang yang kekurangan dan orang orang yang lemah. Ketahuilah bahwa ketika seseorang bertemu orang orang yang dalam kesusahan dan membutuhkan bantuan bersegeralah dan jangan  ragu untuk memberikan bantuan berupa harta dan yang lainnya sesuai kemampuan.

Sungguh, kita tidak mengetahui kebaikan mana yang akan memberatkan timbangan amal kita di akhirat kelak. Allah Ta'ala berfirman :

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. (Q.S  al Anbiya’ 47).

Wallahu A'lam. (3.084)