Rabu, 28 Februari 2018

ADAB BEKERJA MENCARI RIZKI YANG HALAL



ADAB BEKERJA MENCARI RIZKI YANG HALAL

Oleh : Azwir B. Chaniago

Syariat Islam sangatlah menganjurkan bahkan mendorong umatnya untuk berusaha atau pun bekerja untuk mendapatkan rizki yang halal dan baik. Sungguh rizki adalah penopang untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Selain itu adalah juga untuk menjaga diri agar tidak jatuh pada kehinaan karena meminta minta. 

Diantara firman Allah dan sabda Rasulullah dalam hal bekerja atau mencari nafkah adalah : 

Pertama : “Dan sungguh Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. Tapi sedikit sekali kamu bersyukur”.(Q.S al A’raf 10)

Kedua : “Wa ja’alnaa sirajau wah-haajaa”. Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan. (Q.S an Naba’ 11)

Ketiga : “Apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak banyak agar kamu beruntung”. (Q.S al Jumu’ah 10)

Keempat : Rasulullah bersabda : “Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri. Sungguh Nabi Dawud, beliau makan dari hasil jerih payah tangannya”.  (H.R Imam Bukhari).

Oleh karena itu seorang hamba hendaklah berusaha atau bekerja untuk mendapatkan rizki yang diperlukan guna membiayai diri dan keluarganya. Rizki yang ingin didapatkan tentulah yang berasal dari sumber yang halal dan baik.  Untuk itu maka seorang yang bekerja atau pekerja   haruslah mengamalkan adab dalam bekerja. Beberapa  diantaranya adalah :\

Pertama :  Bekerja pada bidang kegiatan yang halal.

Ketahuilah bahwa nikmat apapun yang diperoleh manusia adalah dari Allah Ta’ala datangnya. Allah berfirman : “Wa maa bikum min ni’mati fa minallah”. Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53).

Allah Ta’ala juga berfirman : “Innallah huwar razaqu dzul quwaatil matiin”. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Pemberi Rizki Yang Maha Mempunyai Kekuatan  Sangat Kokoh. (Q.S adz Dzariyat 58).

Rizki yang telah disediakan Allah hendak dijemput dengan cara halal yaitu melalui usaha atau pekerjaan yang halal. Sungguh seorang beriman dituntut untuk makan dari hasil usaha yang baik. 

Allah berfirman : “Yaa aiyuhal ladziina aamanuu kuluu min thaiyibaati maa razaqnaa kum wasykuruu lillahi inkuntum iyyaahu ta’buduun”. Wahai orang orang yang beriman !. Makanlah dari rizki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. (Q.S al Baqarah 172).

Sungguh rizki yang berasal dari yang haram akan jauh dari berkah bahkan bisa membinasakan. Rasulullah bersabda : “Innahu laa yadkhulul jannata lahmun wa damun nabata ‘ala suhtin naaru aulaabih”. Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari harta haram, neraka lebih berhak/patut baginya. (H.R Imam Ahmad, Ibnu Hiban dan al Hakim).

Kedua :  Selalu menjaga amanah dalam bekerja.

Ada sementara pengusaha yang mengatakan :  Saat ini, mencari pekerja yang berpendidikan dan ahli di satu bidang pekerjaan tidaklah terlalu sulit tetapi untuk mendapatkan seorang yang amanah sangatlah sulit. Mungkin perkataan ini ada benarnya. Perhatikanlah berapa banyak, tentu tidak semua, para pekerja tidak amanah. Mereka melakukan perbuatan tercela dengan merugikan perusahaan atau instansi tempat dia bekerja.

Ketahuilah bahwa salah satu sifat mulia yang harus ada pada diri seorang beriman adalah menjaga amanah dan janji janjinya. Allah berfirman : “Walladzina hum li amaanaatihim wa ahdihim raa’uun”. Dan orang orang yang memelihara amanah amanah (yang dipikulnya) dan janjinya. (Q.S al Mu’minun 8).

Sungguh tentang amanah, Allah Ta’ala telah mengingatkan orang beriman dalam firman-Nya : Wahai orang orang yang beriman !. Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul  dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah amanah yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui. (Q.S al Anfal 27).

Syaikh as Sa’di berkata : Barangsiapa menunaikan amanat, maka dia berhak mendapatkan pahala yang besar dari Allah. Dan barangsiapa mengkhianatinya dan tidak menunaikannya, maka dia berhak mendapatkan adzab yang keras dan dia menjadi pengkhianat Allah, Rasulullah dan amanatnya itu sendiri. Dia menodai dirinya sendiri karena dia telah mengambil sifat terburuk dari ciri terjelek yaitu khianat serta mengabaikan sifat yang paling baik dan sempurna yaitu (menunaikan) amanat. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Rasulullah juga mengingatkan tentang kewajiban menunaikan amanah : “Addil amaanata ila mani’tamannaka wa laa wa laa takhun man khaanakan”. Tunaikan amanah kepada orang yang meng amanahkan kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orag yang mengkhianatimu.  (H.R at Tirmidzi, dishihkan oleh Syaikh al Albani)

Termasuk juga dalam hal menjaga amanah adalah sungguh sungguh dalam bekerja. Rasulullah bersabda : “Inallaha yuhibbu idzaa ‘amila ahadukum ‘amalan an yutqinah”. Sesungguhnya Allah Mencintai jika salah seorang di antara kalian mengerjkan pekerjaan kemudian di membaguskan pekerjaannya. (Lihat ash Shahihah 1113).

Syaikh Utsaimin  mengingatkan : (Surat al Muthaffifin ayat 1-3),  meskipun berkaitan erat dengan kecurangan dalam takaran dan timbangan, hanya saja seorang buruh atau pegawai jika ia menginginkan gajinya utuh namun dia datang kerja terlambat atau pulang lebih awal (tidak amanah dalam jam kerja, pen.), ia termasuk muthaffifin yang diancam dengan neraka wail. Sebab jika gajinya dikurangi satu rial saja pasti dia akan berkata : Kok gaji saya dikurangi ?.

Ketahuilah bahwa tidak amanah atau mengkhianati amanah adalah salah satu sifat orang munafik. Rasulullah bersabda :  “Ayatul munafiqiina tsalatsa, idza hadatsa kadziba, idza wa’ada akhlafa, wa idza utmina khaana” Tanda orang munafik ada tiga , bila berkata dusta (tidak jujur), bila berjanji mengingkari dan bila diberi amanah ia khianat (Mutafaq ‘alaihi).

Ketiga : Tidak lalai dengan kewajiban agama.  

Ada yang bertanya mungkinkah seseorang mendapat rizki yang halal jika dia bekerja pada usaha  yang halal tapi melalaikan kewajiban beribadah ?. Pertanyaan ini bisa kita jawab masing masing.

Diantara contohnya adalah amat sering kita lihat orang orang yang melalaikan shalat karena kesibukannya dalam bekerja. Meskipun dia telah mendengar suara adzan belum tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan shalat dengan berbagai alasan. Misalnya : Ah ini pekerjaan sedikit lagi baiknya diteruskan dulu. Waktu shalat itu kan panjang dan berbagai alasan lainnya.

Dalam hal ini perhatikanlah peringatan Allah dalam firman-Nya : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang buruk) yang menyia nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan”. (Q.S Maryam 59).

Oleh karena itu seorang muslim  yang bekerja maka dituntut baginya agar memperhatikan niatnya serta adab adab dalam bekerja sehingga bekerjanya bukan hanya mendatangkan rizki yang halal tapi juga menjadi ibadah yang bernilai di sisi Allah Ta’ala.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.237).

  

    

Senin, 26 Februari 2018

BANYAK KEBAIKAN BAGI YANG SELALU BERISTIGHFAR



BANYAK KEBAIKAN BAGI  YANG SELALU BERISTIGHFAR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Istighfar (Arab : إستغفار, Istiġfār) atau Astaghfirullah (أستغفر اللهʾastaġfiru l-lāh) adalah tindakan meminta maaf atau memohon keampunan kepada Allah yang dilakukan oleh umat Islam. Hal ini merupakan perbuatan yang diperintahkan dan sangat utama  di dalam ajaran Islam. Tindakan ini secara harfiah dilakukan dengan mengulang-ulang perkataan dalam bahasa Arab astaghfirullah, yang bermakna : Saya memohon ampunan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala.


Hakikat istighfar dalam Islam  adalah seseorang yang selalu memohon ampunan atas kesalahan dan dosa serta terus berusaha untuk menaati perintah Allah dan tidak melakukan yang dilarang-Nya.  Ketika pada satu waktu  dia melakukan dosa, maka istighfar adalah titik tolak baginya untuk bertekad tidak mengulangi perbuatannya.

Bahwa istighfar atau memohon ampun BUKAN HANYA karena seseorang telah melakukan kesalahan sehingga dosanya diampuni jika Allah Ta’ala berkehendak. Ketahuilah bahwa istighfar memiliki manfaat yang banyak bagi orang orang yang melazimkan mengucapkannya pada setiap kesempatan.

Imam al Qurtubi dalam kitab tafsirnya menyebutkan dari Ibnu Subaih bahwa :

Pertama : Ada seorang yang mengadukan musim paceklik kepada Imam Hasan al Bashri, maka Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah.
Kedua : Ada pula yang mengadukan keadaannya yang miskin dan minta di doakan agar diberi harta. Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah.
Ketiga : Ada pula yang minta  didoakan agar dia memperoleh anak karena sudah lama menikah belum memperoleh anak. Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah.
Keempat :  Ada pula yang mengadu bahwa kebunnya kekeringan karena hujan sudah lama tidak turun. Imam Hasan al Bashri berkata : Istighfarlah engkau kepada Allah.
Melihat hal itu Rabi’ bin Subaih bertanya : Wahai Imam (Hasan al Bashri), tadi orang orang datang kepada engkau untuk mengadukan berbagai permasalahan dan kebutuhannya yang berbeda beda. Tapi engkau menyuruh semuanya untuk memohon ampun kepada Allah. Mengapa begitu ?

Imam Hasan al Bashri menjawab : Sungguh aku tidak menjawab dari diriku tapi Allah yang telah menyebutkan dalam firmanNya agar semuanya senantiasa beristighfar. Lalu Imam Hasan al Bashri membacakan surat Nuh ayat 10 dan 12 : “Maka aku katakan kepada mereka : Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat dan memperbanyak harta dan anak anakmu, dan mengadakan untukmu kebun kebun dan mengadakan (pula di dalamnya)  untukmu sungai sungai.”

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kabar gembira bagi orang orang beriman yang senantiasa beristighfar. 

Pertama : Allah akan membuka jalan baginya dari berbagai kesulitan dan kegundahan dari arah yang tidak disangka.
Rasulullah bersabda :  “Man aktsara minal istighfaari ja’alallahu lalu min kulli hammin farajaa, wa min kulli dhiiqin makhraja, wa yarzuquhu min haitsu la yahtasib”. Barang siapa yang memperbanyak istighfar, Allah Ta’ala akan menjadikan baginya kelapangan  dari setiap kegundahan dan jalan keluar dari setiap kesempitan. Dan Allah Ta’ala akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka sangka. (H.R  Imam Ahmad) 

Kedua : Bahwa ketika seseorang senantiasa meminta ampun dan bertaubat maka tentulah mendatangkan kebaikan yang banyak, diantaranya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala :  “Dan hendaklah kamu memohon ampun kepada Rabb-mu dan bertaubat kepada-Nya niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan”. (Q.S Huud 3).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu”, dari dosa dosa yang kamu kerjakan “dan bertaubat kepada-Nya”. Pada (sisa) umurmu yang kamu hadapi dengan kembali dan mendekatkan diri kepada-Nya, meninggalkan sesuatu yang dibenci-Nya kepada sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya.

Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan akibat dari istighfar dan taubat seraya berfirman : niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus kepadamu”.  Maksudnya, Dia memberimu rizki yang bisa kamu nikmati dan kamu manfaatkan “sampai kepada waktu yang telah ditentukan”  yakni sampai kamu mati. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketiga : Bahkan orang orang selalu beristighfar tak akan di adzab. Allah berfirman : “Wa maa kaanallahu mu’adzibahum wa  hum yastghfiruun”. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka sedang mereka (masih) memohon ampunan. (Q.S al Anfaal 33). 

Syaikh as Sa’di berkata : Ini adalah pencegah adzab dari mereka pada hal sebab sebab turunnya adzab itu telah tercapai. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Keempat : Istighfar akan mendatangkan rahmat Allah Ta’ala. Allah berfirman : “Dia (Nabi Shalih) berkata: Wahai kaumku !. Mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum (kamu meminta) kebaikan ?. Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat”. (Q.S an Naml 46).

Kelima : Mendatangkan kebahagian bagi orang orang yang mendapati banyak istighfar dalam catatan amalnya. 

(1) Rasulullah bersabda : “Sangat beruntunglah orang orang yang menemukan pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar. (H.R Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani). 

(2) Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari Kiamat) hendaklah ia (banyak) beristighfar kepada Allah. (H.R ath Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Perhatikanlah, bahwa Rasulullah  Salallahu ‘alaihi Wasallam selalu bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala. 

Rasulullah bersabda : “Wahai manusia bertaubatlah kamu kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari 100 kali. (H.R Imam Muslim).

Rasulullah juga bersabda : “Demi Allah, sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali”. (H.R Imam Bukhari).
Oleh karena itu setiap hamba hendaklah terus menerus beristighfar atau memohon ampun kepada Allah Ta’ala, sehingga diampuni segala dosa dan diberikan kebaikan yang banyak dengan istifghfarnya.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.236)