Rabu, 31 Mei 2023

DIANJURKAN BERSEDEKAH DALAM KEADAAN SEHAT DAN SAKIT

 

DIANJURKAN BERSEDEKAH DALAM KEADAAN SEHAT DAN SAKIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Bersedekah atau berinfak, mengeluarkan sebagian harta untuk membantu orang orang yang membutuhkan. Manfaat yang tidak samar dari  dan infak adalah bisa memenuhi kebutuhan orang orang yang kekurangan.

Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya manfaat paling besar dari infak dan sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang adalah bagi dirinya. Bahkan untuk kebaikan dunia dan akhiratnya. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya  (Q.S Saba' 39).

Ketahuilah bahwa hamba hamba Allah pada hakikatnya sangat dianjurkan berinfak dan bersedekah dalam semua keadaan dan itu semuanya mendatangkan kebaikan yang banyak. Diantaranya adalah :

Pertama : Ketika dalam keadaan sehat.

Ternyata bersedekah dalam keadaan sehat PAHALANYA LEBIH BESAR yaitu sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam , lalu ia berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ « أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِي حٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ ال ْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ »

Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya ?. Beliau bersabda : Engkau bersedekah pada saat kamu MASIH SEHAT, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan. ( Muttafaqun 'alaih). 

Kedua : Ketika dalam keadaan sakit.

Perkara ini dijelaskan dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud dan Ubadah bin Shamit, Rasulullah Ahallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

وداوُوا مرضاكم بالصدقة

Obatilah orang-orang sakit kalian dengan bersedekah. (Dihasankan oleh Syaikh al Albani. Lihat Shahih Al-Jami’ dan Shahih At-Targhib)

Tentang hadits ini, Imam Ibnul Qayyim berkata : Sedekah memiliki khasiat yang kuat menolak berbagai macam bala (termasuk penyakit). Lihat Jami’ al Fiqh.     

Selain itu, ketahuilah bahwa berinfak dan bersedekah sangat dianjurkan pula dalam keadaan lapang dan dalam keadaan sempit. Yang demikian itu adalah satu tanda orang bertakwa. Allah Ta'ala berfirman :

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang yang bertakwa adalah) orang yang menafkahkan hartanya dalam  KEADAAN LAPANG ATAU DALAM KEADAAN SEMPIT, menahan amarahnya dan suka memaafkan kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S Ali Imran 134).

Syaikh as Sa'di berkata : Yaitu pada saat kondisi mereka sedang sulit atau kondisi mereka sedang lapang. Bila mereka sedang lapang mereka akan berinfak dengan lebih banyak dan bila mereka sedang kesulitan MEREKA TIDAK MENGANGGAP REMEH SUATU KEBAIKAN WALAUPUN HANYA BERINFAK SEDIKIT SAJA. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Wallahu A'lam. (3.011).

 

Selasa, 30 Mei 2023

JANGAN PERNAH PILAH PILIH DALAM MENEGAKKAN KEADILAN

 

JANGAN PERNAH PILAH PILIH DALAM MENEGAKKAN KEADILAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala Maha Adil dan Allah memerintahkan hamba hamba-Nya untuk berlaku adil. Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi bantuan kepada kerabat dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S an Nahal 90)

Dalam surat al Ma-idah ayat 8 Allah Ta’ala juga memerintahkan orang yang beriman  untuk berlaku adil dalam berbagai keadaan. Allah Ta'ala berfirman :  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman !. Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap duatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. 

Syaikh as Sa’di berkata : Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan orang yang beriman untuk menegakkan konsekwensi imannya dengan menjadi orang yang selalu menegakkan keadilan Allah dan menjadi saksi dengan adil. Hendaknya gerak gerikmu, lahir dan bathin, terus bersemangat dalam penegakkan keadilan dan hendaknya pelaksanaannya itu hanya karena Allah semata, bukan karena tujuan dunia. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah, bahwa Rasululllah Salallahu 'alahi Wasallam telah menunjukkan ketegasan beliau dalam penegakkan hukum dan keadilan. Dalam hal ini  Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menyebutkan antara lain tentang kisah (perlakuan adil terhadap) seorang wanita dari marga Makhzum yang telah mencuri. Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk memotong tangannya untuk menegakkan keadilan. Padahal ia adalah seorang wanita dari bani Makhzum, sebuah marga yang sangat dihormati di kalangan kaum Quraisy.

Keputusan Rasulullah membuat risau hati orang orang Quraisy. Bahkan mereka bingung dan gelisah. Bagaimana mungkin tangan seorang wanita dari marga Makhzum (yang disegani) dipotong ?. Akhirnya mereka pun mencari seseorang untuk meminta keringanan kepada Rasulullah. 

Mereka berkata : Tidak ada yang berani membicarakan hal ini kepada Rasulullah selain Usamah bin Zaid. Mereka tidak menyebut nama Abu Bakar, Umar, Utsman atau Ali bin Abi Thalib yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari Usamah bin Zaid. Kemungkinan mereka telah mencobanya tapi tidak berhasil. Boleh jadi juga mereka mengetahui bahwa Abu Bakar dan yang lainnya tidak bisa atau tidak mau memberikan (usulan keringanan) hukuman di dalam hukum Allah Ta’ala.

Yang jelas, mereka meminta pertolongan Usamah bin Zaid. Usamah adalah anaknya Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah dahulunya adalah merupakan seorang budak pemberian Khadijah kepada Rasulullah dan kemudian beliau membebaskannya sebagai budak. Beliau sangat mencintai Zaid dan juga Usamah anak Zaid.

Maka Usamah pun berbicara kepada Nabi tentang kasus wanita al Makhzumiyah ini, dengan harapan beliau akan membatalkan keputusan sehingga wanita tersebut selamat dari hukuman potong tangan. 

Pada saat itu wajah Rasulullah berubah ronanya karena marah. Beliau bersabda : “Apakah engkau berani meminta keringanan di dalam hukum Allah ?. Artinya Usamah tidak layak dan tidak pantas meminta keringanan di dalam hukum Allah Ta’ala.

Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah dengan khutbah yang sangat jelas. Beliau bersabda : “Amma ba’du : Sesungguhnya orang orang sebelum kalian binasa dikarenakan ketika seorang yang terpandang diantara mereka mencuri maka mereka tidak menghukumnya. Sedangkan apabila seorang yang lemah mencuri maka mereka pun segera menghukumnya”.  (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersumpah, pada hal beliau adalah orang baik dan jujur, sehingga beliau tidak perlu bersumpah (untuk memberikan keyakinan kepada orang lain tentang apa yang beliau ucapkan). Akan tetapi dalam hal ini beliau  bersumpah : Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, akulah yang akan memotong tangannya” (H.R Imam Bukhari).

Ya Allah, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada beliau. Inilah keadilan, hukuman Allah ditegakkan, bukan (hukum) mengikuti hawa nafsu. Beliau bersumpah apabila Fatimah bin Muhammad mencuri, pada hal nasab dan keturunan Fatimah lebih mulia daripada wanita al Muakhzumiyah, karena Fatimah akan menjadi pemimpin para wanita di surga, tetapi Rasulullah  bersumpah tetap akan memotong tangannya jika dia mencuri (Dari Syarah al Kabair).

Cuma saja di zaman ini sebagian orang bermudah mudah  mengatakan YANG SALAH SEBAGAI YANG BENAR  dan sebaliknya. Lancang berlaku zhalim yaitu tidak adil. Penyebabnya,  kebanyakan  urusan dan kepentingan atau keuntungan dunia yang tak seberapa. Sungguh, dalam syariat Islam kita DIPERINTAHKAN UNTUK TIDAK PILAH PILIH dalam menegakkan hukum secara adil.

Ketika seseorang pilah pilih dalam menegakkan hukum secara adil berarti mereka TELAH MELAKUKAN KEZHALIMAN dan kezhaliman adalah KEGELAPAN DI HARI KIAMAT. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam mengingatkan hal ini dalam sabda beliau :

 عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّهِ أَنّ رَسُولَ اللّهَ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «اتَّقُوا الظُّلْمَ. فَإِنّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: Berhati-hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat. (H.R Imam Muslim).

Ulama kita menerangkan dengan berpatokan pada hadits di atas bahwa kezaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelakunya hingga ia tidak mendapatkan arah atau jalan yang akan dituju pada hari kiamat atau menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya. (Syarhu Shahih Muslim)

Walllahu A'lam. (3.010) 

 

Sabtu, 27 Mei 2023

MANFAATKAN SISA UMUR UNTUK MENDAPATKAN HUSNUL KHATIMAH

 

MANFAATKAN SISA UMUR UNTUK  MENDAPATKAN HUSNUL KHATIMAH

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Rentang umur umat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasalam adalah antara 60-70 tahun sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau, dari Abu Hurairah :  

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ

Umur umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Sedikit di antara mereka melewati itu. (H.R at Tirmidzi).

Oleh karena itu sangat beruntung orang orang yang masih hidup pada usia diatas 60 tahun atau lebih. Ini termasuk nikmat yang besar SEBAGAI KESEMPATAN TERAKHIR untuk berusaha keras mendapatkan HUSNUL KHATIMAH yaitu akhir hidup yang baik dengan memanfaatkan sisa umur ini  untuk menambah ketaatan kepada Allah Ta'ala.  

Sungguh, ketika seorang hamba sudah berada di umur 60 keatas tentu saatnya diwafatkan Allah Ta'ala SUDAH DEKAT ATAU SUDAH DEKAT SEKALI. Dengan demikian maka seseorang  yang sudah diatas 60 tahun ini SUDAH SANGAT SERING MENGINGAT MATI dan ini bermanfaat baginya. Dalam satu hadits  dari Abu Hurairah disebutkan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. (H.R at Tirmidzi).

Ad-Daqqaq berkata : Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : (1) Bersegera untuk bertaubat. (2)  Hatinya merasa cukup.  (3) Giat dan semangat dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati ia akan dihukum dengan tiga perkara : (1) Menunda nunda taubat. (2) tidak ridha dengan perasaan cukup. (3) Malas atau lalai dalam beribadah.  (Kitab at Tadzkirah, Imam al Qurthubi).

Sungguh jika seorang hamba menjalani hidupnya dengan cara yang baik maka dia akan bisa mengakhiri hidupnya dalam keadaan baik atau husnul khatimah. 

Oleh karena itu mulai SAAT INI JUGA betul betul fokuslah untuk melakukan  amal shalih  karena ini adalah KESEMPATAN TERAKHIR sebelum diwafatkan. Sungguh udzur atau alasan sudah tidak ada lagi. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :  

عَنْ أَبِي هُرَيْرةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « أَعْذَرَ اللهُ إِلَى امْرِىءٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنةً » رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Allah tidak lagi menerima udzur (alasan) dari seseorang, setelah Dia menangguhkan umurnya hingga mencapai enam puluh tahun. (H.R Imam Bukhari).

Selain itu ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya. (H.R Imam Bukhari).

Wallahu A'lam. (3.009)

 

Jumat, 26 Mei 2023

HAMBA ALLAH SEMESTINYA MENJAGA HUBUNGAN BAIK SESAMA SAUDARA

 

HAMBA ALLAH  SEMESTINYA MENJAGA HUBUNGAN BAIK SESAMA SAUDARA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Terkadang kita dapat kabar ada orang orang yang tidak berbaikan, tidak tegur sapa, saling membelakangi dengan saudaranya. Keadaan ini ada yang sudah berjalan sepekan, sebulan bahkan beberapa bulan. Biasanya keadaan ini terjadi hanya akibat kesalahan pahaman dalam urusan dunia lalu timbul kebencian diantara sesama.

Sungguh keadaan ini, jika dilihat dengan tuntunan syariat Islam SANGATLAH TIDAK BAIK dan tercela serta mendatangkan kerugian. Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau dari Abu Hurairah :

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ اْلاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ.”

Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah dalam setiap pekan  dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan... (H.R Imam Muslim).

Dan juga satu hadits dari Abu Ayyub, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَلْتَقِيَانِ, فَيُعْرِضُ هَذَا, وَيُعْرِضُ هَذَا, وَخَيْرُهُمَا اَلَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

Tidak halal bagi muslim memutuskan persahabatan dengan saudaranya lebih dari tiga malam. Mereka bertemu, lalu seseorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Oleh karena itu, jika seseorang masih menyimpan kebencian sesama saudaranya, tidak bertegur sapa hendaklah bersegera berusaha  memperbaiki sebelum tiga malam berlalu. Tentang keutamaan memperbaiki hubungan ini dijelaskan oleh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam satu hadits dari Abud Darda' :

أَلا أُحَدَّثُّكُمْ بِمَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنَ الصَّدَقَةِ وَصِّيامِ ؟. صَلاَحُ ذَاتِ البَيْنِ ، أَلَا وَإِنَّ الْبُغْضَةَ هِيَ الحالقة.

Maukah kalian aku beritahukan tentang sesuatu yang lebih baik untuk kalian daripada shadaqah dan puasa ?. Yaitu memperbaiki hubungan antar sesama. Ketahuilah bahwa kebencian adalah penggundulan (agama). H.R Ashbahani dalam Kitab at Targhiib).

Syaikh Dr. Muhammad Luqman as Salafi berkata : الحالقة maknanya adalah PENGHAPUS PAHALA. (Syarah al Adab al Mufrad)

Wallahu A'lam. (3.008).

 

KEMULIAAN MENDATANGI HAMBA YANG TERBIASA SHALAT LAIL

 

KEMULIAAN MENDATANGI HAMBA YANG TERBIASA SHALAT LAIL

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh hamba hamba Allah sangat dianjurkan untuk mendirikan shalat lail yang di luar Ramadhan disebut shalat tahajud. Shalat tahajud termasuk amal yang agak terasa berat untuk dilakukan oleh sebagian besar hamba hamba Allah karena shalat ini dilakukan di malam hari setelah tidur meskipun sebentar. Dan paling utama dilakukan pada sepertiga malam terakhir.

Bagi saudara saudara kita yang sudah terbiasa mengamalkannya tentulah tidak terasa berat apalagi dengan mengetahui keutamaannya yang sangat banyak, diantaranya : 

Pertama : Merupakan shalat paling utama setelah shalat fardhu.

Sungguh shalat malam adalah shalat yang paling utama setelah shalat fardhu, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: أي الصلاة أفضل بعد المكتوبة؟ قال: (الصلاة في جوف الليل

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya, shalat apakah yang paling utama setelah shalat fardhu  ?. Beliau  menjawab : Shalat yang paling utama  setelah shalat fardhu adalah shalat (sunnah) di tengah malam. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)  

Kedua : Merupakan kebiasaan orang orang shalih.

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ، وَمَنْهَاةٌ عَنْ الإِثْمِ، وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الجَسَدِ

Hendaklah kalian mengerjakan shalat malam, karena itu merupakan kebiasaan orang shalih sebelum kalian, mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari perbuatan dosa, menghapus keburukan, dan mencegah penyakit dari badan. (H.R. Imam Ahmad, at Tirmidzi dan al Hakim).

Kedua : Merupakan salah satu sikap terpuji ‘ibadurrahman

Dan juga shalat malam merupakan salah satu sifat terpuji ‘ibadurrahman sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

(Adapun hamba hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah) Dan orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Rabb mereka dengan bersujud dan berdiri.  (Q.S al Furqan 64)

Selain itu, ketahuilah saudaraku, sungguh dengan shalat malam hamba hamba Allah akan didatangi KEMULIAAN,  yaitu sebagai disebutkan dalam hadits berikut ini : 

عن سهل بن سعد قال جاء جبريل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ

Dari Sahl bin Sa’ad, dia berkata : Jibril datang kepada Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam  lalu berkata : Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati, cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.

Kemudian dia berkata : Wahai Muhammad !, KEMULIAAN SEORANG MUKMIN ADALAH BERDIRINYA DIA PADA MALAM HARI (untuk shalat lail), dan keperkasaannya adalah ketidak butuhannya terhadap manusia. (H.R ath Thabarani dalam al-Mu’jam al Ausath, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa, al-Hakim dalam al-Mustadrak). Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al Hadits ash Shahihah).

Wallahu A'lam. (3.007).

Minggu, 21 Mei 2023

TEMAN KARIB BISA MENYESATKAN DAN MENJADI MUSUH DI AKHIRAT

 TEMAN KARIB BISA MENYESATKAN DAN MENJADI MUSUH DI AKHIRAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh manusia adalah makhluk sosial yang butuh hidup bersama orang banyak atau bermasyarakat. Ketahuilah bahwa bergaul dengan orang banyak apalagi  mengambil teman karib dibutuhkan kehati hatian.

Semua orang tentu bisa dijadikan teman tetapi tidak semua orang bisa dijadikan teman karib karena bisa menyesatkan dan bahkan menjadi musuh di akhirat kelak. 

Pertama  : Teman karib   bisa menyesatkan.  Allah Ta'ala berfirman :  

لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِلْإِنسَٰنِ خَذُولًا  يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا  وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلً

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya seraya berkata : Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (Q.S al Furqan 27-29)

 Kedua : Sebagian teman akrab menjadi musuh di akhirat. Allah Ta'ala berfirman : 

يَٰعِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ ٱلْيَوْمَ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ  ٱلْأَخِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۭ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلْمُتَّقِينَ 

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. Wahai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Q.S az Zukhruf 67-68)

Dalam Kitab Tafsir ath Thabari disebutkan : Orang orang yang membina kasih diatas kedurhakaan kepada Allah Ta’ala semasa di dunianya pada hari Kiamat mereka semua adalah musuh. Saling berlepas diri, kecuali orang yang membina cinta kasih di atas pondasi ketakwaan kepada Allah Ta'ala ketika di dunia. 

Ketahuilah bahwa sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan tentang teman karib dalam sabda beliau :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman akrab. (H.R Abu Dawud dan at Tirmidzi).

Ketahuilah bahwa yang mendengar pertama kali hadits ini dari Rasulullah Salallahu 'alai wasallam adalah para sahabat yang umumnya memiliki IMAN YANG SANGAT KOKOH sehingga tidak mudah tergelincir tersebab pengaruh teman yang buruk.

Bagi kita yang hidup di zaman ini tentu lebih utama untuk memperhatikan teman karib sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas karena teman karib berpengaruh besar dalam aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah seseorang.

Wallahu A'lam. (3.006).   

 


Rabu, 17 Mei 2023

NIKMAT YANG BERKAH LEBIH UTAMA DARI YANG BANYAK

 

NIKMAT YANG BERKAH LEBIH UTAMA DARI YANG BANYAK

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala telah memberikan berbagai nikmat kepada hamba hamba-Nya. Ada yang mendapat nikmat yang banyak ada pula yang mendapat nikmat yang tidak banyak. Semuanya wajib untuk disyukuri. Dalam hal rizki misalnya, Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya :  

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ فِى ٱلرِّزْقِ ۚ

Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rizki. (Q.S an Nahal 71).

Ketahuilah saudaraku bahwa keutamaan rizki bukanlah ada pada jumlahnya yang banyak tetapi ADA PADA BERKAHNYA. Kita mengetahui berapa banyak manusia yang rizkinya menjauhkan  dirinya dari Allah Ta'ala karena tak ada berkah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin memberi nasehat : Sesuatu yang sedikit apabila Allah memberkahinya maka akan terasa banyak, oleh sebab adanya keutamaan padanya dan kebaikan yang selalu ada serta berbagai manfaatnya.

Maka itu janganlah engkau meremehkan sesuatu karena jumlahnya yang sedikit. Jangan pula dirimu tamak terhadap sesuatu karena bilangannya yang banyak. Semestinya yang engkau cari adalah keberkahan. (Faedah.alushoimiy).

Ketahuilah bahwa keberkahan itu akan mendatangi orang orang beriman dan beramal shalih. Allah Ta'ala berfirman :  

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, PASTI KAMI akan melimpahkan kepada mereka BERKAH dari langit dan dari bumi. Tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat ayat Kami) maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.  (Q.S al A’raf 96).

Dalam ayat ini terdapat kata atau kalimat  بَرَكاتٌSyaikh Abu Bakar al Jazairi berkata :  بَرَكاتٌ adalah bentuk jamak  بَرَكَةٌ  artinya kebaikan yang langgeng, kekal berupa ilmu, ilham, hujan yang turun dari langit,  tumbuhan, tanah yang subur, kesenangan, keamanan dan kesehatan termasuk berkah yang ada di bumi. (Aisarut Tafasir). 

Tentang ayat ini pula Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala menjelaskan bahwa penduduk negeri yang mau beriman hati mereka dengan iman yang benar dan dibuktikan dengan amal shalih, mereka mau bertakwa lahir dan bathin dengan meninggalkan perkara yang haram tentu ALLAH AKAN MMBUKA BERKAH BERKAHNYA dari langit dan bumi. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Selain itu, berkah akan mendatangi hamba hamba Allah yang memiliki sifat qanaah dan lapang dada dengan pembagian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan jiwa yang dipenuhi dengan qanaah, dan keridhaan dengan segala rezeki  yang Allah turunkan untuknya, maka keberkahan akan datang kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

(إن اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَبْتَلِيْ عَبْدَهُ بِمَا أَعْطَاهُ. فَمَنْ رضي بِمَا قَسَمَ الله  لَهُ بَارَكَ الله لَهُ فِيْهِ وَوَسَّعَهُ . وَمَنْ لم يَرْضَ لم يُبَارِكْ لَهُ وَلَمْ يَزِدْهُ عَلَى مَا كُتِبَ لَهُ) رواه أحمد والبيهقي وصححه الألباني

Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barang siapa yang ridha dengan pembagian Allah Ta'ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barang siapa yang tidak ridha niscaya rizkinya tidak akan diberkahi.  (H.R Imam Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Wallahu A'lam. (3.005).

 

 

 

 

 

 

Selasa, 16 Mei 2023

ORANG BERIMAN JANGAN LALAI MENYIMAK DAN MENJAWAB ADZAN

 

ORANG BERIMAN JANGAN LALAI MENYIMAK DAN MENJAWAB ADZAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Alhamdulilah, di negeri ini, kita mendengar panggilan atau suara adzan lima kali sehari yaitu pada setiap waktu shalat fardhu. Sungguh orang orang beriman hendaklah berusaha menggunakan waktu dan kesempatannya untuk menyimak dan menjawab adzan yaitu mengucapkan kalimat seperti yang diucapkan muadzin.

Perkara ini  ini dijelaskan  dalam satu hadits dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : “Apabila muadzin mengucapkan ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR lalu seorang di antara kamu mengucapkan (juga) ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR. Kemudian muadzin mengucapkan ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH ia mengucapkan juga ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. Kemudian muadzin mengucapkan ASYHHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH  ia  mengucapkan (juga)   ASYHHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.

Kemudian muadzin mengucapkan HAYYA ‘ALASH SHALAAH maka ia mengucapkan LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Kemudian muadzin mengucapkan HAYYA ‘ALAL FALAAH ia mengucapkan  LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

Kemudian muadzin mengucapkan ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR ia mengucapkan juga ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR. Kemudian muadzin mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH ia mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dari lubuk hatinya maka pasti ia masuk surga. (H.R Imam Muslim dan Abu Dawud).

Setelah itu dianjurkan pula bershalawat kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dan  orang yang bershalawat kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  satu kali maka Allah Ta’ala akan bershalawat kepadanya sepuluh kali. Ketahuilah bahwa jika Allah bershalawat kepada makhluk-Nya maka maknanya adalah Allah memberi rahmat (kasih sayang) kepada makhluk.

Dan juga mintalah kepada Allah Ta'ala  washilah untuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Permohonan washilah untuk Rasulullah adalah dengan mengucapkan (yang biasa dikenal dengan doa setelah adzan), yaitu : Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah bersabda : Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan :

اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ.

Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan.

Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat” (H.R Imam Bukhari dan juga yang selainnya).

Cuma saja, kalau kita perhatikan ternyata ada sebagian saudara saudara kita yang kadang kadang tidak menaruh perhatian terhadap kalimat adzan yang sedang dikumandangkan. Meskipun dia sudah duduk di masjid tetapi  masih berbicara satu dengan yang lain. Tidak pula bershalawat sesudahnya dan tidak pula memohon  washilah yaitu membaca  doa setelah adzan. Pada hal, sungguh dari hadits diatas kita mengetahui bahwa :

Pertama : Menyimak dan menjawab adzab adalah salah satu jalan untuk mendapatkan surga.

Kedua : Bershalawat kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  satu kali akan mendapat shalawat dari Allah Ta'ala sepuluh kali, yaitu berupa rahmat atau kasih sayang Allah Ta'ala kepada makhluk-Nya.

Ketiga : Orang beriman yang memohon wasilah, yaitu membaca doa setelah adzan berhak mendapat syafaat dari Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam di akhirat kelak.

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah memberikan perhatian yang sungguh ketika mendengar adzan terutama sekali menyimak dan menjawab adzan, bershalawat serta memohon wasilah untuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam agar mendapat keutamaan yang banyak.

Selain itu pula, sangat dianjurkan, jika ada kesempatan, berdoalah antara adzan dan iqamah. Ini termasuk satu waktu doa diijabah. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ فَادْعُوا

Sesungguhnya doa yang tidak tertolak adalah doa antara adzan dan iqamah, maka berdoalah (kala itu). H.R Imam Ahmad.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

Doa yang tidak mungkin tertolak adalah ketika antara (waktu) adzan dan iqamah.  (H.R at Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih). 

Wallahu A'lam. (3.004).