Minggu, 29 November 2020

TAK BAIK MEMBICARAKAN KEKURANG ORANG LAIN

 

TAK BAIK MEMBICARAKAN KEKURANGAN ORANG LAIN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kalau kita perhatikan keadaan di masyarakat kita saat ini, nampaknya sangatlah sedikit orang orang yang selamat dari perbuatan membicarakan kekurangan orang lain. Padahal bisa jatuh kepada ghibah, menggunjing atau membicarakan aib orang lain. Sementara itu bisa membuat seseorang lupa kepada kekurangan dirinya.

Membicarakan kekurangan orang lain dengan lisan biasanya didengar oleh sedikit orang. Dan yang lebih parah lagi dalam bentuk  tulisan terutama melalui berbagai ragam media sosial yang menyebar kemana mana. Bisa dibaca oleh sangat banyak orang.

Rupanya perbuatan membicarakan kekurangan  orang lain  sangatlah menarik bagi sebagian orang. Bahkan terkadang, dijadikan bahan untuk bercanda dan bergembira dan ketawa ketawa diantara mereka. Terkadang untuk mengisi waktu yang lowong ketika kumpul kumpul dalam satu paguyuban tertentu.

Sungguh membicarakan kekurangan, keburukan atau aib orang lain hakikatnya  adalah termasuk perbuatan tercela dan buruk akibatnya. Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Wahai orang orang beriman !. Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu YANG MENGGHIBAH SEBAGIAN YANG LAIN. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ?. Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang. (Q.S al Hujurat 12)

 

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ

Barang siapa yang menutupi aib (kekurangan) saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya walau ia di dalam rumahnya. (H.R. Ibnu Majah). 

Ketika seseorang mengetahui ada kekeliruan atau kekurangan atau aib saudaranya maka janganlah diumbar kepada orang lain. Tak usah dijadikan bahan pembicaraan. Dalam hal hal  ini yang dianjurkan adalah :

Pertama : Memberi nasehat jika memungkinkan.

Ketika seseorang   memiliki kekurangan atau aib  adalah ladang pahala dan kesempatan baik bagi seseorang untuk memberinya nasehat. Dan  memang menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk saling menasehati satu sama lain. Sungguh Allah Ta’ala mengingatkan untuk saling menasehati. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Sungguh,  manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih SERTA SALING MENASEHATI untuk kebenaran dan SALING MENASEHATI untuk kesabaran. (Q.S al ‘Asr 2-3).

Ketahuilah bahwa memberi nasehat dengan menunjukkan kebaikan kepada orang lain sangat dianjurkan dan akan mendapat kebaikan dari nasehatnya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. (H.R Imam Muslim)

Kedua : Mendoakan kebaikan baginya.

Ketika saudara kita sesama orang beriman berlaku tidak baik, memiliki kekurangan atau aib  maka sangat dianjurkan mendoakannya agar Allah Ta’ala memberinya petunjuk. Ketahuilah bahwa ketika mereka didoakan untuk selalu berbuat baik maka doa itu akan di-aamiinkan oleh Malaikat. Yang mendoakan  akan mendapat pula manfaatnya.  

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata : Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan. (H.R Imam Muslim).

Bahwa doa malaikat sangat besar kemungkinan dikabulkan karena Malaikat adalah makhluk yang selalu taat kepada perintah Allah Ta’ala dan senantiasa bertasbih mensucikan-Nya.

Sebagai penutup tulisan, dinukil nasehat Imam Malik bin Anas sebagai berikut yaitu dari Al Hafizh as Sakhawi dia berkata : Kami mendapatkan riwayat dari Imam Dar al Hijrah Malik bin Anas. Beliau berkata : Aku menjumpai di negeri ini yaitu Madinah, sejumlah orang yang tidak memiliki kekurangan NAMUN MEREKA SUKA MENCELA KEKURANGAN ORANG LAIN. Jadilah mereka setelah itu memiliki banyak kekurangan.

Sebaliknya, aku jumpai sejumlah orang yang banyak kekurangan NAMUN MEREKA TIDAK MAU MEMBICARAKAN KEKURANGAN ORANG LAIN. Hasilnya, kekurangan kekurangan yang mereka miliki itu dilupakan oleh banyak orang. (Adh Dhau’ al Laami’).   

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.132)

 

 

 

Sabtu, 28 November 2020

TIDAK MENGGUNAKAN HANDPHONE SAAT MENGEMUDI

 

TIDAK MENGGUNAKAN HANDPHONE SAAT MENGEMUDI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Beberapa kali kita mendapat kabar tentang kecelakaan mobil dan motor di jalan raya tersebab pengemudi menggunakan handphone saat mengendarai kendaraan. Dan memang ternyata menggunakan handphone saat mengemudi baik untuk menjawab panggilan telepon, membaca dan menjawab SMS ataupun WA memang berbahaya.

Ketahuilah bahwa menggunakan peralatan handsfree dalam berbicara melalui telepon ketika mengemudikan kendaraan ternyata tak banyak membantu karena pembicaraan umumnya membutuhkan kosentrasi otak. Ada yang mengatakan bahwa berbicara melalui telepon ketika mengemudi membuat   kosentrasi otak  menjadi lamban.  Padahal kosentrasi yang baik, kesigapan dan responsi yang tinggi adalah salah satu syarat penting dalam mengemudi yang aman.  

Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang  melarang setiap perkara yang bisa membuat diri kita celaka dan binasa. Allah Ta’ala berfirman :

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah KAMU JATUHKAN (DIRI SENDIRI) kedalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri. Dan berbuat baiklah. Sungguh Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S al Baqarah 195)

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam juga mengingatkan dalam sabda beliau :

لاَ ضَرَرَ و لاَ ضِرَارَ

Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri dan membahayakan orang lain. (H.R Ibnu Majah no. 2341).

Kemudian, demi keselamatan di jalan raya pemerintah juga telah melarang untuk menggunakan handphone pada saat mengemudi yaitu melalui undang undang no. 22 tahun 2009 tentang LLAJR khususnya pasal 106.

Ketahuilah  bahwa orang orang beriman mempunyai kewajiban untuk mentaati aturan yang ditetapkan pemerintah DALAM HAL HAL YANG BAIK DAN MENDATANGKAN KEBAIKAN. Allah Ta’ala mengingatkan orang orang beriman untuk taat kepada Allah, taat kepada Rasul-Nya dan juga kepada Ulil Amri. Taat kepada pemerintah atau Ulil Amri memang tidak mutlak kecuali dalam hal hal yang baik dan bermanfaat. Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Wahai orang orang yang beriman !. Taatilah Allah dan taatilah Rasul DAN ULIL AMRI (pemegang kekuasaan) di antara kamu. (Q.S an Nisa’ 59).

Ketika seseorang tak mau  mentaati pemimpin dalam hal yang baik maka itu berarti tak mentaati atau melanggar perintah Allah Ta’ala.

Oleh karena itu orang orang beriman akan selalu menahan diri untuk tidak menggunakan handphone pada saat  mengemudi. Jagalah keselamatan diri dan jagalah keselamatan orang lain. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.131)

Jumat, 27 November 2020

ADA KEMUNGKINAN IBADAH SEORANG HAMBA RENDAH NILAINYA

 

ADA KEMUNGKINAN IBADAH SEORANG HAMBA RENDAH NILAINYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap saat orang orang beriman berusaha untuk mengabdi, menyembah dan beribadah kepada Allah Ta’ala. Sungguh yang demikian diperintahkan Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (Q.S adz Dzariyat 56).

Dalam beribadah, seorang hamba seharusnya menampilkan yang terbaik sehingga pengabdian dan ibadahnya betul betul bernilai di sisi Allah Ta’ala. Sungguh melakukan ibadah yang bernilai adalah merupakan amal shalih yang dilandasi iman. Inilah modal untuk mendapatkan keselamatan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak.

Tapi ketahuilah wahai saudaraku, bahwa ada kemungkinan ibadah atau amal shalih yang kita lakukan bernilai rendah di sisi Allah Ta’ala. Bahkan bisa ada sebagian tak bernilai sama sekali. Sia sia.

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah menjelaskan perkara ini dalam sabda beliau, diantaranya :

Pertama : Shalat seseorang  mendapat sebagian pahala.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

Ketika seseorang selesai dari shalatnya, pahala yang dia dapatkan hanya 1/10 shalatnya, atau 1/9 atau 1/8 atau 1/7 atau 1/6 atau 1/5 atau 1/4 atau 1/3, atau 1/2-nya. (H.R Abu Daud,  dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Kedua : Disuruh mengulang shalat sampai tiga kali.

 Dalam suatu riwayat dari Abu Hurairah disebutkan  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke masjid, kemudian ada seorang laki-laki masuk masjid lalu shalat. Kemudian mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menjawab dan bersabda kepadanya : Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat !. Maka orang itu mengulangi shalatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi. Lalu datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam. 

Namun beliau kembali bersabda : Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat !. Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata : Demi Dzat yang mengutus engkau dengan hak, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu.

Maka ajarkkanlah aku !. Beliau lantas bersabda : Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur’an kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma’ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak.  Lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma’ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma’ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh (rakaat) shalatmu. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Ketiga : Shalat 60 tahun tak ada yang diterima.

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam  mengingatkan tentang seseorang yang shalat selama 60 tahun tapi tak satupun shalatnya diterima. 

Rasulullah bersabada : “Sesungguhnya (ada) seseorang yang shalat selama enam puluh tahun namun tak satu shalat pun diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud namun tidak menyempurnakan ruku’nya”. (H.R al Ashbahani, Lihat ash Shahihah no. 2535).

Keempat : Puasa hanya dapat lapar dan dahaga.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam juga mengingatkan bahwa seseorang yang berpuasa ada yang hanya mendapat lapar dan dahaga. Puasanya tak mendapat nilai.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga. (H.R ath Thabrani Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi).

Diantara penyebabnya adalah karena tak menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan. Jabir bin Abdillah menyampaikan nasehat : Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja. (Latha’if al Ma’arif).

Oleh karena itu setiap hamba hendaklah senantiasa menjaga nilai atau kualitas ibadahnya yaitu dengan  : (1) Ikhlas semata mata untuk mendekatkan diri  dan mencari ridha Allah Ta’ala. (2) Ittiba’ yaitu dengan mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam.

Selanjutnya bermohonlah kepada Allah Ta’ala agar ibadah diterima diberi kekuatan untuk beribadah dengan baik. Diantara doa yang sangat dianjurkan adalah :

(1) Doa Nabi Ibrahim :

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

Yaa Rabb  kami terimalah amal dari kami sungguh Engkaulah yang Maha Mendengar Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 127). 

(2) Doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, tolong aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah yang baik kepada-Mu. (H.R Abu Dawud, Imam Ahmad dan an Nasa’i).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.130)