Minggu, 21 Oktober 2018

TIGA WASIAT RASULULLAH DALAM HADITS DARI MUADZ



TIGA WASIAT RASULULLAH DALAM HADITS DARI MUADZ

Oleh : Azwir B. Chaniago

Imam an Nawawi, menyebutkan hadits ini pada urutan ke 18 dalam Kitab Arba’in Nawawiyah :
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “
Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman, Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscay a menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik  (H.R at Tirmidzi dan Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiihul Jaami’ dan disebagian naskah disebutkan bahwa hadits ini hasan shahih).
Dalam hadist ini terdapat tiga nasehat  Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam untuk kita ambil faedahnya yaitu :
Pertama : Perintah untuk bertakwa di manapun berada

Dalam hadits ini Allah Ta’ala memerintahkan orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dimanapun mereka berada. Diantara makna takwa adalah sebagaimana dijelaskan berikut ini :

Secara bahasa, takwa berarti menjaga diri atau berhati hati. Abu Hurairah ditanya oleh seseorang tentang takwa. Dijawab  : Apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh onak dan duri. Orang itu menjawab : Ya pernah.  Abu Hurairah bertanya lagi : Lalu apa yang engkau lakukan ?. Orang itu  menjawab : Jika aku melihat duri aku menghindar, melewati atau aku berhati-hati darinya. Abu Hurairah berkata : Itulah makna takwa (Jamiul ulum wal Hikam).

Ibnu Mas’ud berkata bahwa makna takwa yaitu hendaklah Allah ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan dan disyukuri tidak diingkari (nikmat-Nya). Atsar shahih, riwayat ath Thabrani dan al Hakim. Juga disebutkan dalam Tafsir at Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir.
 
Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad berkata : Makna takwa dalam syariat adalah seseorang melindungi dirinya dari murka Allah. Yaitu dengan (1) Menjalankan perintah dan menjauhi larangan. (2) Membenarkan semua berita dari Allah. (3) Beribadah kepada Allah sesuai dengan yang disyariatkan-Nya, bukan dengan cara yang mengada ada dan muhdats.

Takwa kepada Allah wajib dalam setiap keadaan, tempat dan waktu. Sehingga seseorang bertakwa kepada Allah ketika sendiri dan ketika di tengah keramaian. Bertakwa ketika dilihat manusia atau ketika tersembunyi dari mereka. Sebagaimana datang dalam hadits ini :  “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engku berada”. (Syarah Hadits Arba’in an Nawawiyah).

Allah Ta’ala berwasiat kepada generasi terdahulu dan juga generasi yang terakhir, sebagaimana firman-Nya :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ  

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah … (Q.S an Nisa’ 131).

Umar Khaththab pernah menulis surat kepada anaknya yaitu Abdullah bin Umar : ‘Amma Ba’du. Aku berwasiat kepadamu, hendaklah engkau bertakwa kepada Allah Ta’ala karena barangsiapa bertakwa kepada-Nya. (1) Dia melindunginya. (2) Barangsiapa bersyukur kepada-Nya, Dia menambahkan nikmat-Nya kepadanya. (3) Jadikan takwa di kedua pelupuk matamu dan hatimu. (Jami’ul wal ‘Uluum wal Hikam).

Ketahuilah bahwa Rasulullah telah mengajarkan satu doa memohon ketakwaan. Doa ini sangat baik pula untuk kita amalkan pada setiap kesempatan, yaitu :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, kesucian, dan kekayaan (kekayaan hati) H.R Imam Muslim, at Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban  dan yang lainnya)

Kedua : Segera melakukan amal shalih jika berbuat keburukan

Syaikh Utsaimin berkata : Para ulama berbeda pendapat, apakah yang dimaksud dengan hasanah yag mengikuti keburukan ini berupa taubat, karena beliau seakan akan bersabda : Apabila engkau berbuat keburukan maka bertaubatlah. Ataukah bermakna umum ?.

Yang benar adalah makna yang umum, bahwa kebaikan akan menghapus keburukan sekalipun bukan berupa taubat. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

Perbuatan baik itu menghapus kesalahan kesalahan. Itulah peringatan bagi orang orang yang selalu mengingat (Allah) Q.S Huud 114.

Di zaman Rasulullah ada seorang laki laki bertanya kepada beliau. Laki laki itu mengatakan bahwa dia telah melakukan sesuatu dengan wanita  layaknya seorang suami dan istrinya kecuali zina. Ketika itu dia baru menyelesaikan shalat shubuh bersama para sahabat.

Rasulullah bertanya : “Apakah engkau telah shalat shubuh bersama kami ?”. Laki laki itu menjawab : Iya. Kemudian beliau membacakan satu ayat kepada laki laki itu. “Sesungguhnya perbuatan perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan  yang buruk …(Q.S Huud 114). H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kisah ini menunjukkan bahwa kebaikan menghapus keburukan, meskipun bukan berbentuk taubat. ”Dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan itu akan menghapuskan keburukan itu”. Jadi jelaslah kesimpulannya bahwa kebaikan menghapuskan keburukan. (Syarah Hadits Arba’in an Nawawiyah).    

Namun demikian saudaraku,  janganlah sengaja berbuat keburukan dan dosa lalu melakukan kebaikan untuk menghapusnya. Ketahuilah bahwa tak ada yang bisa menjamin bahwa seseorang bisa berbuat kebaikan setelah melakukan keburukan. 

Jangan jangan karena keenakan melakukan keburukan lalu susah untuk berhenti bahkan tergoda melakukan keburukan yang lebih besar lagi.
Jadi langkah paling aman adalah selalu menahan diri dan tidak melakukan keburukan dan dosa sekecil apa pun. Selalu berusaha melakukan kebaikan dan amal shalih. 

Ketiga : Berakhlak baik  kepada manusia

Ini adalah salah satu wasiat yang sangat bermanfaat dari Rasulullah. Beliau sendiri benar benar memiliki akhlak yang sangat mulia dan mendapat pujian dari Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya : 

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau  (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur. (Q.S al Qalam 4).

Apa yang dimaksud dengan akhlak yang baik ?. Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah menjelaskan bahwa akhlak yang baik itu mencakup tiga hal : (1) Berbuat baik kepada orang lain. (2) Menghindari sesuatu yang menyakiti atau yang tidak disukai orang lain. (3) Menahan diri jika disakiti atau diperlakukan tidak baik oleh orang  lain. (Kitab Madaarijus Saalikin).

Sungguh akhlak yang baik membuahkan banyak sekali kebaikan, diantaranya : 

(1) Mendapat kecintaan Allah Ta’ala.

Seorang hamba akan selalu bertaqarrub atau berusaha mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala yakni untuk mendapatkan kecintaan Allah bagi dirinya. Diantara cara untuk mendapat kecintaan Allah adalah sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yaitu akhlak yang baik.

Dari Usamah bin Syarik, dia berkata : Suatu ketika kami sedang duduk duduk di sisi Nabi, seolah olah di atas kepala kami ada seekor burung hingga tak seorangpun berani berbicara. Tiba tiba datang sekelompok orang bertanya kepada Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam : Siapakah hamba Allah yang paling dicintai oleh-Nya ?. Nabi menjawab : “Orang yang paling baik akhlaknya”. (H.R ath Thabrani).

(2) Memberatkan timbangan di Yaumil Akhir.

Sungguh di Yaumil Akhir kelak, semua amal manusia akan ditimbang. Diantara perbuatan yang akan memberatkan timbangan adalah akhlak yang mulia.
Rasulullah bersabda : Dari Abu Darda’ bahwasanya Nabi Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Tidak ada yang  lebih berat pada timbangan seorang hamba di hari Kiamat daripada akhlak yang mulia”. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Hibban. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani). 

(3) Memperoleh derajat yang tinggi.

Sungguh kedudukan manusia di akhirat kelak adalah bertingkat tingkat. Seseorang yang memiliki akhlak mulia akan mendapat derajat atau tingkat yang tinggi. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam : “Sungguh seorang mukmin dapat meraih derajatnya orang yang shalat dan puasa karena akhlaknya yang baik” (H.R Abu Dawud, Ibnu Hibban dan al Hakim. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam ash Shahihah).

Demikianlah tiga wasiat yang sangat bermanfaat dari Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.424)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar