Minggu, 28 Oktober 2018

PERINTAH AGAMA SEBATAS KEMAMPUAN UMATNYA


PERINTAH AGAMA SEBATAS KEMAMPUAN UMATNYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh kita sangat beruntung dan bersyukur karena mendapat hidayah memeluk agama Islam ini. Agama yang sempurna dan Allah ridha dengannya. Allah Ta’ala  berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S al Ma-idah 3)

Kita berdoa semoga kita diwafatkan Allah dalam keadaan memegang Islam secara kaffah. Selain itu ternyata bahwa hakikatnya, syari’at Islam yang kita pegang ini adalah syariat yang ringan. Syariat ini  hanya menyuruh umatnya melakukan perintah sebatas kemampuannya. Allah berfirman :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu (Q.S at Taghabun 16).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memerintahkan para hambaNya agar bertakwa kepada-Nya yaitu dengan menunaikan perintah sesuai kemampuan dan menjauhi larangannya.
Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan. (Tafsir Karimur Rahman). 

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ .
Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahuanhu dia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna) dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Sungguh Allah Ta’ala sebagai Khaliq, Maha Mengetahui tentang kelemahan dan kekurangan hamba hambaNya. Maka dalam syari’at Islam Allah memberikan rukhshah atau keringanan yang banyak. 

Allah berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan (bersifat) lemah. (Q.S an Nisaa’ 28).

Maksud ayat ini adalah dengan mudahnya perkara yang Allah perintahkan kalian kepadanya dan perkara perkara yang kalian dilarang darinya, semua itu karena rakhmat Allah yang sempurna kebaikanNya. Yang menyeluruh dari ilmu dan hikmahNya akan kelemahan manusia dari berbagai segi. Lemah fisik, lemah dalam kehendak, lemah dalam tekad, lemah dalam iman dan lemah dalam kesabaran. Lalu untuk menyesuaikan hal itu Allah meringankan apa yang mereka lemah padanya dan apa yang tidak bisa dilakukan oleh keimanan, kesabaran dan kekuatan mereka (Syaikh as Sa’di Tafsir Karimur Rahman).

Jadi syariat Islam ini boleh dilakukan sesuai kemampuan bahkan dalam kondisi tertentu diberi pula rukhsah atau keringanan dalam melakukan perintah Allah Ta’ala.
Kita ketahui bahwa syariat Allah menghendaki terciptanya kebaikan dan kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Karena itulah, terdapat berbagai keringanan dan kemudahan bagi hamba hamba-Nya.. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُم في الدِّين مِنْ حَرَجٍ

Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Q.S al Hajj 78)

Allah Ta’ala berfirman dalam menjelaskan kewajiban puasa yang mungkin dirasa  berat oleh sebagian orang.

يُريدُ الله بكُمُ اليُسْرَ وَلا يُريدُ بِكُمُ العُسْر

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Q.S al Baqarah 185).

Allah Ta’ala  juga menjeaskan prinsip kemudahan dalam mewajibkan wudhu' :

مَا يُريدُ الله لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلكن يُريدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَةُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Q.S al Maidah 6)

Atas dasar kemudahan ini pula amal-amal sunnah berjalan. Maka tidaklah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam diberi dua pilihan kecuali beliau memilih yang paling mudah, selama tidak mengandung dosa. Dan beliau senantiasa berdakwah kepada kemudahan, kelemah lembutan, dan tidak pernah mempersulit.

Dari Anas bin Malik,  ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Permudahlah dan jangan persulit, berilah, buatlah mereka gembira dan jangan buat mereka lari. (Muttafaqun 'alaih).

Lalu ada pula sebagian orang yang mengatakan bahwa syariat Islam sungguh berat untuk dilakukan. Setiap hari wajib shalat lima kali dan itupun harus berwudhu’ lebih dahulu . Bulan Ramadhan harus berpuasa sebulan penuh. Jika harta sampai waktu dan nisabnya harus pula dikeluarkan zakatnya. Jika punya harta yang cukup timbul pula kewajiban melaksanakan badah haji dengan biaya yang tidak sedikit dan yang lainnya. 
Ketahuilah bahwa apa pun perintah agama adalah untuk kemashlahatan manusia. Bukan hanya di dunia tapi juga kemashlahatan di negeri akhirat. 

Namun terkadang ada perintah agama ini memang terasa berat. Bagi siapa ?, yaitu bagi : (1) Orang yang imannya masih perlu ditingkatkan. (2) Orang yang tidak ikhlas dan tidak ittiba’  yaitu tidak mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah dalam cara beribadah. (3) Orang yang tidak memiliki ilmu yang memadai tentang syari’at Islam ini.

Semoga kita tetap teguh dalam melaksanakan perintah agama yang merupakan kewajiban kita kepada Allah guna mendekatkan diri dan mencari ridha-Nya. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.438).   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar