Senin, 27 April 2020

MUNGKINKAH ORANG BERIMAN MENGALAMI CABIN FEVER


MUNGKINKAH ORANG ORANG BERIMAN MENGALAMI CABIN FEVER

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Jika Allah Ta’ala berkehendak, ada  kemungkinan keadaan sulit yang dihadapi seseorang atau sekelompok orang karena harus tinggal di satu tempat untuk waktu yang relatif lama. Diantaranya : (1) Harus tinggal di rumah karena di luar rumah kondisi keamanan sangat tidak kondusif tersebab bencana alam ataupun wabah penyakit menular. (2) Harus tinggal di rumah tahanan karena kesalahan yang jelas ATAUPUN TIDAK JELAS.

Keadaan tak nyaman tersebab harus tinggal atau berada disatu tempat terus menerus ini  MEMBUAT  SESEORANG BISA berubah perilakunya dari sebelumnya. Misalnya menjadi mudah tersinggung, mudah putus asa atau kurang motivasi bahkan bisa tak sabaran dan yang lainnya. Dalam istilah para pakar inilah KEADAAN yang disebut dengan CABIN FEVER. 

Lalu datang pertanyaan, mungkinkah orang orang beriman bisa mengalami cabin fever tersebut.    Jawabnya : Bisa jadi tetapi kecil kemungkinannya karena : 

(1) Orang orang beriman SANGAT YAKIN bahwa segala sesuatu terjadi adalah atas kehendak Yang Maha Kuasa. Allah Ta’ala berfirman :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad) : Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang orang yang beriman. (Q.S at Taubah 51).
Allah Ta’ala berfirman :  

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ

Tidak ada  sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. (Q.S at Taghabun 11).

Berkenaan dengan ayat ini, Alqamah berkata : Ayat ini tentang musibah yang menimpa seseorang kemudian dia menyadari bahwa  itu semua dari Allah, maka dia ridha dan menerimanya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir).

(2) Sungguh  ujian yang menimpa seorang hamba menjadi penghapus dosa baginya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Jadi ketika ada musibah berupa wabah penyakit yang meluas dan yang lainnya maka orang orang beriman menerima dengan hati lapang karena Allah Ta’ala akan mengampuni dosa dosanya. 

(3) Ketika orang beriman harus tinggal di satu tempat dalam waktu yang agak lama MAKA TAMPAK JELAS BAGINYA ADA WAKTU LUANG YANG BANYAK.  Inilah kesempatan besar untuk BISA SEMAKIN mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Lalu kesempatan ini diisi dengan berbagai ibadah seperti banyak berdoa, banyak melakukan shalat sunnah, banyak melakukan puasa sunnah, banyak berdzikir, kesempatan belajar ilmu dari kitab kitab agama serta dari medsos, banyak membaca dan mempelajari al Qur an, banyak beristighfar.

Jika ada kemampuan maka bisa menulis kajian  dan nasehat  untuk kaum muslimin dan berdakwah melalui sarana online. Jadi semua waktunya bisa digunakan untuk melakukan kebaikan bagi dirinya dan bagi orang lain. Nah, jika seseorang pandai memanfaatkan waktunya pada saat yang tak nyaman itu apalagi digunakan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala maka cabin fever akan menjauh.

Dalam hal ini sangatlah baik kalau kita belajar dari  Prof. Dr. Abdul Malik Karim Amrullah yang kita kenal dengan Buya Hamka (wafat 1981). Beliau pernah berada di rumah tahanan selama lebih dari dua tahun tersebab KESALAHAN YANG TAK JELAS yaitu di zaman penguasa orde lama. Peristiwa ini beliau sebutkan dalam pembukaan Kitab Tafsir al Azhar.

Beliau menceritakan : Pada tanggal 12 Ramadhan 1383 H atau 27 Januari 1964 M. kira kira pukul 11 siang yaitu sehabis memberikan kajian untuk kaum Muslimat di Masjid al Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan saya pulang kerumah untuk sedikit beristirahat menjelang masuknya waktu shalat zuhur.

Belum setengah jam saya berada di rumah lalu datanglah empat orang tamu. Saya mengira bahwa tamu tersebut adalah pengurus salah satu masjid yang akan meminta saya untuk memberikan ceramah atau kajian di masjidnya. Ternyata dugaan saya salah dan tak pernah terbayang sedikitpun sebelumnya.

Setelah saya temui tamu tersebut, tanpa banyak bicara, seorang diantara mereka menyerahkan selembar surat kepada saya.  Setelah saya baca ternyata surat itu adalah perintah penangkapan terhadap diri saya. Kemudian saya dibawa dan dimasukkan ke rumah tahanan.

Selanjutnya beliau mengatakan : Saya mendapat pengalaman dan hikmah yang sangat besar, yaitu dalam meresapi intisari ayat  5 dan 6 surat al Insyiraah. Allah berfirman : “Fa inna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusraa”. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Maka biarpun (dalam tahanan) SAYA TIDAK MAU BEMENUNG DIRI. Lalu datang petunjuk dari Allah. Segera saya baca al Qur-an. Pada 5 hari pertama berada dalam tahanan saya telah mengkhatamkan al Qur an tiga kali. Setelah itu saya tidak banyak lagi berfikir kapan saya bisa keluar tahanan ini.

Ketahuilah saudaraku, selama dalam tahanan  beliau membagi waktu antara mengkhatamkan bacaan al Qur-an dan menulis tafsir al Qur-an, disamping melakukan ibadah ibadah lainnya. Dengan pertolongan Allah Ta’ala, hasilnya sangatlah mengagumkan.

Pertama :  Dalam waktu  dua tahun empat bulan berada di tahanan, beliau telah mengkhatamkan al Qur-an lebih dari 150 kali. Kalau kita hitung dengan masa beliau berada di tahanan berarti beliau mengkhatamkan al Qur-an antara tiga sampai empat hari sekali.

Kedua : Yang lebih mengagumkan lagi bahwa disamping mengkhatamkan al Qur an lebih dari 150 kali beliau juga menyelesaikan tafsir al Qur an yaitu Tafsir Al Azhar sebanyak 28 juz. Untuk diketahui, sebelum masuk tahanan beliau telah menyelesaikan tafsir al Ahar  2 juz yaitu juz 18 dan juz 19.

Sungguh Buya Hamka ketika menghadapi musibah yaitu berada di rumah tahanan selama lebih dari dua tahun membuat beliau semakin banyak beribadah dan semakin produktif dalam menulis yang bermanfaat bagi umat. Tak ada sedikitpun kegelisahaan pada diri beliau apalagi mengalami cabin fever. Sikap beliau yang demikian sangatlah layak untuk djadikan tauladan.

Oleh karena itu, ketika orang orang beriman menghadapi musibah seperti wabah  penyakit menular yang berbahaya ataupun yang lainnya, lalu berserah diri kepada Allah Ta’ala dan melakukan usaha mendekatkan diri kepada-Nya maka cabin fever akan menjauh.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.959).









Tidak ada komentar:

Posting Komentar