Rabu, 18 Oktober 2017

SUKA MENCELA TERMASUK DOSA BESAR



SUKA MENCELA TERMASUK DOSA BESAR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Rasulullah telah mengingatkan orang orang beriman agar berbicara yang baik atau diam. Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda: “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhiri fal yaqul khairan au liyasmut”. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam. (H.R. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah).

Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut benar-benar baik dan berpahala, baik dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan ia mengatakannya. Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu tampak samar baginya antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. 

Hadits ini adalah peringatan bagi orang orang beriman agar berbicara yang baik dan bermanfaat dan menghindari pembicaraan yang buruk. Bahkan dalam hadits ini disebutkan pula bahwa berbicara yang baik ternyata terkait pula dengan iman seseorang karena hadits ini dibuka dengan kalimat : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir”.

Ketahuilah,  salah satu bentuk berbicara yang buruk adalah kebiasaan suka mencela. Bahkan Imam adz Dzahabi mengatakan bahwa perbuatan suka mencela adalah termasuk dosa besar. (Lihat al Kaba-ir)

Seorang beriman haruslah mewajibkan dirinya untuk menjauh dari sifat suka mencela ini. Dalam wasiat Rasulullah kepada Abu Juraiyi beliau bersabda : “Janganlah engkau mencela seorangpun !. Abu Juraiyi berkata : Maka setelah itu aku tak pernah mencela seorang yang merdeka, seorang budak, seekor onta dan seekor kambing. (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa adanya larangan bagi seorang beriman untuk mencela siapapun dan apapun, diantaranya :

Pertama : Tidak boleh mencela sesama muslim.
Sungguh orang muslim itu bersaudara. Allah  berfirman : “Innamal mu’minuuna ikhwatun fa ashlihuu baina akhawaikum, wattaqullaha la’allakum turhamuun”  Sesungguhnya orang orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al Hujurat 10).

Syaikh as Sa’di berkata : Persaudaraan yang mengharuskan orang orang mencintai saudaranya sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri serta tidak menyukai apapun mengenainya sebagaimana diri mereka sendiri tidak suka terkena hal  itu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Rasulullah bersabda : “Shibaabul muslimi fusuuqun wa qitaluhu kufrun”. Mencela seorang muslim merupakan kefasikan dan memeranginya merupakan kekafiran. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa ketika seseorang mencela seorang mukmin berarti dia telah menyakiti saudaranya. Sungguh Allah telah melarang hal ini. Allah berfirman : “Walladziina yu’dzuunal mu’miniina wal mu’minaati bighairi maktasabuu faqadih tamaluu buhtaanan wa itsman mubiinaa”. Dan orang orang yang menyakiti orang orang mukmin laki laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.  (Q.S al Ahzab 58).

Kedua : Tidak boleh mencela waktu
Mencela waktu adalah ketika seseorang menyebut suatu waktu lalu menghubungkannya dengan keburukan atau kesialan. Ini adalah sesuatu yang sangat dilarang dalam Islam.

Rasulullah bersabda : “Laa tasubbuud dahra fa innallaha huwad dahru”. Janganlah kamu mencela masa karena Allah adalah (pengatur) masa. (H.R Imam Muslim).   
Rasulullah dalam sebuah hadits qudsi menyebutkan bahwa  Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu padahal Aku adalah (pengatur) waktu. Akulah yang membolak balikan malam dan siang (H.R Imam Muslim).

Ketiga : Tidak boleh mencela angin.
Angin yang berembus adalah dengan perintah Allah Ta’ala sebagai Khaliqnya. Oleh karena itu mencela angin termasuk mencela Allah Ta’ala. Ini termasuk dosa besar.Na’udzubillahi min dzaalik.

Dalam satu hadits dari Ubay bin Kaab, dari Nabi, beliau bersabda : “Janganlah kamu mencela angin !. Jika kamu melihat apa yang kamu tidak suka dari angin itu maka katakanlah : Allahumma innaa nas-aluka min khairi hadziiihir riihi wa min khairi maa fiihaa wa min khairi maa ursilat bihii wa na’udzubika min syarri hadzihir riihi wa min syarri maa fiihaa wa min syarri maa ursilat bihi”. (artinya : Ya Allah !. Kami mohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini dan kebaikan yang ada pada angin ini dan dari kebaikan yang angina ini dikirim. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angina ini dan dari keburukan yang ada pada angin ini dan dari keburukan yang angin ini dikirim). H.R Imam Ahmad dan at Tirmidzi).

 Keempat : Tidak boleh mencela binatang.
Hadits dari Zaid bin Khalid berikut ini menyebutkan tentang larangan mencela binatang dalam hal ini disebutkan ayam jantan. Rasulullah bersabda : “Laa tasubbud diika fa innahu yuqizhu shalaah” . Janganlah kamu mencela ayam jantan karena ayam jantan itu membangunkan (orang) untuk shalat. (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Dalam ‘Aunul Ma’bud, syarah Abi Dawud, disebutkan : Karena ayam jantan itu membangunkan (manusia) untuk shalat yaitu dengan berkokok. Sedangkan orang yang membantu melakukan ketaatan berhak dipuji, bukan dicela. Dan telah menjadi kebiasaan bahwa ayam jantan itu berkokok beriringan ketika mendekati terbit fajar.

Kelima : Tidak boleh mencela demam.
Ketika seseorang didatangi penyakit  maka tidaklah boleh dia mencelanya karena musibah berupa demam yang dialami hakikatnya adalah baik baginya. Jika dia menerima dengan sabar maka itu akan menjadi penghapus dosanya. 

Rasulullah bersabda : Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah menemui Ummu Saaib atau Ummul Musayyab, lalu beliau bersabda : “Kenapa engkau wahai Ummu aaibUmmu Musayyab, engkau gemetar. Dia menjawab : Demam, semoga Allah tidak memberkahinya.

Maka beliau bersabda : “Janganlah engkau mencela demam, sesungguhnya demam itu akan menghilangkan dosa dosa anak Adam sebagaimana tungku api pandai besi membersihkan kotoran besi”. (H.R Imam Muslim). 

Oleh karena itu maka seorang beriman haruslah dengan sungguh sungguh menghindari sikap suka mencela karena perbuatan ini adalah termasuk dosa besar yang mesti dijauhi. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.149)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar