Sabtu, 14 Oktober 2017

MENGIKUTI HAWA NAFSU BISA SESAT DAN MENYESATKAN



MENGIKUTI HAWA NAFSU BISA SESAT DAN MENYESATKAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu kewajiban kita  adalah mengendalikan hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Ketahuilah bahwa hawa nafsu yang diikuti akan mendatangkan keburukan yang banyak bagi seseorang.  Hawa nafsu ini cenderung kepada keburukan.

Allah berfirman : “Wa maa ubarri-u nafsii, innan nafsa la-ammaaratun bisssuu-i illaa maa rahima rabbii, inna rabbii ghafurur rahiim”. (Yusuf berkata) Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S Yusuf 53).

Seorang hamba harus berjuang untuk mengendalikan bahkan melawannya agar terhindar dari mudharatnya. Rasulullah bersabda : ”Al mujahidu man jaahada nafsahu fillahi ‘azza wa jalla”. Orang yang berjuang dengan sungguh sungguh adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya di jalan Allah. (H.R Imam Ahmad dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Rasulullah mengingatkan untuk tidak mengikuti hawa nafsu yang merusak bahkan membinasakan yaitu sebagai mana disebutkan dalam sabda beliau : “Tsalatsun muhlikaatun ….. Faammal muhlikatu : Fasyuhhun, muthaa’un wa hawan muttaba’uun, wa ‘ijaabul mar-i bi nafsihi”. Tiga yang membinasakan … Tiga yang bisa membinasakan yaitu sifat kikir yang dipatuhi, hawa nafsu yang dituruti dan berbangga dengan diri sendiri. (H.R ath Thabrani).

Sungguh ketika seseorang  mengikuti kemauan hawa nafsunya apalagi menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya , maka KESESATAN pasti akan mendatanginya. Allah Ta’ala telah menjelaskan perkara ini dalam firman-Nya, diantaranya adalah :

Pertama :  Dalam surat al Jaatsiah  ayat 23.
Allah Ta’ala berfirman : “Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya ?. Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat) ?. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ?”.

Kedua : Dalam surat al Qashash ayat 50).
Allah berfirman : “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti keinginan hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun ?. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang yang zhalim”.

Syaikh as Sa’di berkata : (Orang yang mengikuti hawa nafsunya) jadi, dialah orang yang paling sesat karena ketika ditawarkan kepadanya petunjuk dan jalan lurus yang dapatmengantarkan kepada Allah Ta’ala dan kepada negeri yang kemuliaan-Nya yaitu surga, dia tidak menghiraukannya dan tidak pula mendatanginya. 

Sedangkan ketika dibujuk oleh hawa nafsunya untuk menelusuri jalan jalan yang dapat menjerumuskan kepada kebinasaan dan kesengsaraan maka dia pun mengikutinya dan meninggalkan petunjuk. Maka apakah ada seseorang yang lebih sesat dari pada orang yang seperti itu karakternya ?.

Akan tetapi, sesungguhnya kezhalimannya, sikap melampaui batas dan tidak ada kecintaan kepada kebenaran itulah yang sebenarnya telah membuatnya tetap berada pada kesesatannya dan tidak diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).  

Ketiga : Dalam surat  Shad ayat 26.
Allah Ta’ala berfirman : ”Wahai Dawud !. Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh orang orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat adzab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan”. 

Bahkan Imam Ibnul Qayyim telah mengingatkan orang orang beriman tentang perkara ini, beliau berkata : Haruslah diketahui bahwa nafsu (yang cenderung kepada keburukan) tidaklah mencampuri sesuatu  melainkan akan merusaknya.

Pertama : Jika nafsu mencampuri ilmu, maka akan menghasilkan kesesatan.
Kedua : Jika nafsu mencampuri zuhud, maka akan menghasilkan riya dan  sum’ah.
Ketiga : Jika nafsu mencampuri hukum, maka akan menghasilkan kezhaliman dan menghalangi kebenaran.
Keempat : Jika nafsu mencampuri pembagian (harta) maka akan menghasilkan ketidak adilan.
Kelima : Jika nafsu mencampuri ibadah maka akan menghasilkan gangguan terhadap ketaatan dan taqarrub.

Namun demikian ketahuilah bahwa hawa nafsu tidak perlu dibunuh tetapi haruslah dilawan dan dikendalikan sehingga bisa terhindar dari berbagai keburukannya. 
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.143)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar