Senin, 23 Oktober 2017

MANUSIA CENDERUNG KEPADA HARTA YANG BANYAK



MANUSIA CENDERUNG KEPADA HARTA YANG BANYAK

Oleh : Azwir B. Chaniago

Hakikatnya manusia memang memiliki kecendrungan yang besar terhadap harta dan perhiasan dunia. Kilaunya harta sering menjadi daya pikat yang hebat bagi sebagian manusia. Terkadang bisa menyilaukan bahkan membutakan mata dan menutup hati. Akibatnya mereka lupa akan rambu rambu yang telah ditetapkan Allah Ta’ala dalam mencari rizki. Ada yang tak peduli dengan cara mendapatkannya dan tak peduli pula bagaimana harus  membelanjakan harta secara syariat. 

Allah berfirman : “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa wanita wanita, anak anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (Q.S Ali Imran 14).

Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala mengabarkan bahwa manusia dihiasi dengan perkara perkara (harta) tersebut hingga mereka meliriknya dengan mata mereka dan mereka ilusikan manisnya dalam hati mereka. Jiwa jiwa mereka terbuai dalam kenikmatan kenikmatannya. Pada hal itu semua hanyalah kenikmatan yang sedikit yang akan lenyap dalam waktu sekejap. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Rasulullah telah mengingatkan dalam sabda beliau : “Ya’ti alannaasi zamanun laa yuballil mar-u maa akhadaza minhu, aminal halaali am minal haraami”. Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi peduli dengan apa yang dia dapatkan apakah dari yang halal atau haram.(H.R Imam Bukhari).

Rasulullah juga mengingatkan tentang adanya fitnah harta. Beliau bersabda : “Inna likulli ummatin fitnatan wa fitnatu ummatil maal” Sesungguhnya setiap umat itu ada fitnahnya dan fitnah umatku ada pada harta. (H.R at Tirmidzi, Hasan Shahih). 

Meskipun hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah untuk mencela harta dan melarang orang orang untuk berusaha mendapatkan harta namun harusnya ini membuat orang orang beriman waspada terhadap harta. Dari mana didapatkan dan untuk apa dia belanjakan.  

Rasulullah bersabda : “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba ketika hari Kiamat kelak hingga ia ditanya : (1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan. (2) Tentang ilmunya untuk apa dia amalkan. (3) Tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan. (4) Tentang badannya untuk apa dia letihkan. (H.R Imam at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Shahih).

Jadi ternyata bahwa tanggung jawab terhadap harta ternyata sangatlah  berat. Disini ada dua pertanyaan yaitu dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan. Seharusnya harta didapat dengan cara yang halal lalu dibelanjakan pada jalan yang Allah Ta’ala ridha. 

Lalu bagaimana nasehat ulama tentang kecenderungan manusia terhadap harta. Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Mencintai harta itu merupakan tabiat manusia. Ini sebagaimana djelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya : “Dan sesungguhnya dia  sangat bakhil karena cintanya kepada harta”.  (Q.S al ‘Adiyaat 8).

Juga berdasarkan firman Allah : “Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”.   (Q.S al Fajr 20) 

Namun jika kecintaan seseorang terhadap harta itu dengan tujuan mengembangkan harta itu agar bisa melakukan amal shalih maka kecintaan itu menjadi baik karena harta itu menjadi terbaik ketika berada pada tangan orang yang shalih. Betapa banyak orang yang Allah Ta’ala anugerahkan kekayaan kepada mereka lalu harta mereka itu menjadi sesuatu yang bermanfaat dalam berjihad di jalan Allah, penyebaran ilmu, menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan dan dalam berbagai perbuatan baik lainnya. (Fatawa Nuur ‘alad Darb).

Syaikh Utsaimin juga mengingatkan : Hampir tidak ada seorang pun yang selamat dari rasa cinta yang dalam terhadap harta. Tetapi tidak semua orang mencintai harta dengan berlebihan. Sebagian ada yang menyukai harta sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari hari agar dapat beribadah kepada Allah. Sebagian lagi ada yang ingin lebih dari yang demikian dan sebagian lagi menginginkan harta yang berlimpah ruah. 

Kesimpulannya, kata beliau, bahwa setiap manusia menyukai (mencintai) kebaikan (harta), namun kecintaan tersebut bertingkat tingkat. Lain orang maka lain pula kadar kecintaannya kepada harta. (Tafsir Juz ‘Amma).

Ketahuilah bahwa harta yang banyak tidak menjadi sandaran untuk mendapatkan semua yang kita butuhkan demi mereguk kebahagiaan. Tidak semua yang kita inginkan bisa dibeli dengan harta (uang). Orang bijak berkata : 

(1) Uang memang bisa membeli makanan yang paling enak tapi uang tak bisa membeli selera makan.
(2) Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mahal dan paling empuk tapi uang tak bisa membeli tidur.
(3) Uang memang bisa membeli obat yang paling mahal dan paten tapi uang tak bisa membeli sehat.
(4) Uang memang bisa membeli komputer yang paling canggih tapi uang tak bisa membeli otak atau brain.
(5) Uang memang bisa membeli rumah yang mewah tapi uang tak bisa membeli home sweet home, baiti jannati.

Oleh karena itu seorang hamba haruslah selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar dicukupkan rizki dengan yang halal.  Juga memohon agar Allah Ta’ala menjadikan dirinya termasuk orang orang yang banyak bersyukur dan selalu merasa cukup dengan rizki yang dianugerahkan Allah Ta’ala, meskipun sedikit.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.155)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar