Selasa, 04 September 2018

ORANG BERIMAN HARUS ISTIQAMAH


ORANG BERIMAN HARUS ISTIQAMAH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Apa makna istiqamah.

Secara bahasa, istiqamah bermakna i’tidal atau lurus. Imam an Nawawi berkata :  Istiqamah adalah luuzumu tha’atillah yaitu tetap konsekwen dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.
Imam Ibnu Rajab al Hambali berkata : Istiqamah mencakup seluruh ketaatan yang terlihat maupun yang tersembunyi serta meninggalkan seluruh yang dilarang.

Perintah untuk istiqamah   

Sungguh sangatlah banyak dalil dari al Qur an dan as Sunnah yang memerintahkan kita agar senantiasa menjaga istiqamah dalam beramal. Diantaranya adalah : 

(1) Allah Ta’ala berfirman :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan  sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian) Q.S al Hijr 99.

Syaikh as Sa’di dalam Kitab Tafsir Karimur Rahman menjelaskan maksud ayat ini bahwa kontinyulah engkau mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ketaatan.

(2) Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka istiqamahlah (tetaplah) engkau (Muhammad di jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan  kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat bersamamu. Dan janganlah kamu  melampaui batas. Sungguh Dia Mahamelihat apa yang kamu kerjakan (Q.S Hud 112).

Imam Ibnu Katsir berkata : Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul dan hamba hambaNya agar teguh dan selalu (tetap) istiqamah karena yang demikian itu merupakan sebab mendapat pertolongan yang besar dari Allah. Sungguh istiqamah itu memang berat. Ibnu Abbas berkata : Tidaklah diturunkan kepada Rasulullah di dalam al Qur an sebuah ayat yang lebih memberatkan dan menyulitkan daripada ayat ini.

(3)    Rasulullah salalahu ‘alaihi wasallam bersabda :

قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ

Katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah. (H.R Imam Muslim).

Kenapa orang beriman penting sekali untuk istiqamah.

Ketika Allah dan Rasul-Nya memerintahkan sesuatu pastilah disitu terdapat kebaikan dan hikmah yang banyak dan dibutuhkan oleh orang orang beriman untuk kebaikan dunia dan akhiratnya.
Ketahuilah bahwa istiqamah adalah dibutuhkan oleh setiap orang beriman untuk menjaga dirinya dari berbagai keburukan serta jalan untuk mendapat kebaikan, diantaranya adalah :

Pertama : Agar terpelihara dari nafsu yang mendorong kepada keburukan.

Allah Ta’ala menempatkan nafsu dalam diri manusia. Nafsu ini tidak bisa dibunuh tetapi bisa dikendalikan. Jika tidak dikendalikan maka nafsu itu akan mendatangkan bahaya karena nafsu itu mendorong kepada keburukan.

Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

(Yusuf berkata) Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S Yusuf 53).

Seorang hamba harus berjuang untuk mengendalikan bahkan melawan hawa nafsunya agar terhindar dari mudharatnya. Rasulullah bersabda :

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya (H.R Ibnu an Najjar, Abu Nu’aim dan ad Dailami, dishahihkan oleh Syaikh al Albani). 

Diantara cara untuk melawan hawa nafsu maka hendaklah manusia itu istiqamah dalam meniti jalan yang lurus dan dalam ibadah. Sungguh orang yang istiqamah akan terbendung dari godaan dan gangguan hawa nafsunya.

 Kedua : Agar terpelihara dari godaan syaithan.

Syaithan adalah musuh bagi manusia yang harus diwaspadai  agar manusia bisa selamat dari api neraka. Allah berfirman :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Sungguh syaithan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala nyala. (Q.S Faatir 6).

Syaikh as Sa’di berkata : Maksudnya adalah agar permusuhan syaithan terhadap kalian (haruslah)  menjadi perhatian. Janganlah kalian meremehkan serangannya yang bisa terjadi setiap waktu. Dia bisa melihat kalian dan kalian tidak bisa melihatnya dan dia selalu mengintai kalian. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa iblis telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sehingga bisa menemani mereka di neraka kelak. Allah berfirman : “(Iblis) menjawab : Karena Engkau telah menyesatkan aku pasti aku akan selalu menghalangi mereka (manusia) dari jalan-Mu yang lurus”. (Q.S al A’raaf  16

Oleh karena itu seorang hamba haruslah berusaha membendung godaan syaithan ini yaitu dengan berlindung kepada Allah Ta’ala. Untuk itu maka seorang hamba haruslah istiqamah dalam menempuh jalan yang lurus dan banyak beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Ketika seorang hamba istiqamah, terus menerus  dalam beribadah maka tak ada ruang bagi syaithan untuk menyesatkannya.     

Selanjutnya seorang hamba harus istiqamah dalam menempuh jalan yang lurus dan beribadah kepada-Nya karena tidak ada yang mengetahui KAPAN ALLAH AKAN MEWAFATKANNYA.  Hendaknya kita semua khawatir dan sungguh merugi kalau istiqamah kita luntur dan malas beribadah lalu pada saat itu Allah mewafatkan kita.

Ketahuilah bahwa amal itu dilihat dari akhirnya. Rasulullah telah mengingatkan kita tentang hal ini dalam dua sabda beliau berikut ini  :

(1) Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya. (H.R Imam Bukhari)

(2) Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Janganlah kalian kagum dengan amalan seseorang hingga kalian melihat amalan terakhir yang dilakukannya sebelum ia mati. Karena boleh jadi, seseorang beramal beberapa waktu atau sebentar saja dengan amalan shalih yang apabila ia mati (dalam keadaan seperti itu) niscaya ia akan masuk surga. Tetapi kemudian ia berubah dan beramal dengan amalan yang buruk. 

Boleh jadi pula, seorang hamba beramal selama beberapa waktu dengan amalan yang buruk yang apabila ia mati (dalam keadaan seperti itu) maka ia akan masuk neraka. Tetapi kemudian ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Apabila Allah menginginkan kebaikan pada diri seorang hamba maka Dia akan meluruskan (jalan) nya dan memberinya taufik agar ia beramal dengan amalan shalih (lalu Dia mewafatkannya dalam keadaan seperti itu) Lihat Silsilah Hadits Shahih Syaikh al Albani No. 1334).

Oleh karena itu seorang hamba haruslah menjaga dirinya agar bisa istiqamah atau terus menerus  dalam ketaatan dan beramal shalih sampai akhir hayatnya.

Sebagai penutup, inilah doa yang diajarkan Rasulullah agar kita bisa tetap istiqamah dan kokoh dalam memegang agam yang lurus ini.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ

Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu. (H.R at Tirmidzi)

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Walahu A’lam. (1.380)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar