Minggu, 02 September 2018

ALLAH MEMBERI KEBAIKAN YANG BANYAK KEPADA PEMIMPIN YANG ADIL


ALLAH MEMBERI BANYAK KEBAIKAN KEPADA 
PEMIMPIN YANG ADIL

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta’ala memerintahkan orang orang beriman untuk senantiasa berlaku adil. Amatlah banyak ayat ayat al Qur an yang memerintahkan orang beriman untuk berlaku adil. 

(1) Allah Ta’ala berfirman : 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S an Nahal 90). 

(2) Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman !. Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.Dan bertakwaah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Maidah 8). 

(3) Allah Ta’ala berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Wahai orang orang yang beriman !. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang tedakwa) kaya ataupun miskin maka Allah lebih tahu kemashlahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.

Dan jika kamu memutar balikkan (kata kata) atau enggan menjadi saksi maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan. (Q.S an Nisa’ 135)

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memerintahkan hamba hambanya yang beriman agar mereka menjadi “penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah”. Al Qawwam (penegak keadilan) adalah sebuah kata yang menunjukkan makna lebih (sighah mubalaghah) artinya JADILAH KALIAN PENEGAK KEADILAN DALAM SEGALA KONDISI terhadap hak hak Allah dan hak hamba hamba-Nya. (1) Adil terhadap hak hak Allah ADALAH TIDAK MEMAKAI NIKMAT NIKMAT ALLAH UNTUK BERMAKSIAT KEPADA-NYA. (2) Adil terhadap hak hak manusia adalah menunaikan segala hak yang menjadi tanggung jawabmu sebagaimana engkau meminta hak hak dirimu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Lihatlah bagaimana Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam sangat kuat dalam penegakan keadilan. Beliau tidak pilih kasih atau pandang bulu. Perhatikanlah bagaimana  kisah (perlakuan adil terhadap) seorang wanita dari marga Makhzum yang telah mencuri.

Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para sahabat untuk memotong tangannya untuk menegakkan keadilan. Padahal ia adalah seorang wanita dari bani Makhzum, satu  marga yang sangat dihormati di kalangan kaum Quraisy.

Keputusan Rasulullah membuat risau hati orang orang Quraisy. Bahkan mereka bingung dan gelisah. Bagaimana mungkin tangan seorang wanita dari marga Makhzum (yang disegani) dipotong ?. Akhirnya mereka pun mencari seseorang untuk meminta keringanan kepada Rasulullah.

Mereka berkata : Tidak ada yang berani membicarakan hal ini kepada Rasulullah selain Usamah bin Zaid. Mereka tidak menyebut nama Abu Bakar, Umar, Utsman atau Ali bin Abi Thalib yang mempunyai kedudukan lebih tinggi dari Usamah bin Zaid. 

Kemungkinan mereka telah mencobanya tapi tidak berhasil. Boleh jadi juga mereka mengetahui bahwa Abu Bakar dan yang lainnya tidak bisa atau tidak mau memberikan (usulan keringanan) hukuman di dalam hukum Allah Ta’ala.

Yang jelas, mereka meminta pertolongan Usamah bin Zaid. Usamah adalah anaknya Zaid bin Haritsah. Zaid bin Haritsah dahulunya adalah merupakan seorang budak pemberian Khadijah kepada Rasulullah dan kemudian beliau membebaskannya sebagai budak. Beliau sangat mencintai Zaid dan juga Usamah anak Zaid.
Maka Usamah pun berbicara kepada Nabi tentang kasus wanita al Makhzumiyah ini, dengan harapan beliau akan membatalkan keputusan sehingga wanita tersebut selamat dari hukuman potong tangan.

Pada saat itu wajah Rasulullah berubah ronanya karena marah. Beliau bersabda : “Apakah engkau berani meminta keringanan di dalam hukum Allah ?. Artinya Usamah tidak layak dan tidak pantas meminta keringanan di dalam hukum Allah Ta’ala.
Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah dengan khutbah yang sangat jelas. Beliau bersabda : “Amma ba’du : Sesungguhnya orang orang sebelum kalian binasa dikarenakan ketika seorang yang terpandang diantara mereka mencuri maka mereka tidak menghukumnya. Sedangkan apabila seorang yang lemah mencuri maka mereka pun segera menghukumnya”.  (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kemudian Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersumpah, pada hal beliau adalah orang baik dan jujur, sehingga beliau tidak perlu bersumpah (untuk memberikan keyakinan kepada orang lain tentang apa yang beliau ucapkan). Akan tetapi dalam hal ini beliau  bersumpah : Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, akulah yang akan memotong tangannya” (H.R Imam Bukhari).

Ya Allah, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada beliau. Inilah keadilan, hukuman Allah ditegakkan, bukan (hukum) mengikuti hawa nafsu. Beliau bersumpah apabila Fatimah bin Muhammad mencuri, pada hal nasab dan keturunan Fatimah lebih mulia daripada wanita al Mukhzumiyah, karena Fatimah akan menjadi pemimpin para wanita di surga, tetapi Rasulullah  bersumpah tetap akan memotong tangannya jika dia mencuri.    

Selanjutnya Syaikh Utsaimin memberikan nasehat : Sudah menjadi kewajiban bagi para pemimpin untuk bersikap adil terhadap yang dipimpinnya dalam hal penegakkan hukum. Jangan pilih kasih kepada seseorang  karena garis keturunannya, kekayaannya, kedudukannya di kaumnya atau sebab yang lain. Hukum adalah miliki Allah dan wajib ditegakkan karena Allah Ta’ala.

Selanjutnya Syaikh berkata : Ketika umat Islam bisa berbuat adil seperti ini, tidak pernah terpengaruh, berpendirian teguh, tidak takut dengan celaan para pencela maka umat Islam akan mulia, memiliki kekuatan dan akan ditolong Allah.

Akan tetapi apabila umat Islam tidak mau menegakkan hukum Allah, banyak mempertimbangkan permintaan permintaan untuk membatalkan hukum Allah, maka umat Islam pun berada pada titik terendah seperti yang kalian lihat sekarang. Semoga Allah mengembalikan kejayaan umat Islam dan semoga mereka selalu berpegang teguh dengan agamanya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Lihat Syarah Kitab al Kaba-ir, Syaikh Utsaimin).

Sikap berlaku adil BENAR BENAR SANGAT PENTING BAGI SESEORANG YANG MENDAPAT AMANAH UNTUK MEMIMPIN ORANG BANYAK. Ketika seorang pemimpin tak berlaku adil maka mudharatnya bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi bisa membahayakan kehidupan bermasyarakat yaitu orang orang yang dipimpinnya. Berlaku adil bagi pemimpin terhadap orang banyak yang dipimpinnya tentulah merupakan pekerjaan yang SANGAT BERAT. 

Oleh karena itu Allah Ta’ala melalui Rasul-Nya berjanji memberikan kebaikan sangat banyak kepada para pemimpin yang mampu berlaku adil bagi diri dan bagi orang orang yang dipimpinnya. Diantaranya adalah :

Pertama : Allah mengabulkan doanya.
Sungguh Allah Ta’ala melalui Rasul-nya telah menjelaskan bahwa doa seorang pemimpin yang adil tidak ditolak. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

ثَلَاثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ السَّحَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang didzalimi, Allah angkat di atas awan pada hari kiamat. (Hadits Hasan, riwayat at Tirmidzi).

Kedua : Dapat naungan di akhirat.

Keadaan setelah hari berbangkit sangatlah berat. Semua orang butuh syafaat dan naungan. Saat itu taka da naungan kecuali naungan Allah Ta’ala. Dan ini diberikan kepada tujuh golongan dan salah satunya kepada pemimpin atau imam yang adil.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, satu diantaranya adalah :

اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ….

Pemimpin atau  imam yang adil…. (Mutafaq ‘alaihi)

Pemimpin yang dimaksud  adalah adil dalam hal  amanah dan dia benar-benar mengembannya dengan baik.  Tidak melampaui batas dan tidak meremehkan. Keadilannya tidak beralih pada harta dan tidak beralih pada kesenangan dunia. Itulah pemimpin yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat.

Ketiga : Ditempatkan di atas mimbar bercahaya di surga.

Ini termasuk salah satu keutamaan dan kebaikan yang akan diperoleh seorang pemimpin pada hari Kiamat kelak.

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ عَمْرُو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ:  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ: الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا.

Dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda : Sungguh orang-orang adil di sisi Allah ditempatkan di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Yaitu orang-orang yang adil di dalam hukum, di dalam keluarga dan di dalam apa saja yg dikuasakan kepada dirinya. (H.R Imam  Muslim).

Itulah sebagian kebaikan dan keistimewaan yang akan diperoleh pemimpin yang adil ketika mereka diberi amanah di dunia. 

Lalu bagaimana dengan sebagian orang yang sangat bersemangat menjadi pemimpin di zaman ini. Apakah tujuan mereka  untuk mencari ridha Allah serta menginginkan  kebaikan yang Allah janjikan ?. Jangan jangan diantaranya  ada yang hanya bertujuan  mengejar dunia dengan segala harta dan perhiasannya. Kalau ini terjadi  maka setelah menjadi pemimpin, mereka sulit bahkan tak bisa berlaku adil. Na’udzubillahi min dzaalik.
Wallahu A’lam. (1.379)
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar