Sabtu, 10 Juli 2021

KELIRU JIKA HAMBA ALLAH GELISAH UNTUK URUSAN DUNIA

KELIRU JIKA HAMBA ALLAH GELISAH UNTUK URUSAN DUNIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sering kita mendapati orang orang yang gelisah, gundah gulana karena urusan dunia yang terasa berat baginya. Kegelisahan urusan dunia itu kisarannya antara lain adalah :

(1) Gelisah karena merasa tak dapat rizki, dapat rizki sedikit atau kehilangan rizki  karena sudah pensiun dan yang lainnya. Pada hal Allah Ta’ala menjamin rizki hamba hamba-Nya.  Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا

Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. (Q.S Huud 6).

Nah, ketika Allah Ta’ala telah menjamin rizki maka keliru cara berfikir kita jika masih gelisah memikirkan rizki.

(2) Gelisah karena takut akan didatangi penyakit. Ingatlah bahwa semua orang juga pernah diuji dengan sakit bahkan dengan sakit yang parah. Dan ketahuilah bahwa sakit yang menimpa seseorang adalah untuk  mengangkat derajat dan menghapuskan   dosa. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda  :

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ شَوْكَةٍ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً

Tidak ada satupun musibah (cobaan) yang menimpa seorang muslim berupa duri atau yang semisalnya, melainkan dengannya Allah akan mengangkat derajatnya atau menghapus kesalahannya. (H.R Imam Muslim).

Juga dalam satu riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim). 

(3) Gelisah karena sering dizhalimi orang lain. Sikap terbaik dalam hal ini adalah bersabar. Sungguh bersabar akan mendatangkan pahala tanpa batas.  Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan.

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat.  Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin).

(4) Gelisah karena tak punya pangkat dan jabatan. Sungguh pangkat dan jabatan itu sangat sementara dan bisa menjadi penyesalan di hari Kiamat. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

نِعْمَ الشَّيْءُ الْإِمَارَةُ لِمَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَحَلَّهَا، وَبِئْسَ الشَّيْءُ الْإِمَارَةُ لِمَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا تَكُونُ عَلَيْهِ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Jabatan atau kekuasaan ialah suatu hal yang begitu nikmat bagi yang mengambil hak dan menempatkannya (dengan benar), (akan tetapi) menjadi sesuatu yang begitu menyengsarakan bagi yang tidak menempatkan hak pada tempatnya serta akan menjadi penyesalan pada Hari Kiamat. (H.R ath Thabrani, secara marfu’ dari Zaid bin Tsabit).

Ketahuilah bahwa pangkat atau jabatan yang tinggi bukanlah menjadi sebab seseorang itu mulia. Sungguh kemuliaan seseorang adalah karena takwa. Allah Ta’ala berfirman :

 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 

Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S al Hujurat 13).

Oleh karena itu hamba hamba Allah janganlah gelisah dengan urusan dunia. Sungguh semua urusan dunia adalah bersifat SANGAT SEMENTARA. Bahkan dibalik kesulitan akan ada kemudahan, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (Q.S al Insyirah 5-6).

Ketahuilah bahwa memang ada KEGELISAHAN YANG HARUS MENJADI PERHATIAN HAMBA HAMBA ALLAH YAITU KEGELISAHAN DALAM MERENUNG BAGAIMANA NASIBNYA DI AKHIRAT KELAK.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam telah mengingatkan kita dalam sabda beliau :

مَنْ جَعَلَ الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا، هَمَّ آخِرَتِهِ، كَفَاهُ اللَّهُ هَمَّ دُنْيَاهُ، وَمَنْ تَشَعَّبَتْ بِهِ الْهُمُومُ فِي أَحْوَالِ الدُّنْيَا لَمْ يُبَالِ اللَّهُ فِي أَيِّ أَوْدِيَتِهَا هَلَكَ

Orang yang menjadikan kegelisahannya pada satu hal saja, yaitu ia gelisah akan nasibnya di akhirat, maka Allah Ta’ala  akan cukupkan dia sehingga tidak gelisah lagi pada urusan dunianya. Namun orang yang menjadikan kegelisahannya pada urusan-urusan dunianya, maka Allah Ta’ala tidak akan mempedulikan di lembah mana dia akan binasa. (H.R Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Sungguh kegelisahan seorang hamba tersebab memikirkan nasibnya di akhirat maka akan mendorongnya untuk (1) Banyak beribadah. (2) Berusaha menjauhi perbuatan buruk. (3)  Suka berbuat baik kepada sesama saudara.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.351).     

 

 

 

  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar