Kamis, 13 Februari 2020

TIDAK MENCINTAI APAPUN MELEBIHI CINTA KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA


TIDAK MENCINTAI APAPUN MELEBIHI CINTA 
KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya  melebihi cintanya kepada segala sesuatu. Sungguh   Allah Ta’ala telah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah : Jika bapak bapakmu, anak anakmu, istri istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai  daripada Allah dan Rasul-Nya maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang fasik. (Q.S at Taubah 24).

Syaikh as Sa’di berkata : Ayat yang mulia ini adalah dalil terbesar akan kewajiban mencintai Allah dan Rasul-Nya dan mendahulukannya di atas kecintaan kepada segala sesuatu selain kedua-Nya. Ancaman keras dan kemarahan besar atas siapa saja yang salah satu dari yang disebutkan (dalam ayat) ini lebih dia cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya.

Dan tandanya adalah bahwa jika dia dihadapkan pada dua perkara : (1) Dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya dan dia tidak memiliki hasrat padanya. (2) Dicintai dan diinginkan oleh nafsunya akan tetapi dia mengakibatkan lenyapnya apa yang dicintai oleh Allah dan rasul-Nya atau menguranginya, maka jika dia mendahulukan apa yang diinginkan oleh nafsunya daripada apa yang dicintai Allah berarti itu menunjukkan bahwa dia zhalim dan telah meninggalkan apa  yang wajib atasnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa  mencintai Allah dan Rasul-Nya  menjadi sebab bagi seorang hamba untuk merasakan manisnya iman. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ ِممَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَيُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan rasa manisnya iman. Yaitu :

- Apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya.
- Apabila ia mencintai seseorang, namun ia tidak mencintainya kecuali karena Allah.
- Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia membenci jika ia dilemparkan ke dalam api neraka. (H.R Imam Bukhari 16, Imam Muslim 43, dan at Tirmidzi 2624).

Dalam hadits ini disebutkan : “Man kaanallahu wa rasuuluhu ahabba ilaihi mimma siwaahumaa”. Barangsiapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. Kata : Rasul-Nya disebut kemudian karena kecintaan kepada Rasullah Salallahu ‘alaihi Wasallam mengikuti dan timbul dari kecintaan kepada Allah Ta’ala.   
Ingatlahlah bahwa : 

(1)  Kecintaan kepada Allah mempunyai konsekwensi, yaitu wajib mentauhidkan Allah, mengikhlaskan  ibadah kepada-Nya, takut, berharap, bertawakal, berdoa dan semua ibadah wajib dilaksanakan semata mata karena Allah dan menurut syariat-Nya serta wajib menjauhkan diri dari semua bentuk kesyirikan dan kekufuran. 

(2) Kecintaan kepada Rasulullah mempunyai konsekwensi, yaitu mewajibkan ittiba’ kepada beliau dan jangan berbuat bid’ah.

Lalu apa makna mencintai Allah dan Rasul-Nya.  Imam Ibnu Rajab memberikan penjelasan tentang perkara ini, beliau berkata bahwa barangsiapa yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan kecintaan yang jujur dari hatinya, maka :

(1) Dia harus mencintai juga dengan hatinya apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya dan membenci apa yang dibenci Allah dan rasul-Nya. 

(2) Dia harus ridha dengan apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya dan marah terhadap apa yang dimurkai oleh Allah dan Rasul-Nya. 

(3) Dia harus mengamalkan dengan anggota badannya sesuai dengan cinta dan benci tersebut. Jika dia melakukan sesuatu dengan angota badannya yang menyelisihi itu atau melakukan sebagian yang dibenci Allah dan Rasul-Nya atau meninggalkan sebagian apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, padahal perkara tersebut wajib dan ia mampu, maka itu menunjukkan kurangnya kecintaan yang wajib. Dia wajib bertaubat dan kembali menyempurnakan kecintaannya yang diwajibkan. (Jami’ul Ulum wal Hikam)

Oleh karena itu menjadi kewajiban paling pokok bagi setiap hamba mencintai Allah dan Rasul-Nya yakni  melebihi kecintaannya kepada segala sesuatu. Dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-nya adalah dengan memenuhi syarat syaratnya yang ditetapkan oleh syariat. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.886) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar