Selasa, 01 Mei 2018

TAK PERLU MARAH JIKA ENGKAU DIHINA


TAK PERLU MARAH JIKA ENGKAU 
DIHINA ATAU DIREMEHKAN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam bergaul dengan masyarakat terkadang seseorang mendapat penghinaan atau diremehkan  melalui perkataan, perbuatan atapun tulisan. Jika ini terjadi, pada umumnya, manusia tak terima bahkan bisa mendatangkan kemarahan yang berujung kepada konflik.

Tidaklah suatu yang dianjurkan ketika seseorang dihina lalu mengeluh dan marah. Bersikap bijaklah dan ambil manfaat dari penghinaan yang diterima. Ini lebih utama, diantaranya : 

Pertama : Hadapi dengan kesabaran.
Bersabar ketika menghadapi hinaan manusia adalah perkara sulit. Tapi ketahuilah bahwa bersabar dalam hal ini sangat dianjurkan karena memiliki kebaikan yang banyak.

Sungguh amatlah tinggi kedudukan orang yang bersabar karena dia dijanjikan Allah Ta’ala untuk   mendapat pahala yang tidak terbatas. 
Sulaiman bin Qashim berkata : Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran yang ganjarannya seperti air mengalir. Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh as Sa’di berkata : Allah menganjurkan orang beriman kepada apa yang menyampaikan mereka kepada kemenangan  yaitu keberhasilan dengan memperoleh kebahagian dan kesuksesan. Dan bahwa jalan yang menyampaikan kepada hal itu adalah KONSISTEN TERHADAP KESABARAN. Menahan diri dari perkara perkara yang dibenci berupa meninggalkan kemaksiatan serta bersabar atas musibah dan terhadap perkara perkara yang berat bagi jiwa. Allah memerintahkan mereka untuk bersabar atas semua itu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Memaafkan orang yang menghina.
Orang bijak berkata : Implementasi dari memaafkan itu adalah engkau senantiasa, terus menerus mengosongkan hatimu dari semua kesalahan orang lain kepadamu. Ini sebenarnya mudah dilakukan jika engkau menyadari  dan juga sangat mengharapkan maaf  dari orang lain atas kesalahanmu kepada mereka.

Sungguh memaafkan adalah salah satu sikap terpuji dan sangat dianjurkan dalam Islam. Ketahuilah bahwa puncak keutamaan dari sikap suka memaafkan manusia adalah memperoleh ampunan Allah.

Allah berfirman :

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak menginginkan Allah mengampunimu dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang (Q.S an Nuur 22).

Rasululllah bersabda :

ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shadaqah, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. (H.R at Tirmidzi)

Ketiga : Lakukan muhasabah atau introspeksi diri.  
Bisa jadi  pada suatu waktu beberapa tahun yang lalu kita pernah merendahkan, menghina atau melecehkan seseorang  lalu Allah mentakdirkan ada orang lain yang merendahkan dan menghina kita saat ini. Sungguh perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan begitupun sebaliknya.

Allah berfirman : 

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat buruk maka (akibat keburukan) itu untuk dirimu sendiri. (Q.S al Israa’ 7) 

Keempat : Akan diterima transfer pahala

Jika kita direndahkan atau dihina berarti kita dizhalimi.  Ketahuilah bahwa  kezhaliman yang  diterima di dunia dengan sabar merupakan tabungan pahala yang akan dipetik dikemudian hari. Akan ada transfer pahala dari orang yang menghina kita di dunia.

Ketahuilah bahwa pada hari akhirat kelak akan ada manusia yang datang dengan membawa   pahala amalnya. Tetapi akhirnya habis karena harus dipindahkan kepada orang orang yang menuntutnya yaitu orang orang yang pernah dizhaliminya di dunia. Bahkan setelah pahala amalnya habis maka dosa orang yang dizhalimi dipindahkan kepadanya. Na’udzubillahi min dzalik.
Rasulullah Salallahu wa salam bersabda:

 أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا : الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ وَلا مَتَاعَ ، فَقَالَ : إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ  

Dari Abu Hurairah,  bahwasanya Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada para sahabat :"Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkut itu?" Para sahabat menjawab : Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.

Rasulullah  bersabda : Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka. (H.R Imam Muslim).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.288).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar