Selasa, 01 Mei 2018

SIKAP ORANG MUNAFIK TERHADAP SHALAT


SIKAP ORANG MUNAFIK DALAM MELAKSANAKAN SHALAT

Oleh : Azwir B. Chaniago

Shalat adalah rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap orang beriman yang sudah baligh dan berakal untuk melaksanakan shalat fardhu lima kali sehari semalam. 

Orang beriman tidaklah merasa berat melaksanakan shalat fardhu ini bahkan sebagian besar orang beriman menambahnya pula dengan shalat shalat Sunnah yang banyak jumlahnya.  Kenapa orang beriman tidak berat ?. Karena : 

(1) Ini merupakan perintah Allah Ta’ala dan wajib dilakukan sebagai salah satu bukti kepatuhan dan tanda bersyukur atas nikmat nikmat-Nya. Allah berfirman : 

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam  dan (laksanakan pula shalat) shubuh. Sungguh shalat shubuh itu disaksikan (malaikat). (Q.S al Isra' 79).

Dan Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Q.S Taha 14).

(2) Ini dilakukan dengan ikhlas untuk mencari Wajah Allah serta mengikuti atau ittiba’ kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan niat ikhlas dan ittiba’ akan terasa ringan. 

(3) Ini ibadah yang memiliki keutamaan dan pahala yang besar bahkan merupakan amal yang pertama kali akan dihisab. Rasulullah bersabda :

Dari Abu Hurairah, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

 إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala mengatakan,’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu. (H.R at Tirmidzi dan an Nasa’i, Hadits Hasan). 

(4) Ini adalah pembeda antara orang beriman dan orang kafir. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan tegas mengungkapkan bahwa shalat adalah pembeda antara islam dengan kesyirikan dan kekufuran. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam  bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat. (H.R Imam Muslim no. 257).

Bagaimana sikap munafik terhadap shalat ?. Ketahuilah bahwa ada tiga sikap orang orang munafik terhadap shalat, yaitu : (1) Mereka mengerjakan shalat dalam keadaan malas. (2) Mereka berlaku riya’ dalam shalatnya yaitu ingin dilihat oleh orang banyak. (3) Mereka sangatlah sedikit shalat untuk  mengingat Alah Ta’ala. Allah berfirman :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Q.S an Nisa’ 142).

Ketahuilah bahwa mereka bermaksud menipu Allah dan menipu orang beriman padahal mereka menipu diri mereka sendiri. Allah berfirman :

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (Q.S al Baqarah 9).

Sungguh hati orang munafik itu memiliki penyakit yaitu sebagaimana firman Allah Ta’ala :

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

Dalam hati mereka ada penyakit lalu Allah menambah penyakit itu dan mereka mendapat adzab yang pedih karena mereka berdusta. (Q.S al Baqarah 10).
Ketahuilah bahwa ketika berkaitan dengan shalat maka bagi orang munafik ternyata ada dua shalat  yang sangat berat untuk mereka lakukan, yaitu shalat shubuh dan shalat isya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا في العَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوَاً

Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada shalat Isya’ dan shalat Shubuh, tentu mereka akan mendatanginya sambil merangkak. (H.R Imam  Bukhari no. 615 dan Imam Muslim no. 437)

Juga dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَيْسَ صَلاَةٌ أثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْواً

Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang munafik selain dari shalat Shubuh dan shalat ‘Isya’. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada pada kedua shalat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walau sambil merangkak. (H.R Imam Bukhari no. 657).
 
Ketahuilah bahwa di zaman ini semakin terlihat keburukan orang munafik. Bukan hanya dalam hal shalat. Lebih dari itu mereka hanya melakukan ibadah dan menunjukkan keislaman  ketika ada kepentingan. Mereka mulai sering ke masjid, berkunjung ke pesantren dan memberikan sumbangan, bahkan melaksanakan  umrah,  pakai gamis, baju koko, sarung lengkap dengan kopiah, tapi sekali lima tahun. Sungguh sangatlah mudah mengetahui kenapa mereka melakukannya sekali lima tahun atau ada momen atau keadaan yang menguntungkan dirinya ataupun kelompoknya dalam urusan duniawi semata.

Begitulah keadaan atau sikap orang orang munafik terhadap shalat, mereka merasa berat,  malas dan riya dalam mengerjakan shalat. Wallahu A’lam. (1.287).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar