Rabu, 04 Juli 2018

CARA MENDAPATKAN KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH


CARA MENDAPATKAN KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH
WA RAHMAH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Semua orang yang berakal sehat selalu mendambakan keluarga  SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH.  Bahkan doa yang paling populer untuk penganten baru di negeri kita ini adalah SEMOGA PASANGAN INI MENJADI KELUARGA YANG SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH. Terkadang ada pula yang menyingkat saja dengan semoga menjadi KELUARGA SAMARA.

Lalu datang pertanyaan : Apa makna sakinah, mawaddah wa rahmah ?. Secara bahasa maknanya adalah : 

(1) Sakinah bermakna, selalu saling merasa tenteram dan nyaman dengan pasangannya.

 (2) Mawaddah bermakna, selalu saling memiliki perasaan bersama dan bersatu dengan pasangannya. 

(3) Wa rahmah bermakna, selalu ada  kasih sayang dan kelembutan karena ikatan pernikahan.

Tetapi ketahuilah bahwa ketika seseorang ingin mendapatkan sesuatu kebaikan tentu tidaklah cukup dengan berdoa saja. Harus diikuti dengan usaha dan selanjutnya adalah berserah diri kepada Allah.

Oleh karena itu penganten baru ataupun penganten lama harus berusaha untuk mendapatkan KEADAAN KELUARGA YANG SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH yang mereka inginkan ini. Ada beberapa cara dan upaya yang bisa dilakukan oleh setiap pasangan dalam hal ini, diantaranya adalah :

Pertama : Selalu sama sama bersyukur dengan kelebihan pasangannya.

Kelebihan pasangan berupa kebaikan adalah nikmat Allah Ta’ala bagi keluarga dan harus disyukuri. Dan Allah telah berjanji akan menambah nikmatnya bagi hamba hamba-Nya yang bersyukur, yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih". (Q.S Ibrahim 7) 
   
Kedua : Selalu bersabar dengan kekurangan pasangannya.

Kekurangan kekurangan itu adalah semacam ujian sehingga diperlukan kesabaran. Sungguh amatlah tinggi kedudukan orang yang bersabar karena dia dijanjikan Allah Ta’ala untuk   mendapat pahala yang tidak terbatas. 

Sulaiman bin Qashim berkata : Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran yang ganjarannya seperti air mengalir. Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat.  Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin).

Ketiga : Menerima kelebihan dan kekurangan pasangan dengan lapang hati.

Orang bijak berkata : Tak ada manusia yang sempurna kebaikannya dan sebaliknya tak ada pula manusia yang sempurna kekurangannya.

Seseorang bisa jadi akan melihat kekurangan dari pasangannya.  Ada kekurangan yang serius dan ada pula yang tidak terlalu berat. Tapi bagaimanapun kekurangan kekurangan itu bisa diperbaiki menjadi lebih baik. Bahkan bisa jadi kekurangan itu merupakan ladang pahala  jika  disikapi dengan sabar dan sama sama ingin memperbaiki.

Janganlah seseorang yang hanya melihat kekurangan pasangannya bahkan tak mau pula melihat kekurangan dirinya, egois,  Biasanya ini  menjadi landasan pertama terjadinya  kericuhan rumah tangga. 

Allah Ta’ala berfirman :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَيَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيۡرٗا كَثِيرٗا

Dan bergaullah kalian dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan pada dirinya kebaikan yang banyak. (Q.S an Nisa’ 19)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang ayat ini : Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan), sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tentang ayat ini, “Si suami mengasihani (menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah subhanahu wa ta’ala berikan rezeki padanya berupa anak dari istri tersebut dan pada anak itu ada kebaikan yang banyak. (Tafsir Ibnu Katsir).

Sungguh Rasulullah juga telah mengajarkan bagaimana sikap seseorang dalam menghadapi kekurangan pasangannya. Beliau bersabda : 
 
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka satu tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan tabiat/perangainya yang lain. (H.R Imam Muslim)

Imam an Nawawi berkata : Hendaknya seorang laki laki jangan membenci wanita, Jika dia mendapati pada wanita ada perangai yang tidak disukai maka pasti dia akan mendapati perangai lain yang dia sukai, seperti misalnya parasnya kurang cantik tetapi dia taat dalam beragama. Atau  bagus akhlaknya, penyayang, selalu menjaga diri dan sebagainya. (Syarh Shahih Muslim).

Keempat : Saling mengingatkan dan menasehati dengan lemah lembut.

Diantara cara untuk mendapatkan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah adalah saling berlemah lembut. Hindari perkataan kasar dan kalimat yang buruk. Berlemah lembutlah. Sungguh sikap lemah lembut itu semuanya kebaikan. 

Rasulullah bersabda : “Innallaha yuhibbu rifqa fii amri kullih” Sesungguhnya Allah mencintai lemah lembut di segala perkara (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).
Imam Muslim juga meriwayatkan,  dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan.

Ketahuilah bahwa dalam memberi nasehat kita bermaksud menarik hati manusia untuk melakukan kebaikan. Dan tidaklah kita bisa menarik hati manusia dengan cara yang kasar BAHKAN DENGAN HARTA SEKALIPUN  kecuali dengan  lemah lembut.

Pasangan  yang suka berbicara KASAR atau BERLAKU KASAR biasanya dia sering menyesalinya. Merasa terlanjur dan menyesal.

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz berkata : Maka wajib bagi kalian untuk berlemah lembut dan berhati hati. Jangan cepat marah dan berlaku kasar. Kalian tidak akan menyesal selama lamanya bila berlemah lembut.

Kelima : Saling mendoakan dalam kebaikan.

Sangatlah dianjurkan untuk saling mendoakan diantara pasangan suami istri. Diantara doa yang disebutkan dalam al Qur an adalah :

رَبَّنَا هَب لَنَا مِنْ أَزْوَجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْينٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Q.S al Furqan 74).
Lazimkanlah membaca doa ini dan doa doa lainnya untuk saling memohon kebaikan dari Allah Ta’ala.
Demikianlah sebagian dari upaya yang bisa dilakukan untuk menggapai keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah yang diidamkan oleh setiap keluarga muslim. Insya Allah cara dan upaya ini  bermanfaat bagi penganten baru dan penganten lama. Wallahu A’lam. (1.326)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar