Kamis, 05 Juli 2018

ALLAH MENYEDIAKAN SURGA UNTUK ORANG YANG BERTAKWA


ALLAH MENYEDIAKAN SURGA UNTUK ORANG YANG BERTAKWA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Setiap muslim haruslah berusaha untuk menjadi orang orang yang bertakwa. Kenapa menjadi orang yang bertakwa itu menjadi penting sekali ?. Karena ORANG ORANG YANG BERTAKWA ADALAH ORANG MULIA di sisi Allah Ta’ala sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S al Hujurat 13).

Lalu apa yang dimaksud dengan takwa ?. Abu Hurairah ditanya oleh seseorang tentang takwa. Dijawab  : Apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh onak dan duri. Orang itu menjawab : Ya pernah.  Abu Hurairah bertanya lagi : Lalu apa yang engkau lakukan?. Orang itu  menjawab : Jika aku melihat duri aku menghindar, melewati atau aku berhati-hati darinya. Abu Hurairah berkata : Itulah makna takwa (Jamiul ulum wal Hikam).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Hakikat takwa ialah melakukan ketaatan kepada Allah dilandasi keimanan dan mengharapkan pahalanya karena ada perintah dan larangan sehingga seseorang melakukan perintah dengan mengimani Dzat yang memerintah dan membenarkan janjinya. Dan ia meninggalkan apa yang Allah larang baginya dengan mengimani Dzat yang melarangnya dan takut terhadap ancamannya.

Ketahuilah bahwa keutamaan dari orang bertakwa adalah menjadi penghuni surga dan inilah cita cita tertinggi seorang yang beriman, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang DISEDIAKAN BAGI ORANG ORANG YANG BERTAKWA. (Q.S Ali Imran 133).

Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat sifat orang bertakwa, diantaranya adalah berdasarkan firman-Nya : 

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

(Orang yang bertakwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Q.S Ali Imran 134-135)

Tentang  ayat ini, Syaikh as Sa’di berkata : Allah menjelaskan tentang sifat orang orang yang bertakwa dan perbuatan perbuatan mereka, sebagaimana disebutkan dalam  firman-Nya : 

Pertama : “(Yaitu) orang orang yang menafkahkan (hartanya) di waktu lapang maupun di waktu sempit”. 

Yaitu, pada saat kondisi mereka sedang sulit atau kondisi mereka sedang lapang. Bila mereka sedang lapang mereka akan berinfak dengan lebih banyak dan bila mereka sedang kesulitan mereka tidak menganggap remeh kebaikan walaupun sedikit saja.

Kedua : “Dan orang orang yang menahan marahnya”.

Yaitu, apabila terjadi dari orang lain tindakan yang menyakitkan terhadapnya yang menimbulkan kemarahan yaitu hati yang penuh dengan kedongkolan dan akan menimbulkan balas dendam dengan perkataan atau perbuatan. Mereka itu tidaklah bertindak menurut tabiat kemanusiaannya (membalas ketika disakiti, pen.) akan tetapi mereka menahan apa yang ada dalam hatinya dari kemarahan dan menghadapi orang yang berbuat buruk kepadanya itu dengan kesabaran.

Ketiga : “Dan memaafkan (kesalahan) orang”.

Termasuk dalam tindakan memaafkan orang adalah memaafkan segala hal yang terjadi dari orang orang yang berbuat buruk kepada kita dengan perkataan maupun perbuatan. Memaafkan itu sangatlah lebih baik daripada hanya sekedar menahan amarah, karena memaafkan itu adalah membalas (keburukan) dengan bentuk kelapangan dada terhadap orang yang berbuat keburukan.

Itu dapat terjadi pada orang orang yang menghiasi dirinya dengan akhlak yang terpuji dan jauh dari akhlak yang tercela. Dan juga orang orang yang bertransaksi dengan Allah dan memaafkan hamba hamba Allah sebagai suatu kasih saying terhadap mereka dan tidakan kebajikan kepada mereka. Benci dari keburukan yang menimpa mereka agar Allah mengampuni dirinya dan dia mendapatkan pahala di sisi Allah yang Mahamulia.

Allah berfirman : “Fa man ‘afaa wa ashlaha fa ajruhuu ‘alallahi”. Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (Q.S asy Syura’ 40).

Keempat : “Dan (juga) orang orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri .

Maksudnya, telah terjadi perbuatan perbuatan buruk yang besar atau  kecil yang dilakukan oleh mereka lalu mereka segera bertaubat dan meminta ampun. Mereka mengingat Rabb mereka dan ancaman-Nya bagi orang orang yang berbuat maksiat dan apa yang dijanjikan bagi orang orang yang bertakwa.

Maka mereka memohon ampunan-Nya atas dosa dosa mereka, menutup aib aib mereka. Disamping itu mereka meninggalkan hingga ke akar akarnya dan menyesal atasnya. Karena itulah Allah berfirman : dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.327)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar