Senin, 11 Desember 2017

TAK ADA KEBAIKAN JIKA ENGKAU BANYAK TERTAWA



TAK ADA KEBAIKAN KETIKA ENGKAU BANYAK TERTAWA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagian manusia berpendapat bahkan mengklaim bahwa banyak tertawa itu baik untuk kesehatan, menggembirakan hati, membuka pikiran segar, membuat muka cerah, membuat awet muda. Dan juga memperluas serta mempererat pergaulan dan yang lainnya. Benarkah demikian ?. Untuk perkara ini belum ada bukti yang terang. Besar kemungkinan ini adalah rekaan orang orang yang sering tertawa berlebihan sampai ngakak, terbahak bahak. Wallahu a’lam.

Mari kita lihat bagaimana banyak tertawa itu dalam timbangan syariat. Banyak tertawa adalah suatu yang tidak dianjurkan dalam syariat Islam karena akan mematikan hati.
Sungguh Rasulullah telah mengingatkan kita tentang hal ini dalam sabda beliau : “Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati.” (H.R  at Tirmizi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al-Jami’).

Seorang hamba hendaklah takut kalau sampai hatinya mati karena akan membahayakan dunia dan akhiratnya. Dalam Kitab Mawaaridul Amaan, Imam Ibnul Qayyim  menjelaskan beberapa  tanda dan bahaya hati yang telah mati,  yaitu :

Pertama : Tidak mengenal Allah dan berdiri diatas syahwat dan kelezatannya.
Kedua : Mengerjakan perkara perkara yang dibenci dan dimurkai Allah. Tidak peduli apakah Allah ridha atau murka.
Ketiga : Yang menyekutukan Allah, beribadah kepada selain Allah. Rasa cinta, takut, berharap dan tawakalnya bukan kepada Allah semata.
Keempat : Yang apabila mencintai maka ia mencintai karena hawa nafsunya. Apabila membenci maka ia membenci karena hawa nafsunya. Dan apabila mencegah maka ia mencegah karena hawa nafsunya. Maka jadilah ia mengutamakan hawa nafsunya dari pada mengutamakan keridhaan Allah.
Kelima : Menjadikan hawa nafsu sebagai imamnya, syahwat sebagai pemimpinnya, kebodohan sebagai kusirnya dan kelalaian sebagai kendaraannya. 

Dan juga Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan umatnya dalam sabda beliau : “Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. (H.R Imam Bukhari).

Ketahuilah bahwa tertawa bahkan sampai terbahak bahak bukanlah kebiasaan Rasulullah. Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa dia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan tenggorokan beliau, beliau biasanya hanya tersenyum.” (H.R Imam Bukhari no. 6092 dan Imam Muslim no. 1497

Imam Fudhail bin Iyadh, seorang Tabi’in, wafat tahun 186 H,  mengingatkan kita bahwa  :

Pertama : Apa yang dapat memberikan rasa aman apabila kelak amalmu dihadapan Allah tidak bernilai.
Kedua : Pada waktu itu semua pintu amal untuk mendapatkan ampunan-Nya telah tertutup.
Ketiga : Bagaimana kamu dapat menjalani hidup di dunia ini dengan banyak tertawa. Apakah kamu dapat membayangkan keadaanmu di akhirat kelak.

Tapi kalau kita perhatikan di zaman ini ada sebagian manusia tak mengindahkan peringatan banyak tertawa ini. Bahkan ada  yang suka membuat manusia tertawa meskipun dengan cerita cerita bohong.

Sungguh Rasulullah melarangnya dalam sabda beliau : Dari Bahz bin Hakim, ia berkata bahwa ayahnya, Hakim telah menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda : Wailun lilladzii yuhadditsu fayakdzibu liyudh-hika bi hil qauma wailun lalhu, wailun lahu. Celakalah bagi yang berbicara lantas berbohong hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia”. (H.R Abu Dawud  dan at Tirmidzi).

Lalu bagaimana dengan tersenyum ?. Ini sangat dianjurkan dalam Islam. Bahkan itu bisa bernilai sedekah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah bersabda : “(1) Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah. (2) Engkau menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran adalah sedekah. (3) Engkau menunjuki orang yang tersesat adalah sedekah. (4) Engkau menuntun atau menunjuki orang yang lemah penglihatannya adalah sedekah. (5)  Engkau menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan adalah sedekah (6) Dan engkau menuangkan air dari embermu (dan diberikan) ke ember saudaramu adalah saudaramu adalah sedekah”. (H.R Imam at Tirmidzi dan Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Oleh karena itu seorang hamba selalu menjaga dirinya untuk sedikit tertawa dan memperbanyaklah senyum. Ini tentu bermanfaat karena Rasulullah yang mengajarkannya. Juga sangat baik kalau seorang hamba banyak menangis karena mengingat kesalahan dan dosanya. 

Ingatlah, apakah pantas kita banyak tertawa dan bergembira ria di dunia ini pada hal kita tidak tahu apakah amalan kita diterima atau ditolak. Dan juga suatu hal yang pasti adalah bahwa tidak ada yang mengetahui dimana Allah Ta’ala akan menempatkan diri kita nanti di akhirat. Di surga atau di neraka ?. Wallahu A’lam. (1.186)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar