Rabu, 20 Desember 2017

BELAJAR DARI SEMANGAT SALAFUSH SHALIH DALAM BERINFAK



BELAJAR DARI SEMANGAT SALAFUSH SHALIH 
DALAM BERINFAK

Oleh : Azwir B. Chaniago

Berinfak atau bersedekah adalah suatu amalan yang sangat disenangi oleh para salafush shalih. Kenapa ?. Karena mereka sangatlah  memahami adanya keutamaan yang banyak dalam berinfak dan bersedekah. Diantaranya adalah :

Pertama : Dibalas berlipat ganda.
Ini adalah kabar gembira sebagaimana permisalan yang disebutkan  Allah Ta’ala dalam firman-Nya  : “Matsalul ladziina yunfiquuna amwalahum fii sabiilillahi kamatsali habbatin anbatat sab’a sanaa bila fii kulli sunbulatin mi-‘atu habbah. Wallahu yudhaa’ifu liman yasyaa’. Wallahu waasi’un ‘aliim” Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. (Q.S al Baqarah 261) 

Allah berfirman : “Wamaa anfaqtum min syai-in fa huwa yukhlifuhuu, wa huwa khairur raaziqiin” Dan apa saja yang kamu infaqkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezki yang terbaik. (Q.S Saba’ 39).

Syaikh as Sa’di berkata : Maka janganlah kalian berpraduga salah bahwa berinfak itu termasuk hal yang dapat mengurangi rezki. Bahkan Allah menjanjikan akan memberi ganti untuk orang orang yang berinfak. 

Kedua : Harta tidak berkurang dengan sedekah.
Sangatlah banyak orang yang hartanya habis tersebab bisnisnya yang selalu rugi dan berapa banyak pula orang hartanya habis karena judi ataupun musibah. Tapi tidaklah pernah kita mendengar seseorang jatuh miskin karena kebanyakan berzakat, berinfak dan bersedekah. Kenapa bisa demikian. Ya begitulah, karena Rasulullah telah memberikan jaminan dalam sabda beliau : “Maa naqasa maalu ‘abdin min  shadaqatin”  Harta seorang hamba tidak akan berkurang dengan sedekah. (H.R Imam Ahmad dan Imam at Tirmidzi).

Bahkan Allah akan menerima dan menumbuhkannya. Rasulullah bersabda : “Man tashaddaqa bi’adlin tamratin min kasbin taiyibin, walaa yaqbalullahu illath thaiyiba, Fa innallaha yataqabbaluhaa bi yamiinihi, tsumma yurabbiihaa lishaahibhi kamaa yurabbii ahadukum falu-wahu hatta takuuna mitslal jabal”. Barangsiapa yang bersedekah seberat satu biji kurma dari penghasilan yang baik -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-, maka Allah menerimanya dengan Tangan kanan-Nya, kemudian dia menumbuhkannya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kalian merawat anak kudanya sehingga menjadi seperti gunung. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim dan yang lainnya. Lihat Shahih at Targhib wa at Tarhib).

Ketiga : Sedekah menghapus dosa dan kesalahan.
Allah berfirman : Jika kamu menampakkan sedekah sedekahmu maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang orang fakir maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (Q.S al Baqarah 271)

Rasulullah bersabda : …“Ash shadaqatu tuthfi-ul khathiata kamaa yuthfi-ul maa-unnaar”… Sedekah itu dapat menghapuskan kesalahan laksana air dapat memadamkan api …(H.R Imam Ahmad dan at Tirmidzi)

Keempat : Sedekah menghilangkan panasnya kubur dan menjadi naungan pada hari Kiamat. 
Rasulullah bersabda : “Innash shadaqata latuth-fi-u ‘an ahliha harral qubuur, wa innamaa yastazhillul mu’miniinu yaumal qiyaamati fii zhilli shadaqatih” Sesungguhnya sedekah itu memadamkan panasnya kubur bagi penghuninya dan seorang mukmin hanya bernaung dibawah naungan sedekahnya pada hari Kiamat (H.R ath Thabrani, lihat at Targhib wa at  Tarhib).

Mari kita cermati dan ambillah pelajaran dari  hebatnya para salafush shalih dalam berinfak dan bersedekah di jalan Allah. Diantaranya :

Pertama : Infaq Abu Bakar dan Umar bin Khaththab.
Dari Umar,dia berkata : Pada suatu hari Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah. Hal itu bertepatan sekali dengan adanya hartaku. Lalu aku bergumam : Hari ini aku pasti melampaui Abu Bakar apabila aku mendahuluinya suatu saat nanti. Lalu aku menginfakkan setengah dari hartaku.

Maka Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : “Tidakkah ada yang engkau sisakan untuk keluargamu ?. Lalu aku menjawab : Aku telah menyisakan untuk mereka semisal harta itu (setengahnya lagi). Kemudian Abu Bakar menginfakkan seluruh hartanya, lalu Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Wahai Abu Bakar !. Tidakkah ada yang engkau sisakan untuk keluargamu ?. Abu Bakar menjawab : Aku telah menyisakan Allah dan Rasul-Nya untuk mereka. Aku (Umar) berkata  : Demi Allah, aku tidak akan pernah mampu melampaui Abu Bakar untuk mencapai keutamaan, selamanya. (H.R Abu Dawud, ad Darimi, al Hakim dan at Tirmidzi, Hadits Hasan Shahih). 

Kedua : Infaq Utsman bin Affan.
Dari Abdurrahman Samurah ia berkata, Utsman bin Affan mendatangi Nabi dengan membawa 1.000 dinar ketika mempersiapkan pasukan perang Tabuk ketika masa sulit. Lalu Utsman meletakkan seluruh dinar itu di pangkuan Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam. Abdurrahman pun berkata, lalu Nabi membalikkannya seraya bersabda : “Maa dharra ‘utsmaana ‘amila ba’dal yaumi”. Tidaklah akan membahayakan Utsman apa pun yang dilakukannya setelah hari ini. Beliau mengatakannya berulang kali.(H.R at Tirmidzi dan al Hakim).

Ketiga : Infak Abu Thalhah.
Imam Ibnu Katsir berkata :  Imam Ahmad meriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, ia pernah mendengar Anas bin Malik berkata : Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya diantara orang orang Anshar di Madinah. Harta yang paling dia senangi adalah Bairuha’ (yaitu suatu kebun) yang berhadapan dengan masjid (Nabawi). Dan Rasulullah (pernah) memasukinya dan meminum air yang segar darinya. Kata Anas ketika ayat ini turun Abu Thalhah berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya Allah berfirman : Kamu sekali kali tidak tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Q.S Ali Imran 92, pen.). Sesungguhnya harta kekayaan yang paling aku sukai adalah Bairuha’ dan aku bermaksud untuk menyedekahkannya yang dengannya aku berharap mendapat kebaikan dan simpanan disisi Allah. Maka manfaatkanlah kebun itu ya Rasulullah seperti apa yang ditunjukkan Allah kepada engkau. 

Maka Nabi bersabda : “Bagus, bagus, yang demikian itu adalah harta yang menguntungkan, harta yang menguntungkan. Dan aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat hendaklah kebun itu engkau berikan kepada kaum kerabatmu”. Abu Thalhahpun berkata : Aku akan laksanakan ya Rasulullah. Kemudian Abu Thalhah membagi bagikannya kepada sanak kerabatnya dan anak anak pamannya. Catatan : Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Keempat : Infaq Zaid bin Haritsah.
Dalam Kitab Tafsir al Azhar, Prof. DR Hamka berkata : Setelah ayat ini turun (Q.S Ali Imran 92, pen.) bukan main besar pengaruhnya kepada para sahabat. Diantaranya adalah kepada Zaid bin Haritsah. Setelah mengetahui ayat ini turun (dan memahami maknanya) Zaid datang kepada Rasulullah dengan membawa kuda tunggangan miliknya dan kuda itu sangat disenanginya. Lalu Zaid berkata : Ya Rasulullah aku ingin mengamalkan ayat ini. Inilah kuda tungganganku yang sebagai engkau ketahui kuda ini adalah tunggangan yang sangat aku senangi. Terimalah kuda ini sebagai sedekahku dan sudilah engkau memberikannya kepada yang patut menerimanya. 

Kelima : Infaq Ibnu Umar.
Dari Nafi’ ia berkata : Tidaklah Ibnu Umar meninggal dunia sebelum dia membebaskan (memerdekakan budak) 1.000 orang atau lebih. (Siyar A’laamin Nubalaa’).  

Keenam : Infaq Hammad bin Abi Sulaiman.
Dalam Siyar A’laamin Nubalaa disebutkan : Adalah Hammad bin Abi Sulaiman setiap harinya di bulan Ramadhan memberikan makanan untuk buka puasa kepada 50 orang. Apabila tiba malam ‘idul fitri beliau memberikan mereka pakaian satu persatu.

Ketujuh : Infaq Al Laits bin Sa’ad.
Dalam Hilyatul Auliya’ disebutkan dari Ibnu Rumaih disebutkan bahwa al Laits bin Sa’ad setiap tahunnya mendapatkan (penghasilan) 80.000 dinar. Allah tidak pernah mewajibkan zakat atasnya dengan satu dirham pun (karena uang tersebut, tak pernah mencapai nisabnya, telah habis disedekahkan).

Demikianlah gambaran semangat para salafush shalih dalam berinfak dan bersedekah di jalan Allah karena mengetahui benar keutamaan yang sangat banyak. Semoga para hamba Allah bisa mengambil pelajaran dari mereka yaitu generasi terbaik umat ini. Wallahu A’lam. (1.192)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar