Selasa, 05 Desember 2017

DIRIMU PERBAIKI DULU SEBELUM YANG LAIN



DIRIMU PERBAIKI DULU SEBELUM YANG LAIN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sangatlah banyak keluhan di zaman ini tentang keadaan masyarakat yang semakin buruk. Ya memang demikianlah adanya. Kesyirikan ada dimana mana bahkan diiklankan, perzinaan, korupsi, perampokan dan pembunuhan. Lalu apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya  dan harus dimulai dari mana.

Kemudian kita saksikan pula sebagian orang bersemangat untuk berusaha memperbaiki keadaan yang buruk ini dengan berbagai cara. Tapi ketahuilah bahwa sebenarnya perbaikan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga paling dekat dan barulah yang lain, sesuai kemampuan.

Pertama :  Mulailah dari diri sendiri

Perbaikan haruslah dimulai dari diri sendiri sebelum yang memperbaiki yang lainnya. Orang bijak berkata : Air yang kotor tidak bisa membersihkan barang yang kotor. Orang yang tidak bisa berenang tidak bisa menyelamatkan orang yang tenggelam.

Perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan peringatan kepada orang yang menyuruh seseorang berbuat baik. ”Atakmurunan naasa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaab, afalaa ta’qiluun” Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab, maka tidakkah kamu berfikir (Q.S. al Baqarah 44).

Ayat ini secara tekstual ditujukan kepada Bani Israil, namun yang dimaksud bukan untuk mereka semata, tetapi ditujukan secara umum baik kepada mereka maupun selain mereka.  (Kitab Tafsir Ibnu Katsir).
Memulai perbaikan dari diri sendiri wajib untuk diutamakan bahkan dalam berdoa pun kita diajarkan untuk diri sendiri dulu baru mendoakan yang diluar diri kita.

Kedua : Keluarga paling dekat

Setelah seorang hamba bersungguh sungguh memperbaiki diri, maka selanjutnya dia berkewajiban memperbaiki  keluarganya yang  paling dekat. Yang dimaksud adalah istri dan anak.

Allah berfirman: Ya aiyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa wa quuduhan naasu wa hijaaratu, ’alaihaa malaaikatun ghilaazhun syidaadun laa ya’shuunallaha maa amrahum wa yaf’aluuna maa yukmaruun”    Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang di perintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang di perintahkan”(QS. At Tahrim 6).

Imam Ibnu Katsir, dalam kitab tafsirnya menukil perkataan Qathadah tentang makna  ayat ini, yaitu : Hendaklah engkau menyuruh mereka berbuat taat kepada Allah dan mencegah mereka durhaka kepada-Nya. Dan hendaklah engkau menjalankan perintah Allah kepada mereka dan perintahkan mereka untuk menjalankannya. Jika engkau melihat mereka berbuat maksiat kepada Allah, maka peringatkan dan cegah mereka.

Ada pertanyaan mana yang lebih utama atau prioritas untuk diperbaiki apakah istri dan kemudian baru anak. Dalam kondisi umum, bisa dilakukan sejalan namun memperhatikan keterangan yang akan disebutkan di bawah ini, maka prioritas utama untuk diperbaiki dan  diajarkan  kebaikan setelah diri sendiri, adalah anak

Dalam kewajiban mendidik anak ada beberapa catatan yang kiranya bermanfaat, sebagai berikut :

(1) Anak harus diajar dan dididik terutama untuk takut dan taat kepada Allah.   Ini adalah kewajiban orang tua. Istri, sebenarnya dia sudah tahu yang baik, untuk taat kepada Allah karena seyogyanya sudah diajarkan oleh orang tuanya sejak kecil sampai sebelum dia menikah.   Suaminya berkewajiban mengingatkan, meskipun dalam kondisi tertentu perlu diajarkan disamping diingatkan.

(2) Anak yang shaleh dan shalehah adalah investasi yang sangat agung. Sebagaimana dijelaskan dalam suatu hadits yang maknanya, bahwa doa anak yang shaleh akan terus mengalir kepada orang tuanya, meskipun dia sudah meninggal dunia. 

(3) Dalam kisah Nabi Nuh disebutkan bahwa dia memanggil anaknya untuk kembali kepadanya dan tidak mengikuti orang-orang kafir. Allah berfirman : Dan berlayarlah bahtera itu untuk membawa mereka mengarungi gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya yang terpisah dari dia. Wahai anakku, naiklah kekapal bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir” (QS. Huud 42). 

(4) Nabi Ibrahim, berdoa untuk anak-anak keturunannya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah : ”Rabbij’alnii muqimash shalaati wa min dzurriyatii, rabbanaa taqabbal du’aa’”  Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat, ya Rabbku perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim 40).

(5)Rasulullah Salallahu ’alaihi wassalam, bersabda: ”Maa min mauluudin illaa yuladu’alal fithrah, fa abawaahu yuhawwidaanihi wa yunashshiranihi wa yumajjisaanih”. Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dalam hadits ini terdapat kewajiban yang besar bagi orang tua mendidik anak-anak agar tidak terjerumus menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi. 

(6) Imam Ibnul Qayyim berkata : Allah akan meminta terlebih dahulu pertanggung jawaban kewajiban orang tua terhadap anaknya, sebelum pertanggung jawaban kewajiban anak terhadap orang tuanya.

Jadi perbaikan yang paling utama dan penting sekali dilakukan adalah dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga paling dekat yaitu istri dan anak. Dan jika ada kemampuan bisa diteruskan kepada karib kerabat, tetangga dan masyarakat umumnya.
Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.181)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar