Senin, 28 Agustus 2017

SHALAT 'ID DILAPANGAN ATAU DIMASJID ?



SHALAT ‘ID DI LAPANGAN ATAU DI MASJID ?

Oleh : Azwir B. Chaniago

Islam  memiliki dua hari yang disyariatkan yaitu hari Raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha. Sungguh pensyariatan dua hari raya ini adalah rahmat Allah Ta’ala bagi kaum muslimin karena banyak keutamaan dan kebaikan di dalamnya.

Dalam sebuah hadits Anas bin Malik, dia berkata : (Ketika) Rasulullah datang dan penduduk Madinah kala itu memiliki dua hari (raya) yang mereka gunakan untuk bermain main di masa jahiliyah. Lalu beliau bersabda : “Aku telah mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain main dimasa jahiliyah. Sungguh Allah Ta’ala telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari itu, yakni hari Nahr (‘Idul Adh-ha) dan hari Fithr (‘Idul Fithri). H.R Imam Ahmad, Abu Dawud dan an Nasa’i.

Diantara ibadah yang harus diperhatikan oleh orang beriman pada kedua hari ‘Id ini adalah shalat ‘Idul Adh-ha dan shalat ‘Idul Fitri. Keduanya termasuk syi’ar atau simbol keagungan dan kemuliaaan   yang melambangkan ketinggian agama Islam.

Lalu datang pertanyaan : Dimana yang lebih utama melaksanakan shalat ‘Id, di tanah lapang atau di masjid. Ketahuilah bahwa Rasulullah senantiasa shalat ‘Id di tanah lapang dan tidak shalat ‘Id di masjid Nabawi.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat idul Fitri atau Idul Adha keluar (menuju ke lapangan), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendirikan shalat ‘Id sebanyak dua rakaat, dan beliau  tidak melakukan shalat lain sebelum dan setelahnya. (H.R Imam Muslim no. 884)

Dari Abu Sa’id al Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dahulu berangkat  pada hari ‘Idul Fithri dan Adh-ha ke mushallla  (tanah lapang tempat shalat). Beliau memulai dengan shalat kemudian selesai (shalat) lalu beliau bangun  menghadap para sahabat yang masih dalam keadaan duduk di shaf shaf mereka. Lalu beliau memberikan nasehat, wasiat dan perintah perintah. (Mutafaq ‘alaihi).

Tentang hadits ini dijelaskan oleh Imam an Nawawi. Beliau berkata : Ini adalah dalil bagi Ulama yang berpendapat bahwa ke luar ke mushalla (tempat shalat) untuk menunaikan shalat ‘Id itu disunnahkan dan itu lebih utama daripada melaksanakannya di masjid. Inilah amal orang orang di mayoritas negeri. Adapun penduduk Makkah tidak melaksanakan (shalat ‘Id) kecuali di masjid sejak zaman dahulu. (Lihat Fathul Baari).

Imam asy Syafi’i berkata : Telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa Keluar menuju tanah lapang di Madinah untuk melaksanakan shalat ‘Id. Demikian pula para sahabat setelah beliau. Dan (inilah yang diamalkan) oleh mayoritas kaum muslimin di (hampir) semua kota, kecuali penduduk Makkah. (Kitab al Umm). 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa : Apabila tanah basah terkena hujan maka shalatlah di masjid. Adapun Makkah maka shalat ‘Id di masjid secara mutlak. Dan barangsiapa yang menunaikan shalat di masjid maka ia harus menunaikan shalat tahyatul masjid. (Muntaqal Akbar).

Sedangkan menurut kami (Ibnu Qudamah), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar shalat ‘Id menuju lapangan dan beliau meninggalkan masjid beliau. Begitu pula yang dilakukan oleh khulafaur rasyidin setelah beliau. 

Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan tempat yang lebih afdhal padahal masjid Nabawi sangat dekat dengan kediaman beliau, begitu pula beliau capek-capek mencari tempat shalat jauh dari rumahnya, lalu beliau memerintahkan untuk meninggalkan suatu yang lebih utama, itu berarti kita diperintahkan untuk meneladani beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Tidak mungkin yang beliau perintah malah memiliki sisi kekurangan, lalu yang beliau larang malah lebih sempurna. Dan tidak pernah dinukil pula dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaksanakan shalat ‘Id di masjid beliau kecuali jika ada uzur. Demikian yang disepakati oleh para ulama.

Kaum muslimin dari masa ke masa, juga di setiap negeri selalu keluar menuju lapangan. Mereka melakukan shalat ‘Id di tempat tersebut padahal masjid ada yang luas dan ada yang sempit. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap melaksanakan shalat ‘Id di lapangan padahal masjid Nabawi memiliki keutamaan (dibanding masjid lainnya). Sebagaimana shalat sunnah di rumah tentu lebih utama dari shalat sunnah di masjid walau masjid tersebut punya keutamaan yang lebih.”  (Kitab al Mughni).

Keluar menuju tanah lapang  untuk melaksanakan shalat ‘Id lebih utama. Namun demikian jika dilakukan di masjid tidaklah mengapa apalagi jika di suatu tempat yang tidak tersedia lapangan yang memadai. Wallahu A’lam. (1.106)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar