Rabu, 16 Agustus 2017

DAPATKAN ENAM KEBAIKAN KETIKA MINUM



DAPATKAN ENAM KEBAIKAN KETIKA MINUM

Oleh Azwir B. Chaniago

 Sungguh sangatlah  kebaikan yang bisa diperoleh seorang hamba  ketika dia mengikuti Rasulullah dalam melakukan sesuatu. Kebaikan itu tentulah sangat bermanfaat dan mendatangkan pahala  yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita. 

Diantara perbuatan yang mungkin dianggap sederhana dan tidak banyak orang yang melakukannya adalah mengambil enam kebaikan ketika minum yaitu dengan mengamalkan adab minum yang diajarkan Rasulullah.

Kebaikan pertama : Duduk ketika minum lebih utama.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh melarang dari minum sambil berdiri.” (H.R Imam Muslim no. 2024).

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu pula, ia berkata :

عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau melarang seseorang minum sambil berdiri.” Qotadah berkata bahwa mereka kala itu bertanya (pada Anas), “Bagaimana dengan makan (sambil berdiri)?” Anas menjawab, “Itu lebih parah dan lebih jelek.” (HR. Muslim no. 2024).

Ada kalanya juga Nabi  berdiri ketika minum. Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَشْرَبُ قَائِمًا وَقَاعِدًا
Aku pernah melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- minum sambil berdiri, begitu pula pernah dalam keadaan duduk.” (H.R at Tirmidzi no. 1883).

Al Maziri rahimahullah berkata : Para ulama berselisih pendapat tentang masalah ini. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat boleh (makan dan minum sambil berdiri). Sebagian lainnya menyatakan makruh (terlarang). (Lihat Fathul Bari)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan : Yang tepat dalam masalah ini, larangan minum sambil berdiri dibawa ke makna makruh tanzih (bukan haram). Adapun hadits yang menunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri, itu menunjukkan bolehnya. Sehingga tidak ada kerancuan dan pertentangan sama sekali antara dalil-dalil yang ada.” (Syarh shahih Muslim).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang minum sambil berdiri. Beliau   rahimahullah menjawab: Hadits-hadits yang membicarakan masalah ini shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu melarang minum sambil berdiri, dan makan semisal itu. Ada pula hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan beliau minum sambil berdiri.  Masalah ini ada kelonggaran dan hadits yang membicarakan itu semua shahih, walhamdulillah

Sedangkan larangan yang ada menunjukkan makruh. Jika seseorang butuh makan sambil berdiri atau minum dengan berdiri, maka tidaklah masalah. Ada hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil duduk dan berdiri. Jadi sekali lagi jika butuh, maka tidaklah masalah makan dan minum sambil berdiri. NAMUN JIKA DILAKUKAN SAMBIL DUDUK, ITU YANG LEBIH UTAMA.

Ada hadits yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minum air zam-zam sambil berdiri. Ada pula hadits dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu yang menjelaskan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan duduk.
Intinya, masalah ini ada kelonggaran. Namun jika minum dan makan sambil duduk, itu yang lebih baik. Jika minum sambil berdiri tidaklah masalah, begitu pula makan sambil berdiri sah-sah saja. (Sumber : http://www.binbaz.org.sa/mat/3415.

Kebaikan kedua : Memegang gelas atau tempat air minum dengan tangan kanan.
Dalam masalah makan dan minum Rasulullah senantiasa mendahulukan tangan kanan.  Ini juga berlaku ketika minum, berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiallahu’anhuma:

إذا أَكَلَ أحدُكُم فليأكلْ بيمينِهِ . وإذا شرِبَ فليشربْ بيمينِهِ . فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بشمالِهِ ويشربُ بشمالِهِ
Jika seseorang dari kalian makan maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya” (H.R Imam Muslim no. 2020).

Termasuk juga dalam masalah makan dan minum beliau senantiasa mendahulukan tangan kanan. Sebagaimana juga diceritakan oleh sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu’anhuma :

Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam, pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (H.R Imam  Bukhari no.5376 dan Imam Muslim no.2022)

Kebaikan ketiga : Membaca basmalah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
كان يشرب في ثلاثة أنفاس إذا أدنى الإناء إلى فيه سمى الله تعالى وإذا أخره حمد الله تعالى يفعل ذلك ثلاث مرات
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa minum dengan tiga nafas. Jika wadah minuman didekati ke mulut beliau, beliau menyebut nama Allah Ta’ala. Jika selesai satu nafas, beliau bertahmid (memuji) Allah Ta’ala. Beliau lakukan seperti ini tiga kali.” (Lihat Silsilah ash Shahihah no. 1277)

Maksud hadits di atas adalah ketika minum hendaklah dengan tiga kali nafas. Pada nafas pertama, sebelum minum ucapkanlah “bismillah”. 

Ibnul Qayim Rahimahullah mengatakan : “Membaca basmalah diawal makan dan minum dan membaca Alhamdulillah setelah selesai, mempunyai pengaruh yang sangat mengagumkan baik pada manfaatnya, kebaikan dan dalam mencegah kemudharatan. 

Imam Ahmad mengatakan : Apabila dalam makanan telah terkumpul empat hal, maka telah sempurna : Apabila menyebut nama Allah diawal makan, Alhamdulillah setelah makan, makan berjama’ah dan dari makanan yang halal (Lihat Zaadul Ma’ad).

Kebaikan keempat : Tidak bernafas dalam wadah ketika minum
Dari Anas bin Malik bahawasanya Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam   bernafas ketika minum sebanyak tiga kali." (Muttafaq 'alaih). Yakni bernafas di luar gelas atau cawan.

Dari Abu Qatadah r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. melarang jikalau ditarik nafas dalam wadah." (Muttafaq 'alaih). Yakni ditariknya nafas dalam gelas atau cawan yang digunakan oleh seseorang itu minum.

Dari Abu Said al-Khudri r.a. bahawasanya Nabi s.a.w. melarang meniup dalam minuman. Ada seorang lelaki berkata: "Ada kotoran yang saya lihat di dalam wadah itu." Beliau s.a.w. bersabda: "Tuangkan saja (minuman yang ada kotoran itu)." 
Orang itu berkata lagi: "Sesungguhnya saya ini belum merasa puas minum dari sekali nafas." Beliau s.a.w. lalu bersabda: "Kalau begitu singkirkanlah dulu wadahnya itu dari mulutmu - dan bernafaslah di luar wadah." (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan dia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan sahih , juga diriwayatkan oleh Ahmad.)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi  melarang bernafas di dalam wadah atau meniup ke dalamnya." (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan dia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih, juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majjah)

Kebaikan kelima : Tidak meniup niup saat minum.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُتَنَفَّسَ فِى الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيهِ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari bernafas di dalam wadah air (bejana) atau meniupnya.” (H.R at Tirmidzi no. 1888, Abu Daud no. 3728, dan Ibnu Majah no. 3429. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Imam Nawawi rahimahullah membawakan  hadits ini pada kitab adab makan pada Bab  : Makruhnya meniup-niup saat minum.

Kebaikan keenam : Membaca alhamdulillah setelah minum.
Jika mencukupkan dengan ucapan “alhamdulillah” setelah makan juga dibolehkan berdasarkan hadits Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat suka kepada hamba-Nya yang mengucapkan tahmid (alhamdulillah) sesudah makan dan minum” (HR. Muslim no. 2734).

Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang mencukupkan dengan bacaan “alhamdulillah” saja, maka itu sudah dikatakan menjalankan sunnah.

Jadi ternyata minum dengan mengamalkan pelajaran dari Nabi memberikan banyak keutamaan. Oleh karena itu sangatlah baik untuk kita amalkan dan insya Allah mendatangkan pahala yang banyak.
Wallahu A’lam. (1.094).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar