Selasa, 22 Agustus 2017

MENYEBUT NYEBUT NIKMAT ADALAH TANDA BERSYUKUR



MENYEBUT NYEBUT NIKMAT ADALAH  TANDA BERSYUKUR

Oleh : Azwir B. Chaniago

Orang  beriman wajib meyakini bahwa semua nikmat adalah dari Allah karena memang demikianlah adanya. Sungguh Allah Ta’ala berfirman : “Wa maa bikum min ni’matii fa minallahi”.  Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53

Kewajiban kita adalah bersyukur atau berterima kasih kepada Pemberi Nikmat. Bahkan syukur kita adalah sarana atau jalan  untuk mendapatkan tambahannya. Allah berfirman : Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka pasti adzab-Ku sangat berat”. (Q.S Ibrahim 7). 

Imam Ibnu Mas’ud berkata : “Adapun manfaat bersyukur adalah untuk mempertahankan nikmat yang telah ada dan untuk mendapatkan tambahannya.” Maksudnya adalah jika kita bersyukur maka nikmat yang telah ada pada kita tidak akan diambil. Kalaupun diambil akan diberikan ganti yang lebih baik. Dan nikmat yang baru sebagai tambahan akan diberikan pula, baik  jenis dan jumlahnya secara fisik   ataupun berkahnya yang akan ditambah.

Sungguh sangatlah banyak cara untuk bersyukur. Utama sekali adalah dengan menggunakan nikmat nikmat itu sebagai sarana beribadah, mengabdi dan mencari ridha-Nya. Diantara cara bersyukur juga adalah dengan MENYEBUT NYEBUT NIKMAT ITU. 

Memang kita menyaksikan bahwa ada diantara manusia yang ketika mendapat nikmat diam bahkan menyembunyikannya. Lalu giliran dapat musibah sedikit saja maka dia bicara dan mengeluh kesana kemari. Sikap seperti ini tentulah tidak baik untuk dipelihara. 

Sungguh Allah Ta’ala mengingat tentang menyebut nyebut nikmat sebagaimana firman-Nya : “Wa ammaa bi ni’matika fa haddits”. Dan terhadap nikmat (dari) Rabb-mu hendaklah engkau sebut sebut (Q.S ad Duhaa 11).

Berdasarkan ayat ini, dahulu para sahabat beranggapan bahwa termasuk kesempurnaan sikap syukur seseorang atas suatu kenikmatan adalah dengan menyebut nyebutnya. (Lihat Faidhul Qadir).

Ketahuilah bahwa dahulu Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kepada sahabat sahabat beliau beberapa kenikmatan besar yang telah beliau peroleh. Diantaranya adalah sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau :

Pertama : “Aku adalah pemimpin anak keturunan Adam, dan tiada berbangga banggaan”.  (H.R Imam Ahmad dan yang lainnya).

Kedua : “Aku dikaruniai lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelumku : Aku ditolong dengan dicampakkannya rasa takut pada musuh musuhku sejak aku masih berjarak perjalanan satu bulan dari mereka. Bumi dijadikan bagiku sebagai tempat shalat (masjid) dan juga alat bersuci maka dari itu, barangsiapa dari umatku yang mendapatkan shalat, maka hendaknya ia segera mendirikannya (dimanapun ia berada, pen.), rampasan perang dihalalkan untukku, padahal sebelumku tidak pernah dihalalkan untuk seorang nabipun, aku dikaruniai syafaat (kubra) dan nabi nabi sebelumku senantiasa diutus kepada kaumnya saja sedangkan aku diutus kepada seluruh umat manusia. (Muttafaqun ‘alaih).

Jadi ketika mendapat nikmat kita boleh menyebut nyebutnya sebagai bagian dari tanda bersyukur atas nikmat itu. Cuma ada yang perlu dijaga ketika menyebut nyebutnya kepada orang lain : (1) Janganlah dalam rangka berbangga diri dan (2) Juga harus harus dijaga agar tidak mendatangkan hasad atau fitnah bagi yang mendengarnya.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.101).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar