Sabtu, 09 September 2017

SUJUD SYUKUR TIDAK DILAKUKAN SETIAP SAAT



SUJUD SYUKUR TIDAK DILAKUKAN SETIAP SAAT 

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh apapun nikmat yang diperoleh manusia adalah dari Allah Ta’ala datangnya. Allah berfirman : “Wa maa bikum min ni’matin fa minallah” . Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah. (Q.S an Nahl 53)

Nikmat Allah sangatlah banyak dan terus menerus datang kepada kita sehingga tidak mungkin kita mampu menghitungnya. Allah berfirman : “Wain ta’uddu ni’matalahi laa tuhshuhaa” Dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka engkau tidak akan mampu menghitungnya.(Q.S Ibrahim 34).

 Oleh karena itu adalah merupakan kewajiban kita sebagai hamba untuk senantiasa bersyukur. Salah satu cara yang disyariatkan pula  dalam mengungkapkan rasa syukur adalah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah yaitu dengan melakukan sujud syukur.
 
Agak sering juga  kita melihat diantara saudara saudara kita yang setiap waktu sesudah shalat wajib lalu berdzikir dan berdoa dan terakhir  melakukan sujud (syukur). Diantaranya ada yang mengatakan  karena  telah mendapat nikmat yaitu berada dalam keadaan beriman dan fisik yang sehat serta bisa  istiqamah dalam melaksanakan shalat pada waktunya. 

Imam an Nawawi berkata bahwa (sujud syukur) tidak di sunnahkan pada nikmat yang terus menerus datang. Oleh karena itu, nikmat bisa bernafas dengan lega, makan dan minum, meskipun termasuk nikmat yang besar, namun terjadi terus menerus maka tidaklah di sunahkan untuk sujud syukur setiap saat atau setiap hari. Seandainya disyariatkan dalam setiap momen di atas, ia akan bersujud terus menerus sepanjang waktu. 

Akan tetapi yang disunahkan bagi seorang hamba untuk bersujud ketika mendapat nikmat yang tidak setiap saat datang seperti kelahiran anak, dimudahkan dalam menikah, atau datangnya orang yang sudah lama dicari cari sampai harapan hampir putus asa atau mendengar berita kemenangan kaum muslimin atas orang kafir. 

Demikian juga disunahkan ketika selamat dari keburukan atau musibah yang amat mencekam, disaat orang lain menjadi korban. (Syarh Riyaadish Shalihin, Syaikh al Utsaimin). 

Ketahuilah bahwa Rasulullah dan para sahabat tidaklah melakukan sujud syukur setiap saat pada hal hakikatnya beliau dan para sahabat mendapat nikmat setiap waktu.  Dalam Kitab Zaadul Ma’ad Imam Ibnul Qayyim berkata : Diantara kebiasaan Nabi dan para sahabat, bersujud ketika datang kenikmatan baru yang menyenangkan atau tatkala keburukan yang besar hilang. Imam Ibnul Qayyim  menyebutkan beberapa contoh, diantaranya  :

Pertama : Dahulu Nabi bersujud ketika Ali bin Abi Thalib menulis risalah kepada beliau perihal keislaman suku Hamdan.

Kedua :  Abu Bakar ash Siddiq melakukan sujud syukur tatkala  berita terbunuhnya Musailamah al Kadzdzab (si nabi palsu) sampai kepadanya.

Ketiga : Ali bin Abi Thalib melakukan sujud syukur saat menemukan Dza ats Tsudaiyah di tengah tengah orang Khawarij yang tewas.

Keempat : Ka’ab bin Malik bersujud syukur ketika datang berita gembira  bahwa Allah Ta’ala menerima taubatnya. 

Dari Abu Bakrah, dia berkata,  bahwa sesungguhnya Nabi Salllahu ‘alaihi wasallam ketika kedatangan hal yang menyenangkan beliau menundukkan tubuh untuk bersujud sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al Albani).  

Jadi sangatlah dianjurkan untuk melakukan sujud syukur sebagai salah satu cara bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Ta’ala. Tetapi kita mendapat keterangan bahwa Rasulullah dan para sahabat tidak melakukannya setiap saat. Sujud syukur hanya dilakukan ketika datang atau adanya nikmat nikmat yang sangat besar dan tidak rutin  ataupun ketika terhindar dari bahaya besar. 

Inya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.116)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar