Sabtu, 02 September 2017

MUSIBAH BESAR SEOLAH OLAH TAK BERASA



MUSIBAH BESAR TAPI SEOLAH OLAH TAK BERASA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Semua orang meyakini bahwa pada suatu saat, kapan saja Allah berkehendak, maka manusia akan didatangi ujian, cobaan berupa musibah. Musibah itu bisa terjadi pada diri, harta ataupun keluarga dan yang lainnya. Bisa jadi pada suatu seseorang akan mendapat musibah berupa kehilangan harta dalam jumlah yang banyak. Ini dianggap musibah yang sangat besar bagi para pencinta dunia.

Ketahuilah, bahwa hakikatnya setiap hari kita didatangi oleh musibah yang  besar tapi seolah olah tak berasa. Diantaranya adalah bahwa kita setiap  kita kehilangan umur 24 jam. Kenapa ?, Ketahuilah bahwa  kehilangan atau berkurangnya  umur  termasuk sebagai musibah besar karena dengan kehilangan umur berarti kita semakin dekat dengan kiamat kecil yang bermakna mati.
 
Sebagaimana harta, umur adalah nikmat yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia. Dan kalau kehilangan harta disebut musibah maka tentu kehilangan atau berkurangnya umur setiap hari sangatlah layak untuk disebut sebagai musibah.

Musibah semakin dekatnya seorang hamba dengan mati ini bisa menjadi musibah yang lebih besar lagi, yaitu  :
Pertama : Ketika manusia lupa akan semakin dekat dengan kematian ketika hari hari berganti. Dan itu adalah sesuatu yang pasti terjadi. Allah berfirman : “Kullu nafsin dzaa-iqatul mauti, tsumma ilainaa turja’uun”. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu akan dikembalikan.(Q.S al Ankabut 57). 

Kedua : Ketika manusia lalai dengan dengan persiapan menghadapi mati. Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya : “Yaa aiyuhal ladzina aamanut taqullaha wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad, wattaqullaha, innalallaha khabiirun bimaa ta’maluun” Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18). 

Ketiga : Ketika hari yang telah dilalui tak diisi dengan ketaatan. Rasulullah bersabda : “Khairunnaasi man thaala ‘umuruhu wa hasuna ‘amaluhu, wa syarrunnaasi man thaala ‘umuruhu wa saa-a ‘amaluhu”  Sebaik baik manusia adalah siapa yang panjang umurnya dan baik amalnya, dan seburuk buruk manusia adalah siapa yang panjang umurnya dan buruk amalnya. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi dan al Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Sungguh mencengangkan karena terkadang kita melihat fenomena yang terjadi pada sebagian orang. Ketika musibah besar ini datang yaitu dengan berkurangnya umur mereka satu tahun yakni semakin dekatnya mereka dengan mati lalu disambut dengan bergembira. Mereka tidak menyambutnya dengan ketakwaan dan ketaatan. Mereka tak merasakan bahwa ini adalah juga musibah. Tapi mungkin menganggapnya sebagai nikmat. Bisa  juga ada benarnya (?). 

Lalu ada yang menyambutnya dengan gembira. Berbagai ucapan selamat diterima, salam salaman bahkan ada pula yang sampai cium pipi meskipun bukan mahram. Lalu musibah  yang semakin dekat ini disambut pula dengan acara pesta, tiup lilin, makan minum berlebihan, juga ada musik dan nyanyi serta joget  dan yang lainnya. Semua ini berseberangan dengan syariat.  
  
Sungguh bergantinya hari, bulan dan tahun adalah satu tanda yang sangat terang bahwa sisa umur kita semakin berkurang. Pintu kematian semakin mendekat sehingga rasanya tak layak disambut dengan ucapan ucapan selamat serta kegembiraan dan perayaan.
Oleh karena itu seorang hamba haruslah memahami tentang hakikat musibah termasuk berkurangnya umur setiap hari dan sangatlah pantas dijadikan sebagai sarana muhasabah atau introspeksi diri.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.109)    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar