Minggu, 03 September 2017

BERMAKSIAT KARENA RASA MALU SUDAH HILANG



BERBUAT MAKSIAT KARENA RASA MALU SUDAH HILANG

Oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang yang sering berbuat maksiat terutama sekali penyebabnya adalah karena  rasa malunya sudah hilang. Bukankah rasa malu akan senantiasa mengajak pemiliknya untuk berhias diri dengannya dan menjauhkan dari sifat sifat rendah dan hina.

Betapa banyak manusia yang sebelumnya mulia lalu berbuat maksiat maka jatuhlah harga dirinya. Dia akhirnya menjadi hina. Taka da lagi kebaikan pada dirinya. Rasulullah bersabda : “Al hayaa’u laa ya’ti illa bi khairin”. Malu itu tidak mendatangkan (sesuatu) kecuali kebaikan (Mutafaq ‘alaihi).

Imam Muslim meriwayatkan : “Al hayaa’u khairun kulluhu”. Malu itu seluruhnya baik.
 Rasulullah bersabda : “Inna mimma adrakan naassu min kalaamin nubuwatil uula. Idzaa lam tastahyi fashna’ ma syi’ta. Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia (secara turun temurun) dari kalimat kenabian terdahulu adalah : Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.(H.R Imam Bukahri dan juga diriwayatkan oleh 9 ahli hadits selainnya).

Inti pokok hadits ini adalah : Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu. Lalu apa makna kata malu.  Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci. (Ibnu Hibban al Busti). 

Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilaly berkata : (1)  Malu adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan buruk dan tercela. (2) Menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat. (3) Mencegahnya dari sikap melalaikan hak orang lain.

Imam Ibnul Qayyim berkata : Dosa dosa melemahkan rasa malu seorang hamba bahkan bisa jadi menghilangkannya secara keseluruhan. Akibatnya, pelakunya tidak lagi terpengaruh atau merasa risih saat banyak orang mengetahui keadaan dan prilakunya yang buruk. Lebih parah lagi banyak yang (suka) menceritakan keburukannya. Semua itu disebabkan telah hilangnya rasa malu. Jika seseorang telah sampai pada kondisi tersebut maka tidak dapat diharapkan lagi kebaikan darinya. (Ad Daa’ wa ad Dawaa).

Oleh karena itu  seorang hamba haruslah selalu memelihara rasa malu dalam dirinya. Sungguh seseorang yang melakukan perbuatan maksiat adalah karena rasa malunya sudah hilang. Ketika rasa malu telah hilang maka maksiat semakin sulit untuk dihentikan. Akhirnya murka Allah akan mendatanginya. Na’udzubillah.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.111)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar