Kamis, 14 September 2017

SIAPAKAH ORANG ORANG YANG CELAKA



SIAPAKAH ORANG ORANG  YANG CELAKA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam al Qur an kita menemukan banyak kata Wail. Imam Ibnul Jauzi berkata :  Para ulama lughah memiliki berbagai  pendapat, tentang makna kata wail ini, diantaranya :  (1) Arti wail adalah adzab dan kebinasaan. (2)  Wail artinya siksaan yang sangat berat. Ini pendapat Ibnul Anbari. (3) Wail adalah kata yang digunakan orang Arab untuk menyebut orang yang terjerumus ke dalam kebinasaan. Ini pendapat az-Zajjaj. (Zadul Masir fii ‘ilmit Tafsir).

Dalam beberapa  ayat al Qur an disebutkan tentang wail yaitu orang yang celaka dan akan binasa serta mendapat adzab yang berat, diantaranya adalah : 

Pertama : Kecelakaan bagi orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

Allah berfirman :  “Wailul lilmuthaffifiin. Alladzina idzaktaaluu ‘alannaasi yastaufuun. Waidzaa kaaluuhum au wazanuuhum yukhsiruun.” Celakalah bagi orang orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), yaitu orang orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi. (Q.S al Mutaffifin 1-3).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata :  Tentang orang yang curang yakni apabila membeli barang barang yang ditakar  maka mereka meminta supaya takarannya dipenuhi dengan sempurna, tanpa kekurangan.

Apabila mereka menimbang yaitu mereka menjual makanan yang ditakar maka mereka menakar atau menimbang barang yang ditimbang dengan takaran dan timbangan yang kurang.  (Tafsir Juz ‘Amma).

Ketahuilah bahwa ternyata kaumnya Nabi Syu’aib, suku Madyan memiliki kebiasaan buruk yang sangat tercela tersebut yaitu mengurangi takaran dan timbangan.

Lalu Nabi Syu’aib mendakwahi mereka agar menyembah Allah saja dan meninggalkan kebiasaan buruk  yang merugikan manusia. Allah berfirman : “Wa ilaa madyana akhahum syu’aiban, qala yaaqaumi a’budullaha maa lakum  minilaahin fhairuhu, walaa tanqushul mikyaala walmiizaan. Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Dia (Syu’aib) berkata : Hai kaumku sembahlah Allah sekali kali tiada Ilah bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi  takaran dan timbangan.  (Q.S Hud 84).

Tapi ternyata mereka mengingkari dan menolak dakwah Nabi Syu’aib dengan nada ejekan. Mereka berkata : Wahai Syu’aib, apakah agamamu menyuruh kami agar meninggalkan yang disembah oleh bapak bapak kami. Begitu pula kata katamu kepada kami, tidak mengharuskan kami melakukan pada harta kami seperti apa yang kamu katakan kepada kami, berupa memenuhi takaran, timbangan dan menunaikan hak hak yang wajib padanya. Akan tetapi kami tetap melakukan apa yang kami kehendaki karena ia adalah harta kami, kamu tidak memiliki hak apa pun (Lihat Tafsir as Sa’di).

Disebabkan kedurhakaan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah Nabi Syu’aib maka mereka celaka dan binasa ditimpa azab yang besar. Allah berfirman : “Fa-akhadzat humur rajfatu fa-ashbahuu fii daarihim jaatsimiin.” Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat mayat yang bergelimpangan di dalam rumah rumah mereka. (Q.S al A’raf 91).

Kedua : Kecelakaan bagi orang yang melalaikan shalat.

Allah berfirman : “Fa wailul lil mushalliin. Alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun”. Maka kecelakaanlah bagi orang orang yang shalat. (Yaitu) orang orang yang lalai dari shalatnya. (Q.S al Maa-uun 4-5).

Tentang makna lalai dalam ayat ini dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin : Memang mereka shalat secara berjamaah maupun sendirian. Akan tetapi mereka   

(1) Tidak melaksanakannya sesuai dengan yang telah digariskan. Tidak melaksanakan di awal waktu, tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud, berdiri dan duduk yang ada di dalam shalat. Tidak membaca apa yang seharusnya dibaca dari ayat ayat al Qur an maupun bacaan bacaan dzikir.

(2) Dia lalai dari shalatnya. Hatinya menerawang kesana kemari, ia lengah dalam melaksanakan shalatnya. 

Ini adalah perbuatan yang tidak terpuji. Tidak diragukan lagi, seorang yang lengah, lalai dan menganggap remeh merupakan perbuatan yang tercela. Adapun jika dia terlupa di dalam shalat maka bukanlah suatu perkara yang tercela. (Tafsir Juz ‘Amma). 

Ketiga : Kecelakaan bagi orang orang kafir.

Manusia paling utama yang disebut sebagai orang yang celaka adalah orang orang kafir yang mendustakan ayat ayat Allah. Mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih.
Allah berfirman : “Allahul ladzii lahuu maa fis samaawaati wa maa fil ardhi, wa wailun lil kafiriina min ‘adzaabin syadiid ”.  Allah yang memiliki  apa yang ada di langit dan apa yang ada  di bumi. Dan  kecelakaanlah bagi orang (kafir)  yang ingkar kepada Rabb karena siksaan yang sangat berat. (Q.S Ibrahim 2)

Syaikh as Sa’di berkata : (Dalam ayat 1 surat Ibrahim) Allah memberitahukan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya Muhammad demi kemashlahatan makhluk. Yaitu untuk mengentaskan manusia dari kegelapan, kebodohan, kekufuran dan perangai perangai yang buruk serta beragam maksiat untuk menuju cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik.

Lalu setelah menerangkan dalil dan buktinya, maka Allah Ta’ala mengancam orang orang yang tidak patuh terhadap ketentuan tersebut. Allah berfirman : “Dan celakalah orang orang kafir karena siksaan yang sangat pedih”. Yakni yang kepedihannya tidak bias diperkirakan kadar tingkat (kepedihan) nya dan tidak bias dijelaskan hakikat siksaan-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kata wail dalam ayat tersebut diatas diartikan sebagai celaka.Ini dikarenakan dalam Neraka Wail tidak ada satupun manusia durjana yang selamat dari kobaran api siksaannya. Pendek kata dalam Neraka ini penghuni Neraka pasti celaka.

Ketahuilah bahwa ada   riwayat yakni dari Abu Said al-Khudri bahwa Wail adalah (juga bermakna) jurang di neraka, di mana orang kafir yang memasukinya selama 40 tahun, belum sampai di ujung dasarnya. (Zadul Masir fii ‘ilmit Tafsir, Ibnu Jauzi).

Itulah diantara keterangan tentang orang orang disebut sebagai orang yang celaka dan binasa dengan adzab Allah. Oleh karena itu setiap hamba haruslah selalu berusaha dan berdoa agar dijauhkan dari berbagai  kecelakaan dan kebinasaan  baik di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu A’lam. (1.119).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar