Kamis, 28 September 2017

PERKARA YANG WAJIB DIJAUHI PARA PENUNTUT ILMU



PERKARA YANG WAJIB DIJAUHI PARA PENUNTUT ILMU

Oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam syariat Islam belajar ilmu dihukumi sebagai wajib. Oleh karena itu tidaklah pantas jika seorang hamba melalaikannya. Rasulullah bersabda  :  Thalibul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslim” Belajar ilmu adalah wajib bagi setiap Muslim. (H.R Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah). 
  
Adapun ilmu yang paling utama dan wajib  dipelajari adalah ilmu syar’i. Apa yang dimaksud dengan ilmu syar’i diantaranya telah dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, dalam kitab beliau, al ‘Ilm wa Akhlaqu Ahliha, menjelaskan bahwa : Ilmu syar’i adalah ilmu yang terkandung dalam al Qur an dan as Sunnah, yakni : (1) Ilmu tentang Allah dan Sifat-sifat-Nya. (2) Ilmu tentang hak Allah terhadap hamba-Nya. (3) Ilmu  tentang segala hal yang disyari’atkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. (4) Termasuk juga ilmu tentang jalan yang akan mengantarkan hamba kepada ilmu itu beserta segala rinciannya.

Ketahuilah bahwa diantara bentuk keutamaan ilmu dan agungnya ilmu adalah bahwa menuntut ilmu lebih baik dari pada ibadah-ibadah sunnah. Ibnu Nuaim dan Ulama ulama yang lainnya menyebutkan dari beberapa sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda : “Keutamaan ilmu itu jauh lebih baik dibandingkan dengan amal amalan yang hukumnya sunnah, dan agama kalian yang paling baik adalah al wara’ (menjauhi syubhat dan maksiat). (HR. Abu Nuaim, kitabnya Hilyatul Aulia)

Dan juga banyak sekali perkataan ulama salaf tentang perkara ini. Di antaranya adalah perkataan Imam asy Syafii.  Ar Rabi’ berkata, aku mendengar Imam asy Syafii berkata : Menuntut ilmu lebih afdhal (lebih utama) dari shalat sunnah.

Oleh karena sangatlah berbahagia dan beruntung hamba hamba Allah yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk belajar ilmu sehingga bisa menghilangkan kebodohan pada dirinya bahkan juga pada diri orang lain melalui dakwahnya.

Namun demikian ketahuilah saudaraku, bahwa ada beberapa perkara yang sifatnya tercela dan harus dijauhi para penuntut ilmu, diantaranya :

Pertama : Menyuruh orang lain melakukan kebaikan tapi melupakan dirinya.

Seorang penuntut ilmu hendaklah terlebih dahulu memperhatikan dirinya dalam pengamalan ilmunya sebelum mendakwahkannya. Tidaklah pantas, ketika dia mampu mengamalkan ilmunya lalu tidak mengamalkannya sementara itu dia menyuruh orang lain untuk mengamalkan.

Allah Ta’ala mencela orang orang Yahudi yang berbuat demikian sebagaimana firman Allah : “Ata’muruunannaasa bil birr wa tansauna anfusakum wa antum tatluunal kitaaba, afalaa ta’qiluun”. Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat). Tidakkah kamu mengerti ?. (Q.S al Baqarah 44).

Adh Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah didatangi oleh seseorang seraya berkata : Wahai Ibnu Abbas : Sungguh aku ingin menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ibnu Abbas bertanya : Apakah engkau telah menyampaikannya ?. Ia menjawab : (Belum), Aku baru ingin melakukannya. Kemudian Ibnu Abbas mengatakan : Jika engkau tidak khawatir akan terbongkar aib dirimu dengan tiga ayat dalam al Qur an maka kerjakanlah. Ia pun bertanya : Apa saja ketiga ayat tersebut ?.

Ibnu Abbas menjawab : 

(1) Firman Allah : “Mengapa kamu menyuruh orang lain mengerjakan kebaikan sedang kamu melupakan diri (kewajiban) kalian sendiri”. Apakah engkau telah mengerjakan hal itu dengan sempurna ?. Orang itu menjawab : Belum. 

(2) Kata Ibnu Abbas : Lalu ayat yang kedua : Wahai orang orang yang beriman !.  Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian disisi  Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S ash Shaaf 2-3).

Tanya Ibnu Abbas : Apakah engkau telah mengerjakan hal itu dengan sempurna ?. Orang itu menjawab : Belum. 

(3) Kata Ibnu Abbas : Lalu ayat yang ketiga, ucapan Syu’aib seorang hamba yang shalih, yang disebutkan dalam al Qur an : “Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup”. (Q.S Huud 88). 

Tanya Ibnu Abbas lagi : Dan apakah engkau telah mengerjakan hal itu dengan sempurna ?. Ia pun menjawab : Belum. Maka Ibnu Abbas berkata : Mulailah dari dirimu sendiri. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih, Lihat Tafsir Ibnu Katsir). 

Syaikh as  Sa’di antara lain menjelaskan : Ayat dalam surat al Baqarah 44 ini turun, walaupun kepada bani Israil, namun bersifat umum kepada setiap orang, karena ini adalah firman Allah. Selanjutnya Syaikh berkata : Barangsiapa yang menyuruh orang lain kepada kebaikan lalu dia tidak melakukannya atau melarang  dari kemungkaran namun dia tidak meninggalkannya maka hal itu menunjukkan tidak ada akal padanya. Dan ini suatu kebodohan. Khususnya bila dia telah mengetahui hal itu dan hujjah benar-benar  telah ditegakkan atasnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : Perumpamaan orang berilmu yang mengajarkan kepbaikan kepada manusia namun ia melupakan dirinya sendiri, laksana sebuah lilin yang menerangi orang sambil membakar dirinya”. (H.R ath Thabrani dalam al Muj'am al Kabir).

Rasulullah bersabda : “Pada malam di isra’kan oleh Allah aku melihat orang orang yang mulutnya digunting dengan gunting gunting dari neraka, maka aku berkata : Siapa mereka wahai Jibril ?. Maka ia menjawab : Mereka adalah para penceramah dari ummatmu yang menyuruh orang melakukan kebaikan namun mereka melupakan dirinya sendiri, sedangkan mereka membaca al Kitab, tidakkah mereka berakal ?.  (H.R Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Kedua : Perkataan yang  menyelisihi perbuatan
Diantara perkara yang wajib dijauhi oleh seorang penuntut ilmu adalah perkataan yang menyelisihi perbuatannya. Lain yang dikatakan lain pula yang dikerjakan. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingat  perbuatan. Wahai orang orang yang beriman !.  Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian disisi  Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S ash Shaaf 2-3).

Syaikh as Sa’di berkata : Apakah kondisi tercela seperti ini pantas bagi orang-orang yang beriman ?. Bukankah amat besar murka Allah pada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak dikerjakannya.

Oleh karena itu orang yang menyuruh berbuat baik seharusnya menjadi orang yang pertama mengamalkannya. Dan orang yang melarang kemungkaran seharusnya menjadi orang yang paling jauh dari kemungkaran itu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan kita tentang perkara ini dalam sabda beliau : “Seorang laki laki didatangkan pada hari Kiamat lalu dilemparkan … (H.R Imam Bukhari dan Muslim).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Orang  orang berilmu namun buruk (tercela) itu (seolah olah) duduk di pintu surga, dengan ucapan ucapan, mereka mengajak manusia untuk masuk ke dalam surga dengan ucapan ucapannya namun mengajak  mereka mengajak manusia masuk ke neraka dengan perbuatannya.
Saat lisan mereka berkata : Ayolah kemari !. Tapi perbuatan perbuatan mereka berkata : Janganlah kalian dengar ajakan itu. !. 

Andai kata apa yang mereka serukan itu benar tentu merekalah yang pertama kali memenuhi seruan itu. Mereka terlihat bagaikan penunjuk jalan namun sejatinya mereka adalah perampok. (Fawa’idul Fawaid).

Orang seperti ini jelas ilmunya tak bermanfaat dan tidak pula mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Oleh karena itu Rasulullah mengajarkan kita doa agar dijauhkan dari ilmu yang tak bermanfaat. : “Allahhumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan thaiyiban wa amalan mutaqabbalan”. Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon (diberi) ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima. (H.R Ibnu Majah, Imam Ahmad dan Ibnu Suni dari Ummu Salamah). 

Selain itu, Rasulullah mengajarkan pula  satu doa : “Allahhumma inni a’udzubika min ilmin la yanfa’. Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat. (H.R at Tirmidzi dan Abu Dawud). 

Ketiga : Cenderung mencari kenikmatan dunia dan ridha manusia.
Memang ada diantara penuntut ilmu yang ingin mencari ridha manusia. Agar dikatakan seorang ‘alim, agar popular, dihargai dan dihormati ditengah masyarakatnya. Pada hal tujuan utama belajar ilmu adalah mencari ridha Allah Ta’ala. Bukan ridha manusia.

Jadi orang yang berakal sehat seharusnya sangat bersemangat untuk mencari ridha Allah dengan ilmunya  meskipun terkadang membuat manusia tidak ridha. Sebaliknya orang yang tercela dalam mencari ilmu berupaya  menggapai ridha manusia dengan meskipun mendatangkan murka Allah Ta’ala. 

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :  “Wa lau syi’naa larafa’naahuu akhlada ilal ardhi wattaba’a hawaahu”. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajatnya) dengan ayat ayat itu tetapi dia cederung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. (Q.S al A’raf 176).
Allah Ta’ala berfirman : “Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya pasti Kami berikan (balasan)  atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka. Dan sia sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka  kerjakan”. (Q.S Huud 15-16).

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan tentang kerugian besar bagi orang orang yang  melakukan perbuatan baik tetapi ditujukan untuk kesenangan dunia dan mencari perhiasan dunia.  Mereka akan menjadi orang  yang pertama kali akan diadili dan dilemparkan ke dalam neraka. Na’udzubillah min dzaalik. 

Rasulullah bersabda : Dari Abu Hurairah, dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama kali yang akan diputuskan (pengadilannya) pada hari Kiamat adalah seorang laki laki yang mati syahid. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya.

Allah bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia menjawab : Aku berperang untuk-Mu sehingga aku mati syahid. Allah berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau berperang agar dikatakan seorang pemberani dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut , kemudiaan dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.
Dan seorang laki laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Dia membaca al Qur an. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya. 

Allah bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia menjawab : Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca al Qur an untuk-Mu. Allah berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan seorang yang ‘alim, engkau membaca al Qur an agar dikatakan seorang qaari  dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut kemudian dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.

Dan seorang laki laki yang Allah luaskan rizkinya dan Allah juga memberikan berbagai macam harta benda. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya.

Allah bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia menjawab : Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau menyukai infaq padanya kecuali aku berinfaq padanya untuk-Mu. Allah berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau melakukannya agar dikatakan dermawan dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut kemudian dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.  (H.R Imam Muslim).

Itulah diantara perkara yang wajib untuk dijauhi oleh para penuntut ilmu agar ilmunya betul betul berguna bagi dirinya dan bagi orang lain. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.129)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar